
Nicolaas saat ini masih terduduk di lantai rumah sakit, tepatnya di depan ruang operasi. Dirinya saat ini tampak kacau. Ditambah lagi luka-luka yang ada di sekujur tubuhnya.
"Papa. Aku mohon bertahanlah. Jangan pernah pergi meninggalkanku, Mama, Vigo dan Allan." Nicolaas membantin. Seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Zelo dan beberapa anak buahnya ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Nicolaas. Mereka tidak tega melihat kondisi Nicolaas saat ini.
"Nicolaas," panggil seseorang.
Orang itu berlari menghampiri Nicolaas yang terduduk di lantai.
GREP!
"Sayang. Ini Mama, Nak!"
Orang itu adalah Celena Adiyaksa, ibu dari Nicolaas. Celena datang bersama Vigo dan anggota keluarga Abimanyu.
"Ka-kakak," lirih Vigo yang juga ikut memeluk kakaknya.
"Hiks... Hiks... Hiks." Nicolaas terisak di dalam pelukan ibu dan adiknya.
"Semoga semuanya baik-baik saja, oke!" Celena berusaha menenangkan putra sulungnya.
"Sayang. Aku mohon bertahanlah demi kami. Jangan tinggalkan aku dan anak-anak. Kami masih membutuhkanmu," batin Celena.
Setelah beberapa jam pintu ruang operasi itu tertutup. Dan akhirnya, pintu ruang operasi itu pun terbuka. Dan keluarlah seorang Dokter dari dalam ruangan tersebut.
CKLEK!
Mendengar suara pintu di buka. Baik Celena maupun Nicolaas dan Vigo serta anggota keluarga Abimanyu, semuanya melihat kearah suara pintu tersebut. Dan dapat mereka lihat seorang Dokter keluar dengan wajah lelahnya.
Celena menarik putra sulungnya untuk berdiri, lalu mereka menghampiri Dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan suami saya? Apa suami saya baik-baik saja?" tanya Celena.
Dokter itu tidak langsung menjawab. Matanya menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya.
"Siapa diantara kalian yang bernama Allan?" tanya Dokter itu.
Mereka semua saling lirik, lalu kembali menatap wajah Dokter itu. Sementara Celena melihat kearah Utari.
Utari yang mengerti arti tatapan matanya Celena tersenyum. Setelah itu, Utari melihat kearah sang Dokter.
Ketika Utari ingin membuka suara, tiba-tiba Harsha berseru.
"Itu Adam!" seru Harsha sambil menunjuk kearah Adam yang sedang berjalan tergesa-gesa menuju kearah mereka.
Mereka semua melihat kearah tunjuk Harsha. Dan dapat mereka lihat Adam yang berjalan tergesa-gesa kearah mereka semua.
"Ada apa?" tanya Adam ketika sudah berada di dekat mereka.
"Dokter, ini Allan!" seru Celena sambil merangkul putra angkatnya.
Dokter itu melihat kearah Adam. "Tapi barusan dia dipanggil dengan sebutan Adam!" ujar Dokter itu.
"Nama aslinya adalah Adam, Dok! Nama Allan itu pemberian dari saya, suami saya dan kedua putra saya ini. Allan ini adalah putra angkat saya dan suami saya." Celena menjelaskan yang sebenarnya kepada Dokter tersebut.
Mendengar penjelasan dari Celena. Dokter itu mengangguk mengerti.
"Baiklah. Saya mengerti," ucap Dokter itu. Dokter itu menatap Adam. "Bisa ikut saya, saudara Allan!"
"Baik, Dok."
Setelah itu, Dokter dan Adam pun pergi meninggalkan Celena dan anggota keluarga Abimanyu. Keduanya masuk ke dalam ruang operasi.
^^^
Kini Adam dan Dokter itu sudah berada di dalam ruang operasi. Adan menatap sendu Ayah angkatnya yang terbaring lemah di tempat tidur.
"Pasien mengalami pendarahan hebat. Peluru itu berhasil mengenai jantungnya sehingga jantung pasien mengalami gagal fungsi. Ketika pasien dibawa ke rumah sakit. Detak jantung pasien sudah tidak ada. Saya dan dua Dokter lainnya berusaha untuk mengembalikan detak jantung pasien. Dan kami berhasil. Tapi dilihat dari kondisinya. Mustahil pasien akan bertahan." Dokter itu menjelaskan kondisi Levi, ayah angkatnya.
Mendengar penjelasan dari Dokter tersebut, seketika air mata Adam mengalir membasahi wajahnya.
"Pasien sempat sadar lalu menyebut nama anda," ucap Dokter itu.
Adam berlahan melangkah mendekati ranjang Ayahnya. Setelah berada di samping ranjang Ayahnya, Adam memegang tangan Ayahnya dan menggenggamnya.
"Pa. Ini aku, Allan. Buka matamu, Pa! Bukankah Papa tadi menyebut namaku. Aku sudah disini." Adam berbicara lirih.
