
Vigo terkejut mendengar penuturan dari Allan. Tapi dirinya berusaha menepis rasa takut tersebut.
"Apa maksudmu, Allan? Kenapa kau bicara seperti itu? Aku kakakmu dan kau adik kakak. Selamanya akan seperti itu."
"Cih! Kau manusia paling egois yang pernah aku temui. Demi ambisimu kau rela melakukan apapun untuk mempertahankan apa yang bukan milikmu. Mengambil milik orang lain dan menjadikan milikmu seutuhnya. Dasar menjijikkan."
"Cukup Allan. Perkataanmu itu sungguh benar-benar membuat kakak marah. Sekarang kita pulang!" bentak Vigo lalu menarik kasar tangan Allan.
"Lepaskan tanganku brengsek!" teriak Allan dan langsung menarik tangannya dan itu berhasil. "Kau pikir aku akan menurut begitu saja, hah?! Dengarkan aku Vigo Liam Adiyaksa. Kau bukan kakak kandungku. Kau dan keluargamu sudah membohongiku selama ini dan mengaku-ngaku sebagai keluargaku. Dan kau.. hiks!" tunjuk Allan tepat di wajah Vigo dan jangan lupa air matanya yang masih mengalir. "Kau tahu semuanya. Kau tahu siapa aku. Kau tahu siapa keluargaku. Tapi kau merahasiakannya dariku. Sekarang aku sudah tahu alasanmu menyuruhku untuk menjauhi mereka. Karena kau takut ingatanku kembali dan aku akan pergi meninggalkanmu dan keluargamu!" teriak Allan.
"Apa? Jadi kau...?"
"Iya. Kenapa?"
"Dari mana kau mengetahui semua ini. Dan.. dan apa saja yang sudah kau ketahui?" gugup Vigo.
"Semuannya. Aku sudah mengetahui semuanya. Termasuk kecelakaan yang menimpaku."
DEG!
"Jangan bilang semalam itu kaauuu...!"
"Iya!"
"Tidak!" tiba-tiba tubuh Vigo terhuyung ke belakang. Dirinya benar-benar syok mendengar penuturan dari Allan. Semua sudah terbongkar dan adiknya sudah mengetahui semuanya.
Setelah meluapkan kekecewaan dan kemarahannya pada Vigo. Allan langsung pergi begitu saja meninggalkan Vigo tanpa mempedulikan kesedihan kakaknya itu.
"Allan. Kau tidak apa-apa?" tanya Harsha sembari mengelus lembut rambutnya.
"Aku baik-baik saja. Tidak perlu khawatir," jawab Allan, lalu Allan pergi meninggalkan Harsha dan yang lainnya.
"Sha, Gal. Lebih baik kalian susul Allan," kata Raka.
"Eemm." Harsha dan Gala mengangguk, kemudian mereka pun pergi meninggalkan para kakaknya.
"Prana, Arya. Kalian juga ikuti mereka," kata Cakra.
"Baiklah." mereka pun pergi.
"Allan!" teriak Vigo, lalu Vigo berlari mengejar Allan.
SRETT!
Danish berhasil mencekal tangan Vigo. "Jangan ganggu adikku. Biarkan dia menenangkan pikirannya," ucap Danish yang menatap tajam wajah Vigo.
"Kau jangan membuat adikku makin tertekan dengan masalah ini, Vigo. Ingat! Dia bukan adikmu. Dia bukan Allan. Dia adalah Adam!" bentak Ardi.
"Lepaskan aku!" Vigo menarik tangannya. "Aku tidak peduli. Mau dia Allan atau Adam. Dia tetap adikku. Selamanya dia adikku. Aku tidak akan membiarkannya kembali dengan kalian. Bukankah adik kalian itu sudah meninggal lima bulan yang lalu!" teriak Vigo.
BUGH!
"Aaakkkkhhhh."
Danish memberikan pukulan keras di wajah Vigo. "Brengsek!"
Saat Vigo ingin membalas pukulan Danish. Crisan dan yang lainnya datang. Mereka langsung menarik tubuh Vigo untuk menjauh dari Danish dan kelompoknya.
^^^
Allan terus melangkahkan kakinya menyelusuri setiap koridor Kampus dengan wajah yang sedikit sendu. Allan tidak tahu mau melangkahkan kakinya kemana, tapi Allan tetap terus melangkah tanpa menghiraukan tatapan para mahasiswa dan mahasiswi yang menatapnya.
Sedangkan disisi lain. Harsha, Gala, Prana dan Arya tetap terus mengikuti Allan dari belakang.
Allan tiba-tiba menghentikan langkahnya. Allan berhenti di depan ruang latihan Taekwondo. Allan menatap lekat ruangan tersebut.
"Kenapa aku kesini?" batin Allan. Lalu tiba-tiba kilasan bayangan dan suara berputar-putar di benaknya.
PLETAK!
"Yak! Dasar beru..." ucapan Allan terhenti saat melihat kakak pucatnya itu memberikan plototan padanya.
Sedangkan Adam mempoutkan bibirnya sembari mengelus keningnya. "Mati saja kau," umpat Adam.
Ardi tersenyum puas melihat wajah kesal adiknya.
"Aakkhhhh." Allan memegang kepalanya. "Tadi itu apa?" lirih Allan yang masih memegang kepalanya.
Harsha memberikan kecupan di kedua pipinya. Dan hal itu sukses membuat Adam berteriak.
"Harshaaaaa! Dasar alien sialaaann. Beraninya kau mengecup pipiku."
"Hahahahha. Karena kau itu manis dan cantik, Dam!" teriak Harsha.
