THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Kembalinya Dhira



Saat ini Ardi, Harsha, Danish dan Vigo berada di ruang tamu. Para sahabat-sahabat mereka juga ada disana karena Ardi, Danish dan Vigo menghubungi mereka untuk datang ke kediaman Abimanyu.


Sementara Adam berada di kamarnya dan para orang tua berada di ruang tengah.


"Sekarang apa rencanamu, Go?" tanya Carlo.


"Aku juga bingung, Carlo! Aku tidak tahu harus melakukan apa saat ini. Yang aku pikirkan saat ini adalah Papa dan kak Nicolaas. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mereka. Aku tidak ingin kehilangan mereka. Aku sudah pernah kehilangan sekali dan aku tidak ingin kehilangan lagi," ucap Vigo.


Mereka yang mendengar penuturan dari Vigo menjadi tidak tega. Mereka benar-benar sedih melihat keadaan Vigo saat ini.


Carlo dan Crisan berpindah duduk di samping Vigo, lalu mereka menepuk pelan bahu Vigo.


"Semoga Paman dan kak Nicolaas baik-baik saja," ucap Carlo menghibur Vigo.


"Semoga para bajingan itu tidak menyakiti mereka," ucap Crisan yang juga ikut menghibur Vigo.


"Iya, semoga saja." Vigo menjawab ucapan dari Carlo dan Crisan.


"Lalu bagaimana dengan Allan.. eehh maksudku Adam?" tanya Viko.


Mereka yang mendengar pertanyaan dari Viko hanya tersenyum. Tak terkecuali Danish, Ardi, Harsha dan Vigo. Para sahabat-sahabatnya Vigo masih bingung harus memanggil apa kepada adik dari sahabatnya itu. Begitu juga pada Ardi, Harsha dan Danish.


"Terserah kalian mau manggil apa pada anak kelinci itu. Mana yang menurut kalian nyaman dan enak diucapkan," saut Danish.


"Iya. Kalau kalian sudah terbiasa memanggil bocah kelinci itu dengan panggilan Allan. Panggil saja dengan sebutan itu," ujar Ardi.


"Hahahaha." mereka semua tertawa.


"Kalian berdua terlalu kejam. Adik sendiri dikatakan kelinci!" seru Cakra.


"Apa kalian tidak takut jika orangnya mendengar ucapan kalian itu?" tanya Prana menakut-nakuti.


"Kalau sampai Adam dengar habislah kalian, kak!" Gala menakuti para kakaknya.


"Kalian tahu sendirikan bagaimana Adam kalau sudah merajuk. Susah sekali dibujukinnya," kata Arka.


"Iya, itu benar. Kalau Adam udah merajuk. Sampai berbusa nih mulut nggak bakal didengar oleh dia," kata Harsha.


Mendengar ucapan-ucapan dari sahabat-sahabatnya dan sepupunya, Ardi dan Danish langsung terlihat sedikit takut. Mereka berdua mulai mencari ide untuk bisa menaklukkan sikelinci nakal mereka jika ucapannya didengar.


Mereka yang melihat wajah takut Danish dan Ardi tersenyum evil. Mereka semua berniat untuk memanas-manasi Adam jika Adam mendengar ucapan dari Ardi dan Danish.


"Hahaha. Ada yang takut nih," ledek Arya.


"Apaan sih kau Arya," kesal Danish.


"Iya, nih. Bukannya berdoa agar ucapan kami tidak didengar. Ini malah senang jika ucapan kami didengar oleh bocah itu," sahut Ardi kesal.


"Hahahahaha." mereka semua tertawa. Danish dan Ardi mencebik kesal.


"Oh, iya! Membicarakan soal Adam. Adam mana ya? Kenapa dari tadi tidak kelihatan?" tanya Sakha.


"Eh.. iya, ya. Dari tadi kita tidak melihat Adam. Memangnya kemana tuh anak," ujar Rayan.


"Yaaaahh, dimana lagi kalau bukan di kamarnya. Adam memang dari dulu seperti itu sering menghabiskan waktunya di dalam kamar!" seru Harsha.


"Adam akan keluar jika perutnya lapar dan kalau dia sudah merasa bosan di kamarnya," ucap Ardi.


"Bagaimana kalau kita ke kamarnya saja?" usul Luis.


"Ide bagus," jawab Nigel.


"Ayo," ajak Danish.


Lalu mereka semua pun berdiri dan melangkahkan kakinya untuk menuju kamar Adam yang berada di lantai dua.


^^^


Adam yang berada di dalam kamarnya. Dirinya duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil memangku laptop miliknya. Matanya fokus menatap layar laptopnya.


Adam melihat dan membaca beberapa file serta video yang ada di dalam flashdisk. Flashdisk yang diberikan oleh ibu angkatnya.


