THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kabar Bahagia Dari Bagas



Adam, Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando saat bersama dengan Zio di ruang komputer. Mereka menatap kasihan pada Zio.


"Vcd itu bukan punya gue, Dam!" ucap Zio.


Adam tersenyum ketika mendengar ucapan dari Zio. Menurut Adam pribadi, sekali pun Zio tidak mengatakan itu kepadanya. Adam lebih memilih percaya terhadap Zio dibandingkan omongan para Dosennya.


"Gue percaya sama lo, Zio! Dan lo nggak perlu khawatir masalah ini. Gue akan cari tahu siapa pemilik vcd itu. Setelah gue nemu tuh orang. Gue kasih sama lo. Dan lo bebas mau lakuin apa sama orang itu. Kalau lo mau bunuh tuh orang. Lakukan saja," ucap Adam sembari tersenyum di sudut bibirnya.


Mendengar perkataan dari Adam membuat Zio seketika tersenyum. Di dalam hatinya mengatakan 'Menarik sekali tawaran yang diberikan oleh Adam padaku'.


"Lebih baik lo pulang sekarang. Selama belum diketahui siapa orang yang sudah memfitnah lo. Lo nggak usah masuk dulu. Gue nggak akan biarin lo tetap pergi kuliah. Sementara yang lo dapatkan adalah lo disuruh membersihkan toilet selama satu bulan penuh. Lo diizinkan pulang ketika semua mahasiswa dan mahasiswi sudah pada pulang."


"Ja-jadi lo tahu?" tanya Zio dengan wajah terkejutnya.


"Ya tahulah! Lo nggak amnesia kan kalau kampus ini milik ibu gue?"


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat Zio hanya memperlihatkan senyumannya. Sementara Adam dan yang lainnya hanya menghela nafasnya.


"Lo masuk kuliah lagi kalau gue yang nyuruh. Selain itu, lo tetap di rumah. Jika lo ingin pergi kemana-mana. Lo telepon gue, Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando. Gue takutnya orang itu bakal berbuat nekat untuk membuat nama lo jelek diluar sana."


"Baiklah, Dam!" jawab Zio.


"Dan untuk kalian juga. Tetap waspada di sekitar kalian. Takutnya orang itu juga mengincar kalian," ucap Adam dengan menatap kearah Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando.


***


Di perusahaan milik Bagas terlihat beberapa orang berpakaian hitam menyerang sehingga membuat beberapa penjaga terluka.


Setelah berhasil mengalahkan beberapa penjaga, orang-orang berpakaian hitam itu langsung melangkah masuk ke dalam perusahaan.


"Kalian cari dimana ruangan penyimpanan data penting perusahaan dan juga tempat mereka menyimpan semua uangnya!"


"Baik, Bos!"


Setelah itu, sekitar 50 laki-laki berpakaian hitam berpencar untuk mencari dua ruangan yang dimaksud oleh sang Bos.


Sementara Bagas dan putra sulungnya Dzaky sedang berada di ruang kerjanya masing-masing. Keduanya tahu perusahaannya sedang diserang.


Kenapa Bagas dan Dzaky tetap berada di ruang kerjanya masing-masing? Kenapa keduanya tidak keluar untuk melihat kejadian penyerangan tersebut? Itu karena Bagas dan Dzaky sudah mengetahui apa yang akan terjadi sebentar lagi terhadap orang-orang yang masuk ke dalam perusahaannya dan hendak mencuri data-data perusahaan dan uang perusahaan.


Bukan hanya Bagas dan Dzaky saja yang berada di ruang kerjanya. Karyawan dan karyawatinya yang memiliki posisi tinggi juga berada di ruang kerjanya masing-masing. Hanya karyawan dan karyawati yang posisinya sebagai karyawan dan karyawati biasa yang berada diluar. Mereka semua sudah diminta untuk bersikap tenang seolah-olah mereka ketakutan dan memilih untuk tidak melawan.


Tujuan utama orang-orang itu mendatangi dan menyerang perusahaan milik Bagas adalah untuk mencuri data-data penting perusahaan tersebut. Setelah mendapatkannya, mereka semua akan pergi. Orang-orang itu akan membunuh karyawan dan karyawati tersebut jika ada yang melawan. Jika semua karyawan dan karyawati patuh, maka semua aman.


Bagas dan Dzaky yang berada di ruang kerjanya saat ini melihat kearah jam. Jika Bagas melihat kearah jam tangannya, sedangkan Dzaky melihat kearah jam dindingnya.


