
"Bagaimana? Apa kalian menemukan Adam?" tanya Vando kepada lima sahabatnya.
"Gue tidak menemukan Adam sama sekali," jawab Zio.
"Gue juga," sahut Diego.
"Aku tidak terlalu hafal kampus ini. Jadi kita nyari dekat-dekat sini," sela Vino.
"Apalagi kita!" seru Leon dan Gino bersamaan.
Mendengar jawaban dari kelima sahabatnya membuat Vando tidak bisa berbuat apa-apa.
"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Leon.
"Kita nyari Adam nya dimana?" tanya Gino.
Ketika mereka tengah memikirkan keberadaan Adam yang hilang tiba-tiba, seketika mereka dikejutkan oleh kedatangan para kakak-kakaknya Adam beserta sahabat-sahabatnya.
"Hei, kalian!" seru Harsha dan Gala bersamaan sehingga membuat Vando dan yang lainnya terkejut.
"Kalian kenapa?" tanya Rayan.
"Wajah kalian kenapa tegang begitu?" tanya Juna.
Danish, Ardi, Harsha serta yang lainnya menatap wajah Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bergantian.
Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando saling menatap satu sama lain. Mereka ingin mengatakan sejujurnya tentang hilangnya Adam.
Namun mereka bingung, bagaimana cara menyampaikannya. Secara mereka sudah takut duluan ketika semua kakak-kakaknya memberikan tatapan menyelidik.
"Hei, ucap Arka sembari menepuk pelan bahu Leon yang kebetulan berdiri di samping Leon.
"Kenapa?"
"Ada apa?"
"Adam!" Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
Ketika mendengar nama Adam disebut seketika Danish langsung mencari keberadaan adiknya. Begitu juga dengan Ardi, Harsha dan yang lainnya.
"Kenapa dengan Adam?" tanya Danish.
"Kami sama Adam duduk dan berkumpul di lobi depan. Awalnya sih Adam sendirian lalu kami datang," ucap Vino.
"Setibanya kami disana. Adam tampak sedih dan melamun. Kita semua tahu bahwa Adam lagi merindukan Melky," ucap Zio.
"Lalu aku mengusulkan sama Adam untuk video call dengan Melky. Jadi, dengan begitu Adam bisa dengar suara dan lihat wajah Melky." Diego berucap sembari menjelaskan tentang Adam.
"Lalu apa reaksi Adam?" tanya Sakha.
"Adam langsung mengiyakan usulanku. Namun ketika Adam menghubungi Melky melalui video call, panggilan tersebut langsung dimatikan. Hal itu sukses buat Adam seketika menangis," pungkas Zio.
"Ketika kita lagi menghibur Adam. Ponselnya Adam berbunyi menandakan panggilan masuk," sahut Vino.
"Dari situ saja Adam sudah sangat bahagia kalau Melky balik menghubungi Adam. Dan aku meminta Adam untuk meloadspeaker panggilan tersebut agar kita juga bisa dengar suara Adam dan ikut ngobrol sama Adam. Tapi......"
Seketika Vando menundukkan kepalanya. Begitu juga dengan Vino, Diego, Gino, Zio dan Leon.
"Tapi apa?" tanya Ardi.
"Kenapa?" tanya Harsha.
"Melky mengatakan bahwa jangan pernah menghubungi dia lagi. Dan Melky juga mengatakan bahwa dia tidak ingin memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Adam," jawab Gino.
Deg..
Danish, Ardi, Harsha dan semua sahabat-sahabatnya terkejut ketika mendengar jawaban dari Gino yang mengatakan bahwa Melky tidak ingin memiliki hubungan lagi dengan Adam.
"Apa kalian yakin itu suara Melky? Bagaimana pun aku kenal dengan Melky. Tidak mungkin Melky memutuskan hubungan persahabatannya dengan Adam?" tanya Vigo.
"Bahkan Melky pernah tak sengaja mengadu serta curhat padaku bahwa dia begitu sayang dengan Allan layak saudara kandung. Melky mengatakan padaku kalau dia tidak akan pernah meninggalkan Allan apapun yang terjadi," ucap Vigo yang mengingat tentang aduan serta curhatan Melky kepadanya.