Seketika Levi membuka matanya berlahan. Dan dapat Levi lihat, putra angkatnya ada di hadapannya.
"A-allan," lirih Levi.
"Iya, Pa. Ini aku, Allan." Adam makin menggenggam kuat tangan ayahnya. Begitu juga dengan Levi.
"Pa-papa in-gin me-nyampaikan se-suatu pada-mu. Ini sa-ngat pen-ting." Levi berbicara dengan lirih dan juga terbata-bata.
"Papa jangan bicara dulu. Nanti saja jika Papa sudah sembuh." Adam menangis ketika melihat ayahnya yang berusaha untuk mengatakan sesuatu.
"Ti-dak, sayang. Papa ha-rus menyam-paikan-nya seka-rang. De-ngarkan Pa-papa. Pertama, k-kau ada-lah kepona-kan Pa-pa. Pa-papamu adalah ka-kak kan-dungnya Pa-papa. Kedua, ke-luarga Adiyaksa ingin mere-but Peru-sahaan milik Pa-papa dan ju-ga ru-mah me-wah yang Papa beli un-tuk keluarga Pa-pa . Ja-di untuk meng-gagalkan niat mere-ka. Papa telah memindah-kan ke-pemi-likan Pe-rusa-haan Papa dan kepe-milikan ru-mah me-wah itu men-jadi atas nama-mu. De-ngan begitu, mere-ka ti-dak bisa merebut-nya. Papa me-makai nama aslimu dan me-makai marga dari ibu kan-dungmu. Dirandra Adamka Abimanyu. Ketiga, perem-puan ya-ng bernama Areta Dhira Kalyani dan Kakak laki-lakinya akan menya-kiti ayahmu. Mere-ka akan mem-balas den-dam kepa-da keluar-ga Bimantara. Kau ha-rus melin-dungi keluarga-mu, sa-yang. Terutama Papamu."
Mendengar cerita dari ayahnya membuat Adam benar-benar marah.
"Aku tidak akan membiarkanmu menyakiti keluargaku, apalagi menyakiti Papaku, perempuan sialan." Adam membatin.
"A-allan, sayang. Jika Pa-pa pergi nanti. Papa ti-tip Mamamu dan ke-dua ka-kakmu kepada-mu. Jaga mere-ka untuk Pa-pa."
"Tidak, Pa! Papa tidak boleh pergi. Papa harus tetap bersamaku, bersama Mama, bersama kak Nicolaas dan kak Vigo. Kita akan tinggal bersama dengan kedua orang tua kandungku dan kedua kakakku. Bahkan Papa belum mengatakan kepada Papa Evan bahwa Papa adalah adik kandungnya."
Levi menyentuh wajah tampan Adam, lalu mengusapnya lembut.
"Ti-dak, sa-yang. Seperti-nya Pa-pa tidak kuat lagi. Papa benar-benar le-lah. Papa mau ti-dur. Sam-paikan maaf Papa un-tuk Mamamu dan kedua kakakmu karena ti-dak bisa ber-sama mere-ka lagi. Kata-kan kepada mere-ka bahwa Papa sangat menya-yangi mereka. Kata-kan ju-ga pada ka-kakmu, Nico-laas. Jang-an per-nah menyalah-kan diri sen-diri atas apa yang menim-pa Papa. Apa yang Pa-pa laku-kan demi melin-dungi-nya."
"Hiks... Hiks... Papa... Hiks." Adan terisak kencang.
"Aaahhh... aahhh."
"Papa... Papa!" teriak Adam ketika melihat ayahnya bernafas dengan putus-putus.
"Lebih baik anda keluar dulu," ucap Dokter tersebut.
Dengan berlinang air mata, Adam pun melangkah keluar dari ruang operasi.
^^^
Di luar ruang operasi Celena, Nicolaas, Vigo dan anggota keluarga Abimanyu tampak panik dan juga khawatir.
Ketika mereka semua tengah memikirkan keadaan Levi. Tiba-tiba mereka semua di kejutkan dengan suara pintu yang di buka.
CKLEK!
Mereka semua melihat kearah suara pintu tersebut. Mereka melihat Adam yang keluar dalam keadaan menangis.
Adam bersandar di dinding. Dan seketika tubuhnya merosot ke bawah. Melihat Adam yang dalam keadaan kacau. Mereka semua mendekat. Mereka semua tampak khawatir melihat Adam.
"Sayang," lirih Utari sembari mengusap lembut kepala putra bungsunya.
Adam yang masih dalam keadaan menangis dan juga kacau. Ditambah lagi perkataan ayahnya yang terngiang-ngiang di pikirannya.
