
Mereka sekarang dalam posisi sedang berpelukan. Danish menangis dalam pelukan tersebut. Dapat dirasakan oleh Adan tubuh Danish yang bergetar dipelukannya.
"Apa yang terjadi sebenarnya? Kenapa Danish menangis dan kenapa perasaanku nyaman sekali ketika dipeluk olehnya?" batin Adam dan tanpa sadar likuid bening jatuh dari kedua mata indahnya.
Mereka semua terharu dan bahagia melihat adik dan kakak saling berpelukan. Terlihat dengan jelas dari tatapan matanya Danish. Tatapan kerinduan terhadap adik bungsunya.
"Aku merindukanmu, Adam. Aku sangat merindukan dirimu, Dirandra Adamka Bimantara," lirih Danish.
"Dirandra Adamka Bimantara? Apa maksud dari perkataan Danish? Kenapa dia mengatakan aku adalah Dirandra Adamka Bimantara?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Danish melepaskan pelukannya dari adiknya. Dirinya menatap wajah tampan adiknya lagi.
"Sudah. Lupakan saja. Tidak usah kau pikirkan apa yang barusan aku katakan? Aku tidak mau kau tertekan atau stress hanya gara-gara memikirkan perkataanku itu." Danish berbicara sembari tersenyum.
Adam tersenyum. Dan Danish senang melihat senyuman manis itu.
"Maukah kau menjadi temanku sekaligus sahabatku? Selamanya!" tanya Danish sambil mengulurkan tangannya.
Adam hanya terdiam di tempat. Dirinya hanya menatap uluran tangan dari Danish.
Tiidak mendapatkan balasan dari Adam. Danish pun menarik tangannya kembali. Karena dirinya tidak mau memaksakan kehendaknya pada adiknya.
Ketika Danish menarik tangannya, tiba-tiba Adam sudah terlebih dahulu membalas uluran tangan Danish. Semua mata yang melihat adegan itu tersenyum bahagia. Mereka berharap semoga hubungan mereka membaik. Ini adalah langkah awal untuk hubungan mereka. Walaupun hubungan mereka hanya sebatas persahabatan. Tapi mereka berharap lambat laun Adam bisa menerima Danish sebagai kakak kandungnya.
"Aku mau," jawab Adam tersenyum.
Mereka semua tersenyum. Dan mereka pun semua saling menjabat tangan sebagai tanda persahabatan kedua kelompok. Dan saling mengutarakan kata maaf satu sama lainnya.
"Mulai sekarang tidak ada lagi yang namanya kelompok Brainer dan kelompok Bruizer. Bagaimana kalau kita merubahnya nama kelompok kita? Sekarangkan kita sudah bersatu?" usul Arya antusias.
"Wah, itu ide yang bagus!" seru Indra dan diangguki oleh yang lain.
"Tidak perlu. Kita netral saja. Kalau perlu kita berbaur kepada siapapun d kampus ini? Salah satunya kita bisa berbaur dengan mahasiswa dan mahasiswi yang lainnya," tutur Adam.
Mereka semua menatap Adam. Mereka tersenyum dan bangga dengan jalan pikiran Adam. Tak terkecuali Danish.
"Kau sangat bijak dan dewasa sekali, Adam. Kakak bangga padamu," batin Danish.
"Baiklah. Kami setuju," jawab mereka semua dengan kompak dan mantap.
Dan berakhirlah mereka tertawa.
"Hahahahaha."
***
Di kediaman keluarga Bimantara terlihat seorang pria paruh baya yang masih terlihat sangat tampan. Siapa lagi kalau bukan Evan Hara Bimantara? Dirinya sedang berada di ruang kerjanya.
Evan kini sedang berkutat dengan pikirannya. Pikirannya saat ini hanya fokus pada putra bungsunya, Dirandra Adamka Bimantara. Dirinya berpikir keras bagaimana cara mendekati putranya itu setelah apa yang dia perbuat seminggu yang lalu di Kampus?
"Aaaah! Apapun yang terjadi aku akan berusaha mendapatkan hati putraku kembali seperti waktu pertama kali aku bertemu dengannya di rumahku." monolog Evan.
"Pertama yang harus aku lakukan adalah aku harus menjadi temannya terlebih dahulu. Aku harus berusaha membuatnya tersenyum, tertawa dan aku akan selalu meluangkan waktuku bersamanya. Jadi saat dia mengetahui bahwa aku adalah Ayahnya, kemungkinan dia tidak akan begitu membenciku." Evan berucap penuh semangat.
Tanpa disadari oleh Evan ternyata istrinya, Dhira menguping dan mengintip dirinya.
"Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi, Evan. Sebelum kau mendekati putra bungsumu dan menjadikannya temanmu. Aku yang akan terlebih dahulu membeberkan padanya kalau kau adalah Ayah yang sudah membuangnya saat masih bayi. Bahkan kau tidak mau mengakuinya saat itu. Tapi aku akan memberikan beberapa hari untukmu mendekati putra bungsumu itu. Setelah itu aku akan menjalankan rencanaku. Aku akan membuat putramu membencimu." Dhira berbicara dengan raut wajah yang begitu marah.
