THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
Penusukan



Setelah berperang mulut dengan keluarganya, Adam pergi meninggalkan keluarga yang masih berada di meja makan tanpa membawa kendaraan pribadinya. Tanpa Adan sadari dia sudah berjalan jauh meninggalkan mansion keluarganya. Adam menggerutu sepanjang jalan. Tidak ada satupun kendaraan yang lewat.


"Aaiisshh!! Kalau seperti ini bisa-bisa aku terlambat sampai di Kampus. Kau bodoh Adam. Kau Bodoh! Kenapa kau tidak menyadarinya, hah? Bisa-bisanya kau tidak membawa mobilmu sendiri. Apa kau ingin jalan kaki ke Kampusmu?" monolog Adam sepanjang jalan yang mulutnya terus berkomat-kamit tak jelas.


Ketika Adam sedang menggerutu kesal akan kecerobohan dan kebodohannya, tiba-tiba terdengar suara klason mobil dari arah belakang.


TIN!


TIN!


TIN!


Mendengar suara klakson yang bertubi-tubi berbunyi di belakangnya membuat Adam makin kesal.


"Siapa sih yang membunyikan klason itu. Tidak tahu apa aku lagi kesal?" gumam Adam tanpa melihat ke belakang dan terus melangkahkan kakinya.


TIN!


TIN!


TIN! 


"Sialan! Hei, Bisa ti...!" perkataan Adam terhenti saat dia melihat ke belakang dan mengetahui siapa pemilik mobil tersebut? Wajah Adam berubah menjadi memerah menahan marah sambil bibirnya terus berkomat-kamit.


Mobil yang sedari tadi membunyikan klakson berhenti di depan Adam dan sipelaku tersebut tertawa puas melihat wajah kesal Adam.


Pelaku tersebut adalah Ardi dan Harsha. Mereka memang sejak tadi mengikuti Adam, karena mereka tahu Adam tidak membawa mobilnya.


Harsha membuka kaca mobil. "Apa kau akan berdiri disitu terus, Adam? Sekarang masuklah ke mobil kita berangkat bersama."


Adam melangkah menuju mobil dan membuka pintu mobil tersebut. Senyuman terukir di bibir Ardi dan Harsha, karena mereka berpikir Adam sudah tidak marah lagi dengan mereka. Tapi kemudian pintu mobil itu ditutup kembali oleh Adam, sedangkan Adam sama sekali tidak masuk ke dalam mobil tersebut dan membuat senyuman Ardi dan Harsha luntur.


"Kalian pikir dengan memberikan tumpangan untukku, aku akan luluh begitu saja dan melupakan perlakuan kalian padaku. Omong kosong!" tutur Adam, lalu pergi melangkahkan kakinya kembali.


"Yak, Adam! Dasar keras kepala," gerutu Ardi.


Mereka tidak menyerah begitu saja. Mereka tetap mengikuti Adam, lalu tiba-tiba terlintas ide di pikiran Harsha. Kemudian Harsha membisikkannya ke Ardi. Ardi seketika mengangguk-anggukkan kepalanya tanda setuju.


Mereka keluar dari mobil dan memaksa Adam untuk masuk ke mobil. Mereka memegang tangan Adam dengan kuat.


Alhasil, Adam berhasil dipaksa masuk ke dalam mobil dengan mengeluarkan seluruh tenaga mereka. Adam tidak berkutik sama sekali.


"Menyebalkan," gerutu Adam membuang pandangannya keluar jendela mobil.


Sedangkan mereka tidak peduli dengan wajah kesal sang adik. Yang penting mereka sudah berhasil membuat Adam pergi bersama ke Kampus. Adam masih fokus melihat keluar dan tidak ada niat untuk melihat kedua kakak-kakaknya itu.


"Apa pemandangan diluar itu lebih indah dari pada kami kakak-kakakmu, Dam?" tanya Ardi.


Tidak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Adam.


"Ayolah, Dan! Sampai kapan kau akan marah pada kami?" tanya Harsha.


Masih sama dan tidak ada jawaban apapun dari Adam. Adam masih setia untuk bungkam. Ardi dan Harsha hanya bisa membuang nafas mereka.


"Haaah."


***


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Mereka pun sampai di depan Kampus.


Setibanya di Kampus, terlihat suasana Kampus sudah terlihat ramai. Sudah seperti dipasar. Ketika mereka melangkahkan kaki memasuki halaman Kampus, tiba-tiba Arka dan yang lainnya datang.


"Ada apa? tanya Harsha.


"Adam, para orang tua dari mahasiswa dan mahasiswi pada melakukan protes. Mereka tidak terima atas apa yang terjadi pada anak-anak mereka," ucap Kenzie.


"Itu anaknya!" seru salah satu mahasiswi.


Para orang tua langsung melihat kearah Adam. Kemudian mereka semua melangkah mendekati Adam.