Mendengar perkataan dari Vigo membuat mereka semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Mereka mencoba mencerna setiap perkataan dari Vigo tentang Melky.
"Aku rasa ada benar juga yang dikatakan oleh Vigo barusan!" seru Carlo.
Semuanya melihat kearah Carlo. Mereka ingin mendengar secara detail tentang Melky yang tiba-tiba memutuskan hubungan persahabatannya dengan Adam.
"Pertama, selama aku kuliah. Aku sering memperhatikan Melky duduk sendirian tanpa ada seorang teman pun menemaninya. Kedua, sejak kedatangan Allan si mahasiswa baru membuat Melky seketika berubah. Aku sering melihat Melky bersama dengan beberapa mahasiswa dan mahasiswi sedang berkumpul. Mereka berkumpul membahas Allan. Dan ketiga, ketika Allan koma empat bulan di rumah sakit. Melky tidak pernah absen menghubungi kita. Melky setiap hari bertanya tentang perkembangan Allan. Bahkan Melky berulang kali menanyakan apakah Allan sudah sadar apa belum."
Mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju apa yang dikatakan oleh Carlo tentang Melky. Melky selalu ada untuk Adam/Allan.
"Jika Melky ingin memutuskan hubungan persahabatannya dengan Allan. Kenapa Melky harus repot-repot setiap hari menghubungi kita? Melky bisa saja tidak peduli dengan Allan yang koma, bukan?"
Carlo menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di hadapannya dan di sampingnya.
"Ditambah lagi kepergian Melky dan keluarganya secara tiba-tiba ke Australia menurutku sangat aneh. Dan aku berpikir jika ada sesuatu yang menimpa keluarga Melky," ucap Carlo.
"Kalau misalkan iya, keluarga Melky dalam masalah! Kenapa Melky tidak memberitahu kita. Setidaknya Melky cerita sedikit permasalahan itu kepada kita," sahut Gala.
"Kemungkinan hanya orang tuanya saja yang tahu. Sementara Melky nya tidak. Maka dari itulah kenapa Melky pasrah dan menurut ketika kedua orang tuanya mengatakan akan pindah ke Australia," sahut Carlo.
"Ya, sudah! Sekarang kita pikirkan Adam. Kita harus cari Adam sekarang!" seru Arka.
***
Adam saat ini berada di sebuah cafe dimana cafe itu adalah cafe yang sering dikunjungi oleh Adam ketika bersama Melky setelah pulang dari Kampus. Bahkan ketika Adam nginap di rumah Melky. Adam menyempatkan diri untuk singgah di cafe itu untuk membelikan beberapa makanan untuk dibawa ke rumah Melky.
Saat Adam tiba disana, salah satu karyawan di cafe disana menanyakan tentang keberadaan Melky. Karyawan itu tahu bahwa Adam tidak pernah sendiri datang ke cafe tersebut. Ini adalah untuk pertama kalinya.
Ketika karyawan itu bertanya tentang Melky. Adam hanya menjawab seadanya dengan mengatakan kepada karyawan cafe itu bahwa Melky pergi meninggalkan dirinya.
Mendengar jawaban dari Adam membuat karyawan itu sedih dan merasa bersalah karena sudah menanyakan pertanyaan tersebut.
Adam duduk paling pojok dekat dinding yang ada jendelanya agar Adam bisa melihat keluar.
"Apa yang terjadi padamu, Melky? Apa telah terjadi sesuatu padamu dan keluargamu sehingga kamu berbicara seperti itu padaku?" batin Adam.
"Aku tidak boleh langsung berpikir negatif tentang Melky. Mungkin saja Melky dan keluarganya lagi ada masalah di Australia sehingga Melky berbicara seperti itu padaku di telepon.
Prang..
Terdengar beberapa benda jatuh di lantai sehingga berserakan dimana-mana.
Plak..
"Aakkhhh!"
Wanita itu seketika langsung menampar wanita muda di hadapannya karena telah membuat bajunya kotor dan makanan serta minuman miliknya jatuh berserakan di lantai.
"Apa yang kau lakukan, hah?! Apa kau tidak punya mata!" bentak wanita yang lebih tua dari wanita yang ditamparnya dengan menatap marah kearah wanita muda itu.
