
Adam sudah berada di parkiran depan kampus. Tanpa Adam sadari ada beberapa orang yang sedang mengawasinya. Orang-orang itu mengawasi sekeliling kampus. Dikarenakan keadaan kampus yang sepi. Dua dari mereka masuk ke dalam perkarangan kampus. Baru beberapa langkah, mereka ketahuan oleh security .
"Hei, siapa kalian!" teriak security itu.
Dua orang tersebut berhenti dan menghampiri security tersebut. Tanpa basa-basi salah satunya memukul security itu.
BUUGGHH!
Security itu pingsan. Lalu mereka membawa tubuh security itu ketempat aman biar tidak ketahuan. Setelah itu mereka kembali pada rencana awal mereka.
"Itu dia sasaran kita," ucap salah satunya menunjuk kearah Adam yang sedang berada di atas motornya.
Adam sedang menerima telepon dari ibunya.
"Hallo, Ma. Ada apa?"
"Kamu dimana, sayang?"
"Aku masih di kampus. Tepatnya di parkiran. Aku dapat tugas dari Rektor untuk mengecek kegiatan kursus komputer di Sekolah SMP Cempaka. Setelah dari sana aku langsung pulang ke Apartemen Kakek!"
"Baiklah. Mama akan menunggumu di Apartemen Kakek. Kalau bisa ajaklah semua kakak-kakakmu. Biar kita bisa makan bersama di Apartemen."
"Oke. Udah dulu, Ma. Aku tutup."
PIP!
Saat setelah selesai berbicara dengan ibunya, tepat itu juga dua orang itu memukulnya Adam dari belakang.
BUUGGHH!
Adam seketika tak sadarkan diri dan tubuhnya langsung digendong dan dibawa keluar dari kampus.
Sekarang Adam sudah berada di sebuah mobil van hitam bersama enam pria. Mobil van itu pun pergi meninggalkan kampus.
Salah satu dari enam pria itu menghubungi seseorang.
"Hallo, Bos. Pekerjaan selesai. Kami berhasil menculiknnya."
"Bagus. Bawa dia ke gudang yang tak terpakai. Ikat dia dan kurung dia disana. Kalian jaga dia baik-baik jangan sampai kabur."
"Siap Bos."
Harsha dan Gala berada di Apartemen milik keluarga Bimantara.Disana juga ada Utari. Utari mempersiapkan makan siang untuk putra-putranya dan keponakannya beserta teman-temannya dibantu oleh Harsha dan Gala. Semua permintaan Adam juga sudah dibelikan oleh Harsha. Mereka akan makan bersama disana.
Sedangkan Ardi, Danish dan yang lainnya bersiap-siap untuk pulang. Mereka akan datang ke Apartemen dan berkumpul disana setelah mendapatkan pesan dari Harsha.
Kini mereka melangkahkan kaki menyusuri koridor Kampus. Dan akhirnya mereka pun sampai di parkiran.
"Hei, Di! Itu kan motormu. Berarti Adan sudah kembali ke kampus lagi!" seru Arka saat melihat motor Ardi yang terparkir.
"Kenapa Adam ceroboh sekali? Kenapa dia bisa meninggalkan kunci motor disini?" tanya Ardi bingung.
"Aku akan menghubunginya. Siapa tahu Adam sedang mencari kita?" Kenzie lalu menghubungi Adam.
Panggilan pun tersambung..
"Tunggu dulu. Kalian dengar itu!" seru Kavi.
Mereka bersama-sama mendengarkan suara yang berada disekitar mereka. Suara musik yang amat mereka kenal.
"Itu nada dering ponsel milik Adam. Aku hafal sekali dengan nada dering itu," sahut Sakha.
"Di. Ponselnya ada di bawah kakimu. Tepatnya di bawah motor!" ujar Cakra yang melihat ponsel milik Adam terjatuh di sana.
Ardi segera mengambil ponsel tersebut dan ponsel tersebut sedikit retak di bagian layarnya.
"Apa yang terjadi pada Adam? Kenapa ponselnya ada disini? Dan kenapa Adam meninggalkan kunci motor Ardi disini?" tanya Arya yang mulai curiga.
"Pasti terjadi sesuatu pada Adam," pungkas Indra.
"Adam tidak pernah teledor dan seceroboh seperti ini. Dia selalu berhati-hati," ucap Ardi.
"Sudah, sudah! Kita positif thinking aja. Semoga tidak terjadi sesuatu pada Adam." Arka berusaha menghibur dan menenangkan sahabat-sahabatnya, terutama Danish dan Ardi.
"Siapa tahu kali ini Adam memang ceroboh. Sampai meninggalkan kunci motor kak Ardi dan tidak mengetahui ponselnya terjatuh," ucap Kenzie menambahkan.
"Kenzie benar. Bisa jadi seperti itu. Mungkin Adam buru-buru dan ingin langsung menemui Rektor. Kan Adam dapat tugas dari Rektor." Prana juga ikut menambahkan.
"Biarkan aku yang menemui Rektor. Siapa tahu juga Adam ada disana!" seru Rayan.
"Aku ikut denganmu, Ray!" seru Sakha.
"Adam. Semoga kau baik-baik saja, adikku." Danish berdoa di dalam hatinya.
