THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Kerinduan Danish



Nicolaas dan Vigo sedang berada di kamar mereka masing-masing. Nicolaas sedang sibuk menyelesaikan tugas kantornya. Sedangkan Vigo sibuk dengan tugas kuliahnya. Dan orang tua mereka berada di luar kota.


Baik Nicolaas maupun Vigo. Mereka sangat amat menyayangi Allan. Sebelum mereka masuk ke kamar mereka. Adiyaksa bersaudara ini melakukan tugas siang mereka yaitu makan siang bersama.


Setelah selesai dengan kegiatan makan siang mereka, barulah mereka bertiga masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Waktu sudah menunjukkan pukul lima sore, tapi kedua Adiyaksa bersaudara ini masih belum selesai dengan tugas-tugas mereka.


Disaat Nicolaas dan Vigo yang masih fokus sama tugas-tugas mereka. Mereka berdua dikejutkan dengan suara teriakan dari dalam kamar Allan.


"Tidaaaaakk!" teriak Allan.


Allan yang berada di dalam kamarnya sedang terlelap di kasur empuk kesayangannya, dikarenakan rasa lelahnya setelah pulang dari kampus pukul dua belas siang yang lalu.


Lalu tiba-tiba tidurnya jadi gelisah. Keringat bercucuran membasahi wajah tampannya. Terdengar suara-suara yang memanggil namanya.


"Adam... Adam... Adam."


"Adam. Mama menyayangimu, Nak!"


"Adam. Kau dimana?"


"Adam. Jangan pergi. Jangan tinggalkan kami."


"Adam. Kembalilah!"


"Tidaaaaakk!" teriak Allam dan langsung bangun dari tidurnya dengan nafas yang terengah-engah.


BRAAKK!


Pintu kamar Allan di buka paksa oleh Nicolaas. Setelah pintu itu terbuka. Baik Nicolaas maupun Vigo terkejut saat melihat kondisi adiknya yang sedikit pucat, berkeringat dan juga nafas yang terengah-engah. Mereka pun berlari menghampiri Allan.


"Allan," panggil Nicolaas lembut sembari mengusap rambutnya yang basah akibat keringat.


Allan menatap wajah tampan sang kakak dengan sayu. "Ka-kakak."


"Apa kau bermimpi lagi? Apa mimpi yang sama?" tanya Vigo.


Allan hanya mengangguk sebagai jawaban dari Vigo.


"Sudahlah. Itu hanya mimpi. Mimpi itu adalah bunga tidur dan jangan terlalu dipikirkan. Kakak tidak mau kau jatuh sakit," ucap Nicolaas sambil mengecup kening Allan.


"Apa yang dikatakan kak Nicolaas benar? Itu hanya mimpi. Jadi kakak minta kau tidak perlu memikirkannya. Karena sekarang sudah pukul lima sore, lebih baik kau bangun dan bersih-bersih. Jangan tidur lagi," tutur Vigo.


"Baiklah," jawab Allan.


Nicolaas dan Vigo tersenyum melihat wajah tampan adiknya.


^^^


Allan dan Vigo kini sedang duduk manis di sofa ruang tengah. Sedangkan Nicolaas izin keluar. Jadi tinggallah mereka berdua di rumah dan beberapa pelayan.


Allan yang fokus dengan ponsel di tangannya. Sedangkan Vigo sedang fokus menonton tv. Lalu terdengar suara notifikasi yang masuk keponselnya.


TING!


TING!


Allan langsung membuka notifikasi tersebut. Dapat dilihat olehnya sebuah grup obrolan.


Melky memasukkan Anda ke dalam Grup obrolan The Trouble Makers.


Melky :


Hai, semua.


Aku masukkin teman baru kita disini.


Namanya Allan. Dia satu kelas denganku.


(+62)813-8812-5xxx


Hai, Aku Rosa.


(+62)813-6512-7xxx


Hai aku Sakti


Sahabatnya hitam alias kedelai hitam.


Selamat datang digrup.


(+62)815-7615-8xxx


Hai, Aku Lisa.


(+62)815-7690-9xxx


Hai, aku Wiwid.


(+62)813-4212-4xxx


Aku Joy.


(+62)813-6654-6xxx


Gue si tampan Marcel,


sahabatnya si hitam.


Selamat datang digrup Allan.


(+62)819-1221-7xxx


Aku Eril.


Salam kenal sahabatnya Melky.


Salam kenal Allan.


(+62)819-6512-9xxx


Aku Juna


Sahabatnya si kedelai hitam.


(+62)813-3212-6xxx


Aku Harry.


(+62)815-1231-7xxx


Hai, aku Torry.