***
Di kediaman keluarga Abimanyu terlihat tiga saudara sepupu sedang berperang mulut sampai terdengar suara teriakan yang sangat memekakkan telinga. Siapa lagi pelakunya kalau bukan buntelan kelinci keluarga tersebut?
"Harsha alien otak kotor. Apa yang kau lakukan di kamarku? Dan kau juga beruang kutub. Kenapa ikut-ikutan alien tengil itu?!" teriak Adam dan teriakannya sukses membuat seluruh penghuni terlonjak kaget.
Ada yang jatuh dari tempat tidur.
BRUUKK!
UUHUUKK!
Ada yang kejedot kepalanya di dinding.
DUUKK!
Ada yang sedang memegang piring, lalu piring tersebut jatuh.
PRAANNGG!
Dan ada juga yang sedang memasak sampai salah masukkin bumbu-bumbu masakannya. Hahahaha.. LEBAY dan ALAY!
"Yak, siluman kelinci! Tidak pake teriak-teriak, bisa tidak? Kau pikir ini di hutan," protes Harsha yang mengelus-elus telinganya karena sakit mendengar teriakan dari siluman kelincinya itu.
"Dan kau berani mengatai kakak ini, hah!" Ardi juga ikutan protes.
"Salah kalian sendiri. Kenapa kalian berdua main masuk kamarku? Seharusnya izin dulu atau ketok dulu tu pintu. Jangan asal nyelonong aja. Dasar tidak tahu tata krama. Mentang-mentang kalian lebih tua dariku," jawab Adam tak mau kalah.
"Memangnya ada larangan kalau seorang kakak yang ingin masuk ke kamar adiknya?" tanya Harsha.
"Ada. Buktinya sekarang aku yang melarang kalian," jawab Adam masih dalam mood kesalnya.
Harsha melotot mendengar jawaban dari Adam. Sedangkan Ardi tepok jidat.
"Apa kalian berdua mau aku masuk ke kamar kalian, lalu aku mengacak-acak semua isi kamar kalian itu?" tanya Adam sambil menaik turunkan alisnya.
"Ya, tidaklah." Harsha dan Ardi menjawab dengan kompak.
"Kalau begitu kalian berdua keluar sekarang juga dari kamarku!" teriak Adam, lalu mendorong tubuh Harsha dan Ardi secara bersamaan.
"Aish. Tidak usah pake dorong-dorong kali. Kakak bisa jalan sendiri," sahut Harsha yang berusaha menahan tubuh akibat didorong oleh Adam.
Adam pun berhenti untuk mendorong kedua kakaknya yang menyebalkan itu. "Sekarang keluar dari kamarku!"
Harsha tetap di posisi sambil menatap wajah Adam. Sedangkan Ardi memutuskan pergi meninggalkan Adam dan Harsha. Ardi tidak mau berlama-lama berada di kamar Adam bisa-bisa dirinya habis menjadi korban amukan siluman kelincinya.
"Lanjutkan peperangan kalian. Kakak mau keluar!" seru Ardi dan langsung pergi meninggalkan Kedua adiknya itu.
Tinggallah Harsha yang masih di kamar Adam. Lalu detik kemudian terlintas ide jahil di otaknya dan sedikit kotor. Harsha tersenyum penuh arti sambil terus menatap wajah Adam. Berlahan Harsha mendekati Adam.
"Wajahmu begitu manis dan cantik, Dam. Wajahmu seperti perempuan. Padahal kau itu laki-laki. Tambah lagi bibirmu itu. Berwarna merah seakan-akan kau memakai lipstik. Kakak ingin sekali menciumnya," ucap Harsha yang terus melangkahkan kakinya mendekati Adam.
Sedangkan Adam sudah salah tingkah dan merinding. Apalagi mendengar perkataan dari kakak aliennya itu.
"Kakak, kau mau apa?" ucap Adam dan dirinya melangkah mundur.
Harsha berusaha menahan tawa gelinya saat melihat wajah ketakutan Adam.
"Kau lucu sekali saat wajahmu seperti ini, Dam" Harsha membatin.
Harsha terus melangkah maju agar wajahnya bisa dekat dengan wajah tampan Adam. "Kakak ingin sekali mencium bibirmu, Dam! Boleh ya?" Harsha masih terus menggoda dan menjahili Adam.
"Kakak. Kau jangan gila dan jangan berbuat macam-macam denganku!" teriak Adan yang melangkah mundur dan sialnya Adam terpojok di dinding.
Harsha tersenyum puas melihat Adam yang sudah terpojok. "Adam! Wajahmu sangat amat lucu seperti Bayi. Kakak sangat suka wajah lucumu ini," batin Harsha tertawa puas.
Wajah Harsha sudah dekat dengan wajah Adam. Harsha masih terus menggoda Adam dan saat Harsha mendekatkan wajahnya ke bibir Adam. Adam pun langsung mendorong tubuh Harsha.
BRUUKK!