
Di kamar Harsha dimana semua kakak-kakaknya termasuk Gala masih setia menemaninya, kecuali Adam. Adam keluar dari kamar Harsha sembari berbicara dengan Zelo di telepon. Dan sampai detik ini Adam belum kembali ke kamar Harsha.
"Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Juan kepada adiknya.
"Sudah nggak apa-apa kak. Memangnya aku kenapa?" tanya Harsha.
"Kamu pingsan di kampus, Sha!" seru Gala.
Mendengar jawaban dari Gala seketika membuat Harsha teringat terakhir dia dan Gala sedang menunggu Adam untuk pulang bersama.
Namun ketika hendak melangkah menuju parkiran, dirinya tiba-tiba merasakan pusing di kepalanya sehingga membuat penglihatannya kabur. Dan berakhir dirinya pingsan.
"Melihat kamu pingsan. Adam tidak henti-hentinya menangis," sahut Reza.
Mendengar perkataan dari kakak keduanya, Harsha langsung melihat kearah kakak keduanya itu.
"A-adam nangis?" tanya Harsha.
"Iya," jawab kompak semua kakak-kakaknya termasuk Gala.
"Ada takut jika terjadi sesuatu sama kamu. Ketakutan Adam sama dengan ketakutan kamu ketika melihat Adam yang tak baik-baik saja." Ardi berucap.
"Terus Adam nya mana? Kenapa tidak ada disini?" tanya Harsha yang tidak melihat keberadaan adik kesayangannya itu.
"Nah, itu dia! Dia kesal sama kita semua dan berakhir pergi meninggalkan kita. Dan sampai sekarang belum kembali!" sahut Rafig.
"Nggak tahu dimana nyangkut tuh anak," sela Danish.
"Kebetulan kamu sudah bangun. Ini minum vitaminnya dulu. Paman Nurman mengatakan agar kau langsung meminum vitaminnya!" seru Reza sembari mengambil botol vitamin.
Ardi yang kebetulan duduk didekat Harsha langsung membantu Harsha untuk bangun.
Setelah Harsha dalam keadaan duduk, Reza memberikan dua butir vitamin dan meletakkan di tangan Harsha.
Garry yang berada di samping Ardi. Lebih tepatnya dekat di meja belajar Harsha mengambil minuman yang ada di atas meja itu lalu memberikan kepada Ardi agar Ardi bisa membantu Harsha meminum vitaminnya.
"Kakak akan ke bawah untuk mengambil makan siang untuk kamu agar kamu bisa minum obat," sahut Juan.
"Dan kakak akan mencari Adam dan mengatakan padanya bahwa kamu sudah sadar," sahut Garry.
Setelah mengatakan itu, Juan dan Garry pun pergi meninggalkan kamar Harsha.
^^^
"Itu makan siang untuk Harsha?" tanya Utari yang kebetulan berada di dapur dan melihat keponakannya sedang mengambil nasi dan beberapa lauk pauk dan menu lainnya.
"Iya, Mama Utari! Ini untuk Harsha. Harsha harus makan siang agar bisa minum obat," jawab Juan.
"Bawa kemari piringnya biar Mama yang ambilkan," ucap Utari sambil mengadahkan tangannya di hadapan Juan.
Melihat sang Bibi mengarahkan tangannya kearahnya, Juan pun memberikan piring tersebut kepada Utari.
Setelah itu, Utari mengambil nasi dan beberapa menu masakan lainnya untuk keponakannya.
"Kamu ambilkan susu yang sudah Mama buatkan di dapur, di atas meja!"
"Baiklah, Ma!"
Juan langsung pergi menuju arah dapur untuk mengambil susu yang dimaksud oleh Utari.
Bersamaan kedatangan Juan. Utari pun selesai menyiapkan makan siang untuk keponakannya lengkap di atas nampan.
"Letakkan susunya disini. Bawalah ke kamar agar Harsha bisa segera makan siang."
"Terima kasih Mama Utari."
"Sama-sama sayang."
