
Di sebuah ruangan dengan pencahayaan yang minim terdapat seorang wanita yang tengah bersandar di samping tempat tidurnya. Air mata wanita itu terus menerus jatuh tanpa henti.
Wanita itu menatap kosong ke depan dengan pikiran yang terus berkecamuk. Dia bingung harus berbuat apa untuk menghadapi suatu persoalan ini.
Matanya sudah nampak membengkak karena dia tidak henti-hentinya menangis. Jujur dia lelah, kepalanya pun bahkan sekarang terasa berdenyut sakit.
Wanita itu memejamkan matanya sekejap guna meredakan pusing yang kini mulai menderanya. Lama dia memejamkan matanya sampai dia tidak sadar bahwa kini pintu kamarnya dibuka oleh seseorang. Terbukti dengan silaunya cahaya yang menerangi ruangan gelap tersebut.
"Bunda! Bunda dimana?!" panggil seorang pria paruh baya yang membuka pintu kamarnya barusan.
Pria terus berjalan dengan hati-hati agar tidak menabrak apapun di sekitarnya.
Setelah pria itu menemukan saklar lampu di kamarnya. Pria itu bergegas saja menghidupkannya sehingga ruangan yang tadinya gelap kini telah terang benderang.
Pria paruh baya itu menoleh kearah istrinya yang rupanya tengah terduduk lemas di sebelah ranjang mereka.
"Bunda," panggil pria paruh baya itu sembari memegang pundak istrinya lembut.
"Sampai kapan Bunda mau berdiam terus di kamar seperti ini hum?" tanya Noval sang suami.
Yana nama sang istri itu tidak menjawab sama sekali. Bahkan untuk membuka suaranya pun bibirnya terasa kelu.
"Jangan terus menerus seperti ini, Bun! Kalau Bunda begini terus siapa yang akan menguatkan Jasmine dan Yeni, keponakan dan adik perempuannya Bunda? Siapa yang akan memberikannya semangat untuk mereka berdua agar bisa bangkit dari luka dan kesedihannya? Apa masalah akan selesai hanya karena sebuah tangisan?" ucap dan tanya Noval yang mencoba memberikan pengertian pada istrinya.
Yana masih terdiam, namun kini lagi-lagi air matanya merembes keluar tanpa diminta. Sungguh jika dirinya diingatkan dengan hal yang menimpa adik perempuannya dan keponakannya Jasmine dan Yeni, dirinya tidak bisa mengontrol diri dan berakhir dengan menangis.
Satu keponakannya yaitu Ariel sudah pergi untuk selamanya. Kini keponakannya Jasmine dalam keadaan tak baik-baik saja. Begitu juga dengan adik perempuannya.
"Bunda tidak boleh seperti ini terus. Bunda harus kuat menghadapi ini semua. Jika Bunda tidak kuat, siapa yang akan menjadi penopang untuk Jasmine dan Yeni, walau ada anggota keluarga yang lainnya? Kita juga harus ikut memberikan semangat untuk Jasmine dan Yeni agar mereka bangkit kembali dari keterpurukan ini. Masa depan keponakan kita masih panjang," sambung Noval lagi.
Yana langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya lalu memeluk suaminya itu dengan erat. Dia terisak di dada suaminya. Seolah mengalirkan rasa sakit yang kini dialami oleh keponakannya, putri tunggal adik perempuannya.
"Ayah benar. Ma-masa depan Jasmine masih panjang. Jangan biarkan kejadian yang menimpanya dan juga kecelakaan yang merenggut nyawa Ariel menghambat kebahagiaan Jasmine. Dan untuk Yeni aku akan memberikan kekuatan padanya," jawab Yana sembari menghapus air matanya.
Apa yang dikatakan suaminya ini benar, dirinya tidak boleh menjadi lemah. Dia harus lebih kuat agar bisa membantu Jasmine dan Yeni untuk bangkit. Keponakan dan adik perempuannya itu harus kembali menemukan titik kebahagiaannya.
Dia sadar sekarang. Dia tidak sendirian. Ada suaminya, ada dua kakak laki-lakinya, ada satu adik perempuannya dan ada keponakannya yang lain bersama dirinya.
Disini bukan dirinya yang bersedih, melainkan adik perempuannya juga tengah bersedih atas meninggalnya putra bungsunya Ariel. Seharusnya dia sebagai kakak memberikan kekuatan kepada adik perempuannya itu, bukan justru menangis dan mengurung diri di kamar.