"Jadi, kamu orang yang sudah membuat anak-anak kami menderita, hah?!" tanya seorang wanita, salah satu orang tua dari mahasiswa tersebut.


"Menderita? Saya tidak mengerti!" seru Adam yang tidak takut sama sekali.


"Jangan pura-pura tidak mengerti ya. Kamu kan yang menyuruh Rektor untuk memberikan jam tambahan kuliah untuk anak-anak kami sampai jam 9 malam," sahut seorang pria selaku Ayah dari salah satu mahasiswi.


"Oooohh! Jadi masalah itu! Kalau iya, kenapa? Kalian keberatan dengan masalah itu? Kalau kalian keberatan, kenapa tidak angkat kaki saja dari Kampus ini? Bawa anak-anak kalian keluar dari sini. Kenapa masih bertahan disini, hah?! Lagian aku juga tidak peduli atas penderitaan anak-anak kalian itu. Anak-anak kalian itu pantas menerimanya, karena anak-anak kalian itu sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal kepadaku," ucap Adam tanpa beban sama sekali.


"Memangnya apa yang sudah anak-anak kami lakukan padamu, hah?!" bentak Ayah dari salah mahasiswa yang lainnya.


"Tanyakan saja kepada anak-anak kalian. Kenapa bertanya padaku?" ketus Adam.


"Hei, kau dengar ya. Kau pikir kau ini siapa? Beraninya kau perlakukan anak-anak kami seperti ini. Apa kau tidak pernah dididik oleh ayah dan ibumu? Atau jangan-jangan kau itu berasal dari keluarga yang tidak benar. Ayah dan ibumu itu tidak becus mendidikmu," ucap pria itu.


Ardi merangkul Adam, karena dirinya tahu bahwa Adam sudah tersulut emosi. "Paman, tolong jaga ucapannya. Tidak sepantasnya Paman berbicara seperti itu," tegur Ardi.


"Memang kenapa, hah? Saya benarkan? Ayah dan ibumu itu hanya seorang pecundang. Mereka hanya bisa melahirkan seorang anak sepertimu, tapi tidak becus mengurusnya, " ucap pria itu lagi.


Adam mengepalkan tangannya kuat. Dirinya tidak terima orang tuanya dihina. Emosi Adam sudah diubun-ubun dan tidak bisa ditahan lagi.


DUUAAGGHH!


Adam menendang pria itu dengan kuat tepat di perutnya. Dan membuat pria itu tersungkur ke tanah. Pria itu meringis kesakitan sambil mengeluarkan darah dari mulutnya. Semua orang yang melihatnya menjadi takut.


"Adam sudah, cukup. Dia sudah kesakitan. Tahan emosimu. Kau bisa membunuhnya," ucap Ardi.


Tapi Adam mengabaikan perkataan kedua kakaknya itu. Matanya menatap tajam kearah pria tersebut.


"Kakak mohon. Tenanglah, Adam." Harsha langsung memeluk Adam agar emosi Adam mereda.


Setelah merasakan emosi Adam mereda, Harsha pun melepaskan pelukannya. Dan bisa Harsha lihat emosi Adam sudah mulai stabil.


Adam kembali menatap kearah pria tersebut. "Jangan pernah bawa-bawa kedua orang tuaku, apalagi menghina mereka. Mereka tidak bersalah dalam masalah ini. Aku seperti ini bukan karena mereka tidak mendidikku dengan baik. Aku seperti ini karena ulah anak-anak kalian. Aku bisa saja membunuhmu hari ini, tapi karena aku masih menyayangi kedua orang tuaku, Makanya kau selamat hari ini. Dan untuk anda Pak Rektor pastikan mereka semua keluar dari Kampus ini dan jangan biarkan mereka tetap berada di Kampus ini lagi. Dan pastikan juga mereka tidak akan diterima di Kampus manapun. Buat catatan buruk untuk mereka semua. Atau kalau tidak anda yang keluar dari Kampus ini." Adam berucap dengan suara yang keras dan wajah yang benar-benar marah.


Setelah mengatakan hal itu, Adam langsung pergi meninggalkan mereka semua dalam keadaan yang sangat kacau tanpa mempedulikan kakak-kakaknya.


Sementara para orang tua dan para mahasiswa mahasiswi yang mendengar ucapan Adam tercengang dan terkejut. Mereka ketakutan. Apa yang akan terjadi, apabila anak-anak mereka dikeluarkan dari Kampus ini? Kampus ternama dan termewah di Jakarta.


Dan disisi lain, Danish dan gengnya sedari menyaksikan keributan tersebut juga menatap bingung dan penasaran.


"Siapa dia sebenarnya? Kenapa Rektor lagi-lagi menuruti kata-kata bocah itu? Tatapan matanya sangat familiar. Tatapan matanya Papa dan Jung kak Garry. Kenapa semua sifatnya percis kayak Papa ketika sedang marah," batin Danish.


