
Celina menatap wajah sedih dan wajah rasa bersalah putra keduanya. Celina tahu bahwa putranya merasakan kesedihan dan penyesalan mendalam terhadap Allan.
"Sekarang katakan pada Mama. Kenapa kamu seperti ini? Kenapa kamu bisa bersikap seperti ini kepada Allan dan melarang Allan untuk berteman?" tanya Celina lembut dan tangannya mengelus rambut putranya itu.
"Hiks.. aku tidak mau Allan pergi meninggalkan kita, Ma! Aku ingin Allan menjadi adikku selamanya. Kalau aku membiarkan Allan sering-sering dekat dengan mereka, aku takut Allan akan ingat kembali " jawab Vigo.
"Tapi kau tidak bisa seperti itu, Vigo! Allan berhak memiliki banyak teman. Kau tidak bisa melarangnya atau membatasinya" Nicolaas berbicara lembut kepada adiknya.
"Apa kau mau kakka melarangmu dan membatasi pergaulanmu saat di luar rumah?" tanya Nicolaas.
"Kakka tidak akan melakukan hal itu," sahut Vigo yakin.
"Kenapa kau bisa seyakin itu?" tanya Nicolaas.
"Karena aku tahu siapa kakak," jawab Vigo.
"Hanya sebagian saja yang kau tahu tentang kakakmu ini Vigo. Selebihnya kau tidak tahu apa-apa. Bahkan kau tidak tahu apa yang kakak sukai dan apa yang tidak kakak sukai," sahut Nicolaas.
Mendengar perkataan kakaknya, Vigo hanya diam. Di dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh kakaknya itu.
"Sekarang katakan pada Mama. Kenapa kau melarang Allan untuk memiliki teman? Apa kau tidak senang kalau Allan memiliki banyak teman?" tanya Celina.
"Aku tidak pernah melarang Allan untuk bergaul dan berteman dengan siapapun, Ma! Justru aku ikut bahagia Allan memiliki banyak teman. Tapi tidak dengan mereka. Aku tidak ingin Allan terlalu dekat dengan mereka. Aku ingin Allan menjauhi mereka." Vigo menjawab pertanyaan dari ibunya dengan air mata yang berlinang.
Levi, Celina dan Nicolaas bingung dengan ucapan Vigo.
"Mereka? Mereka siapa?" batin Celina, Levi dan Nicolaas.
"Kalau Papa boleh tahu. Siapa mereka? Kenapa kau begitu membenci mereka dan melarang Allan dekat-dekat dengan mereka?"
"Mereka adalah sahabat, saudara sepupu dan juga kakak kandungnya Allan," jawab Vigo.
"Apa?" ketiga terkejut.
"Nama asli Allan adalah Adam. Allan putra bungsu dari keluarga Bimantara dan cucu dari keluarga Abimanyu," jawab Vigo.
"Dari mana kau mengetahui semuanya ini, Vigo?" tanya Levi.
"Dari Cakra Gariyan Loka. Cakra itu adalah putra dari sahabat Papa, Sofyan Danu Loka! Aku sempat ribut dengannya saat aku menjemput Allan yang sedang bersama mereka," jawab Vigo.
"Apa kau tahu siapa nama dari ayah kandung Allan?"
"Evan Hara Bimantara, Pa!"
"Apa? Kau yakin Allan adalah putra dari Evan Hara Bimantara?"
"Ada apa, Pa?" tanya Nicolaas.
"Kalau memang benar begitu. Allan adalah Adam. Dan dia adalah putra kandungnya Evan Hara Bimantara. Papa sendiri yang akan memberitahu tentang masalah ini padanya."
"Tidak, Pa! Papa tidak boleh lakukan itu." Vigo memohon pada Ayahnya.
"Vigo. Kau tidak akan mengerti masalah ini. Masalah ini saling berhubungan."
"Maksud Papa?" tanya Nicolaas.
