THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. I Miss You



Mendengar ucapan Allan. Vigo hanya tersenyum. Dapat dilihat oleh Vigo kekesalan di wajah adiknya itu. Akhirnya Vigo berhasil membalas kelakuan adiknya saat di rumah tadi.


"Satu sama, Allan. Hehehehe." Vigo membatin.


"Jangan pasang wajah jelek seperti itu. Ntar tampannya hilang. Bisa-bisa kakak yang akan menjadi pusat perhatian di kampus ini. Sedangkan kau akan menjadi bahan olok-olokkan karena memiliki wajah jelek seperti saat ini." Vigo berbicara sambil menggoda adiknya.


Saat Allan ingin melayangkan protesnya atas ucapan kakaknya. Vigo sudah terlebih dahulu menghentikan aksinya.


"Marahnya nanti saja. Kita sudah berada di depan ruang Rektor. Ayo, kita langsung masuk ke ruang Rektor sekarang." Vigo berucap.


TOK!


TOK!


TOK!


"Masuk." terdengar suara seseorang dibdalam yang menyuruh mereka masuk.


CKLEK!


Pintu di buka oleh Vigo. Dan Vigo serta Allan pun memasuki ruangan tersebut.


"Maaf pak kalau kami mengganggu." Vigo berbicara sambil membungkukkan badannya dan diikuti oleh Allan.


"Tidak apa-apa, Vigo Liam Adiyaksa. Saya sudah dapat kabar dari ayahmu kalau adikmu Allan Liam Adiyaksa akan kuliah disini," jawab Rektor tersebut yang bernama Wisnu Alisman. Lalu matanya tertuju pada Allan.


"Jadi ini adikmu?" tanya Wisnu.


"Benar, Rektor." Vigo menjawabnya.


"Ya, sudah. Nanti saya yang akan mengantarkan adikmu langsung ke kelasnya. Lebih baik kau langsung ke kelasmu saja," sahut Wisnu.


"Baiklah, Pak." Vigo berbicara sambil menundukkan sedikit kepalanya.


Vigo menatap adiknya. "Kakak tinggal ya. Semangat di hari pertamamu kuliah," ucap Vigo lalu pergi meninggalkan Allan yang masih berada di ruangan Rektor.


"Ayo, Allan Liam Adiyaksa. Saya akan mengantarkanmu ke kelasmu!" seru Wisnu.


Allan pun menganggukkan kepalanya lalu mengikuti langkah Rektor tersebut dari belakang.


Sekarang Rektor Wisnu dan Allan sudah berada di depan kelas. Ruang dua Jurusan Komputer.


Wisnu langsung mengetuk pintu yang kebetulan pintu tersebut sedikit terbuka.


TOK!


TOK!


Wisnu langsung membuka pintu tersebut dan langsung memasuki ruang kelas tersebut.


"Ada apa, Pak?"


"Begini. Ada mahasiswa baru yang akan masuk ke kelas ini," jawab Wismu. "Allan," panggil Wisnu.


Saat dirinya dipanggil, Allan pun melangkahkan kakinya memasuki kelas tersebut dan seketika dirinya jadi pusat perhatian para mahasiswa dan mahasiswi yang ada di kelas tersebut.


"Kenapa mereka menatapku seperti itu?" batin Allan.


Setelah Alla  masuk ke kelas tersebut. Wisnu pun pamit kembali ke ruangannya.


"Oh ya! Allan perkenalkan namamu!" seru Dosen perempuan yang bernama Rahayu.


"Ach. Baik, Bu!"


"Hallo semuanya. Nama saya Allan Liam Adiyaksa. Saya pindahan dari Jilin University di China. Tolong bantuannya," tutur Allan.


"Ya, sudah. Allan silahkan kamu duduk di sebelah Melky," ucap Rahayu kepada Allan.


Allan pun melangkahkan kakinya menuju mejanya. Saat tiba di mejanya, dirinya disambut baik oleh Melky. Dan Melky pun mempersilakan Allan duduk di sebelahnya.


"Silahkan duduk, Allan." Melky berbicara lembut dan juga tersenyum tulus kepada Allan. Allan pun duduk di kursi disebelah Melky.