Setelah itu, Juan pergi meninggalkan ruang makan untuk menuju kamar adik bungsunya.
Utari melirik sekilas sembari tersenyum jahil kearah putra sulungnya yang sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Kenapa natap Mama seperti itu?"
"Aish!" Garry berucap kesal akan perkataan dari ibunya.
Utari seketika tertawa ketika melihat wajah kesal putranya itu.
"Ada apa, hum?' tanya Utari sembari mengusap lembut pipi putih putranya itu.
"Aku lagi nyari Adam," jawab Garry.
"Adam? Bukannya Adam bersama kamu dan yang lainnya di kamar Harsha?" ucap dan tanya Utari bingung.
"Iya, awalnya Adam memang bersamaku, Danish dan yang lainnya di kamar Harsha. Adam mendapatkan panggilan dari Zelo dan berakhir kita semua tertawa. Hal itu sukses buat Adam kesal. Lalu kemudian..."
"Lalu kemudian adik kamu yang sensitif itu kabur dari kamar Harsha sembari masih berbicara dengan Zelo di telepon. Begitu?"
Utari tersenyum ketika mendengar cerita dari putra sulungnya itu. Kemudian tangannya mengacak-acak rambut putranya itu gemas.
"Apa kamu sudah mencari adik kamu itu di Game Room? Sepertinya Mama melihat adikmu kesana sambil berbicara di telepon," ucap dan tanya Utari.
"Belum. Baiklah, aku akan kesana untuk memastikan kalau anak kelinci itu ada disana," ucap Garry.
Setelah mengatakan itu, Garry pun pergi meninggalkan ibunya di dapur bersama kedua bibinya untuk melangkah menuju Game Room
^^^
Di Game Room terlihat seorang pemuda tampan yang memiliki gigi kelinci sedang tertidur di sofa panjang yang ada di dalam ruang tersebut. Pemuda yang memiliki gigi kelinci itu adalah Dirandra Adamka Bimantara. Putra bungsu kesayangannya Erina Utari Bimantara dan Evan Hara Bimantara.
Selesai berbicara dengan Zelo di telepon. Adam memutuskan untuk bermain game. Sudah lama Adam tidak bermain Game yang ada di kediaman Abimanyu.
Setelah beberapa menit memainkan beberapa permainan Game yang ada di ruangan tersebut, tubuh Adam seketika kelelahan.
Adam kemudian menghempaskan tubuhnya di sofa dengan menyenderkan kepalanya di punggung sofa.
Dan selang beberapa menit Adam membaringkan tubuhnya di sofa. Dan detik kemudian, Adam tertidur.
Cklek..
Pintu Game Room dibuka oleh seseorang. Dan setelah pintu dibuka, orang itu melangkah masuk ke dalam.
Setibanya di dalam Game Room, seketika terukir senyuman manis di bibir orang itu ketika melihat pemandangan indah di hadapannya dimana adik yang sejak tadi tidak kembali lagi ke kamar Harsha tengah tertidur di Game Room.
Berlahan Garry melangkahkan kakinya mendekati adiknya yang saat ini tengah tertidur pulas di sofa.
Garry mengusap lembut kepala adiknya yang sedikit berkeringat, walau di dalam Game Room ruangannya ber AC.
"Kakak dan yang lainnya nungguin kamu kembali lagi ke kamar Harsha. Eh, tahunya kamu disini ketiduran. Pasti kamu habis main," ucap Garry tersenyum dengan tangannya masih bermain-main di kepala adiknya.
Garry tersenyum melihat wajah tampan sekaligus imut adiknya ketika sedang tidur. Menurut Garry wajah adiknya itu makin imut dan menggemaskan layaknya anak kecil berusia 4 tahun.
"Kakak sayang kamu. Kakak akan ada untuk kamu, terutama ketika kamu lagi sedih. Sekali pun nanti kakak sudah punya kekasih atau pun istri. Kakak nggak akan melepaskan tanggung jawab kakak terhadap kamu. Selamanya kamu akan jadi tanggung jawab kakak begitu juga dengan kakak kamu Danish. Kalian berdua adalah tanggung jawab kakak."
