
Adam berada di ruangan kesehatan sedang istirahat dan ditemani oleh keenam kakaknya. Beberapa detik kemudian terdengar pintu yang di buka.
CKLEK!
Dan masuklah tujuh pemuda tampan ke ruangan tersebut.
"Bagaimana keadaan Adam, Di?" tanya Danish sambil berjalan mendekati ranjang adiknya.
"Adam baik-baik saja. Dia hanya sedikit lelah dan tertekan dengan masalahnya," jawab Ardi.
"Aku yang sudah membuatnya seperti ini. Aku terlalu memaksa dirinya untuk memaafkan kesalahan Nenek dan Bibi. Padahal dulu saat aku mengetahui apa yang sudah mereka lakukan, aku sulit untuk memaafkan mereka. Tapi justru sekarang aku malah memaksa Adam untuk memaafkan mereka." Danish berbicara sambil menatap wajah adiknya yang terlihat sedikit pucat.
"Sudahlah, Danish. Jangan menyalahkan dirimu. Aku yakin Adam tidak benar-benar marah padamu. Kami tahu sifat Adam seperti apa? Karena kami sudah lama mengenalnya. Sebentar lagi, dia pasti akan bermanja-manja lagi denganmu." Arka berucap lembut sambil menghibur Danish.
"Apa itu benar?" tanya Danish lagi.
"Ya, itu benar? Jangankan kau yang kakak kandungnya. Bersama kami saja yang saudara sepupunya, dia masih bersikap seperti biasanya, tidak seperti orang yang sedang marah. Padahal jelas-jelas dia sedang marah pada kami. Saat kami bicara dengannya, dia hanya menunjukkan sikap acuhnya dan juga kata-katanya yang kadang-kadang buat kami kesal. Ya, namanya dia sedang marah. Kami harus bisa berlapang dada menerima semua kata-kata yang tak enak yang dilontarkan olehnya." Harsha menjawabnya.
"Tapi setelah itu. Sikapnya kembali lagi seperti biasanya. Seolah-olah tak ada kejadian. Bahkan dia lupa kalau kami sudah menyakitinya." Sakha menambahkan.
"Secepat itu dia berubah?" tanya Prana.
"Karena Adam itu memiliki sifat yang suka berubah-ubah. Sikap yang dimiliki olehnya saat ini adalah kebencian. Adam saat ini sangat membenci orang yang sudah merenggut kebahagiaannya. Adam butuh waktu untuk membuka hatinya untuk menerima Nenek dan Bibi kalian dan itu tidak bisa dipaksakan. Kalau Adam memiliki sifat dendam, mana mungkin Adam mau menerima kalian bertiga. Buktinya Adam menerima kalian bertiga kan? Karena dia tahu kalian tidak salah sepenuhnya." Kenzie ikut bersuara.
"Euugghh." terdengar lenguhan dari bibir Adam. Dan berlahan Adam pun membuka matanya.
"Adam" panggil Danish.
Adam menatap wajah tampan sang kakak. Lalu detik kemudian dia membuang wajahnya kearah lain.
"Kenapa kau ada disini? Pergi sana dan temui Nenek peyot kesayanganmu itu," ucap Adam ketus.
"Hei, itu tidak sopan namanya. Kau tidak menyebutku dengan embel-embel kakak. Bagaimana pun aku ini kakakmu dan kau adikku," goda Danish.
"Oh, iya. Eeemmm. Aku baru tahu kalau kau ternyata punya adik. Aku pikir kau sudah melupakannya hanya gara-gara sipeyot itu," celetuk Adam yang tatapan matanya masih kearah lain.
Semua yang mendengar ucapan Adam hanya bisa menahan tawa, menahan kesal, mengelus dada dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak menerkam sikelinci liar di depan mereka.
Harsha mendekat pada Danish. Lalu membisikkan sesuatu di telinganya. "Kau harus bisa sabar menjinakkan sikelinci liar yang sedang mengamuk saat ini. Inilah yang kami hadapi selama ini. Dan sekarang giliranmu untuk menjinakkannya."
Danish dan Harsha terkekeh pelan. "Kekekeke."
Tapi sayangnya, kekehan mereka itu terdengar oleh Adam.
"Kalian berdua menertawaiku?" tanya Adam dengan tatapan tajamnya.
"Kepedean. Siapa juga yang menertawai kelinci jelek sepertimu?" ejek Harsha.
"Dasar alien buluk, bodoh, kecebong bunting, makhluk abstrak tak jelas. Awas saja, aku akan rusakin tablet milikmu." Adam berucap dengan ketus dan memperlihatkan senyuman iblisnya.
"Tablet?" Harsha berpikir sejenak. Dan tiba-tiba Harsha berteriak. "Dirandra Adamka Abimanyu! Jangan coba-coba kau merusaki tablet kesayanganku!"
Adan menunjukkan senyuman manis ala kelincinya dan menaik turunkan kedua alisnya. "Tapi sayangnya. Tabletmu sudah berada di tanganku, alien buluk. Hehehe." Adam menjawabnya disertai tawa mengejeknya.
Harsha berhati-hati saat ini. Dirinya berusaha mengambil hati sikelinci nakalnya ini. Harsha membuang nafas kasarnya.