"Kenalkan namaku, Melky! Balin Melky Pramana." Melky mengulurkan tangannya kearah Allan.


"Allan. Allan Liam Adiyaksa," jawab Allan membalas uluran tangan dari Melky.


^^^


Mata kuliah pertama sudah dilewati oleh Allan dengan lancar. Saat ini Allan sedang mengelilingi kampus tersebut sekalian ingin mencari kelas kakaknya, Vigo Liam Adiyaksa.


"Kelasnya kak Vigo dimana sih? Dari tadi aku tidak menemukannya," gerutu Vigo.


Allan berada di halaman kampus. Dirinya duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Lalu datang seseorang yang menepuk pelan bahunya.


"Hei, sendirian saja?" tanya Melky yang langsung duduk di sampingnya.


Ya. Orang yang menepuk bahunya itu adalah Melky teman sebangkunya.


"Melky. Iya, nih. Aku bingung."


"Bingung kenapa?"


"Aku sedang mencari kelasnya kakakku. Tapi aku tidak tahu dia berada di kelas mana?"


"Siapa nama kakakmu?"


"Vigo. Vigo Liam Adiyaksa"


"Jadi Vigo Liam Adiyaksa itu kakakmu?"


"Iya. Kau mengenalnya?"


"Aku baru menyadari satu hal," sahut Melky.


"Apa?" tanya Allan penasaran.


Melky melirik sekilas wajah tampan dan manis Allan. Lalu kembali fokus tatapan ke depan.


"Ternyata Vigo Liam Adiyaksa memiliki adik setampan dan semanis dirimu," jawab Melky yang menggoda Allan, sahabat barunya itu.


"Aish!" Allan mempoutkan bibirnya merasa kesal atas jawaban dari sahabat yang baru dikenalnya.


***


Di kediaman keluarga Bimantara. Evan beserta istrinya Utari dan kedua putranya Garry dan Danish  tengah berada di ruang tengah.


Semenjak pertemuannya dengan istri dan putra bungsunya Dirandra Adamka Mahendra. Evan sudah memantapkan hatinya untuk membawa dua orang yang begitu dirindukannya untuk kembali pulang ke rumah kecil mereka. Yang mana rumah itu hanya ada dirinya, istrinya dan ketiga putra-putra tampannya.


Tapi harapan tinggal harapan. Tinggal selangkah lagi keluarganya akan lengkap. Tinggal selangkah lagi dirinya akan berkumpul dan tinggal bersama istri dan ketiga putranya. Tapi Tuhan berkata lain. Lagi-lagi seorang Evan Hara Bimantara harus rela dan ikhlas berpisah dengan putra bungsunya yang selama ini ia rindukan.


"Sudah waktunya kau masuk kuliah, Danish! Kau harus lulus tahun ini," ucap Evan lembut.


"Aku merindukan Adam, Pa! Di kampus itu banyak kenanganku bersama Adam. Baik kenangan saat aku menjadi musuhnya maupun saat aku sudah menjadi kakak untuknya," jawab Danish.


"Papa tahu, sayang. Tapi kau harus tetap kuliah untuk masa depanmu. Bukan kau saja yang merasakan kehilangan Adam. Papa juga merasakan hal yang sama. Dan Papa juga sangat merindukannya. Sangat merindukannya." Evan berbicara dengan nada lirihnya.


"Dan kau juga, Garry. Kembalilah bekerja. Lakukan pekerjaanmu seperti biasanya. Lakukan semuanya dengan senyuman dan dengan semangat. Lakukan demi adik bungsu kalian, sikelinci nakal kesayangan kita. Sampai kapan pun sikelinci nakal itu akan selalu ada di hati kita. Kita menyayanginya. Jangan membuatnya sedih di atas sana karena melihat kita terpuruk terus menerus. Karena hal itu sangat dibenci oleh adik kalian." Utari akhirnya bersuara.


Garry dan Danish mengangguk. "Baiklah. Demi sikelinci nakal itu. Kami akan bangkit dan semangat lagi seperti biasa." Garry dan Danish menjawabnya secara bersamaan.


