
Seketika Maya terkejut ketika mendengar ucapan dari putranya yang mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai suaminya. Hatinya sakit ketika mendengar ucapan dari putranya itu. Dirinya benar-benar mencintai Yoga suaminya. Sangat mencintai suaminya.
"Tidak! Itu tidak benar. Mama benar-benar mencintai Papa kamu. Mama sangat mencintai Papa kamu," ucap Maya jujur dan disertai dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya.
Gino yang mendengar penuturan dari ibunya seketika tersenyum bahagia. Di dalam hatinya, Gino percaya kalau ibunya begitu mencintai ayahnya.
"Kalau Mama mencintai Papa. Mama nggak akan pergi ninggalin Papa. Sebesar apapun kekecewaan Mama dan marahnya Mama kepada Papa. Mama akan tetap bersama Papa. Jika Mama marah terhadap Papa. Cukup berikan hukuman kepada Papa dengan cara mengabaikan Papa."
"Dengan kepergian Mama dari rumah. Itu akan membuat perempuan itu merasa bangga karena dia sudah berhasil menghancurkan rumah tangga Mama bersama Papa. Dengan begitu perempuan itu akan lebih leluasa keluar masuk rumah kita, lalu menggantikan posisi Mama sebagai nyonya Gennaro. Apa itu yang Mama inginkan?"
Maya menangis ketika mendengar ucapan dari putranya. Dirinya tidak ingin ada perempuan lain merebut suaminya. Dirinya juga tidak ingin ada perempuan lain menggantikan posisinya sebagai nyonya Gennaro.
"Masalah Mama marah dan kecewa terhadap Papa. Itu urusan Mama dengan Papa. Sekarang yang harus Mama lakukan adalah bagaimana caranya mempertahankan rumah tangga Mama bersama Papa. Mama harus lawan perempuan itu. Jangan perlihatkan rasa sakit Mama, kelemahan Mama dan kesedihan Mama di depan perempuan itu. Buktikan bahwa Mama adalah perempuan kuat. Dan hanya Mama satu-satunya nyonya Gennaro.
"Aku setuju apa yang dikatakan oleh Gino, Bibi Maya!" seru Rakky putra sulung dari Devgan Sagara.
Mendengar seruan dari Rakky membuat semuanya menatap kearah Rakky, termasuk Devgan dan Sonya.
"Rakky!" Devgan menatap marah kearah putranya.
Rakky menatap wajah ayahnya. "Papa seorang laki-laki bukan? Dan Papa juga seorang suami kan? Bagaimana jika apa yang dialami oleh Paman Yoga sekarang ini berbalik kepada Papa. Jika seandainya datang seorang perempuan ke rumah ini lalu perempuan itu mengaku hamil anaknya Papa. Bahkan perempuan itu juga mengaku bahwa Papa sudah menikahinya. Apa yang akan Papa lakukan ketika istri Papa dan kedua anak-anak Papa tidak mempercayai Papa?" tanya Rakky dengan menatap wajah ayahnya.
Seketika Devgan bungkam ketika mendapatkan pertanyaan dari putranya yang berhubungan dengan permasalahan adik perempuannya. Di dalam hatinya Devgan, dirinya tidak ingin kehilangan istri dan anak-anaknya hanya karena perempuan lain.
Melihat keterdiaman ayahnya membuat Rakky tersenyum. Rakky sangat yakin jika di dalam hati ayahnya itu sama seperti Paman Yoga yaitu tidak ingin kehilangan istri dan anak-anaknya.
"Papa sudah tahukan jawabannya? Jadi aku minta tolong sama Papa dan kalian semua. Jangan mempersulit Bibi Maya dengan kalian meracuni pikiran Bibi Maya agar bercerai dengan Paman Yoga. Disini kita semua belum tahu apakah Paman Yoga benar-benar bersalah atau sebaliknya hanya korban."
Rakky menatap wajah cantik Bibinya. "Dan untuk Bibi Maya. Bibi hanya mendengar dari satu opsi, bukan! Dan opsi itu adalah perempuan itu. Perempuan yang tidak Bibi kenal sama sekali. Sementara untuk Paman Yoga. Bibi belum mendengar secara langsung cerita dari Paman Yoga, laki-laki yang sudah 26 tahun menemani Bibi."
Ketika Rakky sedang berbicara dengan sang Bibi, tiba-tiba ponsel milik Gino berbunyi menandakan panggilan masuk.
