
Adam tidak mempedulikan pertanyaan yang dilontarkan oleh ibu angkatnya dan juga kedua kakaknya. Saat ini yang ada di pikirannya adalah tentang orang yang sudah berani menyakiti ayah dan kakaknya.
"Kau sudah berani menyentuh orang-orang yang aku sayangi. Tunggu saja pembalasanku. Aku bersumpah. Kali ini kau akan benar-benar mati. Begitu juga dengan anggota keluargamu. Kalian semua harus mati ditanganku." Adam berbicara di dalam hatinya.
"Sekarang kau dan yang lainnya ada di mana?"
"Aku sekarang di rumah sakit PLADYS HOSPITAL. Datanglah! Paman Levi masih di ruang operasi. Sementara kak Nicolaas bersamaku menunggu di luar ruang operasi. Dari tadi kak Nicolaas menolak untuk diperiksa. Padahal kak Nicolaas sedang terluka."
"Baiklah. Aku dan yang lainnya akan kesana."
PIP!
Setelah berbicara dengan Zelo. Adam langsung mematikan panggilannya.
Adam mengalihkan pandangannya menatap wajah cantik ibu angkatnya. Lagi-lagi air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.
"Ma," lirih Adam.
Celena tersenyum gemas melihat wajah putra angkatnya ketika sedang menangis. Kemudian Celena menghapus air mata putranya itu.
Sementara Utari yang melihat momen tersebut ikut tersenyum. Dirinya benar-benara bahagia melihat putra bungsunya disayangi, dicintai, dimanja dan diberikan perhatian oleh wanita yang begitu baik seperti Celena.
"Ada apa, hum?" tanya Celena lembut.
"Ma. Aku... aku." Adam benar-benar berat untuk menyampaikan berita yang didapatnya dari Zelo.
"Katakan, sayang."
"Pa-papa... Ka-kakak," lirih Adam.
Mendengar Adam menyebut suami dan putra sulungnya. Celena tak kuasa menahan kesedihannya. Begitu juga dengan Vigo.
"Allan. Katakan pada kakak. Apa terjadi sesuatu pada Papa dan kak Nicolaas?" tanya Vigo yang sudah menangis ketika mendengar Adam menyebut nama Ayah dan kakaknya.
Adam melihat kearah Vigo, lalu tiba-tiba Adam menundukkan kepalanya. Namun detik kemudiaan terdengar isakan yang keluar dari mulutnya.
"Hiks... hiks... hiks."
Celena menyentuh dagu Adam, lalu mengangkatnya ke atas. Adam menatap wajah cantik ibu angkatnya itu dengan berlinang air mata.
"Sekarang katakan pada Mama. Apa yang terjadi? Mama mohon, sayang."
"Papa dan kak Nicolaas berhasil menyelamatkan diri dari penyekapan itu. Namum saat tiba diluar. Mereka diserang oleh beberapa kelompok. Dan terjadi lah perkelahian tak seimbang. Di dalam perkelahian itu, Papa terkena tembakkan dua kali tepat mengenai dada kirinya demi melindung kak Nicolaas. Zelo bilang padaku kalau dia dan kelompoknya datang terlambat."
Celena langsung menggelengkan kepalanya ketika mendengar suaminya mengalami luka tembak. Di tambah lagi luka tembak itu mengenai dada kirinya.
"Celena." Utari mendekat kearah Celena dan langsung memeluknya. Utari berusaha untuk menenangkan Celena.
"Hiks... Utari... suamiku.. hiks." Celena terisak di dalam pelukan Utari.
"Allan. Bagaimana dengan kak Nicolaas?" tanya Vigo.
"Kak Nicolaas mengalami luka di bagian perut, kepala dan lengan. Kata Zelo luka kak Nicolaas tidak terlalu parah."
"Pa-papa, ka-kakak." Vigo menangis ketika mengetahui kondisi orang yang begitu sangat disayanginya.
Danish yang kebetulan berdiri tak jauh dari Vigo langsung memeluk tubuh Vigo.
GREP!
"Kita berdoa semoga Paman Levi dalam keadaan baik-baik saja." Danish berusaha memberikan ketenangan dan kekuatan pada Vigo.
Adam melihat kearah kedua ibunya. Dirinya tersenyum saat melihat kedua ibunya berpelukan.
"Mama," panggil Adam.
Baik Utari maupun Celena melepaskan pelukannya lalu melihat kearah Adam. Keduanya tersenyum hangat kearah Adam.