"Aaakkkkhhhhhh!" Allan berteriak kesakitan. Rasa sakit di kepalanya makin kuat.
"Allan!" teriak Harsha, Gala, Prana dan Arya. Mereka berlari menghampiri Allan.
Gala mengambil kunci yang diletakkan di dalam vas bunga, lalu Gala membuka pintu ruang latihan Taekwondo tersebut.
"Lebih baik kita bawa masuk Allan ke dalam," kata Arya.
Mereka sekarang sudah berada di ruang latihan. Harsha dan Prana mendudukkan tubuh Allan di sofa. Lalu Arya mengambil minuman untuk Allan. Harsha dan Gala duduk di samping Allan.
"Apa masih sakit kepalanya?" tanya Harsha sembari tangannya mengelus-elus kepala belakang Allan dengan lembut.
Allan tak menjawabnya. Dirinya masih merasakan sedikit pusing dan merasakan hal aneh pada dirinya saat Harsha mengelus kepalanya.
Gala menggenggam tangan Allan. "Kalau masih sakit kepalanya, katakan saja. Jangan ditahan. Kami disini untukmu."
Allan membalas genggaman tangan Gala sebagai jawabannya. "Aku baik-baik saja. Kakak tidak perlu khawatir."
"Ini minumlah dulu." Arya datang membawakan segelas air.
Allan langsung mengambilnya dan meminumnya sampai habis. Gala mengambil gelas yang sudah kosong itu dan meletakkannya di atas meja.
"Apa tidak sebaiknya kita bawa Allan ke Unit Kesehatan? Lihatlah wajahnya sedikit pucat," kata Prana.
Mereka memperhatikan wajah Allan. Dan memang benar apa yang dikatakan Prana, wajah Allan sedikit pucat.
Saat Harsha ingin bersuara, Allan sudah terlebih dahulu memotongnya. "Jangan bawa aku kesana. Aku baik-baik saja."
"Tapi Allan," kata Gala.
"Aku baik-baik saja," ucap Allan lagi.
Allan menyandarkan kepalanya di punggung sofa, lalu memejamkan matanya. Gala, Harsha, Arya dan Prana tampak khawatir dengan wajah Allan yang pucat.
Saat mereka tengah memperhatikan wajah Allan, ponsel milik Harsha berbunyi
DRTT!
DRTT!
Harsha yang mendengar suara ponselnya, langsung menjawabnya.
"Hallo, kak Ardi."
"Kau ada dimana, Sha?"
"Aku ada di ruangan latihan Taekwondo."
"Ya, sudah. Kakak akan kesana sekarang."
TUTT!
TUTT!
Lima menit kemudian terdengar suara pintu di buka oleh seseorang.
CKLEK!
Dan masuklah beberapa orang ke dalam ruangan tersebut. Mereka adalah Danish, Cakra, Rayan, Indra, Kavi, Ardi, Arka, Sakha dan Kenzie. Lalu mereka pun menduduki pantat mereka di sofa.
"Apa yang terjadi?" tanya Danish saat matanya menatap wajah pucat Allan.
"Barusan sakit di kepalanya datang lagi. Aku rasa Allan berusaha untuk mengingat sesuatu," kata Harsha.
"Saat kami mengikutinya, Allan tiba-tiba berhenti di depan ruangan latihan Taekwondo ini dan dari situlah Allan merasakan sakit di kepalanya," kata Arya.
Mereka masih terus memperhatikan wajah pucat Allan. "Allan. Kita ke Unit Kesehatan ya!" Danish berbicara sambil menatap wajah pucat adiknya.
"Ti-dak," jawab Allan.
Allan masih memejamkan matanya. Saat ini Allan mengingat ucapan seorang wanita saat dirinya dirawat di rumah sakit.
Berlahan Allan membuka kedua matanya. Dan hal itu sukses membuat mereka semua bahagia. Mereka masih terus menatap Allan.
Matanya telah terbuka sempurna. Dapat dapat Allan lihat, ada beberapa orang yang kini mengerubungi dirinya.
"Apa ada yang sakit, hum?" tanya Utari yang tangannya mengelus lembut rambutnya. Sedangkan Allam hanya mentautkan kedua alisnya bingung.
"Anda siapa? Apa anda mengenaliku?" tanya Allan.
Baik Utari maupun anggota keluarga yang lainnya merasa sedih saat Allan tak mengenali mereka. Tapi mereka berusaha untuk tenang di hadapan Allan. Terutama Utari. Dirinya tidak ingin memperlihatkan kesedihannya pada putranya.
"Tentu. Bibi adalah ibumu. Kau adalah putra bibi. Putra bungsu Bibi. Putra kesayangan bibi. Kau adalah Dirandra Adamka Abimanyu dan kau adalah cucu kesayangannya Yodha Akasha Abimanyu."
Lalu kilasan yang lainnya muncul di pikirannya. Kilasan saat dirinya bersama seorang wanita yang menurutnya mirip dengan Utari.
"Sayang. Ini makanlah. Dan harus habis. Kalau tidak, Mama tidak akan izinkanmu untuk berangkat sekolah dan Mama akan sita semua perlengkapan game mu."
"Aish. Mama benar-benar menyebalkan. Bisanya ngancam doang," protes Adam dengan mempoutkan bibirnya.
Utari tersenyum gemas melihat wajah merengut putranya itu. "Hanya itu satu-satunya cara agar kamu mau makan. Beberapa hari ini makanmu tidak teratur. Dan kamu itu susah sekali disuruh makan."
Tiba-tiba air matanya Allan mengalir membasahi wajah tampannya. Dan hal itu sukses membuat para kakaknya khawatir.
"Ma-mama," lirih Allan.
DEG!