Gino langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya. Setelah ponselnya ada di tangannya, Gino melihat nama 'Adam' di layar ponselnya itu.
Melihat nama Adam di layar ponselnya. Gino seketika tersenyum. Setelah itu, Gino langsung menjawab panggilan dari sahabatnya itu.
"Hallo Adam."
"Oh, bagus benar! Kemana lo, hah?! Dua hari lo nggak ngampus. Udah pintar lo ya!"
Seketika Gino membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan serta teriakan dari Adam.
"Yak, Dam! Lo menghubungi gue mau nanya keberadaan gue atau mau marah-marahin gue, hah?!"
"Opsi yang kedua yaitu marah-marahin lo. Kalau gue ada di depan lo sekarang, gue bakal antukkin kepala lo ke tembok biar amnesia sekalian lo!"
Gino kembali membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Adam yang menurutnya begitu kejam dan tak berperasaan.
"Sekarang lo dimana?!"
"Hah!" Gino hanya bisa menghela nafas pasrahnya mendengar teriakkan melengking Adam di seberang telepon.
Sementara Maya dan anggota keluarga Sagara tersenyum ketika mendengar helaan nafas dan wajah pasrah Gino akan ulah sahabatnya itu.
"Gue di rumah keluarga Sagara."
"Berarti lo bersama Bibi Maya sekarang?"
"Iya. Gue saat ini bersama Mama."
"Berikan ponsel lo sama Bibi Maya. Gue mau ngomong."
"Baiklah."
Setelah itu, Gino memberikan ponselnya kepada ibunya.
"Ma! Ini Adam mau bicara sama Mama."
Mendengar hal itu, Maya langsung mengambil ponsel putranya lalu langsung berbicara dengan Adam sahabat dari putranya.
"Hallo, Adam! Apa kabar, nak?!"
"Hallo, Bibi Maya! Kabar baik Bibi. Bagaimana dengan Bibi?"
"Maaf sebelumnya Bibi kalau aku terlalu ikut campur dalam permasalahan rumah tangga Bibi dengan Paman Yoga. Aku sudah tahu permasalahan Bibi dengan Paman Yoga. Dan aku harap Bibi tidak lama-lama meninggalkan Paman Yoga. Aku harap Bibi bisa menyikapi masalah ini dengan kepala dingin."
"Bi! Aku percaya dengan Paman Yoga. Paman Yoga sangat mencintai Bibi. Dia tidak pernah mengkhianati Bibi. Masalah perempuan itu, kita belum tahu yang sebenarnya. Apa perempuan itu jujur atau malah sebaliknya. Percaya atau tidaknya Bibi padaku. Tapi ini adalah kenyataannya. Paman Yoga sendiri yang mengatakan itu padaku ketika aku masih di Amerika dulu."
"Apa sayang? Apa yang dikatakan oleh suami Bibi padamu?"
"Apapun yang terjadi dalam rumah tangganya. Jika suatu saat nanti ada perempuan yang tiba-tiba datang ke rumahnya dan mengatakan hal buruk tentangnya di depan istri dan anak-anaknya. Di hatinya hanya akan ada satu wanita. Wanita itu adalah istrinya yaitu Lasmaya Gennaro dan dua putranya yaitu Farel Gennaro dan Gino Gennaro. Tidak ada nama perempuan lain dan nama anak yang lain."
Tes..
Air mata Maya kembali jatuh ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Adam, sahabat putra bungsunya.
"Paman Yoga juga mengatakan kepadaku. Semangat hidupnya dan kebahagiaannya adalah istri dan kedua anak-anaknya. Jika suatu saat istri dan anak-anaknya memilih pergi meninggalkannya hanya karena perempuan lain, maka Paman Yoga akan mengakhiri hidupnya. Paman Yoga tidak ingin hidup lagi di dunia ini karena semangat dan kebahagiaannya telah pergi meninggalkannya."
Deg..
Maya seketika menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan dari Adam yang mengatakan bahwa suaminya akan mengakhiri hidupnya jika dirinya dan kedua anak-anaknya pergi.
"Tidak Adam. Kamu bohongkan sayang."
Melihat ibunya menangis sembari menyebut nama sahabatnya membuat Gino khawatir. Begitu juga dengan anggota keluarga Sagara.
