
Sesuai yang dikatakan oleh Adam bahwa besok pagi dirinya akan membahas masalah orang-orang yang sudah mengusik keluarganya. Dan kini semuanya sudah berkumpul di ruang tengah.
Adam menatap satu persatu wajah anggota keluarganya secara bergantian. Begitu juga dengan anggota keluarganya yang menatap dirinya.
"Baiklah. Apa kalian sudah siap untuk membalas orang-orang yang sudah nengusik keluarga kita?" tanya Adam.
"Kami siap, Dam!" seru para kakak-kakaknya.
"Kami semua siap!" jawab Evan, Alex, Bagas dan Davan.
"Untuk Papa dan Papa Alex. Tugas kalian adalah melakukan cara yang sama apa yang dilakukan oleh rekan kerja kalian itu. Rebut perusahaan mereka," perintah Adam.
"Baik, sayang!" jawab Evan dan Alex bersamaan.
"Masalah mereka akan marah atau menuntut. Mereka tidak akan bisa. Aku memiliki bukti buat bungkam mulut mereka," ucap Adam menatap wajah ayahnya dan wajah pamannya.
"Kami mengerti!"
"Untuk Papa Davan dan Papa Bagas. Tugas Papa berdua adalah langsung berurusan dengan pemilik perusahaan tersebut. Bawa sekitar 60 anggota Papa dan serang perusahaan tersebut. Hancurkan data-data penting sehingga mereka tidak bisa mendirikan perusahaan lagi. Kebetulan si pemilik perusahaan itu ada di perusahaannya. Jadi, Papa Bagas dan Papa Davan bisa bermain-main dengan laki-laki itu."
"Sudah tidak sabar bermain-main dengan bajingan itu. Bagaimana reaksinya ketika melihat Papa ada di hadapannya," ucap Bagas.
"Ini sangat menarik sekali. Papa sudah tidak sabar melihat wajah bajingan itu," sahut Davan.
"Dan untuk para kakak-kakakku. Tugas kalian adalah Langsung menyerang kediaman dari laki-laki yang mengusik perusahaan Papa Bagas dan perusahaan Papa Davan. Dan juga yang telah menyakiti kakak Dzaky. Kalian bisa melakukan apapun terhadap anggota keluarga dari kedua bajingan itu."
"Tapi bagaimana dengan anak buah mereka, Dam?" tanya Rafig.
"Kakak Rafig tidak perlu khawatir masalah itu. Semua anak buah yang berjaga-jaga di kediaman kedua bajingan itu sudah dimusnahkan dan dipulangkan keasalnya," jawab Adam asal.
Mendengar jawaban asal dari Adam membuat mereka semua tersenyum dan geleng-geleng kepala.
"Kamu ini kalau ngomong nggak pernah disortir dulu. Asal keluar aja tuh mulut," ucap Celena sembari tersenyum.
"Sekarang Mama sudah tahukan sifat asli putra angkat Mama itu. Apa Mama masih sayang sama anak yang mulutnya asal pedas seperti cabe?" ucap dan tanya Harsha.
"Iya. Mama sudah tahu sekarang. Ganteng-ganteng, tapi ngomongnya menyelekit!" Celena berbicara sembari menatap wajah tampan putra angkatnya sekaligus keponakannya.
Sementara Adam menatap wajah Celena dengan tatapan kesal dengan bibir yang melengkung ke bawah.
"Tapi walaupun mulutnya selalu mengeluarkan kata-kata pedas. Mama tetap sayang. Sayangnya Mama tak terhingga," ucap Celena melanjutkan perkataannya beberapa detik yang lalu.
"Hahahaha." Adam seketika tertawa ketika mendengar ucapan Celena yang mengatakan bahwa sayangnya tak terhingga. "Dengar sendirikan alien? Mamaku yang cantik ini tidak akan pernah berpaling hatinya dariku. Mau bagaimana pun anaknya. Mamaku yang cantik ini tetap menyayangi anaknya!"
Mendengar perkataan terlalu pede dari Adam membuat Harsha mendengus. Dia tidak menyangka jika adiknya akan mengatakan hal itu.
Sementara untuk Celena dan anggota keluarga lainnya tersenyum gemas melihat kelakuan Adam yang selalu punya seribu ada cara untuk membalas perkataan Harsha sehingga membuat Harsha beribu kesal padanya.
"Oh iya, Dam!" seru Garry.
"Iya, kakak Garry!"
"Oh iya, maaf aku lupa. Nanti tunggu kabar dari Ricky. Dia akan memberitahu kapan waktu yang pas buat menghancurkan mereka semua dengan sekali jalan," jawab Adam.
"Adam," panggil Danish.
"Iya, kakak Danish. Ada apa?"
