THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Kekhawatiran Dan Kerinduan Keluarga Adiyaksa



Danish memeluk Adam dari belakang dengan sangat kuat sehingga Adam tidak bisa bergerak sama sekali.


"Kena kau. Hahahahaha."


"Yak! Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku." Adan memberontak. Namun usahanya sia-sia.


"Eeemm! Ternyata ingatanmu sudah pulih ya." Danish berbicara sambil menggoda adiknya.


Anggota keluarga yang melihatnya tersenyum gemas akan tingkah keduanya.


"Apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura tidak mengerti, Adam. Barusan kau bilang kalau kau itu putra dari Utari Abimanyu dan cucu kesayangannya Yodha Akasha Abimanyu."


"Memang iya aku mengatakan hal itu. Lalu apa urusannya denganmu? Memang benarkan kalau aku ini putra dari Utari Abimanyu dan cucu kesayangannya Yodha Akasha Abimanyu. Kenapa? Apa kau iri?" ucap dan tanya Adam.


Anggota keluarganya yang mendengar ucapan Adam berusaha untuk tidak tertawa. Mereka mati-matian menahan tawanya.


"Lagian kalau aku memiliki kakak. Palingan kakakku itu baik, penyayang, tidak egois, tidak gampang emosi, penyabar dan juga tampan. Sedangkan kau. Aish! Tidak cocok jadi kakakku. Semua kriteria yang aku sebutkan barusan tidak ada satupun yang melekat dalam dirimu," sahut Adam.


Lagi-lagi anggota keluarganya hanya bisa tersenyum dan geleng-geleng kepala mendengar ucapan Adam.


Lalu Adam menginjak kuat kaki Danish. Dan hal itu membuat Danish berteriak kesakitan.


"AAAKKKHHH!"


Seketika pelukan Danish terlepas. Adam pun langsung menjauhkan dirinya dari Danish.


"GAME OVER." Adam tersenyum kemenangan.


Evan mendekati Adam. Tangannya terangkat untuk membelai rambut Adam.


"Sayang."


"Pa-papa," ucap Adam.


Evan tersenyum bahagia mendengar apa yang diucapkan oleh Adam, putra bungsunya itu.


"Kau sudah ingat dengan Papa sayang?"


"Su..." ucapan Adam terhenti.


"Adam!" teriak Danish.


Adam melihat kearah Danish. "Apa? Mau diinjak lagi yang sebelahnya, hah?!"


"Dasar adik laknat," Danish menghampiri Adam bermaksud ingin membalasnya.


Namun Evan sang ayah sudah terlebih dahulu mengambil tindakan.


"Aakkkhhh! Papa lepaskan. Ini sakit!" teriak Danish.


Yah! Evan menarik telinga Danish dengan kuat.


"Hahaha." tawa Adam pun pecah. "Tarik saja terus, Pa! Tarik sampai putus. Jangan kasih longgar. Apa perlu aku bantu yang sebelahnya?" ujar Adam.


Mereka yang mendengar penuturan Adam juga ikut tertawa. Yang pada akhirnya tawa mereka pun pecah.


"Hahahahahaha."


***


Saat ini Levi dan istrinya Celina beserta kedua putranya Nicolaas dan Vigo tengah berada di ruang tengah. Mereka saat ini benar-benar sangat mengkhawatirkan Allan. Ditambah lagi mereka semua tidak tahu dimana Allan saat ini. Berulang kali mereka menghubungi Allan, tetep ponsel yang dihubungi tidak aktif.


Levi dan istrinya Celina serta putra sulungnya Nicolaas sudah mengetahui masalah yang menimpa Allan. Mereka juga sudah mengetahui dari Vigo bahwa Allan mendengar semua apa yang mereka bicarakan.


Saat ini mereka benar-benar merasa bersalah telah membohongi Allan. Mereka semua bingung kata-kata apa yang akan mereka sampaikan saat Allan kembali pulang ke rumah. Mereka juga takut kalau Allan akan membenci mereka semua, terutama Vigo.