(+62)819-1212-9xxx


Hai, aku Wahyu.


Salam kenal Allan.


(+62)815-6512-5xxx


Hai, aku Derry.


(+62)813-7012-1xxx


Hai, aku Yongky.


(+62)813-1251-4xxx


Hai, aku Terry.


(+62)815-8812-8xxx


Hai, Allan.


Aku Hanny.


(+62)813-9051-6xxx


Hai, aku Yurry.


Melky :


Dasar bangsat kalian bertiga ya.


Awas kalian.


(+62)819-6512-9xxx


(+62)813-6654-6xxx


Gue juga gak atut ama lu kedelai.


(+62)813-6512-7xxx


Apa lagi gue.


Hitam... Hitam... Hahahaha.


Allan sedari tadi hanya memanteng grup tersebut tanpa ada niat ikut nimbrung ke dalam obrolan. Tanpa disadari olehnya, sang kakak melirik ke arahnya.


"Balaslah. Kenapa cuma diliatin aja sih?" kata Vigo.


"Males," jawab Allan lalu meletakkan ponselnya di sofa lalu dirinya pergi ke dapur untuk mengambil minuman.


Allan :


Hai juga. Aku Allan.


Salam kenal dan makasih sudah mau menerimaki digrup ini.


Aku masih jomblo


Yang masih sendiri japri aja.


(+62)813-7012-1xxx


Jomblo tu.


para gadis tuh babat langsung.


Melky :


Allan itu tampan loh.


Gak nyesel deh kalau.


pacaran ama dia.. hehe.


TING!


Vigo tertawa terpingkal-pingkal sampai sakit perut. Sampai membuat dirinya tak sadar Allan sang adik telah memberikan tatapan horor padanya.


"Kak Vigo. Apa yang kau lakukan dengan ponselku?!" teriak Allan.


DEG!


"Hehe." Vigo membalas dengan cengiran khasnya sembari memberikan ponsel tersebut kepada pemiliknya.


Allan memeriksa ponselnya dan matanya membelalak saat melihat notifikasi balasan digrup dari Melky dan Yongky.


"Dasar kakak kampret," omel Allan.


Vigo makin tertawa keras. Allan yang sudah kepalang kesal langsung mengunci leher kakaknya dengan tangannya.


Vigo sampai terbatuk-batuk, susah bernafas. "Uhuk.. uhuk. Gila kau, Allan. Kau ingin membunuh kakak, hah!" teriak Vigo mencari bantuan.


Allan makin mengeratkan leher kakaknya. Niat banget ingin membunuh kakaknya itu.


"Ampun. Ampun," mohon Vigo menggelayutkan tangan meminta pertolongan.


Akhirnya Allan melepaskan tangannya dari leher sang kakak.


Vigo mengelus lehernya yang merah akibat ulah adiknya itu. Sedangkan Allan sudah duduk cantik di sofa. Dirinya tidak peduli dengan kakaknya yang sedang mengumpatinya.


"Bangsat," umpat Vigo dengan memberikan pukulan pada kepala Allan lalu pergi ke dapur mengambil minuman. Sedangkan Allan mendengus kesal.


Allan :


Hai semua. Maaf yang tadi.


Ada kesalahan teknis. Ponselku dibajak ama kakakku. Jadi yang ngirim tadi bukan aku.


Salam kenal semuanya


Aku Allan. Terima kasih sambutan hangatnya digrup ini. Semoga betah dan awet pertemanan ini.


***


Utari, Evan dan kedua putranya Garry dan Danish sekarang berada di rumah keluarga Abimanyu. Mereka akan menginap beberapa hari di rumah keluarga Abimanyu. Ditambah lagi Utari memang sedang merindukan keluarganya.


Danish sekarang ini sudah berada di kamar adik kesayangannya. Dirinya memperhatikan semua barang-barang milik adiknya itu. Dia tersenyum melihat semua koleksi-koleksi adiknya tertata rapi di kamar. Mulai dari mainan iron man, boneka, pernak-pernik dan juga piala. Ditambah lagi dengan bingkai foto yang berjejer di dinding kamarnya. Lalu matanya menangkap satu foto yang amat familiar. Tangannya pun bergerak untuk mengambil foto tersebut. Terukir senyuman di bibir Danish.


"Hai, adik kakak yang tampan. Apa kabar?" sapa Danish pada foto adiknya bersama dirinya.


FLASBACK ON


Adam bersama keenam kakaknya sedang berada di kantin. Saat mereka sedang asyiknya tertawa disela-sela makan mereka. Datanglah Danish dan teman-temannya.


