
Saat ingatan-ingatan masa lalunya muncul di pikirannya. Tanpa sadar air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah tampannya. Semua yang terjadi padanya ulah dari wanita yang menyebut dirinya Nenek. Mereka yang melihat Adam yang tiba-tiba menangis menjadi khawatir.
Danish yang memang sedari tadi duduk di sampingnya memeluk tubuh adiknya. Danish tahu dan sangat tahu apa yang menyebabkan adiknya ini menangis.
"Ada apa, hum?" tanya Danish sembari mengusap lembut punggung Adam.
Adam tidak menjawabnya. Tatapan matanya masih fokus melihat sang Nenek. Masih dipeluk oleh Danish. Adam berucap. "Jangan panggil aku dengan sebutan cucu, karena sampai kapan pun aku bukan cucumu. Aku hanya memiliki Kakek. Dia adalah Yodha Akasha Abimanyu. Cucumu itu hanya Ayden Garry Bimantara dan Danelio Danish Bimantara."
DEG!
Mereka semua terkejut mendengar penuturan dari Adam, terutama Amirah. Wanita itu sedih saat mendengar penuturan dari cucunya itu. Sampai detik ini, cucunya masih belum memaafkan kesalahannya. Dirinya sadar akan hal itu.
"Adan. Kau tidak boleh bicara begitu pada Nenek. Bagaimana pun dia adalah Nenekmu. Nenek kita," ucap Danish lembut.
Adam melepaskan paksa pelukan Danish secara kasar dan menatap tajam wajahnya. "Apa dengan aku memaafkan kesalahannya dan mau menerimanya sebagai nenekku. Semuanya akan baik-baik saja?" tanya Adam yang berusaha untuk tidak ribut dengan Danish.
"Tapi setidaknya, bukalah hatimu untuk nenek. Dulu kakak juga membenci nenek. Tapi berlahan kakak akhirnya mau memaafkan kesalahan nenek," kata Danish.
"Aku dan dirimu beda kak," jawab Adam tanpa melihat wajah Danish.
"Beda dimananya?" tanya Danish.
"Hidupmu bahagia selama ini. Sedangkan hidupku menderita. Apa kau tahu kak? Saat aku masih duduk di bangku SD. Teman-temanku selalu mengejekku. Mereka mengatakan aku ini anak yang tidak memiliki Papa. Aku tidak diinginkan oleh Papa. Hinaan demi hinaan aku terima sampai aku duduk di bangku SMP. Aku selalu menangis setiap melihat teman-temanku yang memiliki orang tua lengkap. Mereka selalu datang disaat acara-acara di sekolah. Lalu aku? Hanya Mama yang selalu menemaniku, hanya Mama yang selalu ada untukku, hanya Mama yang selalu menghapus air mataku. Sedangkan Papa. Aku tidak tahu ada dimana dia saat itu. Aku dan Mama sering bertengkar. Dan yang menjadi topik pertengkaran itu adalah Papa. Setiap aku menanyakan tentang Papa, jawaban yang aku dapatkan adalah kalau Papa sudah meninggal. Dan kalau memang Papa sudah meninggal, kenapa Mama tidak memberitahu atau mengajakku berziarah kemakam Papa." Adam berucap dengan nada amarahnya disertai air matanya yang masih mengalir.
"Karena aku sangat menyayangi Mama. Aku sangat menghormati Mama. Hanya Mama yang aku miliki saat itu. Aku tidak mau bertengkar lagi dengan Mama. Lalu aku membuat sebuah keputusan. Aku akan sekolah di Amerika setelah lulus dari SMP. Bahkan aku juga akan kuliah disana. Mendengar keputusanku, Mama menolak mentah-mentah. Begitu anggota keluarga yang lainnya. Mereka tidak ingin aku pergi."
