THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Flashback Kejadian Lima Bulan Yang Lalu 2



Garry dan Danish mengepalkan tangannya kuat. Mereka tidak bodoh untuk mengetahui maksud dari perkataan ibu tiri mereka. Ibu tirinya ini pasti sudah menyiksa adik mereka.


"Kalau adikku sampai lecet sedikit pun. Aku akan membunuhmu, Areta Dhira Kalyani!" teriak Danish.


"Jaga ucapanmu, Danish. Aku ini mamamu. Orang yang sudah merawatmu dan menjagamu!"


"Tapi kenyataannya kau bukan Mama kandungku. Kau hanya perempuan pengganggu dalam rumah tangga kedua orang tuaku!" teriak Danish.


"Brengsek. Dasar anak tidak tahu diri. Kalau bukan aku yang merawat dan menjaga kalian. Kalian tidak akan menjadi seperti ini!" bentak Dhira.


"Tapi aku waktu itu tidak menginginkan kehadiranmu dalam keluargaku. Bahkan aku tidak memintamu untuk merawat dan menjaga kami!" teriak Garry.


"Kalau kau ingin marah. Kenapa kau tidak marah dengan ibu mertuamu saja? Bukankah dia yang sudah membohongimu selama ini. Tapi kenapa kau justru marah pada Mama dan adikku," Ucap Garry sinis.


"Kalian sudah berani melawanku sekarang, hah?! Apa kalian tidak memikirkan nasib adik kalian yang saat ini masih berada di dalam? Dan kalian tidak tahukan bagaimana kondisinya saat ini? Akan aku pastikan kalian semua tidak akan pernah bertemu lagi dengan adik kalian. Orang yang paling kalian sayangi!"


"Apa maksudmu, Dhira?!" teriak Utari yang melangkahkan kakinya menuju kearah Areta Dhira Kalyani.


Sekarang mereka sudah berhadapan. Dhira dan Utari . Mereka saling menatap satu sama lain.


"Aku tanya sekali lagi. Apa maksud dari perkataanmu tadi, Dhira?"


"Maksudku. Permainan sudah dimulai. Dan kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan putra kesayanganmu itu, Erina Utari Abimanyu!"


"Jangan berani-beraninya kau menyakitinya Dhira. Dia tidak bersalah sama sekali dalam hal ini. Kalau kau ingin marah padaku, silahkan. Asalkan kau lepaskan putraku."


"Mama!" teriak Garry, Danish, Ardi dan Harsha bersamaan.


Areta Dhira Kalyani melihat kearah jam tangannya. Lalu dirinya tersenyum. "Sebentar lagi," batin Dhira.


"Dhira. Aku mohon hentikan semua ini. Aku mencintaimu dan aku juga mencintai Utari. Kalian berdua sangat berharga dalam hidupku. Aku kembali pada Utari bukan berarti aku tidak peduli lagi denganmu. Kita akan tetap bersama. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Dhira! Aku mohon lepaskan Adam. Dia tidak bersalah." Evan berbicara sembari memohon.


"Tapi permainannya sudah dimulai, Van! Dan aku tidak bisa menghentikannya," ucap Dhira. "Masih ada waktu tiga menit lagi danĀ  istrimu ini bisa masuk ke dalam dan menyelamatkan putramu sendiri. Tapi..." perkataan Dhira terhenti.


"Tapi apa, Dhira?" tanya Evan.


"Aku tidak yakin kalau istrimu ini akan berhasil masuk ke dalam," jawab Dhira santai


DEG!


Mereka semua terkejut mendengar penuturan Dhira.


"Kau tidak akan berhasil menyelamatkan putra kesayanganmu, Utari!" batin nista Dhira.


"Aku akan melakukannya. Aku akan menyelamatkan putraku!" seru Utari.


"Baiklah. Silahkan masuk ke dalam gudang itu. Dan segera selamatkan putramu," sahut Dhira tersenyum.


Utari melangkahkan kakinya menuju kearah gudang dimana putranya disekap. Sedangkan Dhira sudah mulai menghitung mundur.


3


2


1


DUUAAAARRRRR!


"ADAAAAMMM!" teriak histeris mereka.


Gudang tersebut meledak dengan ledakan yang amat dahsyat.


"TIDAAAKK! ADAAAAMMMM!" teriak Utari saat melihat gudang tersebut meledak dan terbakar. Utari jatuh terduduk lemah di tanah.


"Tidak. Putraku tidak mungkin meninggalkanku. Dia tidak mungkin pergi. ADAM," tangis Utari pecah.


"A-adam!" isak tangis Garry dan Danish. Mereka jatuh lemah bersimpuh di tanah.


"Adam," isak Ardi dan Harsha.


Mereka semua menangis. Mereka menyalahkan diri mereka sendiri karena telah gagal menyelamatkan adik kesayangan mereka.


PLAAKK!


