
Di dunia ini pasti kita semua akan mengalami yang namanya pahit manis kehidupan, karena kita hidup layaknya sebuah roda yang berputar, kadang di bawah dan kadang berada di atas.
Dan salah satu pahitnya kehidupan adalah kehilangan seseorang yang mungkin sangat berarti bagi kita semua. Misalnya saja kehilangan keluarga yang kita sayangi dan kita cintai.
Kehilangan seseorang yang sangat kita cinta dan sayangi memang sering kali meninggalkan kesedihan yang mendalam, dan akan berdampak langsung terhadap kelangsungan keseharian yang kita jalani.
Misalnya kita akan jauh lebih murung dan tertutup, trauma, bahkan bisa juga membuat kondisi kita menjadi drop atau sakit.
Namun yang perlu kita ketahui bahwa semua bentuk kehilangan adalah takdir dari Yang Maha Kuasa, tidak perlu berlarut dalam kesedihan yang mendalam dan terimalah semuanya dengan ikhlas, dan yakin bahwa semua ini adalah cobaan dari Tuhan semata.
***
ENAM BULAN KEMUDIAN..
Enam bulan kepergian sibungsu, Dirandra Adamka Bimantara. Selama enam bulan itu pula dua keluarga tersebut selalu mengenang dan merindukan sikelinci kesayangan mereka.
Evan dan Garry selalu memandangi wajah sibungsu melalui bingkai foto yang terpanjang di meja kerja maupun di kamar mereka. Sesibuk-sibuknya mereka, hati dan pikiran mereka selalu Adam dan Adam.
Utari sang ibu selalu berusaha tegar di depan anggota keluarganya, walau hatinya bersedih dan terluka atas kehilangan putra bungsu kesayangannya. Dirinya akan menangis disaat berada di dalam kamarnya dengan menatap wajah tampan sang putra melalui bingkai foto saja.
Dan saat ini Utari sedang berada di kamarnya dengan tangannya memegang bingkai foto sang putra bungsu kesayangannya.
"Mama tahu bahwa semua yang ada pasti menjadi tiada pada akhirnya dan kehilangan adalah sesuatu yang pasti dan kali ini adalah giliranmu untuk pergi. Mama tahu itu. Tapi yang membuat Mama tersentak sedemikian hebat adalah kenyataan bahwa kehilanganmu benar-benar dapat memutuskan kebahagiaan dalam diri Mama sekejap saja, lalu rasanya mampu membuat Mama menjadi nelangsa setengah mati, hati Mama seperti tak di tempatnya dan tubuh Mama serasa kosong hilang isi. Kamu tahu sayang, rasanya seperti angin yang tiba-tiba hilang berganti kemarau gersang."
"Pada air mata yang jatuh kali ini, Mama selipkan salam perpisahan panjang, pada kebahagiaan yang telah kau ukir, pada kenangan manis selama kau ada, Mama bukan hendak mengeluh, tapi rasanya terlalu sebentar kau disini. Mama sangat ingin melihatmu tumbuh menjadi pemuda yang sukses, melihatmu saat memperkenalkan kekasihmu, mendengar tangisanmu dan memelukmu. Tapi Sang maha pengatur punya rencana-Nya sendiri."
"Selamat jalan belahan jiwa Mama.
Kau dari-Nya, dan kembali pada-Nya,
kau dulu tiada untuk Mama dan sekarang kembali tiada. Selamat jalan sayang, cahaya mata Mama, penyejuk jiwa Mama, selamat jalan." Setetes air mata membasahi wajah cantiknya.
Di sebuah kamar terlihat seorang pemuda tampan sedang duduk di sofa. Dirinya melakukan hal yang sama seperti Utari, ibunya. Pemuda itu adalah Danish. Danish saat ini sedang memandangi foto adiknya.
"Kakak merindukan suaramu karena itu adalah simfoni, merindukan aromamu karena itu adalah harta karun, senyummu karena itu adalah perhiasan, pelukanmu karena itu adalah karya seni dan teriakanmu karena itu adalah sebuah kebahagiaan."
"Adam. Pernahkah kau tahu apa yang saat ini kakak rasakan? Ada sesuatu yang tak biasa dalam diri ini yaitu kehadiranmu. Basuhi relung jiwa kakak yang lusuh melepuh. Denyutkan kembali irama nadi yang telah biru membeku. Adam! Engkaulah bintang kecil kakak yang gemerlapi gelapnya malam langit hidup kakak. Adam! Tetaplah bermain di taman hati kakak. Semaikan pelangi aneka kuntum bunga, hingga jiwa yang gundah ini merasa tentram. Karena diri ini teramat rapuh tanpa hadirmu." Danish menangis.