"Maaf kak. Saya tidak sengaja. Tapi yang saya lihat, kakak yang jalannya terburu-buru. Dan kakak juga tidak melihat lawan yang ada di depan," jawab wanita muda itu.
"Berani kamu menjawab perkataan saya. Apa kamu mau saya tampar lagi, hah?!" bentak wanita itu yang hendak melayangkan tangannya ke udara.
Namun tiba-tiba ada seseorang yang menahan tangannya dari belakang sehingga membuat wanita itu terkejut.
Seketika wanita itu melihat kearah samping dimana orang itu sudah berada di sampingnya dengan menatap tajam kearah dirinya.
"Siapa kau?! Lepaskan tanganku!" bentak wanita itu menatap wajah pemuda di sampingnya.
Pemuda itu langsung melepaskan tangan wanita itu dengan cara menghempaskannya secara kasar.
Setelah itu, pemuda itu melihat kearah wanita yang menjadi korban bentakan dan juga tamparan.
"Kamu nggak apa-apa?"
Mendengar pertanyaan dari seorang pemuda yang ada di hadapannya. Wanita itu seketika membuka matanya dan mendongakkan kepalanya keatas.
"Adam."
"Adila!"
Adam seketika terkejut ketika mengetahui bahwa wanita yang dibentak dan juga ditampar itu adalah sepupunya.
Adam mengepalkan kedua tangannya lalu menatap marah kearah wanita yang sudah menyakiti sepupu perempuannya.
"Berani sekali lo nampar sepupu gue! Apa hak lo, hah?!" bentak Adam.
"Dia yang salah. Coba lihat baju gue. Basah dan kotor. Dan itu lihat semua pesanan gue jatuh!" teriak wanita itu tak kalah.
"Lo bisa ngomong baik-baik. Nggak harus main tangan. Lo jangan sok berkuasa disini!" teriak Adam.
Mendengar teriakan dan perkataan Adam dengan seorang wanita membuat suasana cafe menjadi tak nyaman.
"Apa lo bilang? Ngomong baik-baik sama wanita rendah dan miskin kayak dia. Cuih! Nggak sudi gue!"
Pengunjung cafe menatap tak suka kearah wanita itu. Bahkan sebagian pengunjung cafe itu tahu bahwa wanita itu yang salah. Mereka melihat kejadian tersebut. Dan mereka membenarkan apa yang dikatakan oleh wanita muda tersebut bahwa wanita yang lebih tua itu jalan buru-buru dan tidak melihat lawan di depan.
"Apa lo bilang, hah?!" bentak Adam dengan menatap nyalang wanita itu.
"Kenapa? Apa lo mau marah, hah?"
"Jawab saja pertanyaan gue, sialan!"
"Gue nggak sudi ngomong baik-baik sama wanita rendah dan miskin kayak dia!" teriak wanita itu sembari menunjuk kearah Adila.
Plak..
"Aakkhhh!" teriak wanita itu merasakan panas di pipinya.
"Yang rendah itu lo bukan sepupu gue! Lo itu wanita nggak tahu diri," maki Adam.
"Berani lo nampar gue, hah?! Orang tua gue saja belum pernah sekali pun nampar gue!"
"Apa bedanya dengan sepupu gue? Dia juga nggak pernah ditampar, dipukul dan dihina. Dia selalu disayang dan dimanja oleh kedua orang tuanya. Nah, lo! Lo seenaknya menampar dia dan memaki dia. Lo nggak punya hak sama sekali."
Adam ingin kembali memberikan tamparan kearah wanita itu, namun Adila langsung menahan tangannya.
"Dam, udah! Aku nggak apa-apa. Lebih baik kita pergi dari sini," bujuk Adila.
"Jika lo nggak terima gue tampar lo. Lo bisa lapor polisi. Kita bertemu disana. Setelah itu, gue harap lo nggak menyesal kalau lo tahu siapa gue."
Setelah mengatakan itu, Adam dan Adila pun pergi meninggalkan cafe itu. Adila memutuskan untuk membawa Adam langsung pulang ke kediaman Abimanyu.