
Arka menghampiri Adam yang terlihat sedikit kelelahan. "Dam. Kau tidak apa-apa?" tanya Arka khawatir.
"Aku baik-baik saja, kak Arka. Kakak tidak perlu khawatir."
DEG!
"Apa? Adam bicara apa barusan? Kak Arka? Apa Adan sudah ingat denganku?" batin Arka.
"Siapa kalian? Kenapa ikut campur dalam urusan kami, hah?!" bentak Lucky.
"Kami tidak akan ikut campur jika kau tidak mengusik adik kami." Danish balik membentak Lucky.
"Ooh! Jadi bocah sialan ini adik kalian rupanya, hah!" ejek Lucky.
"Kau...!" Vigo, Danish, Ardi dan Harsha geram saat mendengar ucapan Lucky.
Dan saat mereka ingin menyerang, Crisan menghalangi Vigo, Kenzie menghalangi Harsha, Arka menghalangi Ardi dan Adam menghalangi Danish.
"Hahahaha. Kenapa? Takut," ejek Lucky.
"Kami tidak pernah takut dengan kalian semua!" teriak Kenzie.
"Kalau kami mau hari ini kami bisa saja membunuh kalian semua!" teriak Ardi.
"Hahahahaha." kelompok Lion tertawa.
"Membunuh kami. Jangan menghayal deh," kata Rogert.
"Melawan kami saja kalian belum tentu bisa," ejek Donny.
"Eh. Tunggu dulu." Lucky menatap wajah Danish. "Wajahmu tak asing lagi bagiku. Aku kenal denganmu. Kau Danish kan? Kau dan kelompokmu dulu adalah musuh bebuyutan kelompok Brainer. Jadi selama ini kau bermusuhan dengan adikmu sendiri." Lucky berbicara dengan menyindir Danish.
"Sekarang bagaimana? Apa sudah baikan, hum?" ketus Lucky.
"Sepertinya mereka sudah baikan, Lucky! Coba saja kau lihat dua kelompok itu. Bahkan ada satu kelompok baru bersama mereka!" seru Rokky.
Mereka benar-benar kesal dan marah saat mendengar ucapan dari Lucky. Apalagi kelompok Bruizer. Mereka marah karena kelompok Lion sudah membuka luka lama yang telah mereka buang jauh-jauh.
Danish sudah tidak bisa menahan emosinya. Danish pun ingin menyerang Lucky. Saat kakinya ingin melangkah. Adam memeluknya erat.
GREP!
Hal itu sukses membuat Danish terkejut karena mendapatkan pelukan tiba-tiba dari adiknya. "Aku mohon kak. Jangan terpancing. Tahan emosimu. Demi aku."
Danish tersenyum bahagia mendengar ucapan dari Adam. Dan Danish pun membalas pelukan adiknya. "Baik. Kakak akan melakukan demi dirimu," jawab Danish sembari mencium pucuk kepala adiknya.
Vigo yang melihatnya merasakan kecemburuan di dalam dirinya. Crisan yang menyadari hal itu. Menepuk pelan bahunya.
"Jangan cemburu. Allan hanya ingin meredakan emosi Danish. Allan tidak bermaksud melupakanmu atau pun mengabaikanmu."
"AAKKHHH."
Tiba-tiba Adam merintih kesakitan. Dan hal itu sukses membuat mereka semua khawatir.
"Adam. Kau kenapa?" panik Danish.
"Allan." Vigo tak kalah paniknya.
"Dam." begitu juga Ardi dan Harsha.
"Dam. Kau kenapa?" itu Arka, Kenzie, Sakha dan Gala.
"Kepalaku sa-kit kak," lirih Adam di dalam pelukan Danish.
"Lebih baik kita bawa Adam ke ruangan latihan Taekwondo sekarang," sela Cakra.
Dan mereka semua pun pergi meninggalkan kelompok Lion. Mereka bahkan tidak peduli dengan teriakan dari kelompok itu.
Kini mereka semua sudah berada di ruang latihan Taekwondo milik Adam.
"Dam. Apa tidak sebaiknya kita ke rumah sakit saja?" tanya Harsha yang melihat Adam khawatir.
"Tidak, kakak Harsha. Aku tidak mau kesana lagi. Tempat itu menyeramkan sekali," jawab Adam dengan mata yang terpejam dan masih memeluk tubuh sang kakaknya yaitu Danish.