"Maafkan aku, Pa! Ini semua salahku. Seandainya saja saat itu aku tidak terlalu cemburu atau tidak terlalu takut Allan dekat-dekat dengan mereka. Mungkin hal ini tidak akan terjadi," ucap Vigo.


Celina yang mendengar ucapan putranya itu menjadi tidak tega. Lalu dirinya mendekati putranya itu dan duduk di sampingnya. Celina langsung memeluk tubuh putranya.


"Tidak sayang. Kau tidak salah, Nak! Kau melakukan hal itu hanya semata-mata takut akan kehilangan Allan. Mama tahu dan sangat tahu kalau kau sangat menyayangi Allan," hibur Celina.


"Tapi aku takut kalau Allan akan membenciku, Ma!"


"Tidak akan. Mama yakin Allan tidak akan membencimu atau pun kita."


Nicolaas yang mendengar untaian ketakutan dari adiknya itu menjadi tidak tega. Dirinya paham akan keadaan saat ini.


"Apa yang dikatakan Mamamu benar, sayang? Allan tidak akan membenci kita. Kita akan menjelaskan semuanya Allan, kenapa kita merahasiakan semua ini padanya?" kata Levi.


"Maafkan aku, Pa!"


Levi mengambil alih tubuh Vigo dari istrinya. Lalu kemudian memeluknya. "Kau tidak salah. Seperti yang dikatakan Mamamu, kau hanya takut kehilangan Allan. Kau tidak ingin Allan kembali kepada keluarganya. Tapi Papa Minta padamu. Jika Allan tidak membenci kita. Dan Allan ingin kembali pada keluarganya, Papa mohon jangan pernah melarangnya. Allan memilih jalannya sendiri."


"Baik, Pa!" Vigo menjawabnya. Walau dalam hatinya berat untuk melepaskan Allan.


Nicolaas mencoba untuk menghubungi Allan. Dan kali ini usahanya berhasil. Panggilannya tersambung.


***


Saat ini mereka semua tengah berkumpul di ruang tengah. Akhirnya keluarga mereka lengkap. Adam duduk di samping ibunya dan memeluk tubuh ibunya. Mereka yang melihatnya tersenyum bahagia. Terutama Danish. Dirinya benar-benar bahagia adiknya telah kembali.


Lalu tiba-tiba mereka dikejutkan dengan bunyi ponsel. Dan ponsel itu adalah milik Adam. Adam melepaskan pelukannya dari sang ibu. Lalu mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.


Saat ponsel itu sudah berada di tangannya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya tersebut. Tiba-tiba raut wajahnya berubah sedih.


"Kakak Nicolaas," batin Adam.


Semua anggota keluarganya memperhatikannya. Tidak ada yang berani bersuara. Takut akan menyinggung kelinci nakal kesayangan mereka. Dan detik kemudian, Adam pun menjawab panggilan tersebut.


"Hallo, kakak Nicolaas."


"Ach, syukurlah. Akhirnya kau menjawab panggilan kakak, Allan! Kau dimana sekarang? Kenapa tidak pulang? Kakak, Papa, Mama dan kakak cerewet kamu ini sangat mengkhawatirkan kamu."


"Allan. Ini Papa sayang. Pulanglah, Nak! Papa, Mama dan kedua kakakmu berjanji akan menjelaskan semuanya padamu. Kenapa selama ini kami merahasiakan semua ini darimu? Pulanglah sayang. Kami semua menyayangimu. Sungguh!"


"Allan. Pulanglah, sayang. Mama menyayangimu."


Tanpa diminta air matanya pun mengalir membasahi wajah tampannya. Dan hal itu sukses membuat anggota keluarganya khawatir.


"Papa, Mama, kak Nicolaas, kak Vigo!" batin Allan.


PIP!


Tubuh Adam bergetar. Adam menangis dalam diam. Adan menahan tangisan dan isakannya agar tak terdengar oleh anggota keluarganya.


Utari seketika menarik tubuh putra bungsunya itu ke dalam pelukannya. "Menangislah sayang. Menangislah."


"Hiks... Hiks... Hiks." akhirnya tangis Adam pecah. Mereka yang mendengar isakkannya terasa sesak di dada mereka masing-masing.


