THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Dipertemukan Kembali



Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Termasuk Utari, Evan dan kedua putranya.


Setelah Utari, suaminya dan kedua putranya berembuk. Akhirnya mereka memutuskan untuk tinggal beberapa bulan di kediaman Abimanyu. Itu pun juga dilakukan untuk kebaikan sang Ayah, Yodha.


Semenjak pertemuannya dengan pemuda yang mirip dengan Adam, cucunya membuat laki-laki yang sudah berumur itu selalu memikirkan pemuda tersebut. Dalam hatinya, dirinya sangat yakin bahwa pemuda itu cucunya. Cucu kesayangannya.


"Pa," panggil Utari. "Papa makan yang banyak ya. Biar papa sehat terus," ucap Utari yang mengambil nasi beserta lauk-pauk lalu memberikan pada ayahnya.


"Utari," panggil Yodha.


"Iya," jawab Utari.


"Apa kau percaya kalau pemuda yang Papa temui itu adalah putra bungsumu?"


"Aku belum melihatnya secara langsung. Jadi aku tidak tahu harus menjawab apa?" jawab Utari.


"Papa yakin kau akan sama seperti Papa. Kalian juga begitu saat melihat wajah pemuda itu!" seru Yodha.


"Bagi yang sudah lama mengenalnya dan dekat dengannya pasti akan memiliki perasaan dan ikatan yang begitu kuat. Sama seperti Papa saat itu dimana Papa bisa melihat kembali wajah tampannya, senyuman manisnya. Wajah cucu Papa yang telah pergi lima bulan yang lalu. Hati Papa tergerak dan berkata kalau pemuda itu adalah Dirandra Adamka Abimanyu. Cucu Papa!"


"Sudahlah, Pa. Jangan terlalu dipikirkan. Aku tidak mau Papa jatuh sakit. Papa tidak perlu khawatir. Kita akan mencari tahu siapa pemuda itu," tutur Bagas.


"Iya, Pa. Aku juga akan menyelidiki pemuda itu," sela Davan.


"Aku juga akan menyelidiki tentang pemuda itu," sahut Evan.


"Ya, sudah. Buruan habiskan sarapan kalian. Nanti kalian bisa terlambat ke kampus. Jangan mentang-mentang kampus itu milik Mama kalian. Jadi kalian bisa bersantai-santai ria," ujar Kamila.


"Baiklah," jawab Ardi, Harsha dan Danish bersamaan.


***


Danish, Ardi dan Harsha sudah berada di kampus, tepatnya sekarang ini mereka berada di halaman kampus. Di halaman kampus tersebut disediakan fasilitas untuk para mahasiswa dan mahasiswi untuk bersantai di sana.


"Itukan Gala. Ngapain dia duduk di sana sendirian?" seru Rayan.


Mereka semua mengalihkan pandangan mereka kearah Gala. Dan mereka pun memutuskan untuk menghampiri Gala.


"Hei, bantet. Kenapa sendirian disini?" tanya Harsha yang sukses membuat Gala terkejut.


"Aish. Kau mengagetkanku saja alien sialan," kesal Gala.


"Hahahaha." mereka tertawa.


"Ada apa, sih? Tumben menyendiri disini sendiri. Tidak biasanya?" tanya Arkaq.


"Aku bertemu dengan Adam di Taman Kota kemarin," jawab Gala yang pandangannya masih menatap ke depan.


"Jadi kau juga bertemu dengan orang yang mirip dengan Adam?" tanya Ardi.


Semua menatap Ardi, kecuali Danish dan Harsha.


"Apa maksudmu, Di? tanya Arka.


"Kakekku juga bertemu dengan orang yang mirip dengan Adam," jawab Ardi.


"Iya. Itu benar. Pemuda itu menyelamatkan nyawa kakek dari preman yang ingin memalak kakek," ucap Harsha.


"Aku bertemu dengannya kemarin saat pulang dari Cafe bersama kak Carlo. Aku bahkan sempat memeluknya. Tapi dia tidak mengenaliku. Hatiku benar-benar sakit saat itu. Kak Carlo bilang kalau namanya adalah Allan Liam Adiyaksa. Dia adiknya Vigo Liam Adiyaksa. Vigo itu teman kak Carlo." Gala menjelaskan tentang pertemuannya dengan Adam.


"Vigo. Namanya seperti tidak asing di telingaku!" seru Cakra.


"Kau kenal, Cakra?" tanya Danish.


"Bukan aku saja yang kenal. Kau juga Danish," jawab Cakra.


"Gal. Apa ini orangnya?" tanya Cakra sembari menunjukkan foto Vigo yang ada di ponsel miliknya.


