THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Teringat Kejadian Yang Lalu



Semua anggota keluarga masih di rumah sakit. Semuanya begitu setia menemani Adam bahkan mengajak Adam bicara. Begitu juga dengan dengan semua orang-orang terdekatnya Adam.


Kondisi Adam masih sama seperti dua hari yang lalu. Belum menunjukkan tanda-tanda dirinya akan membuka kedua matanya.


Saat ini yang menemani Adam di rumah sakit adalah sang ibu yaitu Utari, kedua bibi kesayangan Adam yaitu Alin dan Celena, ketujuh sahabat-sahabatnya, kakak keduanya yaitu Danish, lima kakak sepupunya yaitu Rafig, Ardi, Reza, Harsha dan Vigo, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para sahabat dari kakak-kakaknya.


Sementara untuk yang lain akan datang ketika pekerjaannya sudah selesai dengan membawa beberapa menu makanan dan minuman.


"Sayangnya Mama," ucap Utari dengan tangannya mengusap lembut kepala putra bungsunya itu sehingga memperlihatkan kening putihnya.


Celena memeluk tubuh Utari dari samping. Apa yang dirasakan oleh Utari, seperti itu juga yang dia rasakan. Celena menangis ketika menatap wajah Adam putra angkatnya sekaligus keponakannya.


"Putra kita pemuda yang kuat, kak! Aku sangat yakin jika hari ini atau besok Adam pasti bangun," ucap Celena.


Mendengar ucapan dari Celena membuat Utari langsung mengaminkannya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua berharap jika mata bulat itu terbuka hari ini atau besok.


"Mama benar. Aku juga sangat yakin jika adikku yang tampan ini pasti akan segera bangun. Kalau tidak hari ini kemungkinan besok. Aku berharap hal itu terjadi," ucap Vigo yang berlinang air mata menatap kearah Adam.


"Adam."


"Dam."


Para kakak-kakaknya, ketujuh sahabat-sahabatnya dan para sahabat kakaknya menatap sedih kearah Adam.


Detik kemudian...


Utari merasakan tangannya digenggam kuat oleh Adam sehingga membuat Utari membelalakkan matanya dengan menatap kearah tangannya.


"Adam," ucap Utari dengan tangannya mengusap lembut kepala putranya.


"Ma, ada apa?" tanya Danish.


"Adik kamu tadi megang tangan Mama kuat sekali," jawab Utari.


Danish langsung melihat kearah tangan adiknya yang ada di genggaman tangan ibunya. Dan benar saja, tangan adiknya itu kembali menunjukkan pergerakan dengan menggenggam tangan ibunya.


"Adam," panggil Danish dengan tersenyum menatap pergerakan tangan adiknya.


Semuanya menatap kearah Adam. Mereka berharap hari ini juga mata bulat itu terbuka.


Dan benar saja. Harapan dan keinginan mereka semua terwujud. Berlahan-lahan mata bulat Adam terbuka.


Seketika mereka semua menangis bahagia karena keinginan dan harapan mereka terwujud. Mereka semua tersenyum menatap wajah Adam.


"Sayang," ucap Utari dengan berlinang air mata dengan tangannya masih bermain-main di kepala putranya.


"Ma-mama," sapa Adam dengan suara lirihnya.


Harsha langsung berlari meninggalkan ruang rawat Adam untuk memanggil Pamannya Nurman.


Utari memberikan bertubi-tubi ciuman di kening dan di kedua pipi putra bungsunya itu. Begitu juga dengan Danish. Keduanya begitu bahagia ketika melihat kesayangannya telah bangun dari tidurnya selama tiga hari.


Cklek!


Pintu dibuka dan masuklah Nurman, dua perawat dan Harsha ke dalam ruangan tersebut. Kemudian Nurman melangkah mendekati ranjang Adam.


Nurman langsung memeriksa kondisi Adam dan dibantu oleh dua orang perawatnya. Ketik Nurman memeriksa kondisi Adam, terukir senyuman manis di bibir Nurman.


Selesai memeriksa kondisi Adam. Nurman melihat kearah dua perawatnya.


"Lepaskan semua alat-alat yang menempel di tubuh pasien. Dan ganti masker oksigen dengan selang canula."


"Baik, Dokter!" kedua perawat itu menjawab bersamaan.


Semua yang ada di dalam ruangan rawat Adam tersenyum bahagia. Bagaimana tida bahagia, secara mereka melihat dua perawat tersebut melepaskan semua alat-alat medis yang menempel di tubuh Adam. Bahkan masker oksigen yang menempel di wajah Adam diganti dengan selang canula.


"Kita bicara diluar," ucap Nurman.


Nurman terlebih dahulu melangkah keluar meninggalkan ruangan rawat Adam. Kemudian disusul oleh Alin, Danish, Ardi, Harsha, Vigo, ketujuh sahabat-sahabatnya Adam dan para sahabat kakak-kakaknya.