"Ada apa, hum? Apa Mama boleh tahu?" tanya Utari lembut.


Adam melepaskan pelukannya dari ibunya dan menatap wajah cantik sang ibu. "Ma! Aku ingin pulang ke rumah keluarga Adiyaksa. Sudah satu minggu ini aku tidak pulang kesana. Saat ini mereka semua sangat mengkhawatirkan aku. Mereka berulang kali menghubungiku, tapi tidak bisa. Karena aku mematikan ponselku. Bagaimana pun mereka telah baik padaku? Mereka menjagaku dan menyayangiku selama ini. Alangkah jahatnya bila aku pergi meninggalkan mereka tanpa kabar dariku."


"Mama mengerti, sayang. Bagaimana pun Mama juga seorang Ibu? Mama sangat paham apa yang dirasakan oleh Mama angkatmu itu. Pasti Mama angkatmu itu sangat-sangat mengkhawatirkanmu," ucap Utari, lalu mengecup kening putra bungsunya itu


GREP!


Adam memeluk ibunya. "Terima kasih, Ma! Aku menyayangi Mama. Selamanya. Mama adalah Mama nomor satu di hatiku. Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Mama dalam hidupku," ucap Adam.


Utari tersenyum bahagia dan bangga akan ucapan dari putra bungsunya itu.


Detik kemudian...


Utari memberikan kecupan-kecupan sayangnya di seleruh wajah tampan putranya itu. Mulai dari kening, kedua pipi gembilnya, hidung dan dagu.


"Aish! Mama, hentikan," protes Adam.


Dan hal itu sukses membuat anggota keluarganya tersenyum gemas melihat aksi keduanya. "Kalau Mama mengecupku seperti ini terus. Nanti ada yang iri lagi. Bisa-bisa akan ada perkelahian ronde kedua di rumah ini." Adam berbicara sembari menyindir Danish.


"Gak usah pake nyindir segala kelinci gembul, tengil!" sahut Danish kesal.


Adam hanya tersenyum mendengar ucapan kakaknya itu. Lalu Adan kembali menatap wajah cantik ibunya. "Ya, sudah! Kalau begitu aku pamit ya, Ma!"


Adam mengecup kedua pipi ibunya. Setelah itu Adam beranjak pergi meninggalkan anggota keluarganya.


"Adam sayang, tunggu!" Evan memanggil putra bungsunya.


Adan berhenti. Lalu membalikkan badannya melihat kearah Ayahnya.


"Ada apa, Pa?"


"Kau melupakan sesuatu, sayang." Evan menjawabnya.


"Lupa? Apanya? Perasaan tidak ada yang lupa?" sahut Adam.


Mereka yang melihat wajah Adam yang berusaha untuk mengingat sesuatu tersenyum gemas.


"Bisa-bisanya kamu melupakan Papa. Padahal kamu masih memiliki orang tua lengkap. Tapi kenapa cuma Mama kamu saja yang diberikan kecupan sayang, hum?"


Adam membelalakkan matanya saat mendengar ucapan dari Ayahnya. "Aish. Aku pikir di rumah ini yang bakal iri itu adalah si anak yang keras kepala dan egosi itu."


"Egosi? Egois keleeess," sela Harsha.


"Yeeeyy! Terserah aku dong. Mulut-mulutku. Bukan mulut situ juga. Kenapa situ yang sewot?" jawab Adam.


Harsha melotot saat mendengar penuturan Adam. "Aish. Dasar siluman kelinci sialan."


"Eeemm! Terima kasih pujiannya alien tengil." Adan tanpa sadar menyebut kata alien untuk Harsha. Hal itu sukses membuat Harsha menangis. Menangis bukan karena kata-kata Adam. Tapi menangis karena rindu akan umpatan dari adik kelincinya itu.


"Adam," lirih Harsha.


Adam menghampiri sang Ayah. Lalu memberikan tiga kecupan pada Ayahnya. Kening dan kedua pipinya.


"Sudahkan? Kalau begitu aku pergi dulu. Bye!" Adam pun pergi meninggalkan anggota keluarganya untuk menuju kediaman Keluarga Adiyaksa.