"Aku tetap dengan keputusanku. Walau Mama sempat mengancamku untuk tidak membiayai kebutuhanku selama di Amerika. Tapi aku tidak takut dengan ancaman itu. Aku tetap pergi. Di dalam hatiku, Mama tidak akan mungkin tega melakukan itu padaku. Dan ternyata benar. Mama tidak melakukan hal itu padaku, malah sebaliknya. Mama selalu menghubungiku dan menanyakan keadaanku disana. Mama selalu menuruti semua keinginanku."
"Saat aku mengetahui bahwa aku memiliki Papa dan dua orang kakak. Aku benar-benar bahagia. Doaku selama ini didengar oleh Tuhan. Keluargaku kembali utuh. Tapi... Hiks... Hiks... hiks." Akhirnya tangis Adam pecah. Adam tidak bisa lagi menahan tangisannya.
"Lagi-lagi kebahagiaanku dirampas. Dan pelakunya adalah istri kedua Papa yang tak lain adalah ibu tirimu. Perempuan itu berusaha membuat Mama menjauh dari Papa melalui diriku. Dengan menyekapku di gudang, perempuan itu bisa sepuasnya mengancam Mama. Tapi aku tahu akal bulusnya. Sekalipun Mama memilih menjauh dari Papa demi menyelamatkan aku. Tapi perempuan itu tetap akan membunuhku. Makanya aku mengatakan pada Mama untuk tidak meninggalkan Papa. Saat aku disekap di gudang itu. Yang aku dapatkan adalah penyiksaan. Pukulan bahkan tendangan yang aku terima. Mereka juga tidak segan-segan menusukkan pisau ke perutku. Tapi Tuhan masih sayang padaku. Perempuan itu mengerahkan semua anak buahnya untuk keluar dan hanya menyisakan satu orang saja di dalam. Dan aku juga tahu di dalam gudang itu sudah dipasang Bom. Melihat hanya ada satu orang yang berjaga, aku menggunakan kesempatan itu dengan baik."
"Apa yang kau lakukan pada laki-laki itu, cucuku?" tanya Yodha.
Adam melihat kearah Kakeknya. Lalu tersenyum. "Aku hanya menawarkan sesuatu padanya!"
"Apa itu, sayang?" kini Bagas yang bertanya.
FLASHBACK ON
Di dalam gudang tersebut hanya ada Adam dan satu penjaga. Adam menatap kearah laki-laki tersebut.
"Hei, kau!"
Laki-laki yang dipanggil tersebut pun menoleh. "Ada apa?"
"Apa kau mau uang, rumah dan sebuah mobil mewah? Kalau kau mau itu semua, aku bisa memberikannya untukmu," kata Adam.
Mendengar tawaran yang menggiurkan dari Adam membuat laki-laki itu tersenyum. Lalu detik kemudian, laki-laki itu tertawa.
"Hahahaha. Kau jangan membual bocah. Mana mungkin kau akan memberikan semua itu padaku. Kau pikir kau itu siapa?"
"Kau jangan meremehkanku. Kau tidak tahu siapa aku."
"Memangnya kau siapa, hah?!"
"Aku cucu dari seorang pengusaha milioner yang bernama Yodha Akasha Abimanyu. Kau kenal dengan nama itukan? Dan aku juga memiliki orang tua yang juga kaya dan memiliki beberapa Perusahaan, baik di Jakarta maupun di luar negeri. Aku akan mengatakan pada mereka untuk membuatmu menjadi orang kaya dalam satu hari."
Laki-laki itu berpikir sejenak. Bahkan laki-laki itu mengingat tentang perkataan Bos nya mengenai bocah yang ada di hadapannya itu.
"Apa benar kau cucu pengusaha itu dan putra orang kaya?"
"Menurutmu bagaimana?" tanya Adam balik. "Kalau aku jadi dirimu. Aku akan langsung menerima tawaran tersebut tanpa pikir panjang lagi."
"Kau pasti menginginkan sesuatukan?"
