
Vigo saat ini berada di kantin. Dia sendirian dan tidak bersama dengan sahabat-sahabatnya.
Kenapa Vigo ada di kantin? Itu dikarenakan Vigo akan makan bersama dengan Adam. Dirinya sangat merindukan Adam. Satu minggu ini Vigo sibuk dengan urusan kantor sehingga tidak ada waktu untuk mengajar di kampus dan berakhir Vigo tidak bertemu dengan Adam.
Pakaian yang dikenakan oleh Vigo masih pakaian setelan jas lengkap. Hanya saja dasi yang tidak dikenakan oleh Vigo.
Rencana Vigo, setelah selesai makan bersama dan melepaskan rindunya satu minggu ini. Vigo akan kembali lagi ke perusahaannya. Masih banyak pekerjaannya yang belum selesai. Di hari Senin depan barulah Vigo bisa ngajar lagi seperti biasanya.
Bukan hanya Vigo yang sibuk mengurus perusahaan selama satu minggu ini. Ke sepuluh sahabat-sahabatnya juga sama. Mereka juga sibuk dengan perusahaan masing-masing.
Ketika Vigo sedang menyeruput jus pokatnya sembari menunggu kedatangan Adam. Tanpa Vigo sadari ada tiga pemuda yang menatap sinis kearah dirinya. Mereka adalah Lucky, Rogert dan Donny.
"Vigo, lo udah buat gue nggak bisa ikut wisuda. Gue akan balas lo," ucap Lucky dengan tatapan dendamnya.
"Lo udah buat gue gagal dalam ujian kelulusan beberapa bulan yang lalu," ucap Rogert.
"Lo udah buat gue kehilangan kepercayaan dari ayah gue," ucap Donny.
Ketiga menatap Vigo dengan tatapan penuh kebencian dan dendam. Ketiganya sudah bertekad akan membalas rasa sakitnya terhadap Vigo.
Lucky melirik sekilas kearah Rogert dan Donny. Kemudian memberikan kode melalui tatapan matanya.
Melihat lirikan mata dan kode dari Lucky membuat Rogert dan Donny seketika tersenyum di sudut bibirnya.
Setelah itu, mereka kembali menatap kearah Vigo yang saat ini masih asyik dengan minumannya dan ponsel di tangannya.
"Allan kenapa lama sekali?" ucap Vigo dengan melihat jam yang melingkar di tangan kirinya.
Seketika Vigo dikejutkan dengan suara yang terjatuh dari arah belakang. Vigo yang penasaran langsung melihat kearah belakang.
Dan detik kemudian, Vigo terkejut ketika melihat Allan yang sedang memberikan pukulan dan tendangan kepada dua orang pemuda. Sementara yang satunya sudah tersungkur di lantai.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Gedebug..
Brukk
Mendapatkan pukulan dan tendangan dari Adam membuat kedua pemuda itu tersungkur di lantai setelah punggung keduanya menghantam meja.
"Dasar banci! Kalau mau menyerang langsung dari depan bukan dari belakang!"
Vigo seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Allan. Tatapan matanya seketika menatap wajah ketiga pemuda itu.
"Lucky, Rogert, Donny!" seru Vigo.
Tanpa diketahui oleh Adam. Donny yang tersungkur di belakang Adam seketika bangun, walau tubuhnya terasa sakit.
Donny kemudian mengambil kursi yang tak jauh dari pandangan matanya. Setelah mendapatkan kursi itu. Donny melangkah menghampiri Adam hendak memukul tubuh Adam dengan kursi tersebut.
Vigo yang melihat Donny yang hendak memukul Adam dengan kursi, tanpa membuang waktu lagi Vigo menarik kursi miliknya lalu berlari kearah Donny.
Prak..
"Aakkhh!"
Donny seketika berteriak keras ketika merasakan hantaman keras di punggungnya.
Adam seketika membalikkan badannya ketika mendengar suara orang berteriak di belakang tubuhnya.
"Eoh!" Adam berseru lalu menatap kearah kakaknya Vigo yang juga menatap dirinya.
"Terima kasih Prof. Vigo!" Adam berucap sembari tersenyum manis menatap wajah tampan Vigo.
Sementara Vigo mendengus ketika mendengar sapaan dari Adam. Bukannya manggil kakak. Ini malah memanggil dengan sebutan Prof.
"Kakak ingin mendengar kamu manggil kakak. Bukan Prof," sahut Vigo.
"Lah, memangnya ada yang salah?" tanya Adam bingung.
"Ya nggak ada," jawab Vigo.
Setelah mengatakan itu, Adam duduk di kursi. Lalu tatapan matanya menatap gelas berisikan minuman segar yang ada di hadapannya.
Tanpa mempedulikan sang pemilik, Adam langsung mengambil minuman tersebut dan meminumnya sampai habis.
Vigo yang melihat kelakuan Adam hanya tersenyum. Dirinya tidak marah Adam yang meminum minuman miliknya.
Adam yang merasa ditatap oleh kakaknya langsung bersuara sehingga membuat Vigo berdecak kesal.
"Dari pada kakak berdiri disitu dan melihatku meminum minuman kakak ini. Mending kakak pergi pesan makanan. Aku udah lapar nih. Ditambah lagi setengah tenagaku sudah terbuang karena melawan mereka bertiga," ucap Adam sambil tatapan matanya menatap kearah Lucky, Rogert dan Donny yang saat ini berusaha untuk bangun.
Vigo melihat sekilas kearah Lucky, Rogert dan Donny. Setelah itu pergi meninggalkan Adam untuk memesan makanan.
