
"Ariel," ucap Ricky dengan lirih.
Yah! Ricky dan beberapa anggotanya sudah sampai di lokasi yang dikirimkan oleh orang yang menghubungi Adam.
Saat ini Ricky bersama dengan beberapa anggotanya berada di sebuah kamar dimana di dalam kamar itu terlihat seorang pemuda yang namanya disebut oleh Ricky barusan sedang terbaring.
"Jadi benar kalau anda bernama nak Ricky, temannya nak Adam yang saya hubungi beberapa jam yang lalu?" tanya pria itu.
"Benar Paman. Paman tidak perlu takut kalau saya adalah penipu. Paman bisa hubungi sahabat saya Adam dan meminta kepada sahabat saya itu untuk mengirimkan foto saya," sahut Ricky.
Mendengar ucapan, jawaban sekaligus penjelasan dari Ricky membuat pria tersebut langsung percaya. Ditambah lagi pria itu melihat tatapan mata Ricky yang tersirat kejujuran disana. Begitu juga dengan beberapa orang yang ada di dalam kamar tersebut termasuk keluarga dari pria itu.
"Baiklah. Saya percaya kepada nak Ricky."
"Terima kasih Paman. Kalau saya boleh tahu. Dimana Paman menemukan sahabat saya ini?"
Mendapatkan pertanyaan dari Ricky membuat pria itu langsung menceritakan kronologi disaat dirinya dan istrinya menemukan pemuda yang bernama Ariel tersebut.
Flashback On.
"Pak, di ujung sana buah jagungnya sudah banyak yang terlihat. Ibu kesana ya pak!"
"Iya, Bu! Ini bawa karungnya sekalian. Nanti masukkan langsung ke dalam karung biar kita timbang lalu kita jual ke pasar."
"Baik, Pak!"
Setelah itu, wanita itu pergi ke ujung yang tadi dia tunjuk dengan membawa satu karung besar di tangan kirinya.
Beberapa detik kemudian...
"Pak! Pak! Pak!" teriak wanita itu memanggil suaminya.
Mendengar teriakkan dari istrinya membuat pria tersebut seketika panik. Pria itu kemudian berlari menuju dimana istrinya berada.
Deg..
Seketika pria itu terkejut ketika melihat istrinya tengah mengecek keadaan seorang pemuda yang tak sadarkan diri dengan luka di bagian kepala dan tangannya.
"Bu, siapa dia?"
"Ibu tidak tahu Pak. Ibu menemukan anak muda ini sudah tergeletak disini, di kebun kita."
Pria tersebut duduk berjongkok di samping pemuda tersebut. Kemudian tangannya berlahan mengarah ke hidung pemuda itu.
"Bu, pemuda ini masih hidup. Lebih baik kita bawa pulang ke rumah kita. Kita rawat pemuda ini sampai sembuh."
"Baik, Pak. Kalau begitu ibu akan panggil beberapa karyawan kita untuk mengangkat tubuh pemuda ini. Kalau bapak sendiri tidak akan sanggup."
"Baiklah Bu. Buruan sana!"
Setelah itu, wanita itu pun pergi meninggalkan suaminya untuk memanggil beberapa orang-orang yang bekerja padanya dan suaminya untuk membantu dirinya dan suaminya.
Flashback Off.
Mendengar cerita kronologi ditemukannya Ariel membuat Ricky tersenyum bahagia. Ternyata saat kecelakaan tersebut Ariel berhasil menyelamatkan dirinya sebelum mobil tersebut meledak sehingga ketika polisi tengah melakukan tugas, mereka menemukan jasad yang sudah hangus terbakar.
Para polisi menyimpulkan bahwa korban tersebut adalah Ariel. Bahkan salah satu polisi menemukan jam tangan milik Ariel yang mana jam tangan itu adalah hadiah ulang tahun dari sang ayah.
"Baiklah kalau begitu, Paman! Saya dan beberapa anggota saya akan membawa sahabat saya ini ke rumah sakit Jakarta. Terima kasih atas bantuan Paman dan keluarga Paman karena telah menolong sahabat saya."
"Tidak perlu mengatakan hal itu, nak! Itu sudah tugas Paman dan kami yang ada disini. Bukan kita manusia harus saling tolong menolong?"
Ricky seketika tersenyum ketika mendengar jawaban dari pria tersebut. Begitu juga dengan dengan anggotanya.
"Ini ada sedikit pemberian dari sahabat saya Adam untuk Paman sekeluarga." Ricky berucap sembari meletakkan satu bungkus amplop besar di tangan pria itu.
Namun langsung ditolak oleh pria itu karena alasan pria itu dan istrinya menolong sahabat dari Adam adalah kemanusiaan bukan ingin mendapatkan imbalan.
"Saya tahu apa yang sedang Paman pikirkan. Kami memberikan ini kepada Paman sekeluarga karena Paman memiliki hati yang bersih dan suci. Saya tahu Paman dan keluarga melakukannya dengan ikhlas. Tidak ada salahnya jika kebaikan Paman dan keluarga mendapatkan balasan."