"Maaf karena selama ini Bunda jadi wanita lemah Yah. Bukannya menguatkan keponakannya dan adik perempuannya. Justru Bunda malah seperti ini. Cengeng," isak Yana yang membuat Noval tersenyum lembut.
"Itu hal yang wajar bunda. Bibi mana yang tidak akan sedih ketika melihat keponakannya yang seolah kehilangan arah tujuan hidupnya. Ayah juga sama seperti Bunda, ini semua terlalu menyakitkan bagi kita semua."
"Ada satu cara yang bisa mengeluarkan Jasmine dari masa keterpurukannya, Yah! Begitu juga dengan Yeni!" ucap Yana sembari menatap lurus ke depan.
"Apa itu Bunda?" tanya Noval.
"Adam," jawab Yana sembari mulai bangkit dan berlalu keluar dari kamarnya.
***
Adam berada di kampus saat ini. Kini Adam tengah mengobrol dengan beberapa orang. Orang-orang itu adalah anggota yang dibawa oleh Rasky.
Adam meminta kepada anggota-anggotanya Rasky langsung bertindak terhadap orang-orang yang sudah mengkhianati ibunya.
"Baik, tuan!" jawab para anggota-anggotanya Rasky.
"Lakukan ketika jam istirahat. Jam istirahatnya sekitar pukul 11," ucap Adam.
"Baik, tuan!"
Setelah itu, baik Adam maupun Rasky beserta anggota-anggotanya membubarkan diri. Adam melangkahkan kakinya menuju kelas dimana keenam sahabatnya sudah berada disana.
^^^
"Kemana aja dulu? Kenapa baru sampai?" tanya Melky ketika Adam sudah menduduki pantatnya di kursi.
"Pasti kelayapan ke tempat lain dulu. Setelah itu, baru ke kampus." Gino berucap seenaknya jidatnya.
Mendengar ucapan sekaligus tuduhan dari Gino membuat Adam mendengus. Tanpa perikemanusiaan dan perikeadilan, Adam langsung menggeplak kepala belakang Gino sehingga membuat Gino meringis.
"Itu jawab gue dari pertanyaan lo tadi," sahut Adam dengan menatap tajam kearah Gino.
Setelah memberikan geplakkan di kepala Gino. Adam menatap ke depan dan mengabaikan keenam sahabatnya itu.
"Gue udah dapat petunjuk siapa pemilik vcd-vcd tak pantas itu!" seru Adam yang tatapan matanya menatap buku kuliahnya.
Mendengar ucapan dari Adam membuat Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando langsung melihat kearah Adam.
"Yang benar, Dam?!" tanya mereka kompak.
"Iya," jawab Adam. "Cek ponsel kalian masing-masing. Lalu lihat dan dengarkan. Kecilkan suara agar orang lain nggak dengar.
Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando menganggukkan kepalanya lalu membuka aplikasi WhatsApp dan melihat pesan yang dikirim oleh Adam.
Beberapa detik kemudian...
"Apa dia yang melakukannya?" tanya Vando.
"Aku rasa dia yang melakukan. Coba saja lihat ekspresi wajah dan nada bicaranya. Dia benci banget sama Zio," sahut Leon.
"Apalagi dia sempat bilang kalau Zio adalah mantan teman SMP nya dia. Dan dia dendam sama Zio karena Zio sudah merebut miliknya," ucap Diego.
Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando melihat kearah Adam. Mereka ingin mengetahui apa Adam sudah memikirkan sebuah rencana untuk membalas orang yang sudah membuat nama Zio buruk di kampus.
"Apa rencana lo, Dam?" tanya Vino.
Mendengar pertanyaan dari Vino membuat Adam menatap satu persatu wajah keenam sahabatnya itu. Terlihat dari tatapan mata keenam sahabatnya itu tatapan keinginan tahuan rencana selanjutnya.
Adam mendekatkan wajahnya ke telinga Gino lalu membisikkan sesuatu disana. Mendengar ucapan dari Adam di telinganya, seketika Gino tersenyum sembari menganggukkan kepalanya.
"Apaan? Kasih tahu!" Melky, Vino, Diego, Leon dan Vando berucap bersamaan.
Gino membisikkan apa yang dibisikkan oleh Adam padanya kepada Vino. Setelah itu, Vino membisikkan kepada Diego. Dari Diego kepada Melky lalu dari Melky kepada Leon dan terakhir Leon membisikkannya kepada Vando.
"Kami setuju!"
"Ide yang bagus!"