
Acara di Aula sudah berjalan selama setengah jam. Lima menit kemudian, barulah Utari sipemilik Kampus datang.
"Maaf semuanya kalau saya datang terlambat. Ada kesibukan sedikit yang harus saya selesaikan." Utari berbicara sambil membungkukkan badannya.
"Utari," lirih Evan saat melihat orang yang selama ini dirinya dirindukan.
Beberapa jam kemudian acara pun selesai. Para orang tua satu persatu meninggalkan ruangan itu, termasuk Utari.
Sedangkan Utari sudah keluar lebih dahulu. Dia sengaja keluar terlebih dahulu untuk menunggu Utari diluar, dihalaman Kampus.
"Papa tidak apa-apa?" tanya Danish.
"Memangnya Papa kenapa? Tumben sekali kau mengkhawatirkan Papa?" tanya Evab sembari menggoda putranya.
"Papa, aku serius. Barusan Arya bilang padaku kalau Papa sedang bertengkar dengan Adam," ucap Danish.
Ketika Evan ingin menjawab pertanyaan putranya. Evan maupun Danish mendengar dan melihat Adam dan gengnya menghampiri Utari.
"Mama," panggil Adam.
"Mama Utari," panggil Ardi dan Harsha.
Deg!
"Apa? Mama? Adam memanggil Utari Mama? Ja-jadi dia adalah putra bungsuku," batin Evan yang sudah meneteskan air matanya.
Danish yang melihat Papanya yang tiba-tiba menangis menjadi khawatir.
"Papa," panggil Danish.
Evan menolehkan wajahnya melihat putranya. "Kau lihat perempuan yang berdiri disana?" tanya Evan sambil menunjuk kearah Utari.
Danish melihat kearah perempuan yang dimaksud. "Maksud papa Bibi yang sedang bersama Adam itu?" tanya Danish balik.
"Ya."
"Dia.. dia adalah ibu kandungmu. Ibu yang sudah melahirkanmu," tutur Evan.
Berlahan air matanya mengalir membasahi pipinya. "Apa benar yang Papa katakan barusan kalau perempuan itu adalah Mamaku?"
Evan mengangguk sebagai jawaban. "Dia Mamamu yang selama ini kau rindukan dan pemuda itu adalah adikmu."
"Mama, A-adam," batin Danish disertai air matanya yang masih terus mengalir.
"Hei, Sayang." balas Utari dan langsung memberikan pelukan sayangnya pada putranya.
Mendapatkan pelukan dari ibunya, Adam langsung memberontak agar ibunya melepaskan pelukannya.
"Aish. Mama lepaskan aku. Ini di Kampus bukan di rumah. Kalau di rumah Mama boleh bebas memeluk. Tapi tidak di Kampus. Aku malu, Ma. Tuh, Mama lihat!" Adam berbicara sambil jari telunjuknya menunjuk kearah mahasiswa dan mahasiswi yang menatap mereka. "Mereka semua melihat kita, Ma!"
Utari hanya tersenyum menanggapi putranya yang sedang kesal atas ulah dirinya. "Salah kamu sendiri kenapa memiliki wajah tampan, imut, manis, cantik dan menggemaskan seperti ini? Kamu laki-laki tapi wajah kamu cantik seperti perempuan," sahut Utari sambil mencubit pipi gembil putranya.
"Mama benar-benar menyebalkan," Adam mempoutkan bibirnya.
Ardi, Harsha dan yang lainnya pun tertawa.
"Hahahaha."
"Mama Utari benar. Siapapun yang melihat siluman kelinci ini mereka pasti tidak akan bisa tahan untuk tidak memeluknya!" seru Harsha.
Adam menatap horor hyung aliennya itu. "Jangan sampai aku menendang bokongmu itu alien busuk," kesal Adam.
"Yak! Kau berani ngatain kakakmu ini. Bagaimana pun aku lebih tua darimu, siluman kelinci laknat?" ucap Harsha tak kalah kesal.
"Tua kok Bangga," ejek Adam.
Yang lainnya hanya geleng-geleng kepala menyaksikan pertandingan adu mulut antara sikelinci vs sialien.
Disaat mereka tengah asyik tertawa. Mereka dikagetkan oleh suara seseorang.
"Utari," panggil Evan.
Utari, Adam dan yang lainnya menolehkan wajah mereka melihat keasal suara.
DEG!
Utari terkejut ketika melihat kedatangan suaminya. "E-evan," ucap Utari.
"Mama mengenali pria ini? Siapa dia, Ma? Mama tidak ada hubungan dengan pria inikan?" tanya Adam penasaran dan juga memastikan.
