THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Dia Adalah Kakak Sepupunya Jordan



"Sekarang apa rencana selanjutnya Zelo?" tanya Raafe Maroun kepada Zelo.


Mendengar pertanyaan dari Raafe. Zelo tidak langsung menjawabnya. Justru Zelo menatap kearah Adam.


"Kita tanyakan sama Adam!" seru Zelo.


Semuanya melihat kearah Adam. Begitu juga dengan Jordan, Ghiska, Gerard dan Melky.


Adam melihat kearah Jordan. "Bagaimana dengan Paman?" tanya Adam kepada Jordan.


"Yak! Kalian ini bagaimana sih?! Kenapa kalian malah saling melempar pertanyaan?!" Danish tiba-tiba.


"Iya, nih! Dari tuan Raafe Maroun bertanya kepada Zelo. Kemudian Zelo bertanya kepada Adam. Dan sekarang Adam malah bertanya kepada Paman Jordan. Kalian ini mau merundingkan rencana apa saling melempar pertanyaan?!" Harsha juga ikutan berteriak karena kesal akan sikap Zelo dan Adam.


Sementara semua orang hanya bisa tersenyum melihat wajah kesal dan mendengar ucapan dari Danish dan Harsha. Begitu juga dengan Raafe Maroun dan Zelo. Tapi tidak dengan Adam. Justru Adam memberikan tatapan mautnya kepada Harsha.


"Hidup itu nggak usah banyak protes alien. Nggak suka atau bosan. Pergi ke kamar noh! Tidur! Besok sekolah kan?!"


"Hahahahaha."


Seketika Danish, Ardi, Vigo dan sahabat-sahabatnya termasuk sahabat-sahabatnya Adam tertawa keras ketika mendengar ucapan dari Adam.


Setelah itu mereka kembali serius untuk membahas masalah Melky dan keluarganya.


Ketika mereka memulai untuk membahas rencana mencari tahu siapa dalang yang sebenarnya. Sementara Jordan hanya mengetahui dalang tersebut dengan ciri-cirinya saja tanpa mengetahui seperti apa wajahnya. Tiba-tiba ponsel milik Sakha berbunyi menandakan panggilan masuk.


Sakha yang mendengar bunyi ponselnya langsung mengambil ponselnya itu di saku celananya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Sakha melihat nama 'Diego' (anggota Vagos) di layar ponselnya.


Tanpa membuang-buang waktu lagi, Sakha pun langsung menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, Diego!"


Mendengar Sakha menyebut nama Diego. Seketika Adam, Ardi, Harsha, Arka, Kenzie dan Gala langsung melihat kearah Sakha. Mereka tahu bahwa Diego adalah seorang IT handal. Dia bisa mencari tahu dan melacak keberadaan musuh yang tidak bisa dilacak oleh siapa pun termasuk pihak kepolisian.


"Hallo, Sakha. Kamu dimana?"


"Aku ada di rumah keluarga Adam. Kenapa?"


"Kebetulan. Apa Adam bersamamu?"


"Iya. Adam ada di hadapanku. Mau bicara sama dia?"


Adam yang namanya disebut langsung melihat kearah Sakha sembari bertanya dengan menggerakkan dagunya keatas.


"Iya, boleh!"


"Bentar."


"Dam, Diego ingin bicara sama kamu!"


Sakha langsung memberikan ponselnya kepada Adam agar Diego bisa bicara dengan Adam.


Adam mengambil ponsel milik Sakha. Setelah itu, Adam langsung bicara dengan Diego si anak Vagos.


"Hallo, kak Diego. Ada apa ya?"


"Dam, apa kamu sedang mencari tahu dalang dari kecelakaan yang menimpa Paman Jordan, kakak laki-lakinya Melky dan Melky?"


"Iya, kak! Ini kami sedang membahas bersama dengan yang lainnya termasuk Paman Jordan. Tapi Paman Jordan hanya tahu ciri-cirinya saja. Ntah itu benar atau tidak. Sementara seperti apa wajahnya, Paman Jordan tidak tahu."


"Aku sudah mendapatkan latar belakang dari orang yang sudah membuat Paman Jordan, kakak laki-lakinya Melky dan Melky kecelakaan 13 tahun yang lalu."


Mendengar perkataan dari Diego seketika membuat Adam membulatkan matanya bahagia. Dirinya seakan-akan tak percaya apa yang barusan telinganya dengar.


Sementara anggota keluarganya dan semua orang yang ada di ruang tengah menatap kearah Adam. Mereka melihat dari tatapan matanya Adam yang terlihat berbinar. Mereka semua meyakini bahwa Diego memberikan kabar gembira kepada Adam.


"Apa itu benar kak Diego? Berarti kakak juga sudah tahu wajah orang itu seperti apa?"


"Tentu. Kakak sudah mendapatkan secara mendetail. Dari mulai nama, wajah dan keluarganya."


"Siapa kak? Katakan padaku sekarang agar aku dan yang bisa segera menyelesaikan masalah ini. Dengan selesai masalah ini, kita semua bisa menjalani hidup dengan tenang."


"Berarti pelakunya tak jauh-jauh dari keluarga Paman Jordan. Pantesan saja dia tahu keberadaan Paman Jordan sekali pun Paman Jordan sudah pergi meninggalkan kota Jakarta."