Adam tersenyum. "Waaww! Kau hebat sekali. Aku belum mengutarakan keinginanku. Nah, kau malah langsung mengatakan hal itu," puji Adam. "Kau benar. Aku memang menginginkan sesuatu darimu. Lepaskan aku. Dan biarkan aku pergi dari sini. Setelah aku keluar dari sini. Besoknya kau akan mendapatkan apa yang aku janjikan barusan. Kau akan menjadi orang kaya. Kau bisa pegang kata-kataku. Atau kalau perlu kau sendiri yang mengantarkanku pulang ke rumah keluargaku. Biar kau percaya. Bagaimana?"
Tanpa pikir panjang lagi, laki-laki itu mendekati Adam. Dan melepaskan semua ikatan di tubuh Adam. Laki-laki itu memapah tubuh Adam untuk keluar dari gudang tersebut. Diam-diam Adam melirik jam yang melingkar di tangannya.
"Lima menit lagi," batin Adam.
Saat laki-laki itu dan Adam sudah berada di depan pintu. Adam melepaskan pegangan laki-laki itu di bahunya. "Tunggu sebentar. Perutku sakit."
Adam memegang perutnya. Dan laki-laki itu sama sekali tidak curiga. Adam memang kesakitan. Dalam kesakitan itu Adam sudah mendapatkan ide cemerlang.
Adam melirik kearah laki-laki itu. Dan dapat dilihat olehnya, laki-laki itu sedikit lengah dengan melihat kearah lain. Adam tersenyum bak malaikat maut. Adam mengerahkan semua tenaganya.
Lalu detik kemudian...
Adam menendang kuat tepat di perut laki-laki itu sehingga laki-laki itu tersungkur di lantai gudang tersebut dengan memuntahkan darah dari mulutnya. Lalu detik kemudian tak sadarkan diri. Adam tidak peduli.
Adam dengan sekuat tenaganya berlari keluar. Karena sebentar lagi gudang tersebut akan meledak.
"Ach, sial." Adam mengumpat.
DUUAARRR!
Gudang itu pun meledak. Suara ledakan tersebut sangat besar. Tubuh Adam terpental jauh dan tak sadarkan diri.
FLASHBACK OFF
Mendengar cerita dari Adam, mereka semua tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala. Tapi mereka salut dan bangga akan ide cemerlangnya itu. Baik Yodha, Utari dan Evan bahkan anggota keluarga lainnya tidak keberatan melakukan semua itu asal kesayangan mereka dibebaskan.
"Kau benar-benar sadis dan kejam kelinci nakal," ucap Ardi.
"Itu bukan sadis atau pun kejam, kak Ardi! Aku melakukan itu hanya ingin menyelamatkan diriku. Peduli setan dengan laki-laki brengsek itu. Lagian laki-laki itu juga ikut serta dalam menyiksaku," jawab Adam.
Lagi-lagi anggota keluarganya tersenyum gemas dan geleng-geleng kepala akan jawabannya. Jujur dalam hati mereka, mereka membenarkan ucapannya itu. Kalau mereka ada diposisi Adam. Mereka juga akan melakukan hal yang sama seperti Adam.
Adam kembali menatap wajah Danish. "Sekarang kakak sudah tahukan bagaimana menderitanya aku selama ini? Jadi aku minta padamu. Jangan pernah memintaku untuk memaafkan kesalahannya dan memintaku untuk menerimanya dalam kehidupanku. Kalau kau tetap memaksaku. Maka kau akan kehilanganku untuk yang kedua kalinya. Bahkan ini yang ketiga." Adam berucap penuh ancaman.
Adam menatap satu persatu anggota keluarganya. "Berlaku juga untuk kalian semua. Kalian juga pernah merasakan kehilanganku bukan? Jika kalian tidak ingin kehilanganku lagi. Maka jangan ada yang memaksaku untuk menerima wanita itu."
Setelah mengatakan hal itu, Adam langsung berdiri dan pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kamarnya di lantai dua.