"Sayang. Bisa tinggalkan Mama sebentar. Mama mau bicara dengannya," mohon Utari.
"Hanya sebentar," sahut Adam.
"Ya. Hanya sebentar sayang"
"Tidak akan sayang."
Adam menatap tajam Evan, lalu beralih menatap Danish. Setelah puas menatap Danish. Adam kembali menatap Evan.
"Aku peringatkan jangan sampai mamaku kenapa-kenapa. Dan setelah ini. Jangan temui mamaku atau mengganggunya lagi. Ini yang pertama dan terakhir," ucap Adam sembari memberikan ancaman.
Mendengar perkataan dari Adam membuat hati Evan sakit. Begitu juga dengan Danish. Mereka menatap sendu Adam.
Setelah mengatakan kata kejam itu, Adam pun pergi meninggalkan mereka bertiga.
"Utari. Aku senang bisa bertemu denganmu. Aku sangat merindukanmu, Utari! Selama ini aku selalu hidup dalam penyesalan. Dan selama ini aku juga selalu mencari kalian berdua," ucap Evan yang tidak bisa membendung kesedihannya.
Tak jauh beda dengan Danish. Danish masih terus menangis ketika bertemu dengan ibunya untuk pertama kalinya.
"Mama.. hiks." Danish terisak. "Apa Mama ingat denganku.. hiks.. aku Danish putra Mama. Aku merindukanmu, Ma." Danish berbicara sambil terisak.
Mendengar perkataan dan isakan dari Danish. Utari tak bisa menahan kesedihan dan juga kerinduannya. Seketika Utari meneteskan air matanya saat melihat putra keduanya yang kini tengah menangis.
Utari tahu, baik Danish maupun Adam. Keduanya adalah korban dimana Danish harus berpisah dengan dirinya. Dan Adam harus berpisah dengan Ayahnya. Hanya Garry, putra sulungnya yang mengenali wajahnya.
"Danish! Mama sangat merindukanmu, sayang. Mama tidak pernah melupakanmu sedikit pun. Selama ini Mama selalu memikirkanmu dan kakakmu." Utari langsung memeluk Danish, putra keduanya itu, begitu juga dengan Danish. Mereka saling melepaskan rasa rindu mereka selama ini.
"Aku bahagia. Sangat bahagia bisa bertemu dengan Mama dan adikku," ucap Danish dalam pelukan ibunya.
"Sejak kapan kau menjadi manja seperti ini, hah?" goda Evan.
Setelah puas memeluk ibunya. Danish pun melepaskan pelukannya. Danish benar-benar bahagia hari ini. Dirinya telah bertemu dengan dua orang yang selama ini sangat dirindukan.
"Utari, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar menyesal atas kesalahanku di masa lalu. Maafkan aku, Utari." Evan berbicara dengan wajah yang benar-benar menyesal dan juga berdosa.
"Aku sudah memaafkanmu, Van! Jadi, kau tidak perlu mengungkit masalah yang sudah terjadi!" ucap Utari.
Ketika Utari, Evan dan Danish sedang berbicara, tiba-tba terdengar teriakan dari Adam.
"Mama. Apa urusannya sudah selesai? Kalau sudah selesai, ayo kita pulang. Kepalaku tiba-tiba sakit lagi!" teriak Adam yang datang bersama dengan yang lainnya.
Utari yang mendengar teriakan dan juga keluhan putra bungsunya berubah panik, lalu Utari segera menghampiri putranya dan melihat wajah putranya yang sedikit pucat.
"Ya, sudah. Kita pulang sekarang ya." Utari berucap lembut, lalu memapah putranya menuju mobil.
"Ardi, Harsha. Kalian segera pulang dan jangan kelayapan!" teriak Utari.
"Baik, Ma!" teriak Ardi dan Harsha bersamaan.
Lalu Ardi, Harsha dan sahabat-sahabatnya pun memutuskan untuk pulang ke rumah.
Sementara Evan dan Danish menatap kepergian Utari dan Adam.
"Aku akan memperbaiki hubunganku dengan Adam, karena sekarang aku sudah mengetahui bahwa dia adalah adikku. Aku akan berusaha menjadi kakak yang baik untuknya," batin Danish.
"Barusan Adam mengatakan kepalanya sakit. Apa putraku sedang sakit? Aku benar-benar menyesal sudah memarahinya bahkan membentaknya tadi. Maafkan papa, Adam!" batin Evan.