***
Di kediaman keluarga Adiyaksa hidup sepasang suami istri dan tiga orang putra tampan. Mereka sedang bersiap-siap untuk aktivitas mereka masing-masing.
Dua kakak adik keluarga Adiyaksa sudah berada di meja makan. Mereka tengah sibuk berebut makanan di meja makan. Tidak ada yang mau mengalah.
"Aish. Kalian ini seperti anak kecil saja. Apa kalian tidak malu dengan umur kalian? Badan saja yang besar. Di meja makan berebutan makanan. Jangan malu-maluin dong kak!" Allan yang tiba-tiba datang dan langsung menduduki bokongnya di kursi disusul oleh kedua orang tua mereka.
Nicolaas Liam Adiyaksa dan Vigo Liam Adiyaksa melongo dan membelalakkan matanya tak percaya atas ucapan Allan Liam Adiyaksa, adik mereka.
Sedangkan kedua orang tua mereka yaitu Liam Levi Adiyaksa dan Celina Esmee atau sekarang berubah menjadi Adiyaksa tersenyum gemas melihat wajah kesal kedua putranya atas perkataan putra bungsu mereka.
Mereka menatap horor kearah adik mereka. Sedangkan yang ditatap tak peduli. Allan sedikit melirik kearah kedua kakaknya. Lalu kembali fokus pada makanannya.
"Aku tahu aku ini tampan, kak! Jadi jangan tatap aku seperti itu," ucap Allan dengan pedenya.
Lagi-lagi kedua kakaknya ini melongo mendengar ucapan Allan. Mereka tak habis pikir punya adik yang seenak jidat kalau bicara.
Untung saja sayang. Kalau tidak entah apa yang akan mereka lakukan pada bocah tengil satu ini. Akhirnya mereka pun memutuskan untuk melanjutkan makan mereka yang tertunda.
"Allan," panggil Levi.
"Ya, Pa." Allan menjawab.
"Sudah siap untuk kuliah hari pertamamu, hum?" yanya Levi.
"Aku selalu siap, Pa! Memangnya aku nanti kuliah di kampus mana, Pa?" tanya Allan.
"Kampus yang sama dengan kakakmu, Vigo." Levi menjawab pertanyaan putra bungsunya.
"Oh. Begitu ya." Allan menjawabnya dengan santai serta mimik wajah yang dibuat-buat lesu dan tak semangat.
"Kenapa? Tidak suka satu kampus dengan kakakmu yang tampan ini, hum?" tanya Vigo dengan pedenya.
"Kau terlalu pede kak. Menurutku wajahmu itu standar dan pas-pasan. Justru aku kasihan padamu kalau aku satu kampus denganmu." Allan menjawabnya dengan kejamnya.
"Kalau kita nanti satu kampus. Pasti mahasiswa dan mahasiswi pada melihat kita. Dan mereka akan gosipin kita. Mereka akan bilang hal-hal buruk untukmu. Seperti ini, hei lihat mereka yang satu tampan dan yang satunya jelek. Dan yang pastinya sitampan itu aku dan sijelek itu kau kak." Allan menjawab dengan wajah sombongnya.
Setelah mengatakan hal menyakitkan itu, Allan pun kabur duluan.
"Yak. Allan Liam Adiyaksa!" teriak Vigo menggema. Sampai-sampai kedua orang tua dan kakaknya menutup telinga mereka.
"Dasar adik durhaka. Adik sialan. Beraninya mengatai-ngatai kakaknya sendiri. Awas kau...!" amuk Vigo.
"Pa, Ma, Kak. Aku pamit," ucap Vigo.
"Jangan berkelahi dengan adikmu, Vigo. Ujung-ujung kau yang akan kalah!" teriak Celina sembari menggoda putra keduanya.
Mereka hanya bisa tertawa melihat kelakuan Vigo dan Allan.
***
Di kediaman Keluarga Abimanyu terlihat anggota keluarga tampak terpuruk akan kehilangan sikelinci nakal mereka. Ocehan dan teriakan yang melengking, keributan yang selalu terjadi setiap pagi, kini telah hilang dan tak terdengar lagi. Karena sipelaku pembuat keributan telah pergi untuk selamanya.