"Sofyan itu sahabat Papa. Sebelumnya Sofyan sudah terlebih dahulu menjalin hubungan persahabatan dengan Evan. Setelah itu, Sofyan memperkenalkan Evan pada Papa. Dari sanalah Papa mengenal Evan dan menjalin sahabat dengannya. Dari cerita Sofyan kalau Evan memiliki tiga orang putra. Tapi Evan hanya memperkenalkan dua putranya saja dan Papa tidak pernah melihat seperti apa putra ketiganya itu. Lalu Papa memberanikan diri bertanya padanya. Dan dengan senang hati, Evan menceritakannya pada Papa. Evan mengatakan pada Papa kalau putra bungsunya itu tinggal bersama ibunya atau istri pertamanya. Papa pikir perempuan yang selama ini selalu bersamanya itu adalah istri pertamanya, ternyata istri keduanya. Jadi intinya, Evan selama dua puluh tahun berpisah dengan istri pertamanya dan putra bungsunya. Itu semua karena ulah ibu dan kakak perempuannya."
"Ya, Tuhan! Tega sekali mereka melakukan hal itu," kata Celina.
"Kasihan Paman Evan yang berpisah dengan putra bungsunya," kata Nicolaas. "Lalu apa yang dilakukan oleh Paman Evan, Pa?" tanya Nicolaas.
"Evan tidak pernah menyerah selama ini. Dia selalu mencari keberadaan istri dan putranya itu dengan membayar seseorang. Tapi usahanya gagal. Dikarenakan istri pertamanya itu menutup akses tentang keberadaannya dan putranya dari dunia luar. Jadi orang suruhan Evan kesulitan saat mencari identitas istri dan putranya itu. Evan juga tidak tahu nama Marga istrinya karena saat menikah, Evan hanya tahu nama istrinya saja yaitu Utari."
"Apa yang terjadi selanjutnya, Pa? Apa Paman Evan berhasil bertemu dengan mereka berdua?" tanya Nicolaas lagi.
"Iya. Mereka bertemu kembali setelah sekian lamanya berpisah. Mereka saling melepaskan rindu, terutama Danish. Dan Evan menangis saat itu juga dan mengucapkan beribu-ribu maaf pada istrinya. Dan istrinya dengan tulus memaafkan kesalahan suaminya. Walau mereka sudah bertemu, tapi masalah mereka belum selesai."
"Maksudmu apa, sayang?" kali ini Celina yang bertanya.
"Masalah Evan dan Adam! Disini hanya Adam yang belum mengetahui siapa Evan sebenarnya. Selama ini Adam sangat membenci Papanya karena sudah mencampakkan dirinya ketika masih bayi dan juga ibunya. Tapi berkat kesabaran dan rasa sayangnya yang begitu besar pada Adam. Evan berhasil meluluhkan hati dan keras kepala putra bungsunya itu."
"Tapi..."
"Tapi apa, sayang?" tanya Celina.
"Tapi takdir berkata lain. Lagi-lagi Evan harus merasakan kehilangan untuk yang kedua kalinya. Evan harus merelakan kepergian putra bungsunya untuk selamanya atas ulah dari istri keduanya, Dhira. Adam disekap di sebuah gudang, lalu gudang itu meledak. Dan keesokan harinya polisi menemukan jenazah disana. Mungkin karena panik dan juga sedih, mereka percaya saja kalau jenazah itu adalah jenazah Adam."
"Tanpa mereka ketahui, Adam berhasil menyelamatkan dirinya dan berhasil keluar dari gudang itu," kata Nicolaas.
"Dan kitalah yang sudah membuat Adam kehilangan ingatannya gara-gara kecelakaan itu. Papa sudah menabraknya," lirih Nicolaas.
"Sudahlah, sayang! Kau tidak sengaja saat itu," hibur Celina.
"Iya, Pa! Kejadian itu terjadi di malam hari. Dan bahkan jalanan sudah sepi dan juga gelap. Kita juga tidak melihat saat itu ada seseorang yang melintas didepan mobil kita." Nicolaas menenangkan ayahnya.
"Sekarang kau pahamkan, Vigo? Jadi Papa mohon buang egomu itu. Allan bukan milik kita. Allan milik keluarga kandungnya. Allan berada disini karena kesalahan kita. Papa mengerti perasaanmu. Apa yang kau rasakan, itu juga yang Papa rasakan? Papa juga tidak ingin kehilangan Allan. Papa juga ingin memiliki Allan seutuhnya. Tapi Papa tidak boleh egois. Disini Papa hanya bertanggung jawab atas apa yang menimpa Allan. Itu niat awal Papa."
Sedangkan Vigo hanya diam. Dirinya tak menjawab apa yang dikatakan oleh sang ayah padanya. Tanpa mereka sadari. Semua percakapan mereka didengar oleh seseorang.