
Kini Vigo dan Melky berdiri tak jauh dari Ruang Latihan Taekwondo. Setelah selesai berurusan dengan kelompok LION dan berakhir di ruang Dosen. Kini Vigo seperti orang gila mencari keberadaan adiknya, Allan. Bahkan Melky sahabat baru adiknya sudah menjadi korban bully nya. Lebih tepatnya korban beribu pertanyaan.
"Aish! Kau dimana sih, Allan?" kesal Vigo.
"Melky. Benar kau tidak tahu dimana, Allan?"
"Benaran kak Vigo. Bahkan barusan aku menghubunginya, dianya malah menggodaku," jawab menggodaku.
"Aarrgghh!" teriak Vigo frustasi. "Kau selalu saja membuat kakak khawatir, Allan!" Vigo benar-benar kelabakan saat ini.
"Kau kenapa, Go?" tanya Crisan yang datang bersama Alon, Tian dan Danest.
"Aku mikirin adikku," jawab Vigo.
"Allan?" tanya Alon.
"Memangnya adikku ada berapa?" tanya Vigo balik.
"Ya, mana kutahu. Siapa tahu kau memiliki lebih dari satu adik?" goda Alon.
"Kau sudah menghubungi adikmu?" tanya Danest.
"Ponselku mati," jawab Vigo.
"Tapi aku sudah menghubungi, Allan! Tapi dia malah menggodaku," sela Melky.
"Menggoda bagaimana?" tanya Alon bingung.
"Aku bertanya padanya, dia ada dimana? Lalu Allan menjawabnya, aku ada dihatimu. Lalu panggilanku dimatikan begitu saja olehnya." Melky menceritakan ketika menghubungi Allan.
"Hahahahaha." Crisan, Alon, Tian dan Danest pun tertawa.
"Apa yang dikatakan oleh adikmu itu ada benarnya juga. Kan Allan memang ada di hati kalian berdua!" seru Tian.
"Terutama lo kancil," ejek Danest yang melihat wajah Vigo yang kusut kehilangan mainannya.
"Sialan lo, Nest!" Vigo makin kesal akan ulah teman-temannya.
"Sudah-sudah. Lebih baik kita cari Allan. Siapa tahu Allan berada di salah satu ruangan yang ada di kampus ini?" Crisan memberikan usul.
"Ini pakai ponselku. Hubungi adikmu lagi. Aku tidak mau kalau kau sampai mati disini. Aku tidak sanggup menggendong tubuhmu itu." Tian memberikan ponselnya kepada Vigo sembari menggoda Vigo.
"Apa lagi aku," Ucap Alon menambahkan.
^^^
Allan masih berada di ruang latihan Taekwondo bersama Danish, Ardi, Harsha dan teman-temannya yang lainnya.
"Aku sudah terlalu lama disini. Lebih baik aku pergi ke kelas saja. Ditambah lagi sikurus itu pasti sudah seperti orang gila mencariku. Aku tidak mau membuatnya benar-benar gila." Allan berbicara sambil mengumpat untuk kakaknya.
"Sikurus?" mereka mengulangi ucapan Allan bersamaan.
"Kakak Vigo," jawab Allan.
"Hahahahaha." mereka semua tertawa.
Lalu beberapa detik kemudian terdengar bunyi ponsel milik Allan.
Allan yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Kening Allan mengernyitkan saat melihat nomor tak dikenal di layar ponselnya itu.
"Nomor siapa ini?" Allan menatap layar ponselnya lama.
"Udah, angkat aja! Jangan kelamaan mikir," sela Harsha.
Allan pun menjawab panggilan tersebut dengan suara tak bersahabat.
"Hallo, makhluk jadi-jadian. Makhluk tak kasat mata. Makhluk pengganggu." Allan menjawab seenaknya.
Danish, Ardi, Harsha dan teman-temannya terkejut mendengar ucapan Allan hanya bisa geleng-geleng kepala melihatnya sembari tersenyum.
"Yak! Allan Liam Adiyaksa. Beraninya kau mengatai kakakmu ini sebagai makhluk jadi-jadian, makhluk tak kasat mata dan makhluk pengganggu!" teriak Vigo kesal.
Allan membelalakkan matanya, mulutnya terbuka lebar berbentuk bulat ketika mendengar suara teriakan dari orang yang dikenalnya.
"Hehehe. Kakak Vigo." Allan membalasnya dengan kekehan.
"Sudah berani mengatai kakak di belakang ya, hum? Jadi gitu sekarang?"
"Yah. Kenapa juga kakak yang marah? Lagian kakak juga yang salah. Kenapa menghubungiku pake nomor yang tidak aku kenal? Memangnya ponsel kakak kemana? Kehabisan pulsa? Nggak punya uang untuk beli pulsa sampai minjem ponsel orang lain? Iih, malu-maluin hidup lo kak!"
Lagi-lagi Danish, Ardi, Harsha dan yang lainnya geleng-geleng kepala mendengar penuturan Allan.
"Yak! Bocah sialan. Awas, ya! Kalau sampai kakak berhasil menemukanmu. Kakak akan kasih hukuman."
"Kalau begitu kakak cari saja aku sampai tahun depan. Aku nggak bakal kasih tahu kakak aku ada dimana?"
Hening. Tidak ada suara di seberang telepon. Lima menit kemudian.
"Oke, oke! Kakak tarik lagi kata-kata kakak barusan. Kakak kan cuma bercanda doang. Mana tega kakak akan menghukummu. Kau kan adik kesayangannya kakak."
"Alah. Palingan itu siasat doang buat ngibulin aku. Ya kan?"
