THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Pulangnya Adam Kekeluarga Abimanyu



Mereka terkejut saat mendengar Allan menyebut kata Mama. Mereka semua bingung. Allan mengucapkan kata Mama untuk siapa? Mama kandungnya atau Mama angkatnya.


Harsha yang berada di sampingnya menggenggam erat tangan Allan.


"Allan."


Allan berlahan membuka kedua matanya dan menatap wajah Harsha sendu.


"Kakak! Antar aku bertemu Ma-mama," lirih Allan.


"Mama? Mama yang mana, Allan?" tanya Harsha hati-hati.


"Ma-mama... Hiks," isak Allan.


Harsha menatap Ardi dan Danish. "Ya, sudah. Kita bawa Allan pulang ke rumah," kata Ardi.


Mereka semua pun mengangguk sebagai jawaban. Lalu mereka pergi meninggalkan ruang latihan Taekwondo.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Sembari menunggu tiga anggota keluarga mereka pulang dari kampus, mereka duduk santai di ruang tengah. Lagian mereka juga seharian ini sibuk dengan urusan kantor dan urusan rumah. Jadi waktunya bersantai berjemaah.


"Utari," panggil Bagas.


"Ya, kak. Ada apa?" tanya Utari.


"Bagaimana perkembangan University National Jakarta?"


"Semuanya baik-baik saja, kak!"


"Lalu bagaimana kabar Nafil Anggara mantan Rektor dulu?"


"Eeemmm! Aku dengar dia bekerja menjadi guru di SMP NEGERI 1 JAKARTA. Sebenarnya aku tidak ada niat untuk memecatnya. Dikarenakan Adam yang diculik saat masih dalam jam kuliah, aku marah padanya. Awalnya aku hanya marah saja. Tapi saat kejadian ledakan di gudang itu, makanya aku emosional dan langsung memecatnya." Utari berucap dengan nada lirihnya.


"Apa kau tidak berniat untuk mengangkatnya kembali menjadi Rektor di kampusmu itu? Secara diakan Rektor terbaik selama menjadi memimpin di kampusmu?" tanya Bagas.


"Aku sudah memikirkan masalah itu, kak! Tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana saat mengatakan hal ini padanya. Dan aku juga tidak tahu, apakah dia masih mau memimpin University National Jakarta."


"Kau kan belum mencobanya," kata Davan.


"Lalu bagaimana dengan Rektor yang sekarang?" tanya Garry.


"Rektor yang sekarang ini masa kepemimpinannya tinggal dua bulan lagi sayang. Dan dia sudah diangkat menjadi Rektor di kampus lain. Nama kampusnya Mama lupa," kata Utari.


Saat mereka sibuk bercerita. Lalu mereka mendengar suara bell rumah.


TING!


TONG!


"Nah, itu pasti anak-anak pulang!" seru Alin. Lalu seorang pelayan berlari membukakan pintu.


Harsha menekan bell rumahnya. Sedangkan Danish sedang memapah Allan.


"Ru-mah ini," lirih Allan.


"Kakak senang kau kembali, Adam!" Harsha berucap dengan penuh kebahagiaan.


"Jangan kabur lagi ya!" ucap Ardi.


Danish yang menyadari gerak gerik Allan, dirinya pun mengalihkan pandangannya melihat kearah adiknya.


"Apa kepalamu sakit lagi?"


"I-ya. In-i benar-benar me-nyakitkan," jawab Allan yang berusaha menahannya.


"Kakak tahu apa yang sedang kau pikirkan. Sudahlah lupakan. Jangan dipaksakan untuk mengingat apa yang tidak bisa kau ingat. Itu sama saja akan menyakiti dirimu sendiri," ucap Danish. Danish benar-benar khawatir akan kondisi Adam.


CKLEK!


Pintu di buka oleh seorang pelayan. Dan pelayan itu sukses terkejut saat melihat Adam. Bahkan pelayan itu menangis saat melihat Adam ada di depannya.


Melihat Allan yang menatap bingung pelayan tersebut membuat Ardi bersuara. "Bibi. Apa Bibi tidak akan membiarkan kami masuk dulu, hum?"


"Hehehe. Maafkan Bibi tuan muda Ardi dan semuanya. Ayo, masuk!" Pelayan itu memberikan jalan untuk Ardi dan yang lainnya. Dan akhirnya mereka semua pun melangkah masuk ke dalam rumah.


Saat Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya melangkah menuju ruang tengah. Harsha bersuara seperti biasanya.


"Kami pulang!"


Para orang tua, para kakak dan juga sang kakek yang berada di ruang tengah secara bersamaan melihat kepulangan mereka.


