THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Kemarahan Dan Kekecewaan Allan



Allan saat ini duduk di kursi sendirian dengan wajah yang sedih dan pikiran yang tertuju pada sesuatu. Allan masih memikirkan apa yang sudah didengar oleh malam itu.


FLASBACK ON


"Yakin kau ingin pulang, Allan?" tanya Harsha.


"Ya. Kenapa?"


"Tapi bagaimana dengan lukamu? Kau itu baru masuk. Masa sudah mau pulang saja," kata Gala.


"Aish. Kalian ini cerewet sekali. Aku sudah tidak apa-apa. Lagian kan lukanya tidak terlalu parah," kata Allan yang tetap bersikeras untuk keluar dari rumah sakit.


"Kau memang keras kepala," kata Ardi.


"Makanya jangan mengekangku," jawab Allan.


Ardi melotot mendengar jawaban dari Allan. Tak jauh beda dengan yang lainnya. Mereka hanya bisa geleng-geleng kepala dan mengurut dada.


"Kakak antar, ya." Danish menawarkan diri.


"Tidak usah. Aku bukan anak kecil yang harus diantar oleh ibunya ke sekolah," jawab Allan.


"Hah!" Danish menghela nafas pasrahnya mendengar penolakan Allan.


"Bagaimana kalau kau diganggu sama om-om hidung belang saat di jalanan? Siapa yang akan menolongmu?" Prana berusaha agar Allan mau diantar pulang oleh mereka.


"Alah. Lagian siapa juga yang berani gangguin aku. Kalau mereka macam-macam. Tinggal tendang saja pusaka milik mereka. Bereskan? Kalau mereka mati. Tinggal dikubur saja. Susah amat," jawab Allan dengan entengnya.


Allan menatap satu persatu wajah para kakak barunya itu. "Ataaauuuu..." tunjuk Allan satu satu tepat di wajah mereka.


"Atau apa?" jawab mereka kompak.


"Bilang aja kalau kalian gak mau jauh-jauh dari aku kaaaaannnn.. hum.. hum?" goda Allan sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Mereka semua hanya bisa diam mendengar apa yang dikatakan Allan. Jujur! Apa yang dikatakan Allan memang benar. Tapi tidak mungkin juga mereka harus mengakuinya didepan Allan. Bisa-bisa mereka diledekin habis-habisan olehnya.


"Aish, sudahlah. Aku harus cepat-cepat pergi dari sini. Kalau lama-lama disini dan melihat wajah kalian yang sepet, kunyel, jelek, dekil, masam itu bisa-bisa sakitku tambah parah." Allan berucap dengan kejamnya. Dan hal itu sukses membuat mereka semua membelalakkan matanya.


"Sialan kau Allan," umpat Rayan.


Dan akhirnya mereka pun pergi meninggalkan ruang rawat Allan.


***


Allan sudah berada di depan gerbang rumahnya. Dan kebetulan Allan memiliki kunci duplikatnya, makanya Allan bisa masuk. Setelah pintu gerbang itu terbuka, Allan langsung masuk dengan mendorong motornya.


Setelah itu Allan kembali menutup gerbang tersebut. Setelah Allan memarkirkan motornya, Allan langsung bergegas untuk membuka pintu rumahnya dengan kunci duplikat miliknya.


Saat seketika pintu itu terbuka, Allan mendengar suara orang yang sedang berbicara dan orang itu menyebut namanya. Dengan rasa penasaran Allan pun menguping pembicaraan tersebut.


"Nama asli Allan adalah Adam. Allan putra bungsu dari keluarga Bimantara dan cucu dari keluarga Abimanyu," jawab Vigo.


"Dari mana kau mengetahui semuanya ini, Vigo?" tanya Levi.


"Dari Cakra. Cakra itu adalah putra dari sahabat Papa, Sofyan. Aku sempat ribut dengannya saat aku menjemput Allan yang sedang bersama mereka," jawab Vigo.


"Apa kau tahu siapa nama dari ayah kandung Allan?"


"Evan Hara Bimantara, Pa!"


"Apa? Kau yakin Allan adalah putra dari Evan Hara Bimantara?"