"Kalau kakak boleh tahu. Siapa itu Ricky?"
Adam tidak langsung menjawab pertanyaan dari kakaknya itu. Justru Adam menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
"Ayolah, Dam! Kasih tahu kita siapa Ricky itu?" mohon Vigo.
"Ricky sahabat aku ketika aku di Amerika. Jika Vino, Diego, Gino Zio Leon dan Vando adalah sahabat aku di kampus. Sementara Ricky sahabat aku ketika diluar kampus. Aku dan Ricky mulai sahabat ketika saat kejadian dimana Ricky dan ibunya baru saja keluar dari supermarket. Beberapa orang menghadang motornya. Kebetulan Ricky membawa ibunya dengan sepeda motornya. Orang-orang itu berhasil melukai ibunya disaat Ricky sedang bertarung menghajar yang lainnya. Kebetulan pada saat kejadian itu, aku lewat dan berhenti. Dan aku langsung membantu Ricky dengan menghajar orang-orang yang mengeroyok Ricky."
"Singkat cerita, aku membawa Ibunya Ricky dengan menggunakan mobilku. Begitu juga dengan Ricky. Saat tiba di rumah sakit, para perawat tidak langsung menangani ibunya Ricky karena keterbatasan biaya. Ricky tidak memiliki uang saat itu, padahal ibunya sudah dalam keadaan kritis dan sudah banyak kehabisan darah."
"Ricky terus menangis dan memohon agar pihak rumah sakit mau menangani Ibunya dulu. Soal biaya rumah sakit, Ricky akan mengusahakannya. Namun tetap saja, pihak rumah sakit tak mempedulikan isak tangis dan permohonan Ricky."
"Lalu apa yang terjadi sayang?" tanya Utari.
"Aku jelas marah melihat sikap pihak rumah sakit yang sama sekali tidak memiliki hati sama sekali. Aku saat itu mau membantu Ricky untuk biaya ibunya, tapi Ricky menolaknya dengan alasan tidak ingin merepotkan aku. Ketika melihat perlakuan pihak rumah sakit yang menjijikan itu, aku berteriak dan memaki mereka semua. Bahkan aku menyamakan mereka dengan seekor hewan. Aku juga mengancam mereka."
"Kamu berikan ancaman apa untuk manusia-manusia menjijikan itu?" tanya Yodha.
"Aku ancam jika aku akan meledakkan rumah sakit ini biar semua yang ada di rumah sakit ini mati termasuk para pekerja medis."
"Apa mereka percaya?"
"Percayalah! Justru mereka berubah takut ketika melihat sekitar 15 orang berpakaian hitam dengan memakai topengnya berjalan menghampiri mereka semua. Dan pada akhirnya, mereka pun langsung menangani ibunya Ricky."
"Kalau kakak boleh tahu. Siapa ke 15 orang berpakaian hitam itu?" tanya Juan.
"Hehehehe."
Adam seketika terkekeh ketika harus kembali teringat kejadian itu. Sedangkan anggota keluarganya yang mendengar kekehan Adam sedikit mencurigai bahwa ini tak jauh dari orang-orangnya sendiri.
"Kelima belas orang berpakaian hitam itu adalah Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando. Sementara yang sembilan lagi nggak tahu mereka dapat dari mana," sahut Adam.
Mendengar cerita Adam tentang Ricky membuat mereka tersenyum sembari geleng-geleng kepala. Mereka semua tak habis pikir tentang ide dan akal licik Adam untuk melancarkan aksi demi menolong orang lain.
"Berarti Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersahabat juga dengan Ricky?" tanya Ardi.
"Iya. Hanya saja Ricky akrab denganku karena dia berpikir bahwa aku pahlawannya dia. Pahlawan yang sudah menyelamatkan nyawa ibunya. Di dunia ini Ricky hanya punya Ibu saja. Sementara ayahnya sudah lama meninggal. Plus Ricky anak tunggal."
"Berarti Ricky sekarang ini......." perkataan Harsha terpotong karena Adam langsung menjawabnya.
"Iya. Ricky ada di Jakarta. Ricky dan ibunya pindah ke Indonesia ketika mendengar musibah yang menimpaku. Dia melakukan semua itu untuk membalas budi padaku. Hanya saja Ricky tidak menemukan keberadaan ketika tiba di Jakarta,karena saat itu aku dinyatakan meninggal dan berakhir menjadi anak Mama Celena dan Papa Levi!"
Mendengar cerita dari Adam tentang Ricky membuat mereka semua tersenyum bahagia. Bagaimana tidak bahagia. Adam selalu melakukan kebaikan dimana pun dia berada sehingga kebaikannya itu mendapatkan balasan dari orang-orang yang pernah dia tolong.