
Adam yang masih bertarung dengan orang-orang yang mengikutinya. Sampai detik ini Adam masih bisa melawan mereka, walau kewalahan. Satu lawan sepuluh. tidak adil bukan?
"Aish. Sialan," umpat Adam. "Hei, cuma segitu nyali kalian. Beraninya main keroyokan. Kalau kalian berani lawan aku satu satu!" teriak Adam. "Ach! Aku rasa kalian tidak punya keberanian untuk melawanku, karena kalian sekumpulan tikus-tikus jalanan. Dasar banci," ejek Adam.
"Brengsek. Diam kau bocah!" teriak salah satunya.
"Yak! Siapa yang kau bilang bocah, hah? Kalau aku ini seorang bocah. Berarti kalian itu pantasnya disebut apa? Oh ya! Aku tahu sekarang. Kalian lebih pantas disebut para pria-pria banci berotak dungu. Hahaha." Adam berbicara disertai tawa khasnya.
"Brengsek! Sialan! Serang dia!" perintah dari Alex.
Mereka semua pun kembali menyerang Adam dengan amarah yang sudah diubun-ubun. Terjadi perkelahian sengit dan tak terelakkan.
BAGHH! BUGHH!
DUAGGHH!
Adam berhasil memberikan pukulan bertubi-tubi dan dua tendangan keras pada dua pria sekaligus. Dan membuat dua pria tersebut terjatuh.
DUAGHH!
Seseorang menendang Adam dari belakang. Tepat di punggungnya. Dan itu sukses membuat Adam kesakitan.
"Aaakkkhhh!" teriak Adam saat menerima tendangan keras dari arah belakang. "Kalau menyerang itu di depan bukan di belakang. Brengsek!" amuk Adam.
BAGHH! BUGHH!
DUAGHH!
Adam memberikan pukulan dan tendangan. Dan membuat musuhnya terjatuh.
Perkelahian terus berlangsung dimana Adam sendirian melawan sepuluh orang sekaligus? Bahkan mereka dengan tega bermain curang yang membuat Adam kewalahan menghadapinya.
"Sial!" umpat Adam.
"Aaarrrggghhh. Kepalaku pake
sakit segala lagi. Kalau seperti ini aku bisa mati," gumam Adam.
Disaat Adam sedang tidak fokus. Mereka mencuri kesempatan dan menyerang Adam secara bertubi-tubi.
BUUGHH! BUGHH!
DUAAGGHH!
"Aaaaakkkkhhhh!" teriak Adam merasakan sakit di tubuhnya dan di wajahnya. Tapi Adam masih kuat berdiri dan dan menahan bobot tubuhnya agar tidak terjatuh.
"Menyerang orang disaat sedang
tidak fokus itu hal yang sangat memalukan!" bentak Adam.
DUAAGGHH!
Adam memberikan tendangan keras tepatnya di perut salah satu dari tujuh pria yang menyerangnya. Pria itu jatuh tersungkur. Adam menyeringai.
"Sisa enam lagi," ucap Adam dingin.
BAAGGHH!
BUUGGHH!
Adam memberikan pukulan keras secara bertubi-tubi pada satu pria.
"Aaakkhh!" pria itu kesakitan.
***
Danish dan teman-teman terus mencari keberadaan Adam, tepatnya lokasi Adam. Danish sudah amat sangat mengkhawatirkan adiknya.
"Kau dimana, Dam?" batin Danish.
BRUUMMM!
BRUUMMM!
Mereka terus melajukan motor sportnya milik mereka sepanjang perjalanan dengan mata tetap fokus mencari keberadaan Adam. Dan tidak butuh beberapa menit, salah satu dari mereka melihat sosok yang mereka cari.
Rayan melihat Adam yang sedang berkelahi dengan beberapa orang. Tepatnya Adam dikeroyok.
"Itu Adam!" teriak Rayan sambil jari telunjuknya menujuk kearah Adam yang sedang berkelahi.
Danish maupun yang lainnya mengalihkan perhatian mereka melihat kearah yang ditunjuk oleh Rayan. Seketika Danish membelalakkan matanya saat melihat adiknya yang sedang dikeroyok oleh beberapa orang dan dapat dilihat bahwa adiknya juga sudah kewalahan menghadapi mereka.
Tanpa pikir panjang lagi, Danish turun dari motornya dan melepaskan helmnya sambil berlari kearah Adam dengan wajah penuh amarah.
BUGHH! BUGH!
DUAGGHH!
Danish memukul pria-pria tersebut menggunakan helm miliknya serta dua tendangan keras. Dan disusul oleh teman-temannya.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Danish pada Adam dengan raut khawatirnya.
"Ak-u ti-dak apa-apa?" jawab Adam.
BAGH! BUGHH!
BUAAGGHH! DUAGHH!
Pukulan dan tendangan yang diberikan oleh Cakra, Prana, Indra, Rayan, Arya dan Kavi pada pria-pria yang sudah mengeroyok Adam.