"Ya, Pa. Cakra bilang begitu padaku. Disana juga ada putra keduanya, Danish. Cakra dan Danish, mereka berdua bersahabat."


"Ada apa, Pa?" tanya Levi


"Kalau memang benar begitu. Allan adalah Adam. Dan dia adalah putra kandungnya Evan Hara Bimantara. Papa sendiri yang akan memberitahu tentang masalah ini padanya."


"Tidak, Pa! Papa tidak boleh lakukan itu," mohon Vigo.


"Vigo. Kau tidak akan mengerti masalah ini. Masalah ini saling berhubungan."


"Maksud Papa?" tanya Nicolaas.


"Sofyan itu sahabat Papa. Sebelumnya Sofyan sudah terlebih dahulu menjalin hubungan persahabatan dengan Evan. Setelah itu, Sofyan memperkenalkan Evan pada Papa. Dari sanalah Papa mengenal Evan dan menjalin sahabat dengannya. Dari cerita Sofyan kalau Kim Evan memiliki tiga orang putra. Tapi Evan hanya memperkenalkan dua putranya saja dan Papa tidak pernah melihat seperti apa putra ketiganya itu. Lalu Papa memberanikan diri bertanya padanya. Dan dengan senang hati, Evan menceritakannya pada Papa. Evan mengatakan pada Papa kalau putra bungsunya itu tinggal bersama ibunya atau istri pertamanya. Papa pikir perempuan yang selama ini selalu bersamanya itu adalah istri pertamanya, ternyata istri keduanya. Jadi intinya, Evan selama dua puluh tahun berpisah dengan istri pertamanya dan putra bungsunya. Itu semua karena ulah ibu dan kakak perempuannya."


"Kasihan Paman Evan yang berpisah dengan putra bungsunya," kata Nicolaas. "Lalu apa yang dilakukan oleh Paman Evan, Pa?" tanya Nicolaas.


"Evan tidak pernah menyerah selama ini. Dia selalu mencari keberadaan istri dan putranya itu dengan membayar seseorang. Tapi usahanya gagal. Dikarenakan istri pertamanya itu menutup akses tentang keberadaannya dan putranya dari dunia luar. Jadi orang suruhan Evan kesulitan saat mencari identitas istri dan putranya itu. Evan juga tidak tahu nama Marga istrinya. Karena saat menikah, Evan hanya tahu nama istrinya saja yaitu Utari."


"Apa yang terjadi selanjutnya, Pa? Apa Paman Evan berhasil bertemu dengan mereka berdua?" tanya Nicolaas lagi.


"Iya. Mereka bertemu kembali setelah sekian lamanya berpisah. Mereka saling melepaskan rindu, terutama Danish. Dan Evan menangis saat itu juga dan mengucapkan beribu-ribu maaf pada istrinya. Dan istrinya dengan tulus memaafkan kesalahan suaminya. Walau mereka sudah bertemu, tapi masalah mereka belum selesai."


"Maksudmu apa, sayang?" kali ini Celina yang bertanya.


"Masalah Evan dan Adam! Disini hanya Adam yang belum mengetahui siapa Evan sebenarnya. Selama ini Adam sangat membenci Papanya karena sudah mencampakkan dirinya ketika masih bayi dan juga ibunya. Tapi berkat kesabaran dan rasa sayangnya yang begitu besar pada Adam, Evan berhasil meluluhkan hati dan keras kepala putra bungsunya itu."


"Tapi..."


"Tapi apa, sayang?" tanya Celina.


"Tapi takdir berkata lain. Lagi-lagi Evan harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Evan harus merelakan kepergian putra bungsunya untuk selamanya atas ulah dari istri keduanya, Dhira. Adam disekap disebuah gudang, lalu gudang itu meledak. Dan keesokan harinya polisi menemukan jenazah disana. Mungkin karena panik dan juga sedih, mereka percaya saja kalau jenazah itu adalah jenazah Adam."


"Dan kitalah yang sudah membuat Adam kehilangan ingatannya gara-gara kecelakaan itu. Papa sudah menabraknya," lirih Levi.