Utari tiba-tiba langsung berdiri saat melihat sosok pemuda yang sangat dirindukannya. Ya! Pemuda itu adalah putra bungsunya. Utari menangis saat melihat putra bungsunya berdiri di hadapannya. Ditambah lagi putra bungsunya itu sama sekali tak mengalihkan pandangannya darinya. Putra bungsunya itu terus menatapnya.


Utari berlahan melangkah menghampiri sang putra. Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya mundur memberikan ruang untuk keduanya. Air mata Utari masih setia mengalir membasahi wajah cantiknya. Berlahan Utari mengangkat kedua tangannya untuk mengelus wajah tampan putranya itu.


Dan detik kemudian Allan pun menangis. Bibirnya bergetar seakan-akan ingin mengucapkan sesuatu. Anggota keluarganya yang menyaksikan adegan tersebut sudah dalam keadaan menangis. Mereka semua menangis melihatnya.


"Hiks... Hiks." terdengar suara isakan dari Allan.


GREP!


Utari langsung memeluk tubuh bergetar putra bungsunya itu dengan erat.


"Ma-mama." akhirnya kata itu lolos dari bibir Allan.


Mereka semua yang mendengar Allan memanggil Utari Mama, tangis mereka makin kencang. Tak terkecuali Danish, Ardi dan Harsha. Mereka yang paling terisak.


Utari melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putra bungsunya itu. "Sayang. Hiks.. a-pa tadi Mama tidak salah dengar? Ka-kau barusan memanggil Mama.. Hiks," isak Utari.


"Mama... Mama." Allan mengucapkannya yang ketiga kalinya. Hal itu sukses membuat Utari makin terisak.


"Hiks... Hiks... Adam putra Mama.. Hiks... sayang Mama." Utari menangis bahagia dan memberikan kecupan-kecupan sayang di seluruh wajah putranya.


Setelah puas menyerang wajah putranya, Utari kembali memeluk tubuh putranya itu. "Terima kasih telah kembali ke rumah ini, sayang!"


Setelah puas memeluk putra bungsunya, Utari melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah tampan putranya itu. Lagi-lagi Utari menyerang wajah tampan putranya dengan kecupan-kecupannya.


Dan detik kemudian, Allan menundukkan kepalanya. "Hiks."


Hal itu sukses membuat Utari dan anggota keluarga yang lainnya beserta para sahabat menjadi khawatir.


Utari menyentuh dagu Utari, lalu mengangkatnya ke atas. Utari menghapus air mata putranya itu. "Ada apa, sayang? Katakan pada Mama."


"Aku... aku." Allan menatap satu persatu wajah-wajah orang-orang yang ada dihadapannya.


Mereka yang melihat arti dari tatapan mata Allan sangat mengerti. Lalu Evan selaku ayahnya mendekatinya. Lalu tangannya membelai lembut kepala belakangnya.


"Papa mengerti dan Papa tahu apa yang ingin kau sampaikan sayang. Tak masalah. Jangan dipikirkan, oke! Hal yang terpenting dan membahagiakan kami semua saat ini adalah kembalinya dirimu ke rumah ini. Jadi, kau tidak perlu memikirkan apapun." Evan berucap lembut kepada putra bungsunya sembari memberikan kecupan di kening dan di kedua pipi mulus putranya.


"Aarrgghhh!" tiba-tiba Allan mengerang kesakitan sembari meremas kuat rambutnya.


"Adam!" teriak panik mereka semua.


Garry, Danish, Ardi dan Harsha menghampiri Adam. Garry dan Danish menarik tangan Adam yang saat ini meremat-remat kuat rambutnya.


"Jangan ditarik rambutnya Adam. Kakak mohon," kata Garry.


"Aarrgghhh! Kepalaku sa-sakiit." Garry dan Danish memeluk tubuh adik mereka.


Mereka semua menangis saat melihat kesayangan mereka kesakitan. Utari menangis di dalam pelukan Evan. Dirinya benar-benar tidak kuat dan tidak tega melihat putra bungsunya kesakitan.


Detik kemudian, Adam menjatuhkan kepalanya di dada bidang Garry. Dan seketika kesadaran mengambil alih tubuhnya.


"Adam!" teriak mereka semua saat melihat Adam yang tak bergerak sama sekali.


"Sepertinya Adam pingsan," kata Garry.


"Ya, sudah! Bawa Adam ke kamarnya. Lihatlah wajahnya pucat sekali. Ardi, kau telepon Dokter Marwan," sahut Bagas.


"Baik, Pa!" Ardi langsung menghubungi Dokter Marwan.