Di dalam flashdisk itu terlihat beberapa bukti kejahatan yang dilakukan oleh keluarga Adiyaksa dan keluarga Kalyani. Mulai dari transaksi narkoba, penyelundupan senjata, korupsi, pencucian uang, perdagangan heroin.


"Aish. Sangat menjijikkan," kesal Adam saat melihat dan membaca beberapa kejahatan yang ada di flashdisk tersebut.


KLIK!


Beberapa detik kemudian, video itu terbuka. Saat Adam melihat video itu, Adam benar-benar terkejut. Bagaimana tidak? Di dalam video itu Adam melihat seorang wanita yang tengah berjuang mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan anaknya. Dan Adam membelalakkan matanya saat melihat wajah wanita itu.


"Bu-bukannya wanita itu adalah si Nenek peyot. Neneknya kak Garry dan kak Danish," gumam Adam saat telah menyadari bahwa wanita yang ada di dalam video itu adalah Neneknya ketika masih muda.


Disisi lain, Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan para sahabatnya saat ini berdiri di depan pintu kamarnya. Awalnya mereka semuanya ingin masuk.


Namun disaat mereka melihat Adam yang sibuk dengan laptopnya dan juga mereka mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Adam membuat mereka mengurungkan niatnya untuk masuk. Bahkan mereka semua sepakat untuk mendengar ucapan-ucapan sarkas dari Adam.


"Dasar cucu laknat. Nenek sendiri dikatakan nenek peyot," kesal Danish saat mendengar penuturan dari Adam. Sedangkan yang lainnya hanya tertawa pelan.


"Sabar," ucap Prana.


Adam masih terus melihat video tersebut sampai habis. Dan pada akhirnya Adam mengetahui semuanya.


Saat Adam melihat video yang terakhir, tiba-tiba ekspresi wajah Adam seketika berubah.


Di dalam video itu menyebutkan keluarga Adiyaksa dan keluarga Kalyani bersekongkol untuk menculik Liam Levi Adiyaksa dan Nicolaas Liam Adiyaksa keluarga angkatnya. Bahkan yang membuat Adam lebih terkejutnya lagi adalah kedua keluarga itu masih memiliki hubungan kekeluargaan.


"Brengsek!" Adam mengumpat.


Dan ucapannya itu didengar oleh para kakaknya dan juga sahabat-sahabat kakaknya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.


"Sepertinya ada masalah!" seru Kenzie.


"Iya, kau benar Kenzie. Terlihat dari wajah Adam dan juga ucapannya," kata Cakra.


"Apa Allan sudah melihat isi flashdisk itu?" tanya Vigo.


"Flashdisk!" seru para sahabat-sahabatnya bersamaan.


"Iya. Papa memberikan flashdisk pada Mama. Papa meminta pada Mama untuk memberikannya pada Allan," jawab Vigo.


"Aku jadi penasaran isi flashdisk itu," ujar Harsha.


Mereka terus memperhatikan Adam dari luar.


Adam benar-benar emosi saat melihat isi video-video itu. Tiba-tiba terdengar suara ponselnya yang menandakan ada panggilan masuk.


Adam yang mendengar suara ponselnya, langsung memindahkan laptopnya di atas kasur. Setelah itu Adam berdiri dan berjalan menuju meja belajarnya sedikit jauh dari tempat tidurnya, ponselnya ada disana.


Setelah tiba dimeja belajarnya, Adam langsung mengambil ponselnya dan menjawab panggilan tersebut.


"Hallo."


"Hallo, Dam."


Adam yang mengenal suara tersebut langsung tersenyum.


"Bagaimana? Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku inginkan?"


"Sudah, Dam. Kelompok yang menculik Ayah dan kakak angkatmu adalah musuh lama kita. Kau tahukan siapa mereka?"


Adam makin melebarkan senyumannya.


"Ya, aku tahu."


"Ternyata kalian masih berani mengusikku dan keluargaku. Dan kalian berani melanggar perjanjian tersebut. Baiklah! Aku akan ikuti permainan kalian. Aku juga akan melibatkan seluruh anggota keluarga kalian," batin Adam.


"Apa kau masih menyimpan berkas-berkas perjanjian itu?"


"Masih, Dam. Berkas-berkas itu aman. Dan sepertinya mereka tidak mengetahui bahwa mereka kembali berurusan dengan kelompok kita."


"Wah, menarik sekali! Kita bisa memanfaatkan momen ini untuk menekan mereka. Oh iya! Siapa yang membayar mereka untuk menculik Papa dan kakakku?"


"Apa kau melupakan orang yang telah menyekapmu di gudang dua tahun yang lalu sehingga membuatmu terpisah dari keluarga kandungmu?"


"Areta Dhira Kalyani!"


Seketika wajah Adam berubah memerah karena menahan amarah.