THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Kemarahan Adam



Di sebuah kamar, terlihat seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dan awet muda. Wanita itu sedang menatap foto pernikahan. Matanya menatap wajah suaminya, Evan Hara Bimantara.


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu. Aku tidak akan membiarkanmu pergi meninggalkanku dan kembali kepada orang yang kau sayangi. Kau milikku. Selamanya akan menjadi milikku." monolog Areta Dhira Kalyani.


***


Di kantin Adam sedang duduk sendiri sembari menikmati makanan dan minuman yang telah dipesan. Tidak lupa ponsel di tangan dan earphone yang sudah terpasang di telinganya. Adam sangat menikmati hari hari dimana tidak ada yang mengusiknya.


"Hei, Dam." Gala datang dengan suara sedikit keras dan langsung duduk di sampingnya diikuti oleh para Kakaknya yang lain.


"Bisa kau pelan sedikit suaramu itu kak Gala bantet. Aku masih bisa dengar walaupun telingaku disumbat dengan earphone," ucap Adam kesal.


Gala hanya terkekeh, disertai tawa kakak-kakaknya yang lain.


"Mau ngapain kesini?" tanya Adam tanpa memalingkan wajahnya menatap kakak-kakaknya.


"Yaaah, Dam. Pertanyaan macam apa itu? Ini kan kantin, berarti kita kesini ingin makanlah," jawab Kenzie.


"Terus. Kenapa kalian masih duduk disini dan kenapa kalian tidak langsung memesan makanan? Dan kenapa juga kalian duduknya disini, kan masih banyak bangku kosong disana!" seru Adam.


Adam menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya, lalu kembali fokus pada ponselnya.


"Yak, Dam! Kau tega sekali mengusir kami. Apa salahnya sih kami duduk disini?" kata Sakha.


"Alah! Bilang saja kalian merindukanku dan tidak mau jauh-jauh denganku, walaupun cuma sehari," ucap Dam penuh percaya dirinya.


"Waaah! Kau memang terlalu percaya diri, Dam." Sakha berucap.


"Bukan percaya diri, tapi kenyataan." Adam menatap satu persatu kakak-kakaknya. "Sekarang aku mau nanya. Siapa yang pagi-pagi sudah kelimpungan mencariku, bahkan sampai datang ke ruangan latihanku? Siapa yang datang kesini dan langsung duduk disini sebangku denganku, padahal masih banyak bangku kosong disana?" tanya Adam menyelidik.


"Oke, oke! Kau menang dan kami kalah," sela Sakha mengalah.


"Memangnya kita lagi bertarung?" tanya Adam.


"Hah!"


Mereka semua menghela nafas pasrahnya. Bagaimana pun mereka tidak akan menang kalau terus berdebat dengan si keras kepala Dirandra Adamka Abimanyu. Karena mereka tahu Adam memiliki seribu cara untuk bisa mematahkan semua pertanyaan kakak-kakaknya itu.


***


Seorang wanita paruh baya yang masih keliatan cantik, berada di sebuah Banana Milk di Yellow Cafe. Dirinya sedang menunggu seseorang. Dirinya sudah tidak sabaran untuk menjalankan rencana jahatnya.


Lima belas menit kemudian, datanglah seorang pemuda yang menghampirinya. Dan pemuda itu langsung duduk di kursi yang sudah disiapkan oleh wanita itu.


"Kita langsung saja pada intinya!" seru pemuda itu tanpa basa-basi.


"Baiklah. Saya mau kamu menyelidiki wanita ini," ucap wanita itu sambil menyodorkan sebuah foto kearah pemuda itu.


"Cari tahu dimana dia dan putranya tinggal sekarang? Sampai detik ini saya tidak tahu dimana keberadaannya dan putranya itu. Bahkan saya juga tidak tahu wajah putranya seperti apa saat ini," ucap wanita itu.


"Baiklah. Aku akan melakukannya dengan sangat baik," ucap pemuda itu.


"Saya tunggu hasilnya. Saya tidak mau menerima yang namanya kegagalan," ucap wanita itu.


"Baik. Kalau begitu aku permisi." pemuda itu pun langsung pergi meninggalkan wanita itu.


"Tunggu kejutan dariku Utari." wanita itu berucap dengan senyuman di bibirnya.


***


Anggota keluarga Abimanyu sedang berkumpul di ruang tengah. Tak terkecuali Erina Utari Abimanyu. Semenjak putra bungsunya kembali pulang ke rumah, dirinya selalu menyempatkan waktu untuk sang putra. Dirinya ingin memberikan banyak waktu untuk buah hatinya. Walaupun saat ini putranya masih mendiami dirinya.


"Utari, duduklah. Dari tadi kakak perhatikan kau dari tadi mondar-mandir seperti cacing kepanasan saja," goda Bagas.


Sedangkan yang lainnya hanya tertawa.


"Putramu yang keras kepala itu pasti pulang, Utari!Kau tidak perlu khawatir? ucap Alin ikutan menggoda adik iparnya.


"Apa-apaan sih kak Bagas, kak Alin! Kalian tidak akan mengerti bagaimana khawatirnya aku. Aku ini ibunya dan aku tahu seperti apa sifat putraku?" tutur Utari.


"Percayalah! Adam pasti pulang. Bagaimana pun rasa kecewanya pada kita. Aku yakin dia pasti akan pulang?" ucap Davan menghibur adik perempuannya.


***


Jam kuliah terakhir Adam berada di kelas. Dirinya merasa bosan seharian berada di ruang latihannya. Dia mengikuti pelajarannya dengan baik. Pandangannya fokus ke depan tanpa sedikit pun menoleh ke samping dimana Harsha duduk. Dirinya tahu kalau Harsha sedari menatapnya. Tapi dirinya lebih memilih mengabaikan kakak aliennya itu.