Lalu Gala mengambil ponsel milik Cakra dan melihatnya. "Iya. Ini orangnya. Kakak Carlo memperlihatkan foto teman-temannya padaku saat setelah aku bertemu dengan Adam," jawab Gala.


"Tidak salah lagi. Pemuda yang wajahnya mirip Adam bukanlah adiknya Vigo. Setahuku Vigo hanya berdua bersaudara. Vigo memiliki seorang kakak laki-laki bernama Nicolaas Liam Adiyaksa." Cakra berbicara dengan penuh yakin.


Saat mereka sedang membahas tentang orang yang mirip Adam dan juga Vigo. Mereka dikejutkan dengan suara keributan dari tempat yang tak jauh dari pandangan mereka.


Detik kemudian pemuda di atas motor tersebut membuka helm yang menutupi kepalanya.


DEG!


"A-adam!" seru Danish, Ardi, Harsha, Arka, Kenzie, Sakha, Gala, Cakra, Kavi, Indra, Rayan, Arya dan Prana. Mereka menangis, terutama Ardi, Harsha dan Danish.


"Adam. Kaukah itu?" batin para kakak-kakaknya.


"Adam adikku. Apa itu kau?" batin Danish.


"Hei. Kalian bisa minggir tidak? Kalian mengganggu jalanku!" teriak Allan saat melihat lima laki-laki yang menghadang jalannya.


"Kalau kami tidak mau minggir. Kau mau apa, hah?!" teriak Lucky.


"Baiklah. Itu urusan kalian," jawab Allan.


Allan memundurkan motornya ke belakang dan mengambil jalan lain. Dia tidak mau pagi-pagi begini sudah ribut di kampus. Dirinya datang ke kampus untuk menimba ilmu bukan mau adu jotos.


"Sifatnya sama seperti Adam. Tidak mau cari keributan dengan orang lain," sahut Arka saat melihat Allan yang memilih mengalah.


Saat Allan baru beberapa langkah mundur, salah satu kelompok LION yaitu Rogert menyerang Allan. Tapi dengan lihainya, kakinya sudah terlebih dahulu mendarat tepat di pusaka masa depan milik Rogert.


DUUAAGGHH!!


"Aarrggghh!" teriak Rogert sembari melompat-lompat memegang pusaka masa depannya.


"Oooppsss!" ucap Allan sembari menutup mulutnya. "Sorry! Aku.. aku sengaja," ucap Allan tersenyum mengejek.


"Oouuwww!" seru Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya.


"Itu pasti sakit sekali," kata Indra.


"Pastinya," kata Gala.


Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya tersenyum gemas melihat kelakuan pemuda yang wajahnya mirip Allan itu.


"Kelakuan dan sikapnya juga mirip Adam. Kekanak-kanakan saat menghadapi musuh sehingga membuat musuh makin naik pitam," ucap Kenzie.


"Ya. Kau benar sekali, Kenzie. Aku masih ingat sekali saat kita masih musuhan dulu. Bagaimana sikapnya, cara bicaranya bikin kami emosi saat itu? Nah! Pemuda itu sebelas dua belas dengan Adam," tutur Prana.


"Apa benar dia, Adam?" tanya Rayan sembari menatap kearah Allan.


"Brengsek! Berani sekali kau menendang teman kami!" teriak Donny.


"Yah. Salah kalian sendiri. Kenapa menyerangku terlebih dahulu? Sudahlah, aku tidak mau ribut dengan kalian. Tidak ada untungnya juga. Aku datang ke kampus ini ingin menjadi anak yang pintar bukan menjadi anak yang bodoh seperti kalian." Allan berbicara dengan nada yang kejam.


"Brengsek! Beraninya kau mengatai kami bodoh, hah!" teriak Lucky.


Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya tertawa mendengar penuturan Allan.


Dengan cepat Rocky merebut helm milik Allan lalu membantingnya. Dan helm tersebut pun rusak.


"Yak! Apa yang kau lakukan, bajingan?!" teriak Allan dan akhirnya Allan turun dari motornya dan menatap nyalang pada Rocky.


"Kau pikir orang tuamu yang membeli helm itu. Seenaknya aja kau menghancurkannya."


"Serang!" seru Lucky.


BUUGGHH... BUUGGHH..


DUUAAGGHH..


Rogert, Donny dan Rocky jatuh tersungkur di tanah.


"Aarrgghh!" Kenapa kepalaku tiba-tiba sa-sakit begini?" lirih Allan.


"Hei, coba lihat. Sepertinya dia kesakitan. Sedari tangannya memegang kepalanya!" seru Kavi.


"Kakak. Mari kita tolong dia!" seru Harsha dan mereka pun berlari menolong Allan.