"Ya, kau benar Adam! Sekali pun Paman Jordan pergi ke ujung dunia sekali pun. Orang itu akan tetap tahu keberadaan Paman Jordan. Jadi yang harus kita lakukan adalah segera menyelesaikan masalah ini."


"Itulah yang sedang aku dan yang lainnya rundingkan, kak!"


"Baiklah. Setelah kakak bicara dengan kamu di telepon. Kakak akan mengirimkan beberapa bukti tentang apa yang dilakukan oleh laki-laki itu. Kau bahaslah masalah ini dengan Paman Jordan. Dan tanya siapa nama dari saudara sepupunya itu?"


"Baiklah kak."


Setelah mengatakan itu, baik Adam maupun Diego sama-sama mematikan panggilannya.


Setelah selesai, Adam langsung mengembalikan ponsel tersebut kepada si pemiliknya.


"Paman Jordan," panggil Adam.


Jordan langsung melihat kearah Adam sembari tersebut.


"Ada apa, nak?"


"Sepertinya Dewi Fortuna sedang memihak kita. Kita tidak perlu repot-repot untuk mencari tahu siapa dalang orang yang sudah menyakiti Paman dan kedua putra Paman."


"Dam, jadi maksud kamu kalau kamu sudah tahu siapa orang yang sudah membuat kami berpisah dengan kakakku? Dan yang sudah membuat kami celaka 13 tahun yang lalu?" tanya Melky dengan menatap wajah Adam.


"Ya! Lebih tepatnya kak Diego yang berhasil mendapatkan petunjuk tersebut. Dia yang beritahu aku," jawab Adam.


"Siapa orangnya Adam? Katakan pada kakak?" tanya Gerard yang saat ini terlihat begitu marah dan dendam.


Semuanya dapat melihat bahwa Gerard saat ini benar-benar marah dan juga dendam terhadap orang yang sudah membuat dirinya berpisah dengan keluarganya. Terlihat dari wajah serta tatapan matanya.


"Paman Jordan tahu siapa orangnya," sahut Adam sembari menatap wajah Jordan yang juga menatap wajah Adam.


"Paman? Tahu? Siapa dia Adam?" tanya Jordan bingung.


"Dia adalah kakak sepupunya Paman sendiri," sahut Adam.


"Apa?! Ringga?! Ja-jadi pelakunya adalah Ringga?"


"Jadi nama kakak sepupunya Paman adalah Ringga?"


"Iya. Namanya Ringga Ardana Pramana. Ringga memiliki satu adik perempuan namanya Viola Ardina Pramana. Mereka berdua adalah anak-anaknya Paman Rasyid Said Pramana yang tak lain adalah kakak laki-laki dari ayahnya Paman."


"Kak Ringga! Aku tidak menyangka jika kau adalah dalang yang menyebabkan kecelakaan yang menimpaku dan kedua putraku 13 tahun yang lalu," batin Jordan menangis.


"Sayang."


Ghiska mengusap-usap lembut punggung suaminya. Dirinya tahu bahwa suami syok akan kebenaran yang dia ketahui dari Adam.


"Berarti Paman sudah tahu alasan kenapa kakak sepupunya Paman tega melakukan hal itu terhadap Paman dan keluarga Paman?" tanya Danish.


"Tidak mungkin seseorang akan melakukan hal keji itu kepada saudaranya sendiri sekali pun hanya sebatas saudara sepupu jika tidak ada alasan tertentu," ucap Arka.


"Pasti ada alasan dibalik itu semua sehingga kakak sepupunya Paman itu melakukan hal keji itu terhadap Paman dan keluarga Paman," sahut Vigo.


"Hm!" sahabat-sahabatnya Vigo berdehem sembari menganggukkan kepalanya bersamaan.


"Iya. Alasannya hanya satu," sahut Jordan.


"Apa Paman?" tanya Adam, Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya bersamaan.


"Karena kakeknya Paman mempercayai semua kekayaan keluarga Pramana kepada Paman. Termasuk perusahaan utama keluarga Pramana. Dulu ayahnya Paman yang memimpin semuanya karena pada saat itu kakeknya Paman masih hidup. Dan sekarang turun kepada Paman."


Mendengar jawaban dari Jordan membuat semua yang ada di ruang tengah itu terkejut. Hanya karena jabatan dan kekuasaan, seseorang rela melakukan hal keji.


"Seharusnya memang Ringga yang memimpin, namun karena sifat Ringga yang royal, suka main perempuan, suka menghamburkan uang, mabuk-mabukan. Bahkan perusahaan hampir bangkrut akibat ulah Ringga dengan seenaknya mengambil semua uang perusahaan."


"Dari situlah kenapa kakeknya Paman memilih ayahnya Paman yang berstatus putra kedua sebagai penerus berikutnya. Jadi dengan begitu, kepemimpinan tersebut akan turun ke tangan Paman. Jika kakeknya Paman memilih putra sulungnya yaitu Paman Rashid, maka kelak akan jatuh ke tangan putranya Ringga. Dan akan berakhir...."


"Perusahaan itu hancur tanpa sisa!" seru Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan semua sahabat-sahabatnya bersamaan.