"Itu kenyataannya Bi. Paman Yoga mengatakan itu kepadaku ketika aku menceritakan tentang aku yang dulu tidak memiliki ayah. Aku mencurahkan isi hati dan kerinduanku akan sosok ayah kepada Paman Yoga. Setelah aku menceritakan semuanya kepada Paman Yoga. Aku meminta kepada Paman Yoga untuk tidak meninggalkan Bibi, kak Farel dan Gino. Apapun yang terjadi. Dan berakhir Paman Yoga mengatakan hal sensitif itu padaku. Paman Yoga menangis ketika mengatakan itu. Dari tatapan mata Paman Yoga terlihat kesungguhan dan ketulusan disana."
"Hiks... Yoga," isak Maya. Dan isakannya itu terdengar oleh Adam.
"Aku mohon sama Bibi. Pulanglah! Jangan terlalu lama meninggalkan Paman Yoga. Percayalah sama Paman Yoga. Paman Yoga tidak salah. Dan kita belum mengetahui kebenarannya seperti apa."
"Sekali pun Paman Yoga bersalah. Jangan pernah sekali pun Bibi memberikan kesempatan perempuan itu untuk masuk ke dalam kehidupan Paman Yoga."
"Di dunia ini ada beberapa jenis tentang perselingkuhan. Pertama, ketika laki-laki itu khilaf. Kedua, ketika laki-laki itu sudah bosan dengan istrinya. Dan ketiga, ketika laki-laki tersebut masuk ke dalam jebakan seseorang yang tidak menyukainya. Masalah yang dihadapi Paman Yoga termasuk yang kategori yang ketiga."
"Sekali lagi aku katakan kepada Bibi. Pulanglah! Tetaplah bersama Paman Yoga. Jangan tinggalkan Paman Yoga sendirian di rumah itu. Jangan biarkan perempuan itu menang. Jangan sampai Bibi menyesal atas pilihan Bibi untuk berpisah dengan Paman Yoga."
"Baiklah. Hanya itu yang ingin aku sampaikan kepada Bibi. Tolong sampaikan kepada Gino untuk kembali kuliah. Gino sudah dua hari tidak masuk kuliah."
Setelah mengatakan itu, Adam langsung mematikan panggilannya. Dan seketika tangis Maya pun pecah.
"Yoga... Hiks... Maafkan aku... Hiks... Maafkan aku. Seharusnya aku mendengarkan penjelasan darimu terlebih dahulu. Bukannya pergi meninggalkan kamu."
Grep..
Gino langsung memeluk tubuh ibunya. Dirinya benar-benar tidak tega melihat isak tangis ibunya. Namun di hatinya Gino tersenyum bahagia ketika melihat dan mendengar ucapan dari ibunya.
"Dam, terima kasih karena lo udah bujukin Mama dengan kata-kata lo. Gue nggak tahu lo ngomong apa sama Mama. Tapi apapun itu. Gue berterima kasih sama lo, Dam!" batin Gino.
"Gino, kita pulang sekarang!"
Seketika Gino langsung melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik dan basah ibunya.
"Benarkah, Ma?"
"Iya, Gino! Mama mau pulang. Mama tidak ingin kehilangan Papa kamu. Mama tidak ingin Papa kamu melakukan hal nekat dengan mengakhiri hidupnya."
"Apa?!"
Baik Gino maupun keluarga Sagara berteriak karena terkejut ketika mendengar ucapan dari Maya.
"Mama!"
"Papa kamu cerita sama Adam bahwa kebahagiaan dan semangat hidup Papa kamu adalah Mama, kakak kamu dan kamu. Jika kita pergi meninggalkan Papa, maka Papa akan memilih pergi dari dunia ini."
"Ma."
"Iya, sayang!"
"Papa juga bilang gitu padaku kalau semangat hidup Papa dan kebahagiaan Papa terletak pada kita, terutama Mama! Papa juga bilang padaku bahwa Papa tidak ingin kehilangan Mama. Papa sangat mencintai Mama. Itulah alasanku datang kesini karena aku sudah janji sama Papa untuk membawa Mama pulang. Sejak kepergian Mama. Hidup Papa benar-benar berubah."
"Dan Papa juga sudah cerita padaku awal mula dia bertemu dengan perempuan itu. Papa dijebak oleh rekan kerjanya."
Maya seketika terkejut ketika mendengar pengakuan dari putranya. Begitu juga dengan anggota keluarga Sagara. Mereka semua terkejut. Seketika mereka menyesal karena tidak mempercayai Yoga, terutama Devgan dan Dandy selalu kakak laki-lakinya Maya.