Cakra yang menyadari keterdiaman Danish menepuk pelan bahu Danish. "Semoga tidak terjadi apa-apa pada Adam?" Danish hanya mengangguk sebagai jawaban.
Beberapa menit kemudian Rayan dan Sakha telah kembali dan telah berkumpul dengan yang lainnya.
"Bagaimana, Sakha?" tanya Ardi.
"Rektor mengatakan kalau Adam sudah selesai dengan tugasnya, dia boleh langsung pulang ke rumah. Dengan catatan Adam jangan sampai lupa untuk menghubungi Rektor kalau tugasnya sudah selesai." Sakha menjawabnya.
"Dengan kata lain, Adam tidak kembali lagi ke kampus," kata Rayan menambahkan.
"Tapi kenapa motornya Ardi masih ada disini dan meninggalkan kunci motornya yang masih tergantung? Ditambah lagi kita menemukan ponselnya yang tergeletak disini. Pasti terjadi sesuatu pada adikku." Danish berbicara dengan mimik wajah khawatir.
"Pasti ini ulahnya Mama Dhira," sahut Danish.
"Sabar dulu, Danish. Kita tidak punya bukti menuduh Mama tirimu. Papamu tidak akan percaya," ucap Cakra menenangkan Danish.
"Kita sudah punya bukti. Kita tinggal tunjukkan saja bukti itu," sahut Danish.
"Tapi itu tidak cukup kuat, Danish." Arya menyela perkataan Danish.
"Lebih baik kita sekarang ke Apartemen Kakek. Mama Utari, Gala dan Harsha sudah menunggu. Semoga saja Adam baik-baik saja dan dia segera pulang." Arka berbicara sambil memberikan ketenangan pada yang lainnya.
***
Di sebuah gudang kumuh dimana Adam disekap. Adam diikat di salah satu kursi yang ada di gudang tersebut dengan keadaan yang masih belum sadar.
Berlahan kedua mata bulat itu terbuka. Menampakkan dua pasang Onyx yang indah. Matanya mengerjab merasa asing akan tempat ini.
"Sudah sadar pangeran manis?"
Adam menatap seorang wanita cantik yang sedang berdiri di depannya. "Wajahnya tak asing bagiku. Sepertinya aku pernah bertemu. Tapi dimana?" batin Adam yang terus menatap wajah wanita itu. Wanita itu menatapnya dengan senyuman menyeringai.
"Kita bertemu lagi, Adam. Masih ingat denganku?" tanya wanita itu.
Adam berpikir sejenak dan detik kemudian Adam pun akhirnya mengingat wanita tersebut.
"Kau! Ini dimana? Kenapa aku diikat begini? Kau mau apa?" tanya Adam.
"Lepaskan aku!" teriak Adam.
Wanita itu hanya tersenyum sinis melihat Adam. "Melepaskanmu. Aku sudah susah payah menyuruh anak buahku menculikmu dan kau minta untuk dilepaskan. Yang benar saja, Adam!"
"Apa tujuanmu menculikku, hah?!" bentak Adam.
"Eemm. Baiklah. Akan aku beritahu apa alasanku menculikmu? Tapi sebelumnya aku akan perkenalkan diriku padamu, Adam." wanita itu berucap.
"Siapa kau?"
"Aku.. aku adalah Areta Dhira Kalyani, istri dari Evan Hara Bimantara. Ayahmu menikahiku saat setelah dia mengusir ibumu dan dirimu dari rumahnya karena ketahuan selingkuh. Bertahun-tahun aku hidup dengannya. Menjaga kedua putra-putranya. Dan sekarang kau dan ibumu kembali dan ingin merebut Evan dariku!" teriak Dhira.
"Hahahaha." Adam tertawa. "Kau lucu sekali, Bibi! Siapa yang merebut dan siapa yang direbut? Bibi itu hanya istri kedua ayahku. Itu pun ayahku tidak mencintaimu saat menikahimu. Pernikahan kalian itu terjadi gara-gara dua wanita iblis itu. Kalau ayahku mencintaimu, tidak mungkin ayahku mencariku dan ibuku." Adam berbicara sembari tersenyum mengejek.
"Jadi kaulah yang sudah merebut ayahku dari ibuku. Dan aku akan merebutnya kembali?" ucap dan tanya Adam.
PLAAKK!
Dhira menampar keras wajah Adam. "Aku tidak akan membiarkan siapapun merebut suamiku. Termasuk kau dan ibumu! Untuk saat ini aku akan bermain-main dengan ibu kesayanganmu itu."
Setelah mengatakan hal itu, Dhira pergi meninggalkan Adam yang masih terikat.
"Jangan berani-beraninya kau menyentuh ibuku perempuan gila!" teriak Adam.
BUGH!
BUGH!
Dua pria itu memukul wajah dan perut Adam bertubi-tubi dengan keras.
"Aakkhh!" Adam meringis kesakitan menerima pukulan dari dua pria suruhan Dhira.
Setelah puas memukul Adam. Salah satu pria tersebut menyuntikkan sesuatu ke dalam tubuh Adam dengan kasarnya, tepat di belakang tengkuk Adam.
JLEB!
"Aakkh!"
Selang beberapa menit kemudian, kesadaran Adam pun hilang. Dan dua pria tersebut pergi meninggalkan Adam yang tak sadarkan diri.