"Tetaplah sehat. Dan jangan pernah sakit, karena itu adalah kelemahan kakak. Kamu dan kakak kamu Danish adalah kebahagiaan dan semangat hidup kakak. Jika salah satu dari kalian sakit, bersedih atau bermusuhan. Otomotif kebahagiaan dan semangat kakak akan hilang. Tetaplah kompak sekali pun masalah yang kalian hadapi berat. Kakak sayang kamu dan kakak juga sayang kakak kamu Danish."
Tanpa Garry ketahui, ucapannya itu didengar oleh seseorang yang berdiri di depan pintu Game Room.
Orang itu menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Garry. Dia benar-benar tersentuh dan bahagia ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Garry.
"Aku sayang kalian berdua. Aku akan melakukan apapun untuk membuat kalian berdua bahagia."
Setelah mengatakan itu, orang itu pun pergi meninggalkan Game Room. Dia tidak jadi masuk ke dalam.
***
Di kediaman Gennaro terlihat sepasang suami istri tengah duduk di ruang tengah. Salah satunya tampak bahagia karena wanita yang begitu dia cintai telah kembali lagi padanya.
"Sayang," lirih Yoga ketika memanggil istrinya.
Mendengar suara lirih suaminya membuat Maya merasa bersalah. Dirinya tidak tega melihat suaminya yang saat ini. Maya ingin suaminya yang seperti dulu.
Maya tersenyum tulus menatap wajah suaminya. Setelah itu, Maya berdiri dari duduknya dan melangkah mendekati suaminya itu.
Maya berjongkok di hadapan suaminya sehingga membuat Yoga terkejut.
"Apa yang kau lakukan sayang?" tanya Yoga yang tangannya hendak mengangkat tubuh istrinya untuk berdiri.
"Maafkan aku yang langsung marah-marah padamu. Seharusnya aku mendengarkan dulu penjelasanmu. Dan seharusnya aku lebih mempercayaimu dari pada perempuan itu."
Mendengar ucapan serta permintaan maaf dari istrinya membuat hati Yoga sedih sekaligus bahagia. Sedih karena mendengar ucapan maaf dari istrinya dan bahagia mendengar istrinya menyesal karena tidak mempercayai dirinya.
"Aku tidak marah padamu karena aku juga salah disini. Seharusnya aku cerita dari awal padamu bukan memendamnya," ucap Yoga.
"Dan aku tahu alasan kamu memendam semua itu dariku. Kau memendam semua itu karena tidak ingin menyakitiku, kau tidak ingin kehilanganku dan anak-anak karena kau begitu mencintaiku dan anak-anak. Seharusnya aku sadar itu."
Yoga tersenyum ketika mendengar ucapan demi ucapan dari istrinya. Dirinya membenarkan apa yang dikatakan oleh istrinya barusan. Dia memang takut akan kehilangan istri dan anak-anaknya jika dia menceritakan masalah tersebut, walau dia tidak salah dalam hal ini.
"Jadi kau masih mencintaiku?" tanya Yoga.
"Selamanya aku mencintaimu. Rasa cintaku tidak akan pernah hilang sekali pun aku sudah tidak ada lagi di dunia ini," jawab Maya tulus.
Yoga seketika tersenyum mendengar jawaban tulus dari istrinya.
"Sekarang peluklah suamimu ini jika kau mencintaiku," sahut Yoga menggoda istrinya.
Dan tanpa diminta dua kali oleh suaminya, Maya langsung memeluk tubuh suaminya dengan erat dan dibalas tak kalah erat oleh Yoga.
Tanpa disadari dan diketahui oleh Yoga dan Maya. Putra keduanya yaitu Gino Gennaro melihat dan mendengar semuanya. Gino tersenyum bahagia ketika melihat ayah dan ibu kembali romantis seperti biasanya.
"Aku bahagia melihat kalian kembali lagi seperti ini. Adam, terima kasih!" Gino berucap sembari tersenyum.