Evan Hara Bimantara menampar keras pipi istrinya dan menatap nyalang padanya.


"Berani sekali kau melakukan itu, Dhira! Dasar wanita murahan sialan. Perempuan tidak tahu diri. Aku menyesal sudah menikahimu. Aku pikir kau perempuan yang baik dan mau menerima kekuranganku. Ternyata aku salah. Kau dengan tega membunuh putra bungsuku dengan cara seperti ini. Dimana otakmu, hah?!" bentak Evan lalu menghampiri Utari istrinya.


"Sayang," panggil Evan.


Ardi dan Harsha pun melepaskan pelukannya dari Utari. Lalu Evan langsung memeluk Utari istrinya.


Areta Dhira Kalyani tersenyum sinis. Dan matanya menatap kearah Utari dan Evan yang sedang berpelukan, lalu Dhira mengeluarkan pistolnya yang ia sembunyikan di belakang bajunya. Dhira mengarahkan moncong pistol itu kearah Utari.


DOR!


DOR!


Dua peluru itu bersarang di dada kiri dan di perut Dhira. Pelaku penembakan itu adalah ibu kandung dari Evan yaitu Amirah.


"Dhira/Mama!" teriak Evan, Garry dan Danish.


"Kau sudah berani-beraninya membunuh cucuku. Dan kau ingin membunuh menantuku juga. Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi lebih baik kau saja yang pergi dari dunia ini." Amirah berbicara sambil melihat tubuh Dhira yang sudah tak bernyawa


"Nenek," lirih Garry dan Danish.


Evan menghampiri ibunya lalu kemudian mengambil pistol yang masih di pegang oleh sang ibu. Pistol itu disembunyikan di belakang tubuhnya. Kemudian Evan memeluk ibunya itu.


"Tidak apa-apa? Semuanya akan baik-baik saja," Ucap Evan saat melihat tangan ibunya bergetar.


Amirah menatap putra dan menantunya sendu. "Maafkan ibu.. maafkan ibu. Lagi-lagi ibu membuatmu berpisah dengan putra bungsumu, Van! Kau baru bertemu dengannya dan sekarang kalian berpisah lagi. Tapi kali ini...!" tangis Amirah pecah.


Amirah menundukkan kepalanya tidak berani menatap wajah putra dan menantunya.


"Bu," panggil Utari dan tangannya menyentuh dagu Amirah dan mengangkatnya agar bisa melihat wajah ibu mertuanya itu." Sudahlah. Ibu tidak perlu meminta maaf berulang kali padaku. Aku sudah memaafkan ibu dari dulu. Aku tidak pernah membencimu." Utari berbicara dengan air matanya yang membasahi wajah cantiknya.


"Tapi kau sudah kehilangan putramu Utari dan itu kesalahan ibu," lirih Amirah.


Saat Utari ingin membalas ucapan mertuanya. Danish sudah terlebih dahulu memotongnya.


Danish berdiri dan menatap kearah Amirah sang Nenek. "Ya. Ini memang kesalahan, Nenek. Kau yang menyebabkan semua ini terjadi. Kau sudah merenggut kebahagiaanku dari kecil. Kau memisahkanku dari ibu kandungku dan adikku. Kau yang sudah membuatku menjadi orang jahat diluar sana. Kau yang sudah membuatku selalu memberontak pada Papa. Dan sekarang aku kehilangan adikku. Itu semua gara-gara kau... Hiks!" teriak Danish sambil menunjuk kearah Amirah. Tangis Danish pun pecah.


Semuannya hanya bisa diam membisu mendengar keluh kesah dan kekecewaan dari Danish. Tak terkecuali Evan. Biasanya dia yang selalu marah pada Danish putranya setiap Danish berlaku tidak sopan pada ibunya. Tapi kali ini dirinya diam dan membenarkan apa yang diucapkan oleh putranya itu.


"Aku membencimu... Aku membencimu. Dan aku tidak akan pernah sudi memaafkanmu. Dan mulai hari ini kau bukan nenekku lagi. Dan aku bukan cucumu!" teriak Danish lalu pergi meninggalkan mereka semua.


"Danish!" teriak teman-temannya dan ikut mengejar Danish.


"ADAM," lirih Arka, Sakha, Kenzie dan Gala. Mereka menangis.


"Pa, Ma. Lebih baik kita pulang. Kita hubungi polisi untuk mengurus masalah ini dan untuk membawa pulang jenazah A-dam." Garry tersendat karena menahan tangisnya.


Mereka semua dengan langkah kaki yang lemah dan air mata yang masih setia mengalir pergi meninggalkan lokasi tersebut. Utari sang ibu melihat ke belakang.


"Adam putra kesayangannya Mama. Maafkan Mama sayang. Maafkan Mama. Mama berjanji. Kau akan selalu ada dihati Mama. Mama tidak akan melupakanmu dalam setiap doa Mama.. Selamanya!" lirih Utari.


FLASHBACK OFF