Melihat Adam yang mengarah kepadanya, Danish dan gengnya menghadang jalannya Adam. Mereka berdiri tepat di depan Adam. Adam menatap Danish dengan tajam.


"Mau apa lagi kau brengsek? Minggir aku tidak ada waktu untuk melayanimu," ucap Adam lalu pergi meninggalkan Danish, tapi mereka tetap menghalangi Adam.


"Kakak, lihat mereka lagi-lagi mengganggu Adam!" seru Harsha.


Ardi dan yang lainnya berlari menghampiri Adam. Mereka tidak ingin terjadi sesuatu terhadap Adam jika sudah berurusan dengan Danish dan kelompoknya.


Kini mereka sudah bersama Adam. "Danish, apakah pekerjaanmu selain mengganggu adikku, apa tidak ada yang lain, hah?" bentak Ardi.


"Kalian selalu saja mencari masalah dengan kami," ujar Sakha.


"Itulah kegemaran kami. Kami bisa gila kalau sehari saja tidak mencari masalah dengan kalian. Hahaha." Indra berbicara disertai engan tawa khasnya.


"Kau ikut denganku." Danish langsung menarik paksa tangan Adam.


"Yak! Apa-apaan kau. Kau pikir kau itu siapa. Jangan seenaknya memaksaku untuk ikut denganmu. Lepas!" bentak Adam sambil menghentakkan paksa tangannya dari genggaman tangan Danish.


Sekali hentak kuat, tangannya terlepas dari genggaman tangan Danish.


"Sial! Tenaga bocah ini kuat sekali," batin Danish.


"Aku tidak peduli. Mau tidak mau, kau harus ikut denganku. Mengerti!" bentak Danish.


Danish kembali menarik tangan Adam. Dan pada akhirnya Danish berhasil membawa pergi Adam menjauh dari geng Brainer.


"Danish!! Lepaskan adikku, brengsek!" teriak Ardi.


Saat mereka ingin mengejar Danish, geng Bruizer menghalangi mereka. Dan terjadilah perkelahian antara dua geng tersebut.


^^^


Danish masih terus menarik tangan Adam ke sebuah gudang yang tak terpakai di belakang Kampus. Danish tidak menghiraukan teriakan dari Adam.


"Yak! Lepaskan aku, Danish. Kau mau bawa kemana aku, hah? Dasar brengsek!" teriak Adam.


"Diam!" bentak Danish.


Tibalah mereka di sebuah gudang kosong, lalu Danish mendorong kuat tubuh Adam ke dinding gudang tersebut dan mengakibatkan benturan kuat di punggungnya.


"Aaakkkhhh." Adam meringis kesakitan. "Brengsek! Mau apa kau?" lirih Adam yang menahan sakit di punggungnya.


"Kau pikir aku menerima kekalahan begitu saja darimu dan geng sialanmu itu setelah pertarungan kemarin. Bahkan gara-gara kekalahan itu, aku sampai ribut dengan papaku. Itu semua ulahmu dan gengmu!" bentak Danish.


"Hahahaha." Adam tertawa mengejek. "Kau yang selalu mencari-cari masalah dengan kami. Kau dan gengmu selalu main curang saat perkelahian. Tapi kenapa sekarang kau malah menyalahkan kami, hah? Dasar pecundang!" bentak Adam balik.


BUUGGHH!


Danish memukuli wajah Adam. Sedangkan yang dipukul malah memperlihatkan senyuman mengejek.


"Hanya segitu pukulanmu, hah!" sindir Adam.


"Jangan banyak bicara kau Adam," geram Danish.


Danish menatap tajam Adam, lalu tiba-tiba Danish mengeluarkan pisau dari saku celananya.


"Terimalah ini, Adam."


Danish langsung menancapkan pisau itu ke perut Adam.


JLEB!


"Aaakkkhhh." Adam meringis ketika pisau tersebut menusuk perutnya disertai linangan air matanya.


"Anggap saja ini hadiah dariku atas kemenanganmu dan geng sialanmu itu," tutur Danish dengan senyuman sinisnya.


Setelah melakukan hal itu kepada Adam. Danish langsung pergi meninggalkan Adam sendirian di gudang tersebut.


Seketika tubuh Adam merosot ke lantai dengan tangannya memegang perutnya. Pikiran bercampur aduk. Semua kenangan-kenangan indahnya bersama ibunya terlintas di pikirannya.


"Ma-mama." Adam tersenyum saat mengingat kenangan manis itu.


Tapi seketika senyuman itu berubah menjadi tangisan. Adam menangis saat mengingat pertengkaran dirinya dengan ibunya. Saat dirinya mengetahui tentang Ayah kandungnya yang tak menginginkan dirinya. Air matanya terus mengalir tanpa bisa dihentikan. "Mungkin ini akan menjadi tangisanku yang terakhir," batin Adam.