"Hei, semuanya." Cakra menyapa.


Ardi, Harsha, Arka, Sakha, Kenzie dan Gala menoleh kearah Danish dan teman-temannya.


Mereka semua tersenyum menyambut kedatangan Danish dan teman-temannya.


"Hei juga." mereka menjawab bersamaan.


Hanya satu yang tidak menjawab. Siapa lagi kalau bukan sibuntelan kelinci kesayangan mereka semua.


Kemudian mereka pun menduduki pantat mereka di bangku yang masih kosong. Danish menatap kearah Adam yang sedari tadi hanya diam.


"Hai, Dam. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kemarin kau sakit ya?" tanya Danish.


Adan mengalihkan pandangannya menatap wajah sang kakak. Tidak berniat sedikit pun untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya itu.


"Aku tidak menyangka. Ternyata kau adalah hyung kandungku. Tapi aku tidak yakin, apa aku akan bisa menerimamu dan Papamu dalam kehidupanku. Setelah apa yang terjadi padaku dan Mamaku selama dua puluh tahun ini. Kita lihat saja. Sampai dimana kalian semua merahasiakan kebenaran ini dariku. Aku akan tunggu salah satu dari kalian untuk berkata jujur padaku," batin Adam.


Adam terus menatap Danish. Begitu sebaliknya Danish juga menatap Adam. Tatapan mereka berbeda. Danish menatap Adam dengan tatapan kerinduan. Sedangkan Adam menatap Danish penuh arti.


Ardi, Harsha dan teman-temannya serta teman-temannya Danish yang melihat kedua kakak adik ini yang sedang saling menatap satu sama lainnya menjadi khawatir. Terutama pada Adam. Lalu Arka dan Cakra secara bersamaan menepuk pelan bahu keduanya.


"Dam!"


"Danish!"


Dan mereka pun sadar dalam aksi mereka yang saling menatap itu.


"Aku mau ke kelas duluan. Permisi." Adam berucap.


Setelah itu, Adam pun bangkit dari duduknya dan pergi meninggalkan para kakaknya.


"Jangan ada yang menggangguku!" teriak Adam saat sudah jauh. Mereka hanya bisa menghela nafas pasrah mereka.


"Kau yang sabar ya, Danish!" Kenzie menghibur.


"Begitulah kalau sikelinci yang sedang Bad Mood," ujar Ardi.


"Tapi tenang aja. Gak nyampe tiga jam, nanti sikelinci itu jinak lagi kok," sela Arka.


"Aish, Kak Arka. Kakak pikir adikku itu hewan liar apa. Sampai dikatain jinak segala," kesal Harsha.


"Hei, Sha. Adikmu itu memang bukan hewan liar dan tidak ada juga yang bilang adikmu itu hewan liar. Tapi adikmu itu jelmaan seekor kelinci. Kelinci yang manis dan imut," sahut Gala.


"Kalau sikelinci itu sudah marah dan merajuk susah untuk didekati. Dengan kita mengiming-imingi dengan makanan atau minuman kesukaannya atau dengan kita mewujudkan satu keinginannya saja itu sudah membuat hatinya luluh dan balik lagi kekita. Hilang deh merajuknya," ujar Sakha.


"Dan untuk kau Danish. Kau tenang saja. Adikmu itu tidak membencimu, karena itu bukan sifatnya." Arka menjelaskan sifat asli Adam.


"Tapi tunggu dulu. Ada yang aneh sama Adam," sela Arya.


Semua menatap Arya.


"Aneh kenapa Arya?" tanya Danish, Ardi dan Harsha bersamaan.


"Dua hari yang lalu kan sikapnya Adam baik-baik saja saat dia berada di markas kita. Bahkan dia juga menerima dengan baik uluran tangan dari Danish saat Danish mengajaknya untuk menjalin persahabatan. Tapi kenapa sekarang sikapnya dingin saat melihat Danish" Arya menjelaskan.


"Benar juga apa yang dikatakan Arya. Aku juga melihat gelagak aneh dalam diri adikmu, Danish." Indra berucap dan membenarkan perkataan Arya.


"Apa lagi tatapan matanya," kata Rayan.


"Sudah. Sudah. Jangan berpikiran negatif tentang Adam. Siapa tahu Adam lagi ada masalah makanya dia bersikap seperti itu," pungkas Cakra.


"Aku setuju dengan Cakra. Mungkin saja saat ini moodnya lagi buruk," kata Kavi.


"Yang penting kita tetap terus mengawasinya, karena kita adalah kakak-kakaknya Adam," sela Prana.


Semuanya mengangguk setuju atas perkataan Prana.