"Paman, bagaimana keadaan adikku saat ini?" tanya Danish.


"Adikmu dalam keadaan baik-baik saja. Adikmu sudah melewati semuanya dengan sangat baik. Itu semua tak lepas dari doa kamu dan kalian semua."


Mendengar jawaban dari Nurman membuat Danish tersenyum bahagia. Begitu juga dengan Utari dan yang lainnya.


"Lalu bagaimana dengan sakit di kepalanya Adam, Nurman?" tanya Alin sang kakak perempuan.


"Untuk sakit di kepalanya Adam itu sebenarnya tidak ada apa-apa. Dengan kata lain, Adam baik-baik saja. Tidak ada penyakit apapun. Sakit kepala yang dirasakan oleh Adam itu akibat efek samping dari benturan keras di kepala Adam akibat kejadian satu tahun yang lalu. Benturan tersebut bukan hanya satu kali, melainkan berulang kali. Bahkan di tempat yang sama. Jadi dengan begitu, Adam akan merasakan sakit di kepalanya jika Adam terlalu banyak memikirkan masalah."


"Jadi maksud Paman. Jika Adam dalam kondisi fit tanpa masalah apapun, maka rasa sakit itu tidak akan datang. Jika Adam bertubi-tubi mendapatkan masalah sehingga membuat Adam tertekan, maka rasa sakit itu akan datang. Apa begitu Paman?" tanya Ardi.


"Ya, seperti itu. Dan bukan itu saja. Kesehatan Adam juga menurun. Jadi Adam akan gampang jatuh sakit bahkan pingsan jika Adam tidak bisa dan tidak kuat untuk menampung semua permasalahan. Adam juga gampang lelah jika setiap melakukan aktivitasnya."


Mendengar ucapan demi ucapan serta penjelasan dari Nurman mengenai kesehatan Adam membuat semuanya menangis, terutama Danish. Dirinya yang paling sedih ketika mendengar penjelasan mengenai kondisi adiknya.


"Benturan pertama di kepala Adam. Akulah penyebab pertamanya. Aku masih ingat akan kejadian pertarungan terakhirku dengan Adam kala itu. Aku mengalami benturan di punggungku. Sedangkan Adam di kepalanya." Danish berbicara sembari mengingat kembali pasca pertarungannya dengan adiknya waktu itu sehingga membuat dirinya dan adiknya tidak sadar selama tiga hari di rumah sakit.


"Aku kakak yang jahat untuk adikku. Aku yang menyebabkan adikku seperti ini," ucap Danish dengan bercucuran air mata.


Grep..


Alin langsung memeluk tubuh keponakannya. Dirinya tahu bahwa keponakannya itu kembali mengingat kejadian perkelahian tersebut saat keduanya masih belum mengetahui status sebenarnya.


"Hiks... Hiks... Bibi, aku kakak yang jahat untuk Adam."


Alin makin mengeratkan pelukannya ketika mendengar isak tangis dan ucapan dari Danish. Seketika air matanya mengalir membasahi pipinya. Begitu juga dengan Ardi, Harsha, Vigo, ketujuh sahabat-sahabatnya Adam dan para sahabatnya.


"Kamu tidak salah sayang. Jika saat itu kamu tahu bahwa Adam adalah adik yang selama ini kamu rindukan, maka kamu tidak akan menyakiti adikmu sendiri. Pada saat kejadian itu, baik kamu maupun Adam sama-sama belum mengetahui bahwa kalian adalah kakak dan adik kandung. Jadi, apa yang terjadi padamu dan juga Adam itu semua adalah takdir. Tidak ada yang salah disini, termasuk kamu."


"Apa yang dikatakan sama Mama benar, kak Danish. Tidak ada yang salah disini, termasuk kakak Danish. Jika kakak Danish mengetahui bahwa Adam adalah adik kandungnya kakak. Aku sangat yakin jika kakak tidak akan menyakiti adik kandung kakak sendiri," ucap Harsha yang ikut menghibur Danish.


Alin kemudian melepaskan pelukannya, lalu tatapan matanya menatap kearah Danish. Berlahan tangannya mengusap lembut air mata Danish.


"Sekali lagi bibi katakan pada kamu bahwa kamu tidak salah. Baik kamu maupun Adam tidak salah. Jadi, bibi mohon lupakan. Jangan diingat lagi kejadian itu. Ingat! Adam paling benci jika orang-orang yang dia sayangi menangis. Apalagi kalau sampai menangis karena memikirkan kondisinya. Adam paling benci dengan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan khawatir karena bagi Adam itu sama saja menganggap dirinya lemah. Jadi kamu dan kita semua harus terlihat bahagia dan tersenyum jika di hadapan Adam. Boleh khawatir, tapi jangan diperlihatkan di hadapan Adam."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Alin membuat Danish menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Begitu juga dengan yang lainnya.