"Kita ke rumah sakit sekarang! Papa saat ini sedang menjalani operasi. Sementara kak Nicolaas sama sekali tidak ingin diperiksa atau sekedar diobati. Padahal kak Nicolaas juga mengalami luka-luka. Walaupun luka-lukanya kak Nicolaas tidak terlalu parah. Tapi kak Nicolaas harus tetap diperiksa dan diobati. Kak Nicolaas mengalami luka di bagian perut, kepala dan lengan." Adam menjelaskannya pada ibunya tentang kondisi kakaknya itu.
"Nicolaas, sayang." Celena berucap lirih.
"Kak Vigo. Lebih baik kakak dan Mama pergi ke rumah sakit. Papa dan kak Nicolaas ada di rumah sakit PLADYS HOSPITAL. Aku akan menyusul nanti," sahut Adam.
"Baiklah," jawab Vigo.
Adam menatap ibunya. "Mama temani Mama Celena ya."
"Baik, sayang. Tanpa kamu minta pun Mama juga ingin ikut ke rumah sakit." Utari menjawabnya.
"Kita semua juga akan pergi ke rumah sakit!" seru Evan.
Mereka semua menganggukkan kepalanya sebagai jawaban atas perkataan Evan.
Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan kediaman Abimanyu untuk pergi ke rumah sakit.
Kini tinggal Adam bersama kedua sahabatnya yaitu Vino dan Leon.
"Sekarang katakan padaku. Apa yang terjadi pada Vando? Kenapa Vando sampai koma?" tanya Adam dengan menatap lekat wajah kedua sahabatnya itu.
"Mobil yang dikendarai oleh Vando saat hendak pergi ke mini market ditabrak dari arah berlawan. Dari hasil penyelidikan diduga sopir itu dalam keadaan mengantuk berat." Vino menjelaskan kejadian yang menimpa Vando.
"Lalu bagaimana dengan sopir itu?" tanya Adam.
"Sopir itu sekarang sudah dibawa ke kantor polisi untuk diinterogasi." Leon menjawabnya.
"Vando dirawat di rumah sakit PLADYS HOSPITAL." Vino berucap.
"Apa?!" Adam terkejut ketika mendengar perkataan Vino. "Jadi maksud kalian berdua. Kecelakaan yang menimpa Vando di Jakarta. Bukan di Amerika."
Dengan kompaknya Vino dan Leon mengangukkan kepalanya sebagai jawabannya.
"Sudah berapa hari kalian berada di Jakarta?" tanya Adam.
"Enam hari!" jawab Vino dan Leon bersamaan.
"Yak! Kalian sudah enam hari berada di Jakarta. Dan baru sekarang kalian mendatangiku." Adam menatap horor kedua sahabatnya itu.
"Maaf, Dam. Bukan kami sengaja. Tapi kami benaran lupa memberitahumu. Kami saat itu benar-benar khawatir dan juga takut tentang kondisi Vando." Vino berbicara sambil menatap wajah Adam.
"Ditambah lagi aku tidak sengaja menghilangkan alamat rumahmu. Jadi kami kesulitan mencari alamat rumahmu." Leon ikut berbicara.
"Lalu kalian dapat dari mana alamat rumahku sehingga kalian berhasil sampai disini, hah?!" Adam masih kesal akan sikap kedua sahabatnya itu.
"Dari Gino. Saat itu Gino sempat menyalin alamat rumahmu itu dibuku diarynya," jawab Leon.
"Berarti Gino lebih pintar dari pada kalian berdua," sahut Adam.
"Jadi maksudmu kami ini bodoh, begitu?" tanya Vino.
"Tidak perlu aku jawab. Kalian sudah tahu jawabannya," jawab Adam.
Mendengar perkataan Adam membuat Vino dan Leon mendengus kesal.
BUGH!
Leon melempari Adam dengan bantal sofa. Dan lemparannya tepat mengenai wajah Adam. Dan hal itu sukses membuat Adam merengut.
Adam bangkit dari duduknya, lalu melangkah menuju pintu utama. Dan meninggalkan kedua sahabatnya itu.
"Yak, Dam! Kau mau kemana?!" teriak Vino dan Leon bersamaan sambil mengejar Adam.
"Apa kalian masih mau disini? Sekarang antarkan aku untuk menemui Vando!" teriak Adam
"Oke... Oke!" jawab Vino dan Leon.
Setelah itu, mereka pun pergi menuju rumah sakit menggunakan mobil milik Adam karena Vino dan Leon menggunakan taksi ketika datang ke rumah Adam.