***
Gino saat ini berada di rumah keluarga ibunya. Kedatangan disambut oleh kakek, nenek dan Paman dan Bibinya. Serta para sepupunya.
Kini Gino bersama ibunya. Dengan kata lain ibunya memeluknya karena begitu merindukan dirinya.
Setelah puas memeluk tubuh putranya, Maya pun melepaskan pelukannya dan menatap wajah tampan putranya itu.
"Gino, kenapa kamu tidak tinggal disini saja? Biarkan saja Papa kamu yang brengsek itu di rumah itu sendirian," ucap salah satu Pamannya yang berstatus kakak laki-laki pertama ibunya.
Gino yang mendengar perkataan kejam dari sang Paman mengepalkan kuat tangannya. Dirinya berusaha untuk tidak terpancing atau pun marah terhadap perkataan Pamannya itu.
"Ma! Kita pulang ya. Masalah Mama dan Papa bisa dibicarakan baik-baik," ucap Gino lembut.
"Mama....." perkataan Maya terpotong karena kakak laki-lakinya sudah terlebih dulu menyela.
"Kamu jangan membujuk ibumu untuk pulang ke rumah itu lagi Gino! Biarkan ibumu tinggal disini."
Gino seketika menatap tajam kearah Pamannya itu. Dirinya benar-benar tak terima akan perkataan Pamannya.
"Apa aku salah mengajak ibuku pulang ke rumah? Apa aku salah jika seorang anak ingin melihat kedua orang tuanya bersatu kembali?"
"Tapi Papa kamu sudah mengkhianati Mama kamu, Gino! Seharusnya kamu sadar akan hal itu. Mama kamu mencintai Papa kamu. Tapi apa yang dilakukan oleh Papa kamu. Papa kamu selingkuh dengan perempuan lain. Dan lebih parahnya, perempuan itu hamil anak Papa kamu!" bentak kakak laki-laki pertama Maya.
"Kak Devgan!" bentak Maya. "Jangan bentak anakku, kak! Aku ibunya belum pernah sekali pun membentaknya. Begitu juga dengan Yoga."
Yah! Baik Maya maupun Yoga. Keduanya tidak pernah bersikap kasar kepada kedua putra-putranya. Sekali pun kedua putranya melakukan kesalahan, Yoga dan Maya menegurnya dengan cara halus dan lembut.
"Sayang," ucap Maya dengan membelai lembut kepala putranya itu.
Gino seketika langsung melihat kearah ibunya yang sedang tersenyum menatap wajahnya.
"Ma! Mama tahu nggak alasan aku datang kesini. Alasanku adalah untuk menjemput Mama. Aku ingin ajak pulang Mama. Aku tahu perasaan Mama. Mama kecewa, Mama marah dan Mama juga benci sama Papa atas apa yang Papa lakukan terhadap Mama. Aku juga sama seperti Mama. Marah, kecewa dan benci sama Papa. Tapi setelah mendengar ucapan dari Adam. Seketika aku sadar. Dan pada akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan berbicara dengan Papa."
Maya menatap lekat wajah putra bungsunya terutama tatapan mata putranya itu.
"Apa yang dikatakan Adam padamu sehingga kamu memilih kembali bersama Papa kamu?" tanya Maya.
"Adam memilih percaya pada Papa. Dan mencurigai perempuan yang mengaku hamil anaknya Papa. Bahkan Adam mengatakan padaku jangan sampai aku menyesal atas keputusanku yang tidak mempercayai Papa dan lebih memilih percaya akan perkataan perempuan itu."
"Ma. Adam yang hanya orang luar lebih membela Papa dan mempercayai Papa. Masa kita yang keluarganya sama sekali tidak mempercayai Papa. Bahkan kita tidak mendengarkan penjelasan dari Papa terlebih dahulu. Justru kita langsung marah-marah kepada Papa dan menyebut Papa pria brengsek."
Maya hanya diam mendengar ucapan demi ucapan dari putranya. Begitu juga dengan anggota keluarga Sagara.
Seketika air mata Gino jatuh membasahi wajahnya ketika berbicara dengan ibunya.
"Mama dan Papa sudah bersama-sama menjalani hubungan suami istri selama 26 tahun. Apa selama 26 tahun itu Mama melupakan bagaimana perjuangan Papa untuk membahagiakan Mama, memberikan apapun untuk Mama, berusaha menjadi suami yang baik untuk Mama. Bahkan Papa juga berjuang untuk menjadi ayah yang baik untukku dan kakak Farel."
"Selama 26 tahun pernikahan Mama dan Papa. Apakah tidak ada rasa percaya Mama terhadap Papa?" tanya Gino.
Maya hanya diam dan tidak menjawab pertanyaan dari putranya itu. Namun tatapan matanya tetap menatap wajah tampan putranya.
"Jika selama ini Mama memiliki kepercayaan terhadap Papa, maka Mama akan percaya terhadap Papa. Tapi jika selama 26 tahun pernikahan Mama dan Papa, Mama tidak memiliki kepercayaan terhadap Papa, maka Mama lebih mempercayai apa yang dikatakan oleh perempuan itu."
Gino menatap wajah cantik ibunya yang juga menatap wajahnya. Dan jangan lupa air matanya yang masih mengalir membasahi wajahnya.
"Jika Mama memilih opsi kedua yaitu tidak memiliki kepercayaan terhadap Papa selama pernikahan Mama dengan Papa. Berarti selama 26 tahun ini Mama tidak benar-benar mencintai Papa."
Deg..