Mereka yang melihat kepergiannya hanya bisa diam dan pasrah. Mereka juga tidak bisa berbuat apa-apa untuk saat ini. Kalau mereka sampai salah langkah, bisa-bisa mereka akan kehilangan permata mereka untuk kedua kalinya.
Amirah sudah menangis mendengar semua yang dikatakan oleh cucunya itu. Disini dialah yang bersalah. Dialah yang sudah memberikan luka yang teramat dalam untuk cucunya itu.
Evan yang melihat ibunya yang menangis menjadi tidak tega. Lalu detik kemudian, Evan memeluk ibunya itu.
"Maafkan atas ucapan putra bungsuku, Bu! Putraku itu tidak bermaksud bicara seperti itu."
Amirah melepaskan pelukannya dari putranya itu. "Ibu mengerti, Nak! Ibu tidak marah atau pun berkecil hati terhadap putra bungsumu itu. Anggap saja ini adalah ujian untuk ibu agar ibu bisa lebih keras lagi untuk mendekatinya dan mengambil hatinya. Ibu yakin, putra bungsumu pasti akan memaafkan ibu dan menerima ibu. Sama halnya dengan Garry dan Danish. Disini ibulah yang bersalah. Jadi ibu mohon padamu. Jangan menyalahkan putra bungsumu, apalagi sampai memarahinya. Kau berpisah dengan putra bungsumu saat masih bayi, itu karena ibu. Kau kehilangan putra bungsumu untuk yang kedua kalinya atas perbuatan Dhira, itu juga karena ibu. Dan jangan sampai kau kehilangan putra bungsumu untuk yang ketiga kalinya hanya demi ibu. Jadi ibu mohon, jagalah putra-putramu, terutama putra bungsumu. Kelak suatu hari merekalah yang akan melindungimu dan menjagamu."
"Baik, Bu! Aku akan menjadi Ayah yang baik untuk ketiga putra-putraku " ucap Evan.
"Maaf, Bu." Utari berucap sembari memeluk ibu mertuanya.
"Ya, Utari! Ada apa, sayang?"
"Sepertinya ibu melupakan sesuatu," ucap Utari.
Amirah berpikir sejenak. Lalu dirinya tersenyum. "Ah, iya! Ibu hampir lupa. Terima kasih, Utari. Kau telah mengingatkan ibu."
Amirah menatap wajah tampan putranya itu. Dan tangannya menggenggam tangannya kuat.
"Van."
"Ada apa, Bu?"
"Ada sesuatu yang ingin ibu sampaikan padamu."
"Apa itu, Bu?"
"Ini.. ini mengenai adik laki-lakimu."
"Adik laki-lakiku? Maksud ibu?" Evan masih belum mengerti atas ucapan ibunya.
"Adikmu masih hidup, Van! Yang meninggal itu bukan adikmu. Dulu saat ibu melahirkan adikmu. Adikmu ditukar dengan bayi orang lain yang saat itu juga berada di rumah sakit yang sama. Bayi orang itu meninggal. Sedangkan adikmu lahir dengan selamat dan sehat. Lalu dokter itu menukar adikmu dengan bayi yang meninggal itu."
"Apa?"
Evan terkejut saat mendengar ucapan dari sang ibu. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Ibu tahu dari mana?" tanya Evan.
"Dokter itu datang menemui ibu. Dan memperlihatkan sebuah video. Video itu berisi saat dua bayi itu ditukar."
"Apa dokter itu mengatakan pada ibu nama keluarga yang sudah membawa pergi putra bungsu ibu?" tanya Utari.
"Ya, Utari! Dokter itu mengakui semuanya. Nama keluarga yang membawa putra bungsu ibu itu adalah..." ucapan Amirah terhenti.
"Siapa, Nek?" tanya Garry dan Danish bersamaan.
"KELUARGA ADIYAKSA!"