Sedangkan Adam tersenyum puas melihat wajah ketakutan kakak aliennya itu. Takut kalau tablet kesayangannya jadi korban.
"Huuff! Adam yang tampan. Jangan dirusaki tablet milik kakak ya. Kakak akan mengabulkan satu permintaanmu," mohon Harsha.
Adam tersenyum lebar. Matanya memancarkan binar kebahagiaan. Danish, Ardi dan yang lainnya tersenyum melihat wajah imut Adam.
"Aku mau kak Harsha membelikanku makanan, minuman serta cemilan kesukaanku dan isikan juga aku pulsa sebesar dua ratus ribu," pinta Adam.
"Baiklah," jawab Harsha pasrah.
Setelah kepergian Harsha dan Gala. Adam kembali menatap kakaknya, Danish. "Kenapa kakak masih ada disini? Sana pergi. Temui sinenek peyot itu. Ntar sinenek peyot itu nangis lagi karena cucu kesayangannya tidak pulang." Adam masih dalam mood yang buruk kalau menyangkut Danish.
"Kakak mau disini saja menemanimu. Lagian kakak juga malas bertemu sinenek peyot itu. Dari pada melihat wajah keriputnya, mending melihat wajah tampan, manis, imutnya adiknya kakak." Danish berbicara tulus untuk adiknya.
Wajah Adam merona dan terharu mendengar ucapan sang kakak. Terukir senyuman manis di bibirnya. Danish dan yang lainnya dapat melihat wajah Adam yang merona dan senyuman manis di bibirnya itu. Mereka semua pun ikut bahagia melihatnya.
Adam yang menyadari dirinya ditatap, kembali menunjukkan wajah masamnya. "Kenapa kalian semua menatapku?" tanya Adam ketus.
Mereka pun reflek mengalihkan pandangan mereka kearah lain. "Aish. Baru aja senang melihat wajah imutnya. Sekarang kembali lagi wajah masamnya. Untung sayang." mereka semua membatin.
"Aish. Aku bosan disini. Aku mau keluar," ucap Adam tiba-tiba dan langsung turun dari tempat tidurnya.
"Dam," ucap Danish dan Ardi bersamaan saat melihat Adam turun dari tempat tidur.
"Yah, kalian berdua kenapa?! Aku sudah baik-baik saja dan kalian tidak perlu khawatir begitu," sahut Adam.
"Apa kau yakin?" tanya Ardi.
"Iya. Aku yakin. Aku sudah baikan," jawab Adam.
Adam meraih tasnya yang berada di kursi. "Lagian hari ini aku ada tugas yang diberikan oleh Rektor." Adam pun pergi meninggalkan para kakaknya yang masih di ruang kesehatan.
Saat tiba di luar, Adam baru menyadari kalau dirinya tidak memiliki kendaraan. Dirinya saja ke kampus diantar oleh ibunya.
"Aish, dasar bodoh. Kenapa kau bodoh sekali, Dirandra Adamka Abimanyu?" gerutunya. Lalu kembali masuk ke dalam ruang kesehatan.
CKLEK!
Para kakaknya yang ada di dalam melihat kearahnya. Sedangkan Adam hanya menampilkan senyumannya.
"Kau kembali lagi, Dam. Apa urusannya sudah selesai?" tanya Ardi.
"Cepat sekali," sela Arya.
"Kak Ardi. Kakak pergi ke kampus bawa motorkan? Aku boleh minjam motornya kakak tidak? Aku baru ingat kalau ternyata aku tidak bawa motor atau pun mobil ke kampus. Kan Mama yang mengantarku," ucap Adam dengam wajah polosnya.
Mereka sebisa mungkin untuk tidak tertawa dengan sifat pelupa Adam. Tambah lagi wajahnya yang memelas sangat-sangat imut dan menggemaskan.
"Ini." Ardi melempar kunci motornya kepada Adam dan disambut dengan sangat baik olehnya.
"Terima kasih kak," jawab Adam.
Adam melihat wajah kakaknya, Danish yang juga melihatnya. Adam mendekat pada kakaknya itu dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Kau jelek sekali dengan wajah seperti itu, kak! Jangan membuatku malu. Kak Garry, Papa dan aku berwajah tampan. Sedangkan kau berwajah jelek. Setidaknya tersenyumlah biar wajahmu terlihat tampan. Aku menyayangimu."
Setelah membisikkan kata-kata itu di telinga Danish. Adam pun pergi meninggalkan para kakaknya.
Sedangkan Danish tersenyum bahagia mendengar penuturan adiknya di telinganya. Hari ini dirinya benar-benar bahagia. Adiknya telah kembali padanya. Arka, Cakra dan yang lainnya melihat Danish yang senyam-senyum menjadi heran.
"Danish," panggil Prana.
"Aish. Kau mengagetkanku saja," kesal Danish.
"Kenapa senyam senyum sendirian?" tanya Rayan.
"Aku bahagia karena adikku tidak marah lagi padaku. Dan dia mengatakan padaku bahwa dia menyayangiku," jawab Danish.
"Itu berita yang bagus!" seru Arya.
"Kami semua ikut senang mendengarnya," jawab mereka bersamaan.