THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Aku Merindukan Kalian



Adam, Danish, Ardi dan Harsha saat ini berada di kampus. Begitu juga dengan yang lainnya.


Adam, Harsha dan Gala masih kuliah. Harsha dan Gala sudah semester 4. Sementara Adam sudah memasuki semester 2.


Sementara Danish dan para sahabatnya, Vigo dan para sahabatnya, Ardi, Arka ,Kenzie dan Sakha sudah menjadi Dosen di kampus yang sama. Mereka wisuda tepat satu bulan Adam koma.


Danish, Ardi, Vigo dan para sahabatnya bukan hanya menjadi Dosen di kampus yang sama. Mereka juga seorang CEO di perusahaan.


Danish menjadi CEO di perusahaan pemberian ayahnya. Jadi Garry dan Danish memiliki masing-masing satu perusahaan. Sedangkan untuk Adam. Evan akan memberikan perusahaan untuk putra bungsunya itu ketika selesai wisuda.


Namun jika putra bungsunya itu mau kuliah sambil mengurus perusahaan, dirinya tidak akan keberatan. Semua keputusan ada ditangan putranya itu.


Ardi dan Harsha menjadi seorang CEO di perusahaan pemberian ayah mereka. Sama seperti Garry, Danish dan Adam.


Untuk Vigo menjadi CEO di perusahaan sang ayah. Vigo disana untuk membantu kakaknya. Dirinya tidak ingin kakaknya lelah mengurus perusahaan sendirian.


^^^


Adam saat ini duduk sendirian di lobi depan kampus. Tempat yang biasa dirinya dan sahabatnya Melky kunjungi sebelum dan sesudah selesai mengikuti kelas. Adam saat ini benar-benar merindukan Melky.


Tes..


Seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya ketika mengingat momen-momen kebersamaannya dengan Melky.


Ketika Adam tengah tenggelam dalam kenangannya bersama Melky, tiba-tiba keenam sahabat yang lain datang. Tujuan mereka datang kesana adalah untuk menghibur Adam sekaligus menemani Adam.


Kini keenam pemuda tampan itu sudah duduk di hadapan dan di samping Adam. Tatapan mata mereka menyenduh ketika menatap wajah sedih Adam.


Puk..


Diego menepuk bahu Adam pelan sehingga membuat Adam terkejut. Kemudian Adam menatap ke depan dan juga ke samping. Dapat Adam lihat keenam sahabatnya itu menatap dirinya khawatir.


"Mikirin Melky?" tanya Zio.


"Dam, gue tahu perasaan lo. Tapi lo nggak bisa seperti ini. Apa dengan lo menyendiri rasa rindu lo akan terbalaskan?" ucap Gino.


"Melky hanya pindah negara. Bukan pergi untuk selamanya! Dia masih bersama kita, Dam!" seru Vino.


"Jika lo rindu sama Melky. Lo kan bisa video call. Nggak harus seperti ini. Menyendiri lalu nangis," ucap Leon.


"Mana Adam yang kita kenal dulu ketika di Amerika? Adam yang dulu orangnya anti menyendiri. Adam yang dulu selalu mencari kesibukan. Bahkan Adam yang dulu suka membuat ulah dengan menjahili sahabat-sahabatnya," sahut Vando sembari mengingat kembali sifat jahil Adam ketika bersama Adam dulu di Amerika.


"Bagaimana kalau kamu Video Call Melky!" usul Diego.


Mendengar usulan dari Diego seketika Adam menatap wajah Diego dan dibalas anggukan kepala oleh Diego.


Setelah itu, Adam mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah itu, Adam mencari nama Melky di kontak telepon.


Beberapa detik kemudian..


Tutt.. Tutt..


Tiba-tiba panggilan terputus. Dan itu sukses membuat air mata Adam seketika mengalir membasahi wajahnya.


"Melky," lirih Adam.


Grep..


Gino seketika menarik tubuh Adam dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan seketika tangis Adam pecah.


"Hiks... Gue nggak mau berpisah dengan semua... Hiks... sahabat-sahabat gue. Gue ingin semua sahabat-sahabat gue bersama gue dan di dekat... Hiks... gue."


Diego mengusap-usap lembut punggung Adam. Dirinya dapat merasakan tubuh bergetar Adam.