"Sudahlah, sayang! Kau tidak sengaja saat itu," hibur Celina.


"Iya, Pa! Kejadian itu terjadi di malam hari. Dan bahkan jalanan sudah sepi dan juga gelap. Kita juga tidak melihat saat itu ada seseorang yang melintas didepan mobil kita," kata Nicolaas menenangkan ayahnya.


"Sekarang kau pahamkan, Vigo? Jadi Papa mohon buang egomu itu. Allan bukan milik kita. Allan milik keluarga kandungnya. Allan berada disini karena kesalahan kita. Papa mengerti perasaanmu. Apa yang kau rasakan, itu juga yang Papa rasakan? Papa juga tidak ingin kehilangan Allan. Papa juga ingin memiliki Allan seutuhnya. Tapi Papa tidak boleh egois. Disini Papa hanya bertanggung jawab atas apa yang menimpa Allan. Itu niat awal Papa.."


DEG!


Allan terkejut mendengar penuturan dari anggota keluarga Adiyaksa tentang dirinya. Allan menangis mendengar semuanya itu.


"Aku A-adam. A-aku bukan putra kandung mereka. Aku berada disini karena Papa Levi yang telah menabrakku," gumam Allan pelan sembari menahan isakan.


Setelah mendengar semua pengakuan dari keluarga Adiyaksa, Allan pun memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah keluarga Adiyaksa. Adam melangkahkan kakinya keluar dari ruang tamu dan menutup pintu itu kembali dan tak lupa menguncinya. Setelah tiba di luar, Allan menghubungi Melky.


"Hallo, Melky."


"Ya, Allan. Ada apa?"


"Boleh tidak, malam ini aku nginap di rumahmu."


"Ya, tentu boleh dong. Itu yang aku inginkan selama ini."


"Baiklah. Lima belas menit aku sampai."


PIP!


FLASBACK OFF


"Hiks.. Hiks.. Hiks." Allan menangis terisak dengan posisi menidurkan kepalanya di atas meja dan tangannya sebagai bantalannya.


Tanpa Allan sadari. Danish, Ardi, Harsha dan para sahabat-sahabatnya memperhatikannya. Mereka berdiri tak jauh darinya. Hati mereka sakit saat melihat Allan yang saat ini.


"Aku tidak tahan lagi. Aku tidak bisa melihat adikku menangis seperti itu!" seru Harsha.


Harsha pun melangkahkan kakinya untuk menghampiri Allan dan diikuti oleh yang lainnya. Tapi tiba-tiba langkah mereka terhenti saat melihat Vigo bersama teman-temannya datang menghampiri Allan, lebih tepatnya hanya Vigo saja yang mendekati Allan. Sedangkan teman-teman berdiri tak jauh dari keduanya.


"Allan," lirih Vigo saat melihat tubuh adiknya bergetar dan juga suara isakan yang terdengar olehnya.


Vigo duduk di samping Allan, lalu tangannya membelai lembut rambut adiknya itu.


"Allan."


Berlahan Allan mengangkat kepalanya dan melihat wajah Vigo. "Pergi dari sini dan jangan ganggu aku," usir Allan.


"Allan, ada apa denganmu? Kakak kesini karena kakak khawatir padamu. Kau tidak pulang semalaman," kata Vigo.


"Apa pedulimu? Pulang atau tidak itu bukan urusanmu," jawab Allan ketus.


"Kenapa kau bicara seperti itu? Apa karena mereka, hah?! Apa mereka yang menghasutmu untuk berbicara seperti ini pada kakakmu sendiri?!" bentak Vigo.


Allan berdiri dari duduknya, lalu menatap tajam wajah Vigo. "Cukup. Aku sudah muak mendengar ocehanmu. Aku ini bukan anak yang berusia lima tahun yang bisa dibujuk dan dirayu. Aku sudah dewasa dan aku sudah bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk," ucap Allan. "Jangan pernah menganggap kalau kau itu adalah kakakku. Karena sampai kapan pun kau bukan kakakku. Lebih tepatnya kau bukan kakak kandungku!" teriak Allan.


DEG!