
Semuanya anggota keluarga berkumpul di kediaman Abimanyu, termasuk kakak perempuan dari Evan Hara Bimantara yaitu Nayyira Zaina Bimantara yang berubah menjadi Nayyira Zaina Palavi bersama suaminya Alex Diaz Palavi dan kedua anak perempuannya yaitu Alia Naydi Palavi dan Adila Naydi Palavi.
Para sahabat dari Adam, Ardi, Harsha, Danish dan Vigo juga hadis disana.
Untuk Nayyira Zaina Palavi sudah mengetahui tentang adik bungsunya. Sang Ibu Amirah dan sang adik Evan sudah menceritakan tentang Liam Levi Bimantara kepadan Zaina.
Mendengar cerita dari ibu dan adiknya membuat Zaina bahagia, namun kebahagiaan hanya sebentar karena dirinya tidak bisa melihat bahkan memeluk adik bungsunya itu. Adik bungsunya itu pergi untuk selamanya.
Tapi bagi Zaina, walau adik bungsunya itu sudah pergi untuk selamanya. Adik bungsunya itu meninggalkan kenang-kenangan berupa istri yang cantik dan dua putra yang tampan. Zaina berjanji pada dirinya sendiri kalau dirinya akan menjadi kakak ipar dan bibi yang baik untuk adik iparnya dan kedua keponakannya itu.
Alia dan Adila juga sama seperti ibunya. Mereka juga tampak bahagia karena memiliki tambahan saudara dari pihak ibunya. Dulu Alia dan Adila hanya tahu Garry dan Danish saja saudaranya. Ternyata mereka berdua masih memiliki saudara lagi.
Pertama, Alia dan Adila mengetahui bahwa kedua sepupunya itu memiliki adik laki-laki. Mereka berpisah akibat ulah ibu dan neneknya. Kedua, Alia dan Adila mengetahui bahwa ibunya memiliki adik laki-laki yang selama ini masih hidup. Dan adik laki-laki ibunya itu memiliki dua orang putra.
"Ibu benar-benar bahagia hari ini karena cucu ibu sudah berada di rumah sekarang. Bukan di rumah sakit lagi," ucap Amirah tersenyum.
Mendengar perkataan dari Amirah membuat mereka semua juga merasakan hal yang sama. Mereka juga bahagia karena kesayangannya, sahabatnya dan adiknya sudah kembali pulang dan berkumpul bersama mereka semua.
"Dan kakek berharap untuk saat ini dan seterusnya. Cucu kakek Dirandra Adamka Bimantara hidup bahagia. Benar-benar hidup bahagia. Tidak ada lagi masalah yang menghampiri hidupnya, tidak ada lagi air mata yang membasahi wajahnya. Sudah cukup cucu Kakek itu menderita sejak kecil. Kakek ingin melihat cucu kakek merasakan kebahagiaannya yang utuh."
Yodha berbicara sembari mengingat bagaimana menderitanya kehidupan cucunya itu.
Mendengar penuturan dan melihat wajah sedih Yodha membuat mereka semua hanya bisa diam. Di dalam hati mereka masing-masing membenarkan apa yang dikatakan oleh Yodha terutama Utari, Bagas dan Davan. Merekalah yang tahu akan kehidupan seorang Adam selama ini.
Membahas masalah Adam. Zaina dan Celana yang menyadari bahwa Adam tidak ada bersama dirinya dan anggota keluarga lainnya seketika bersuara.
"Oh iya! Allan mana? Sejak tadi aku tidak melihatnya!" seru Celena.
Mendengar pertanyaan Celena mengenai Adam salah satu dari mereka yaitu Ardi langsung bersuara.
"Adam ada di kamarnya Bibi Celena. Sejak keluar dari rumah sakit. Sejak itulah Adam lebih banyak di kamarnya," sahut Ardi.
"Terus kalian ngapain masih disini?" tanya Davan menatap wajah putra dan keponakannya satu persatu.
"Apa kalian akan diam saja melihat Adam yang hanya di kamarnya terus?" tanya Kalima.
"Hibur dong Adam nya! Pasti saat ini Adam tengah merindukan Melky yang ada di Australia," ucap Bagas.
Ketika mereka tengah berusaha untuk merencanakan untuk menghibur Adam, tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara langkah kaki menuruni anak tangga.
Dengan kompaknya, semua yang ada di ruang tengah tersebut langsung mengalihkan perhatiannya menatap keasal suara.
Seketika terukir senyuman di bibir mereka semua ketika melihat orang yang sejak tadi mereka bahas.
Orang yang menuruni anak tangga itu adalah Dirandra Adamka Bimantara, putra dan adik kesayangannya Utari, Evan, Garry dan Danish.
Adam terus melangkah tanpa menyadari bahwa dirinya menjadi pusat perhatian anggota keluarganya dan para sahabatnya menuju dapur.