Mereka menyerang pria-pria itu secara membabi buta, termasuk Adam sendiri walau dirinya sudah kelelahan. Dan mengakibatkan mereka semua tumbang. Danish dengan kalapnya menghampiri salah satu dari mereka dan menginjakkan kakinya tepat di leher pria itu.
KREETTT!
Anggap saja seperti itu bunyi saat lehernya di pijak oleh Danish.
"Ooh! Kau tidak mau menjawab ternyata. Apa kau benar-benar ingin mati ditanganku, hah?!" ancam Danish dengan menginjakkan kakinya lebih kuat di leher Alex.
"Apa? Danish barusan mengatakan adik. A-apa maksudnya?" batin Adam.
"Ampun. Maafkan aku. Aku hanya disuruh," ucap Alex.
"Siapa yang menyuruhmu, hah? Jawab!" teriak Danish.
"Dia seorang wanita. Namanya adalah..." perkataan Alex terhenti.
BRUUKKK!
Adam jatuh tidak sadarkan diri di aspal.
"Danish, Adam pingsan!" teriak Arya.
Danish yang mendengar teriakan Arya langsung menghampiri adiknya. Sedangkan Alex dan yang lainnya memutuskan untuk kabur.
Danish mengambil alih tubuh adiknya yang berada di pangkuan Arya. Dan meletakkannya dipahanya.
"Hei, Adam. Bangunlah. Maafkan kakak yang datang terlambat. Adam, kakak mohon bukalah matamu," ucap Danish sambil menepuk-nepuk pelan pipi Adam serta mencium kening adiknya itu. Dan jangan lupa air matanya yang sudah mengalir.
"Kita harus segera bawa Adam ke rumah sakit," usul Prana.
"Aku akan carikan taxi!" seru Kavi, lalu berusaha mencari taxi.
Lima menit kemudian, taxi pun lewat dan Kavi segera memberhentikan taxi tersebut.
Mereka pun membawa Adam ke rumah sakit dengan menggunakan taxi dan Cakra yang menemani Danish.
Sedangkan yang lainnya menyusul di belakang menggunakan motor mereka, termasuk motor milik Adam.
***
Danish dan teman-temannya sedang menunggu di depan ruang UGD. Mereka tampak panik dan khawatir, terkecuali Danish. Dirinya berharap adiknya baik-baik saja.
Saat mereka semua dalam pikiran masing-masing. Terdengar suara ponsel yang berbunyi. Ponsel yang berbunyi itu milik Danish. Danish merogoh ponselnya yang berada disaku celananya dan terlihat nama 'Kak Garry' di layar ponselnya. Danish segera menjawabnya.
"Hallo, kak."
"Danish. Kau ada dimana? Apa kau sudah bertemu dengan Adam?" tanya Garry.
"Kakaakk. Ak-aku berada di rumah sakit. A-adam masuk rumah sakit, kak!" Danish menjawab dengan suara yang bergetar. Danish menangis. Dirinya sudah tidak bisa menahan rasa sedihnya
"Apa?!" teriak Garry. "Apa yang terjadi, Danish? Kenapa Adam bisa masuk rumah sakit?" tanya Garry bertubi-tubi.
"Kakak. Bisa tidak kau kesini. Nanyanya nanti saja. Aku takut."
"Baiklah. Kakak akan kesana. Rumah sakit mana?"
"Severance Hospital!"
***
"Baiklah. Kaka akan kerumah sakit sekarang," jawab Garry.
"Siapa yang sakit, Garry?" tanya Evan yang datang tiba-tiba.
Garry berada di rumahnya. Dirinya memutuskan kembali pulang ke rumahnya setelah dua jam lebih menunggu Adam di Cafe.
"Papa." Garry terkejut saat ayahnya datang tiba-tiba.
"Jawab pertanyaan Papa, Garry! Siapa yang sakit?"
"A-adam!"
"Apa? Adam?"
"Lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, Pa! Mereka membutuhkan kita."
"Baiklah! Papa akan mengabari Mamamu dulu."
Evan mengambil ponselnya. Dan menekan nomor ponsel istrinya. Untungnya saat bertemu dengan istri saat itu, dirinya memberanikan diri meminta nomor ponsel istrinya itu.
Sambungan terhubung..
"Hallo. Siapa ini?"
"Hallo, Utari. Ini aku Evan."
"Ada apa, Evan?"
"Kau ada dimana sekarang ini, Utari?"
"Aku kebetulan lagi di rumah. Kenapa? Ada hal apa kau menghubungiku?"
"A-adam! Adam masuk ke rumah sakit, Utari."
"Apa? Kau jangan bercanda, Evan. Jelas-jelas Adam izin padaku mau pergi bertemu dengan seseorang. Mana mungkin dia masuk rumah sakit?"
"Orang yang ingin ditemui oleh Adam adalah Garry."
"Apa yang terjadi? Kenapa Adam sampai masuk ke rumah sakit, Van?"
"Aku juga belum tahu. Yang di rumah sakit saat ini adalah Danish. Kemungkinan Danish yang tahu kejadiannya."
"Rumah sakit mana?"
"Severance Hospital!"
"Baiklah. Terima kasih, Van."