"Terimalah Paman! Setidaknya uang ini bisa pAman pergunakan untuk hal yang lainnya. Jika Paman belum membutuhkannya, Paman bisa menyimpannya sebagai tabungan. Tidak baik loh menolak rezeki. Apalagi rezeki yang Paman tolak ini adalah hasil dari kebaikan Paman sekeluarga."
Dan pada akhirnya pria tersebut pun mau menerima uang yang ada di dalam amplop tersebut. Pria itu tidak enak hati ketika melihat wajah sedih pemuda di hadapannya itu.
"Terima kasih, nak! Semoga nak Ricky, nak Ariel dan nak Adam selalu dalam lindungan Tuhan. Dan semoga nak Ariel lekas sembuh seperti sedia kala."
"Aamiin. Terima kasih atas doanya Paman."
Setelah itu, Ricky memerintahkan anggotanya untuk mengangkat tubuh Ariel dan membawanya menuju mobil.
***
Di kediaman Evan Hara Bimantara tampak ramai dimana semua anggota keluarga Adam berkumpul di kediaman Evan Hara Bimantara.
Di kediaman tersebut bukan hanya anggota keluarga besar Adam saja, melainkan para sahabatnya dan para sahabat dari kakaknya dan kakak sepupunya juga ada disana. Begitu juga dengan Jasmine dan Yani.
Saat ini Adam tengah memikirkan tentang Ricky yang saat ini berada di desa Aur Duri untuk menjemput Ariel. Adam berharap Tuhan memberikan kelancaran terhadap sahabatnya itu dan selamat sampai di Jakarta.
Melihat Adam yang sejak tadi diam setelah selesai berbicara dengan seseorang di telepon dan juga dengan Ricky tampak khawatir. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Adam terutama Utari, Evan, Garry dan Danish.
"Sayang," ucap Utari sembari mengusap lembut kepala belakang putra bungsunya itu.
Adam seketika langsung melihat kearah ibunya yang saat ini tengah tersenyum menatap dirinya.
"Ada apa, hum? Sejak tadi kamu hanya diam. Apa ada masalah?" tanya Utari lembut.
Adam seketika langsung menjatuhkan kepalanya di bahu ibunya sembari berkata, "Aku sedang menunggu kabar dari Ricky, Ma!"
"Kabar apa, hum?" tanya Utari.
"Nanti Mama juga akan tahu sendirinya. Begitu juga dengan yang lainnya termasuk Bibi Yani dan Jasmine!"
Dan benar saja. Setelah Adam mengatakan itu kepada ibunya, tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan panggilan masuk.
Adam langsung memposisikan dirinya duduk dengan tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya ketika melihat nama Ricky terpampang disana.
"Hallo, Ricky! Bagaimana?" Adam langsung menjawab panggilan dari Ricky dan langsung menanyakan keberhasilannya itu.
Sementara Ricky yang ada di seberang telepon seketika tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Adam sahabatnya. Ricky tahu bahwa sahabatnya itu sudah tidak sabar untuk menunggu tentang informasi Ariel dan dirinya.
"Ric, kenapa diam?! Buruan jawab! Bagaimana? lo dimana sekarang?!"
"Aish, lo ini. Selalu saja seperti ini. Sabar kenapa. Nyesal gue menghubungi lo."
"Makanya ketika lo hubungi gue, lo itu harus langsung ke pokok permasalahannya. Jadi dengan begitu gue nggak akan kepo seperti ini!"
"Hahahaha." seketika Ricky tertawa di seberang telepon ketika mendengar jawaban dari Adam. "Baiklah... Baiklah! Maafin gue yang sudah buat lo kepo dan nggak sabaran. Datanglah ke rumah sakit Medistra. Langsung saja ke ruang VVIP lantai dua nomor 5."
"Ja-jadi....,"
"Gue berhasil membawa Ariel kembali ke Jakarta. Namun kondisinya masih belum sembuh total dan masih membutuhkan perawatan medis. Sepasang suami istri itu hanya melakukan pengobatan tradisional. Gunanya untuk menyembuhkan luka-luka dalam."
Mendengar jawaban lengkap dari Ricky membuat Adam tersenyum bahagia. Dirinya benar-benar bahagia ketika ada orang baik yang mau membantu sahabatnya itu.
"Baiklah. Aku dan yang lainnya akan segera kesana."
Setelah mengatakan itu, baik Adam maupun Ricky sama-sama mematikan panggilannya.
Adam seketika berdiri dari duduknya dengan tatapan matanya menatap kearah Yani yang tak lain adalah ibu dari Ariel.
"Bibi ikut denganku ke rumah saki sekarang. Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada Bibi."
Adam melihat kearah Jasmine. "Kamu juga. Ikutlah ke rumah sakit."
Setelah itu, mereka semua bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit bersama Adam. Mereka semua penasaran siapa yang sakit dan siapa orang yang akan diperkenalkan Adam kepada Yani.