Ketika tiba di dapur, Adam berhenti di depan lemari pendingin. Kemudian tangannya bergetar untuk membuka pintu lemari pendingin tersebut.
Setelah pintu lemari pendingin tersebut terbuka, Adam mengambil dua botol susu pisang kesukaannya yang tersusun rapi disana.
Setelah mendapatkan dua botol susu pisang kesukaannya, Adam kembali menutup pintu lemari pendingin itu kembali.
Adam berjalan menuju meja makan dengan membawa dua botol susu pisang kesukaannya.
Sementara anggota keluarganya dan para sahabatnya dan para sahabat kakak-kakaknya masih terus memperhatikan dirinya. Mereka semua tersenyum gemas melihat apa yang dikerjakan oleh Adam di dapur.
^^^
"Adam itu paling suka sekali dengan namanya susu pisang," ucap Harsha.
"Maka dari itulah kenapa kita menyediakan stok susu pisang kesukaannya di kulkas," sela Ardi.
Mereka semua tersenyum ketika mendengar cerita Ardi dan Harsha tentang kesukaan Adam dengan susu pisang.
Danish seketika berdiri dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menghampiri adiknya yang saat ini asyik dengan dunianya.
"Danish mau kemana?" tanya Garry yang melihat adiknya yang tiba-tiba pergi.
"Tuh, mau menghampiri anak kelinci itu!" Danish menjawab pertanyaan dari kakaknya sembari menunjuk kearah Adam di dapur.
"Jangan pancing peperangan dengan adikmu itu Danish. Jika terdengar satu suara teriakan saja dari adikmu itu. Papa akan tarik telinga sampai putus," ucap Evan menjahili putra keduanya itu.
Danish yang mendengar perkataan sekaligus ancaman dari ayahnya seketika mendengus.
Sementara yang lainnya tersenyum serta geleng-geleng kepala mendengar perkataan dari Evan demi membela putra bungsunya dan mengorbankan putra keduanya.
^^^
Danish sudah bergabung dengan adik kesayangannya. Dirinya menatap wajah tampan adiknya yang duduk di hadapannya. Di dalam hatinya, dirinya bahagia dan juga bersyukur karena Tuhan masih memberikan kesempatan padanya untuk menjadi kakak yang baik untuk adik satunya yang dimiliki.
Adam yang sejak tadi asyik dengan dunianya sembari tatapan matanya menatap layar ponselnya seketika menyadari seseorang tengah menatap dirinya.
Adam seketika menolehkan wajahnya menatap ke depan dan dapat dilihat oleh kakak yang super jelek dan super menyebalkan tengah tersenyum menatap dirinya.
Seketika terlintas ide jahil di pikiran untuk mengerjai sang kakak. Dalam hatinya berkata, 'kapan lagi mengerjai orang yang super menyebalkan di hadapanku ini'.
"Ngapain lihatin aku sampai segitunya?" tanya Adam dengan menatap kakaknya curiga.
Mendengar pertanyaan dari adiknya membuat Danish terkejut. Dan detik kemudian, Danish tersenyum.
"Malah senyum lagi. Gila kali nih orang," ucap Adam.
Mendengar perkataan kejam dari adiknya seketika Danish membelalakkan matanya.
Tak..
"Aakkhhh!"
Danish memberikan jitakan gratis di kening adiknya itu sehingga membuat adiknya meringis sembari mengelus keningnya.
"Yak! Danelio Danish Bimantara! Kenapa kau menjitak kepalaku, hah?!" teriak Adam menggema di ruang makan.
Seketika Danish langsung menutup kedua telinganya mendengar teriakkan yang begitu keras dari adiknya.
Sementara anggota keluarganya dan semua yang ada di ruang tengah seketika tertawa ketika mendengar ucapan kejam dari Adam.
"Hahahahaha."
Mendengar tawa yang keras yang berasal dari ruang tengah seketika membuat Adam langsung melihat kearah ruang tengah. Dan dapat Adam lihat semua anggota keluarganya, sahabat-sahabatnya dan juga sahabat-sahabat dari kakak-kakaknya berkumpul disana.
"Sayang, kemari dong. Masa sendirian di ruang makan!" seru Utari.
Mendengar seruan dari ibunya seketika Adam tersenyum. Apalagi melihat senyuman tulus ibunya berikan untuknya.
Adam melirik sekilas kearah kakaknya lalu setelah itu, Adam melangkahkan kakinya menuju ruang tengah.
"Mending aku menemui yang lainnya di ruang tengah. Udah nggak nyaman duduk disini sejak kedatangan makhluk abstrak jelek," ucap Adam.
Setelah mengatakan itu, Adam langsung melongos pergi meninggalkan Danish sendirian.
Sementara Danish menggeram kesal akan perkataan adiknya itu.
"Ganteng gini dibilang mahkluk abstrak jelek," sungut Danish tak terima.
Danish kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menyusul adiknya menuju ruang tengah.