"Apa ini hukuman buat gue yang dulu pernah ninggalin kalian untuk pindah kuliah ke Jakarta?"


Drtt.. Drtt..


Tiba-tiba mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel Adam yang berdering menandakan panggilan masuk.


Vino seketika melihat nama Melky tertera di layar ponsel sahabatnya itu. Seketika Vino bersuara.


"Dam, itu Melky hubungi lo!"


Adam langsung melepaskan pelukannya Diego lalu kemudian tatapan matanya melihat ke layar ponsel miliknya.


Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat nama 'Melky' tertera di layar ponselnya.


"Dam, loudspeaker panggilannya. Biar kita bisa dengar suara Melky juga," pinta Vando.


Adam menganggukkan kepalanya, mengiyakan keinginannya Vando.


"Jangan pernah menghubungiku lagi. Aku tidak ingin memiliki hubungan apa-apa pun denganmu!"


Tutt.. Tutt..


Deg..


Adam seketika tersentak ketika mendengar ucapan dari Melky. Bukan itu yang Adam inginkan.


Bukan hanya Adam saja yang terkejut ketika mendengar ucapan dari Melky yang begitu menyakitkan hati Adam. Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando. Mereka sama terkejut dengan Adam. Hati mereka juga sesak ketika mendengar ucapan dari Melky.


"Tidak. Ini tidak mungkin. Melky tidak mungkin mengatakan hal kejam itu padaku. Aku tahu Melky. Itu bukan suara Melky."


Air mata Adam mengalir deras membasahi wajahnya. Dirinya tidak terima dan juga tidak ikhlas sahabatnya itu memutuskan hubungan persahabatan dengannya.


Adam seketika berdiri dari duduknya. Setelah itu, Adam pergi begitu saja meninggalkan keenam sahabatnya.


"Adam!" panggil Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.


Mereka kemudian berdiri dan langsung berlari mengejar Adam. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Adam. Secara Adam baru pulih dari pasca kejadian penembakan ketika menyerang kediaman Kalyani.


***


Di sebuah rumah mewah klasik terlihat seorang pemuda tampan tengah duduk di sofa ruang tengah.


Pemuda itu tengah merindukan kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya yang bernama Miky.


Pemuda itu sampai berpisah dengan keluarganya akibat kecelakaan tragis yang dialaminya bersama dengan ayah dan adik laki-laki satu-satunya. Pemuda itu ingat ketika kejadian itu, ayahnya meminta dirinya untuk melompat keluar.


Sementara ayahnya tetap membawa mobil bersama sang adik, walau pada saat itu ayahnya mengalami luka tembak bagian bahu kanannya.


"Papa, Mama, Miky. Kalian dimana sekarang? Papa, Miky, apa kalian selamat? Apa kalian baik-baik saja sampai saat ini? Bagaimana kehidupan kalian sekarang?"


Seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya ketika merindukan keluarganya. Pemuda itu menangis.


Drtt.. Drtt..


Pemuda itu seketika terkejut ketika mendengar bunyi ponselnya. Lalu pemuda itu mengambil ponselnya yang ada di atas meja di hadapannya.


Setelah ponselnya ada di tangannya. Pemuda itu melihat nama tangan kanannya tertera di layar ponselnya.


Tanpa membuang waktu lagi, pemuda itu pun langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.


"Hallo, bagaimana?"


"...."


"Kau yakin mereka di Jakarta?"


"...."


"Siapa nama pemuda itu?"


"...."


"Hanya Adam? Apa kau tidak tahu nama panjangnya?"


"...."


"Baiklah. Kirimkan aku fotonya."


Setelah mengatakan itu, pemuda itu langsung mematikan panggilannya.


Ting..


Sebuah notifikasi pesan WhatsApp masuk ke ponsel pemuda itu. Kemudian pemuda itu membukanya lalu melihat isi pesan tersebut.


Pemuda itu melihat pesan gambar di pesan WhatsApp miliknya. Pemuda itu mengklik lalu terlihat jelas foto tersebut.


"Aku akan mencari tahu dari pemuda ini mengenai keberadaan Miky dan kedua orang tuaku," ucap pemuda itu sembari menatap foto Adam di layar ponselnya.