^^^
Danish dan teman-temannya sekarang tengah berkumpul di markas mereka, kecuali dua diantaranya yaitu Arya dan Indra. Jadi mereka hanya berlima saja.
"Aku tidak menyangka ternyata Adam itu adik kandungmu. Tapi jujur, aku bahagia melihatmu bertemu kembali dengan adikmu," ucap Rayan.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang setelah kau mengetahui Adam itu adikmu?" tanya Prana.
"Yang jelas saat ini aku benar-benar menyesal telah menyakitinya. Bahkan aku hampir membunuhnya dengan melukai perutnya. Tapi aku bersyukur Tuhan masih melindunginya. Aku akan menebus semua kesalahanku padanya. Seperti janjiku pada Papa kalau aku bertemu dengan Mama dan adikku, aku akan menjadi anak yang lebih baik lagi." Danish berucap dengan tulus.
Hening sesaat..
Danish berusaha menahan tangisnya. "Sebenarnya aku melakukan semua ini karena terpaksa. Aku membully teman-teman di Kampus bahkan melakukan hal-hal buruk di Kampus itu semata-mata hanya melampiaskan rasa kecewaku terhadap Papa. Dan rasa benciku terhadap Nenek dan Bibiku. Dua perempuan itu melakukan hal keji pada ibu kandungku. Mereka selalu bersikap buruk pada Mama. Bahkan yang lebih parahnya lagi, mereka dengan tega menjebak Mama tidur dengan laki-laki lain, lalu Papa memergokinya. Saat itu juga Papa marah besar pada Mama tanpa mau mendengarkan penjelasan dari Mama. Asal kalian tahu saja, saat itu Mama baru melahirkan seorang bayi yang tak lain adalah adikku. Dan dengan tega Papa menampar Mama dan mengusirnya dari rumah. Papa mengatakan pada Mama bahwa bayi itu bukan bayinya melainkan bayinya Mama dengan selingkuhannya." Danish sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Danish menangis.
Melihat Danish menangis. Cakra dan yang lain menjadi tidak tega.
"Hanya aku dan Papa yang tidak mengetahui masalah ini. Dan aku juga tidak mengenal wajah Mama. Saat itu aku masih kecil. Yang mengetahui masalah ini hanya kakakku, kak Garry. Hanya dia yang tahu kebusukan Nenek dan Bibi," ucap Danish.
"Tapi kenapa kakakmu tidak memberitahu Papamu?" tanya Cakra.
"Karena kakakku telah diancam oleh kedua perempuan iblis itu? Kalau kakakku sampai memberitahu Papa tentang masalah ini, Nenek akan mengirim kakakku sekolah diluar negeri. Kakakku sangat kaget mendengar apa yang dikatakan Nenek padanya. Mau tidak mau kakakku pasrah," jawab Danish.
"Jadi Papamu belum mengetahuinya sama sekali?" tanya Kavi penasaran.
"Sudah. Papa sudah mengetahuinya. Nenek dan Bibi mengakui kesalahannya di depan Papa. Mereka mengakui kesalahan mereka dikarenakan kebencian dan penolakan yang diberikan oleh kakakku. Selama ini kakakku selalu mengabaikan mereka berdua. Kakakku tidak pernah menganggap mereka ada. Bahkan saat Nenek sedang sakit dan tidak berdaya sama sekali, kakakku malah acuh dan bersikap santai dan sibuk dengan urusannya sendiri. Kakakku sangat senang dan bahagia melihat orang yang telah merusak hubungan rumah tangga orang tuanya menderita sakit sendirian, tanpa ada yang merawatnya. Karena pada saat itu hanya ada nenek dan kakakku saja. Aku akui Nenek dan Bibi benar-benar sangat menyayangi kami. Mereka selalu ada buat kami. Bahkan saat itu aku sempat marah pada kakakku, atas sikap dan perlakuannya terhadap mereka terutama Nenek. Aku selalu marah padanya bahkan aku juga membentaknya, tapi kakakku hanya diam dan selalu menghindar. Dia tidak mau bertengkar denganku."
"Lalu kau tahu dari mana tentang masalah ini?" tanya Prana.
"Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan mereka saat aku memasuki rumah dan mau menuju kamarku. Mereka semua berkumpul di ruang kerja Papa. Kebetulan aku baru pulang sekolah dan melihat keadaan rumah sepi. Aku mendengar semuanya. Dan disaat itulah aku membenci Nenek dan Bibiku," jawab Danish.
"Aku tidak habis pikir dengan apa yang telah dilakukan oleh Nenek dan Bibimu itu. Masa mereka tega sampai melakukan hal keji itu," ucap Kavi.