Mereka sangat amat merindukan wajah manisnya, suaranya, tangisannya, kejahilannya, merajuknya, amarahnya. Mereka merindukan semuanya. Merindukan sikelinci kesayangan mereka.
Ardi dan Harsha berada di kamar mereka masing-masing. Sama seperti Danish. Ardi dan Harsha juga sudah enam bulan tidak kuliah. Mereka mengambil cuti selama enam bulan lamanya. Mereka tidak tahu harus bagaimana saat mereka di kampus tanpa sikelinci kesayangan mereka. Kalau waktu bisa diputar ulang. Mereka tidak akan membiarkan adik mereka pergi sendiri saat itu.
Di dalam kamar, Harsha duduk di lantai dan punggungnya bersandar di tempat tidur. Tangannya memegang sebuah bingkai foto. Foto adik kesayangannya Dirandra Adamka Abimanyu.
"Hiks.. Adam. Kau tega sekali pergi meninggalkan kakak begitu saja. Kau pergi tanpa pamit kepada kakak. Apa kau marah, hum?" Monolog Harsha di hadapan foto Adam.
"Kakak merindukanmu, Dam."
Di kamar yang lainArdi juga sedang memandangi wajah tampan adiknya yang ada di atas meja di samping tempat tidurnya. Ardi meraih bingkai foto itu lalu menciumnya.
"Kakak merindukanmu, Dam. Kenapa kau pergi meninggalkan kakak, hum? Apa kau tidak menyayangi kakak lagi?" tanya Ardi pada foto yang di pandanginya.
"Maafkan kakak kalau selama ini selalu membuatmu menangis dan juga kesal," ucap Ardi dan air matanya mengalir membasahi wajah tampannya dan juga membasahi bingkai foto tersebut.
Tidak jauh beda dengan Ardi dan Harsha. Kedua orang tua mereka, kedua kakak-kakak mereka dan kakek mereka saat ini juga sedang merindukan sikelinci nakal mereka.
Kini mereka berada di kamar masing-masing. Mereka sedang memandangi wajah tampan keponakan, adik dan cucu kesayangan mereka melalui bingkai foto yang ada di kamar mereka. Hanya ada isak tangis yang terdengar di Mansion mewah milik keluarga Abimanyu.
Sudah lima bulan kepergian Adam. Selama lima bulan pula mereka semua selalu mengingat momen-momen kebersamaan mereka dengan Adam. Mereka tidak pernah sedikit pun melupakan Adam. Mereka selalu mengingat Adam dan mengirimkan doa untuknya.
***
Vigo dan Allan sudah berada di kampus. Dan benar dugaan Allan. Saat tiba di halaman Kampus, semua mata tertuju pada mereka berdua. Mereka menatap kagum atas mereka berdua. Baik itu para mahasiswa maupun para mahasiswi.
Tapi saat para mahasiswa maupun mahasiswi menatap seorang Allan Liam Adiyaksa, tatapan-tatapan itu sulit diartikan. Dan terdengarlah suara-suara dari para mahasiswa dan mahasiswi tersebut memenuhi setiap koridor kampus.
"Siapa dia?"
"Wajahnya itu."
"Sepertinya tidak asing."
"Wajahnya familiar sekali."
"Lalu pemuda di sampingnya itu, siapa?
Mendengar suara-suara itu membuat Allan sedikit risih. Hal itu disadari oleh Vigo. Vigo menggenggam tangan adiknya.
"Sudah. Jangan dipikirkan. Kita disini untuk kuliah. Biarkan saja mereka mau bicara apa. Mulut-mulut mereka juga. Kalau mereka lelah, nantinya mereka berhenti sendiri." Vigo menghibur adiknya.
"Kalau ternyata mereka tidak berhenti juga dan malah makin menjadi-jadi, bagaimana?" tanya Allan.
"Ya, tinggal disodok saja mulut mereka biar mereka diam." Vigo menjawabnya dengan asal.
"Asih. Kau pikir mereka bola billiar pake disodok segala," protes Allan.
"Habis mau bagaimana lagi? Kalau mereka masih suka bergosip dan tidak bisa diam, ya terpaksa dengan kekerasan sedikit." Vigo membalas perkataan adiknya.
"Ach. Sudahlah. Berdebat denganmu tidak akan pernah habis-habisnya," sahut Allan kesal atas jawaban-jawaban dari kakaknya.