Evan dan Utari pun tersenyum mendengar kekompakan dan melihat wajah semangat kedua putranya.


"Adam putra Mama sayang. Mama merindukanmu, nak!" batin Utari  menangis.


"Adam, putra tampan Papa. Papa merindukanmu, sayang!" batin Evan.


"Adan. Kakak merindukanmu," batin Garry dan Danish.


***


Di sebuah ruangan yang begitu besar dan mewah. Dimana semua bermacam-macam game ada di sana. Dimana lagi kalau bukan rumah kediaman keluarga Abimanyu. Di ruangan inilah biasanya tempat berkumpulnya Ardi, Harsha dan Adam.


Di waktu yang senggang, di waktu yang kosong dan di waktu waktu yang membosankan mereka bertiga menghabiskan waktunya di ruangan tersebut. Bermain game sampai akhirnya tertidur bersama di sana.


Dan seorang pemuda pucat berwajah tampan sedang berada di ruangan tersebut.


"Dam. Kakak merindukanmu. Kakak tidak menyangka kau akan pergi begitu cepat meninggalkan kami semua," lirih Ardi sambil menatap bingkai foto Adam. "Kau tahu tidak, Dan. Kakak sekarang berada di ruangan dimana kita selalu menghabiskan waktu bersama-sama. Bermain game bersama-sama."


FLASHBACK ON


"Ach. Aku lelah sekali. Aku benar-benar ingin berhenti kuliah saja kalau seperti ini," keluh Adam.


Ardi datang-datang langsung menjitak kening Adam.


TAK!


"Aww," ringis Adam sembari mengelus-elus keningnya. "Kenapa kakak menjitakku?" protes Adam sambil memanyunkan bibirnya.


Sedangkan sipelaku hanya cuek akan aksi protes dari adiknya. Dirinya menduduki pantatnya di sofa, tepatnya di samping adiknya yang sedang kesal atas ulahnya.


Diam-diam Ardi tersenyum gemas melihat wajah cemberut adik kelincinya itu.


"Aish. Dasar beruang kutub sialan!" umat Adam dalam hati. Lalu beranjak pergi meninggalkan kakak pucatnya itu.


"Mau kemana?" tanya Ardi.


"Mau tidur. Aku malas lama-lama duduk dengan beruang kutub sepertimu. Bisa-bisa hati dan tubuhku membeku seperti es. Cukup satu orang saja di rumah ini yang berhati es yaitu kakak!" seru Adam sambil menunjuk kearah Ardi.


Saat Adam ingin melangkahkan kakinya menuju kamarnya di lantai dua. Ardi sudah terlebih dahulu menarik tangannya.


"Yak, kak! Lepaskan aku. Kau mau bawa aku kemana?!" teriak Adam.


Ardi tidak menghiraukan teriakan adiknya. Dirinya terus menarik tangan adiknya. Dan berhenti di depan salah salah ruangan. Yang dapat dibaca dan dilihat oleh Adam.


"GAME ROOM," batin Adam.


"Temani kakak main Game. Kakak bosan," sahut Ardi. Lalu mereka berdua pun memasuki ruangan tersebut.


"Kakak. Bagaimana kita bermain itu!" seru Adam saat menunjukkan salah satu permainan favoritnya.


"Baiklah," jawab Ardi.


Permainan yang dimainkan oleh Adam dan Ardi adalah permainan basket. Mereka sangat bahagia dan semangat melakukannya.


Setelah selesai. Mereka bermain Game yang lainnya, itupun semuanya atas permintaan Adam dan Ardi dengan senang hati menurutinya.


"Kita main yang ini kak!" seru Adam bersemangat.


"Baik." Ardi mengangguk.


Permainan kedua mereka adalah bermain mobil balapan.


Saat mereka tengah asyik bermain. Harsha datang dan bergabung dengan mereka berdua.


"Aku ikutan main dong kak Ardi, Adam!" seru Harsha.


Ardi dan Adam melihat kearah Harsha. Lalu mereka mengangguk sebagai tanda setuju Harsha pun langsung bergabung dengan mereka. Dan mereka bertiga pun terlena dalam dunia permainan mereka sampai mereka tertidur karena lelah.


FLASBACK OFF