"Ti-dak, sayang. Papa ha-rus menyam-paikan-nya seka-rang. De-ngarkan Pa-papa. Pertama, k-kau ada-lah kepona-kan Pa-pa. Pa-papamu adalah ka-kak kan-dungnya Pa-papa. Kedua, ke-luarga Adiyaksa ingin mere-but Peru-sahaan milik Pa-papa dan ju-ga ru-mah me-wah yang Papa beli un-tuk keluarga Pa-pa. Ja-di untuk meng-gagalkan niat mere-ka. Papa telah memindah-kan ke-pemi-likan Pe-rusa-haan Papa dan kepe-milikan ru-mah me-wah itu men-jadi atas nama-mu. De-ngan begitu, mere-ka ti-dak bisa merebut-nya. Papa me-makai nama aslimu dan me-makai marga dari ibu kan-dungmu. Dirandra Adamka Abimanyu. Ketiga, perem-puan ya-ng bernama Areta Dhira Kalyani dan Kakak laki-lakinya akan menya-kiti ayahmu. Mere-ka akan mem-balas den-dam kepa-da keluar-ga Bimantara. Kau ha-rus melin-dungi keluarga-mu, sa-yang. Terutama Papamu."
"A-allan, sayang. Jika Pa-pa pergi nanti. Papa ti-tip Mamamu dan ke-dua ka-kakmu kepada-mu. Jaga mere-ka untuk Pa-pa."
"Tidak, Pa. Papa tidak boleh pergi. Papa harus tetap bersamaku, bersama Mama, bersama kak Nicolaas dan kak Vigo. Kita akan tinggal bersama dengan kedua orang tua kandungku dan kedua kakakku. Bahkan Papa belum mengatakan kepada Papa Evan bahwa Papa adalah adik kandungnya."
"Sayang." kini Celena memanggilnya.
Namun, Adam masih belum merespon panggilan dari kedua ibunya.
"Aku bersumpah. Jika terjadi sesuatu pada Papaku, Liam Levi Bimantara. Aku akan membunuh kalian semua. Dan kau Areta Dhira Kalyani beserta kakakmu. Aku tidak akan membiarkan kalian menyakiti keluargaku, apalagi menyakit Papaku. Sebelum kau menyakiti mereka, maka akulah yang terlebih dahulu akan membunuhmu. Setidaknya aku akan membalas perlakuanmu dulu kepadaku saat kau menyekapku di gudang. Kali ini akan aku pastikan kau dan kakak laki-lakimu itu akan membayar semuanya."
Adam berbicara dengan wajah yang penuh amarah dan tatapan mata yang memerah. Disertai linangan air matanya yang membasahi wajah tampannya.
Mendengar ucapan dari Adam membuat mereka semua terkejut dan juga takut. Mereka juga mendengar ketika Adam menyebut nama Ayah angkatnya dengan menggunakan marga Bimantara.
CKLEK!
Suara pintu ruang operasi kembali terdengar. Mereka semua melihat kearah pintu tersebut, tapi tidak dengan Adam. Adam sudah merasakan bahwa Ayahnya telah pergi.
"Dokter, bagaimana suami saya?" tanya Celena.
"Saya minta maaf kepada anda dan keluarga anda. Pasien yang bernama Levi telah dinyatakan meninggal dunia. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Namun Tuhan berkata lain."
"Tidak, Papa!" teriak Nicolaas dan Vigo.
Nicolaas dan Vigo menangis ketika mendengar kabar kematian ayahnya. Mereka tidak menyangka jika ayahnya pergi meninggalkan mereka.
"Papa... Hiks." Nicolaas dan Vigo terisak.
GREP!
Evan memeluk Nicolaas dan Vigo secara bersamaan. Evan sangat mengerti akan kesedihan keduanya.
"Sayang... Hiks." Celena juga terisak. Dirinya tidak menyangka suaminya pergi meninggalkannya dan kedua putra-putranya.
GREP!
Utari memeluk tubuh Celena dan tangannya mengusap-ngusap lembut punggungnya.
"Kau tidak sendirian, Celena! Ada aku dan keluargaku. Mereka semua juga keluargamu. Kau adalah ibu dari putra bungsuku. Putraku begitu menyayangimu." Utari berbicara sembari menenangkan Celena.
Sementara Adam mengepalkan kedua tangannya ketika mendengar kabar kematian Ayahnya. Ternyata Ayahnya benar-benar pergi meninggalkannya, ibunya dan kedua kakaknya.
Seketika Adam berteriak histeris. Dan hal itu membuat anggota keluarganya panik, termasuk Celena, Nicolaas dan Vigo.
"AARRRGGGHHH!!"
"Adam!" teriak panik mereka ketika mendengar Adam yang tiba-tiba berteriak kencang.
"Areta Dhira Kalyani!" teriak Adam lagi.
Garry langsung memeluk tubuh adiknya. Dirinya benar-benar sakit melihat keadaan adiknya saat ini.
"Adam," lirih Garry.
"Hiks... Papa... Hiks... Papa... Papa... Hiks." Adam berteriak histeris sembari terisak di pelukan kakaknya.