Mereka yang mendengar penuturan dari Adam hanya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala.
"Yah, Allan. Mau sampai kapan kau akan memeluk kuda nil itu?" tanya Vigo. Dirinya benar-benar cemburu melihat Adam yang memeluk Danish.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang salah jika aku memeluk kakakku sendiri?" Adam balik bertanya tanpa melihat Vigo.
Sedangkan yang lainnya berusaha tidak tertawa saat mendengar penuturan dari Adam. Mereka hanya setia mendengar dan menyaksikan perbincangan antara sikelinci dan sikurus.
"Tidak ada yang salah," jawab Vigo.
"Lalu kenapa kakak berbicara seperti itu?" tanya Adam. Adam sebenarnya tahu kalau Vigo cemburu melihat dirinya memeluk sang kakak.
"Kakak tidak suka kau terlalu lama berpelukan dengan sikuda nil itu. Bagaimana pun aku juga kakakmu dan kau adiknya kakak?" kata Vigo.
"Sejak kapan aku menjadi adikmu? Dan sejak kapan juga kakak menjadi kakakku. Setahuku, aku hanya memiliki 2 kakak. Mereka adalah Danelio Danish Bimantara dan Ayden Garry Bimantara."
Danish tersenyum bangga mendengar ucapan Adam, lalu Danish melihat kearah Vigo.
Detik kemudian, Danish menjulurkan lidahnya.
"Wleeee." Danish mengejek Vigo sembari mempererat pelukannya.
"Dasar bajingan rakus," gumam Vigo. Dan gumamannya terdengar oleh mereka semua, termasuk Adam.
"Siapa yang bajingan rakus, kak Vigo? tanya Adam.
"Siapa lagi kalau orang yang kau peluk itu, Allan?" jawab Vigo jujur. "Dengan rakusnya dia hanya memilikimu sendirian. Apa dia pikir kita-kita disini bukan manusia? Bagaimana pun kau itu juga adiknya kakak dan adik kita semua. Kita juga ingin memelukmu," ucap Vigo.
"Aku tidak keberatan untuk dipeluk oleh kalian. Justru aku senang," ucap Adam.
Vigo tersenyum bahagia mendengar ucapan Adam. Saat Vigo ingin membuka suara. Adam yang melihatnya pun langsung memotongnya terlebih dahulu. "Kecuali dirimu, kak Vigo! Aku ogah dipeluk olehmu."
"Hahahahaha." itu bukan mereka yang tertawa. Melainkan Danish.
Danish tertawa nista saat mendengar ucapan Adam yang menolak dipeluk oleh Vigo kakak angkatnya.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa kecil dan juga pelan. Sebenarnya mereka juga ingin tertawa seperti Danish. Tapi mereka takut dosa.
"Apa kau puas, Danish?"
Danish mengangguk cepat. Tanpa menghentikan tawanya. "Hahahaha."
"Kau benar-benar keterlaluan, Danish!" teriak Vigo.
"Jangan teriak-teriak, Vigo Liam Adiyaksa! Kepalaku terasa mau meledak mendengar teriakanmu itu," sahut Adam seenaknya. Hal itu sukses membuat Vigo mengatub bibirnya.
"Hahahahaha." yang pada akhirnya mereka semua tertawa kencang, termasuk sahabat-sahabatnya Vigo.
"Kasihan sekali nasibmu, kurus!" Danish mengejek Vigo
"Dan kau juga Danelio Danish Bimantara. Jangan memancing diair yang keruh. Kakak juga kurus. Jadi jangan menghina kekuranganmu didepan kembaranmu sendiri. Bagiku kalian itu sama-sama kurus, jelek, tengil dan egois."
"Hahahaha." lagi-lagi para sahabatnya, dan kedua sepupunya tertawa mendengar penuturan dari Adam.
Vigo dan Danish kompak membelalakkan mata mereka. Saat mereka ingin protes. Lagi-lagi Adam sudah terlebih dahulu memotongnya. "Kalau kalian berdua berani protes padaku. Jangan harap kalian bisa bicara lagi denganku."
Sontak hal itu sukses membuat Vigo dan Danish menutup mulut mereka rapat-rapat. Dan menggeleng-gelengkan kepala mereka dengan cepat. Tanpa diketahui oleh keduanya, Adam tersenyum kemenangan.
Sedangkan yang lainnya tersenyum gemas melihat sikap Vigo dan Danish yang tak berkutik di depan Adam.