"Hah!" terdengar helaan nafas dan juga beberapa suara orang di seberang telepon.
"Tidak! Tidak! Kakak serius. Kakak nggak bohong. Benaran!"
"Benar?"
"Iya. Benaran!"
"Kalau kakak bohong. Bagaimana?"
"Kau yang hukum kakak."
"Apa? Sa-satu bulan tidak mau bicara dengan kakak. Dan tidak boleh berdekatan denganmu? Kau se-serius Allan?"
"Dua rius! Bagaimana?"
"Baiklah-baiklah! Sekarang kau dimana?"
"Di ruang latihan Taekwondo."
"Apa? Kau berada di ruang latihan Taekwondo? Allan, apa kau sedang mengerjai kakak?"
"Maksud kakak apa, sih?"
"Allan. Kau tahu tidak? Dari tadi kakak berdiri tak jauh dari ruang latihan Taekwondo tempat kini kau berada."
"Berarti kau yang terlalu bodoh, kak! Otakmu tidak jalan dengan baik. Aish! Kenapa aku bisa memiliki kakak bodoh sepertimu?"
Baik Vigo maupun Danish dan yang lainnya membelalakkan matanya mendengar penuturan dari Allan.
"Dasar adik laknat," batin mereka.
"Yak, Allan Liam Adiyaksa!" teriak Vigo.
Mendengar teriakan dari kakaknya. Allan langsung mematikan panggilan secara sepihak.
"Berisik," Allan tersenyum puas.
"Apa kepalamu masih sakit?" tanya Danish.
"Sudah tidak. Tapi perutku masih sedikit nyeri," ujar Allan.
"Istirahatlah dulu disini. Kami akan menemanimu." Sakha berbicara sambil tersenyum tulus.
"Ach, tidak! Aku tidak mau membuat singaku makin mengamuk," sahut Allan.
"Singa?" tanya mereka bersamaan.
"Kakak Vigo," ucap Allan.
Mereka hanya tersenyum gemas melihat wajah tampan Allan disaat sedang kesal.
"Kelakuanmu mirip adik kami," batin mereka.
Pintu di buka oleh seseorang. Setelah pintu terbuka. Dan masuklah empat orang pemuda ke dalam ruangan tersebut.
"Allan," panggil Vigo.
"Kakak," ucap Allan.
"Kau kenapa? Apa kepalamu sakit lagi, hum?" tanya Vigo yang mengerti akan kondisi adiknya.
"Kepalaku memang sempat kambuh tadi. Dan mereka semua menolongku." Allan menjawab pertanyaan dari Vigo sembari menatap satu persatu geng Bruizer dan geng Brainer.
Vigo memperhatikan satu persatu wajah-wajah orang yang ada di ruangan tersebut.
"Terima kasih."
"Lebih baik kau tidak usah ke kelas hari ini. Kakak akan antar pulang."
"Tapi kak..."
"Kakak tidak menerima penolakan, Allan Liam Adiyaksa!"
"Selalu seperti ini. Perintahnya harus dipatuhi." Allan mengedumel dengan bibir yang mengerucut.
"Jangan perlihatkan bibir manyunmu seperti itu. Dengan kau seperti itu, kakak akan luluh. Jawabannya tidak!" Vigo menjahili adiknya sembari membantu adiknya berdiri.
Mendengar perkataan kakaknya sukses membuat Allan mengatup bibirnya. Sedangkan yang lainnya tersenyum gemas melihat kelakuan Allan, apalagi wajahnya.
Saat Allan berdiri, rasa nyeri di perutnya terasa lagi. "Aaakkkhhh!" ringis Allan dan tangannya memegang perutnya.
"Allan, kau kenapa?" Vigo panik melihat adiknya kesakitan. Tak jauh beda dengan Danish, Ardi, Harsha dan teman-temannya. Mereka juga khawatir terhadap Allan.
"Ach. Aku tidak apa-apa, kak! Hanya saja perutku sedikit sakit."
Vigo memapah adiknya dan dibantu oleh Tian. Saat mereka tiba di depan pintu, terdengar suara Cakra memanggil.
"Vigo. Bisa bicara sebentar!" seru Cakra.
Vigo melihat ke belakang, lalu melirik tiga sahabatnya. "Kami akan membawa Allan ke parkiran. Kami akan menunggumu di sana." Tian bersuara.
Vigo mengangguk. Setelah mengatakan hal itu, Tian, Danest, Alon dan Crisan membawa Allan pergi meninggalkan ruang latihan taekwondo.
"Kenapa kalian melihatku seperti itu?" tanya Vigo saat melihat Cakra, Danish, Harsha, Ardi dan juga teman-temannya melihat kearahnya.
"Siapa Allan?" tanya Cakra langsung dan blak-blakan.
"Apa maksud dari pertanyaanmu itu? Sudah jelas Allan itu adikku dan kenapa kau masih bertanya?"
"Yakin Allan itu adikmu?" tanya Sunggyu.
"Iya, Iyalah! Allan itu adikku. Memangnya kenapa?" ucap dan tanya Vigo.
"Adik ketemu gede. Iya kan?" Cakra menatap manik Vigo.
"Apa maksudmu, hah?!" bentak Vigo.
Cakra tersenyum sinis kearah Vigo. "Hei, Vigo! Kau pikir aku bodoh dengan mempercayaimu begitu saja. Dan kau pikir aku percaya Allan itu adikmu. Setahuku, kau tidak punya adik lagi setelah adikmu meninggal. Kau hanya memiliki seorang kakak. Kakakmu bernama Nicolaas Liam Adiyaksa. Kalian hanya berdua bersaudara sampai detik ini!"
DEG!