Dan secara bersamaan, keduanya di ruangan yang berbeda sedang menghitung mundur dan dimulai dari angka 3.


3


2


1


Dor.. Dor.. Dor..


Dor.. Dor.. Dor..


Terdengar suara tembakan secara beruntun dari dua ruangan yang berbeda. Ruangan tersebut adalah ruangan penyimpanan uang dan ruangan penyimpanan data-data penting perusahaan.


Sekitar 45 laki-laki berpakaian hitam mati dengan sangat mengenaskan. Peluru-peluru itu menembus dada kiri, perut dan kepala laki-laki berpakaian hitam tersebut.


Sementara 5 laki-laki berpakaian hitam berhasil meloloskan diri. Mereka berlari dan menghampiri sang Bos untuk memberikan laporan.


"Bos, semuanya mati ketika hendak melangkah memasuki ruangan tersebut!"


"Apa?! Bagaimana bisa?"


"Sepertinya pemilik perusahaan ini sudah merencanakannya, Bos! Dan kemungkinan perusahaannya ini sudah dilengkapi banyak senjata tersembunyi. Jika kita salah bergerak, maka kita bisa mati, Bos!"


"Sial! Ternyata keturunan dari Yodha Akasha Abimanyu bukan lawan biasa," batin pria itu.


"Ayo, pergi!"


Setelah itu, pria tersebut dan lima anggotanya tersisa langsung pergi meninggalkan perusahaan milik Bagas dengan dengan gagal untuk kesekian kalinya.


Sementara Bagas dan Dzaky di ruang kerjanya tersenyum kemenangan. Mereka tersenyum ketika melihat yang selamat dari kelompok musuh tersebut adalah hanya 5 orang dari 50 orang yang datang menyerang.


"Adam, terima kasih sayang."


"Adam, terima kasih dek!"


***


Adam dan keenam sahabatnya saat ini berada di kantin. Setelah dua jam mengikuti materi kuliah bisnis. Mereka memutuskan untuk mengisi perutnya karena sudah sejak tadi perutnya berdendang untuk minta diisi. Sedangkan untuk Zio, dia sudah pulang ke rumahnya. Seperti yang diinginkan oleh Adam.


Ketika Adam sedang menikmati makan siangnya tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.


Adam melihat kearah layar ponselnya. Dan dapat dilihat oleh Adam, tertera nama 'Papa Bagas' di layar ponselnya itu.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Adam langsung menjawab panggilan dari pamannya itu.


"Hallo, Papa!"


"Hallo, sayang! Papa ganggu tidak?"


"Tidak. Kenapa, Pa?"


"Papa mau ngasih tahu kamu satu hal sayang!"


"Apa?"


"Ada sekitar 50 laki-laki berpakaian hitam. Mereka menyerang perusahaan Papa."


"Apa yang mereka lakukan disana?"


"Mereka langsung menuju ruangan penyimpanan uang dan data-data perusahaan, sayang!"


"Lalu?"


"Beberapa detik kemudian, mereka semua tewas akibat tembakan tak terlihat oleh mereka. Dari 50 laki-laki berpakaian hitam itu, tersisa hanya 5 orang termasuk sang pemimpinnya."


Mendengar perkataan serta cerita dari Pamannya membuat Adam seketika tersenyum bahagia. Dirinya bahagia karena tidak sia-sia apa yang sudah dia lakukan ketika mengetahui orang-orang itu yang ingin berbuat jahat terhadap keluarganya.


Adam bangga akan kepintaran yang dia miliki. Setidaknya dengan kepintarannya itu bisa membantu anggota keluarganya yang mendapatkan masalah.


"Aku senang mendengarnya. Apa ada yang terluka?"


"Tidak ada sayang. Sebelumnya Papa dan kakak kamu Dzaky sudah memberitahu kepada semua karyawan dan karyawati tentang masalah ini. Jadi mereka semua kompak memperlihatkan ketakutannya dan diam saja ketika orang-orang itu masuk ke dalam perusahaan agar mereka semua selamat."


"Baguslah kalau begitu. Nanti kita bicarakan lagi ketika di rumah."


"Baiklah, sayang!"


Setelah itu, baik Adam maupun Bagas sama-sama mematikan panggilannya. Seketika Adam tersenyum ketika Pamannya itu memberikan kabar padanya.