"Ya." Adam menjawabnya.


"Saya dengar kau menghentikan jadwal latihan Taekwondo dan Hapkido di Kampus ini. Padahal itu sangat bagus untuk para mahasiswa dan mahasiswi disini. Paling tidak mereka bisa menjaga diri mereka dari kejahatan. Saya harap kamu bisa aktif lagi," tutur sang Dosen.


"Ya, sudah. Pelajarannya kita selesaikan sampai disini. Saya permisi dulu."


"Apa yang dikatakan Dosen barusan itu ada benarnya, Dam? Kakak harap kau aktif lagi," kata Harsha.


"Kenapa bukan kakak saja yang melatih mereka? Kakak juga jago bela dirinya. Kenapa harus aku? Aku sudah tidak berminat melatih mereka lagi." Adam membawa dengan nada ketus.


Setelah mengatakan hal itu, Adam langsung berdiri dari duduknya, pergi meninggalkan kakak aliennya itu sendirian.


Adan membuang nafas


kasarnya. "Huuff!"


"Sampai kapan kau akan mengabaikan kakak, Dan?" batin Harsha.


^^^


Para kakak sudah berkumpul di luar. Mereka berbincang-bincang sambil menunggu kedua adik-adik mereka keluar kelas.


"Jadi ke rumahku?" tanya Ardi.


"Ya. Jadilah, kak! Kita sudah lama tidak main kesana. Apalagi sekarang Adan sudah kembali. Kita tambah semangat!" seru Gala.


Yang lainnya mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan Gala.


Disaat mereka sedang asyik berbincang-bincang, terlihatlah Adam yang keluar dari kelasnya dan berjalan menghampiri mereka. Lebih tepatnya bukan menghampiri tapi memang jalannya satu arah.


"Nah, itu Adan!" seru Kenzie.


"Tapi kenapa Adam sendirian? Mana Harsha?" tanya Gala.


"Apa Adam masih belum menegur Harsh?" tanya Arka.


"Dam. Kamu ninggalin Harsha lagi. Kenapa Dam?" tanya Ardi.


"Lalu aku harus apa? Apa aku harus menunggunya setiap hari? Dia itu sudah dewasa. Bukan anak kecil lagi," jawab Adam ketus.


"Disini ini, aku yang korbannya. Korban kebohongan keluargaku sendiri. Aku dibohongi oleh kalian semua. Mulai dari Mama, Kakek Paman dan Bibi membohongiku. Apa itu namanya keluarga, hah? Dan sekarang kau menyalahkanku, karena aku meninggalkan adik kesayanganmu itu. Lebih baik kau urusi adikmu itu. Tidak usah sok peduli denganku. Dia bukan siapa-siapaku?" Adam berucap dengan sangat kejamnya.


"Adan!" bentak Ardi. "Kau sadar apa yang kau katakan, hah? Bagaimana pun dia itu kakakmu. Kita satu keluarga." Ardi benar-benar marah akan ucapan Adam barusan.


"Dia bukan kakakku. Kau juga bukan kakakku. Dan jangan pernah katakan hal yang menjijikan itu lagi bahwa kita adalah keluarga. Sebuah keluarga itu harus didasari sebuah kejujuran. Bukan kebohongan," jawab Adam yang menatap Ardi tajam.


PLAAKK!


Ardi menampar Adam dengan sangat kuat sampai meninggalkan bekas di pipinya.


"Kak Ardi!" teriak Harsha dari kejauhan dan langsung berlari menghampiri Adam dan yang lainnya.


"Dam. Ma-maafkan kakak. Kakak kelepasan. Maafkan kakak," ucap Ardi menyesal.


Ketika Ardi mengangkat tangannya ingin mengusap pipi Adam. Adam dengan kasar dan kuat menepis tangan Ardi.


"Dam, Kau tidak apa-apa?" tanya Harsha yang sudah menangis.


"Tamparan darimu saja, masih terasa disini," ucap Adam sambil menunjuk dada kirinya. "Sekarang aku malah menerima tamparan dari kakak kesayanganmu itu. Rasa sakitnya malah makin bertambah. Itu semua gara-gara kau!" bentak Adam sambil menunjuk ke wajah Harsha.


"Aku menyesal pulang ke Jakarta. Kalau aku tahu akan begini nasibku, lebih baik aku tetap di Amerika!" teriak Adam, lalu pergi meninggalkan mereka semua.


"Adam! Adam!" teriak Harsha.


"Kakak Ardi. Apa yang kau lakukan? Tidak seharusnya kau menampar, Adam. Kau yang bilang padaku, kita harus sabar menghadapi Adam. Tapi kenapa Justru kau sampai kelepasan begini, kak?" Harsha berbicara sambil menangis.


Ardi menghampiri Harsha dan memeluknya. "Maafkan kakak, Sha!. Kakak tahu kakak salah."


"Ini akan memperkeruh masalah, kak. Adam akan makin membenci kita dan anggota keluarga yang lainnya."


"Kalian, sudahlah! Kakak yakin, Adam tidak akan sampai membenci kalian. Bagaimana pun tidak ada seorang pun yang bisa membenci keluarganya sendiri? Adam itu hanya emosi. Kalian tahukan bagaimana kalau orang yang lagi emosi? Orang yang emosi itu kata-katanya tak terkendalikan. Bahkan bisa membuat orang yang mendengarnya ikutan emosi. Seperti kau tadi, Di! Kau emosi saat mendengar ucapan Adam. Padahal kau tahu sendiri, Bagaimana kondisi Adam saat ini? Tapi kau malah terpancing." Arka berbicara sambil menasehati dan menghibur Harsha dan Ardi.


"Lebih baik kita pulang!" Sakha berseru.