
Semua anggota keluarga sudah berkumpul di rumah sakit terutama Vigo, Nicolaas dan Celena. Bahkan sahabat-sahabatnya Adam, Zelo, sahabat-sahabatnya Vigo dan sahabat-sahabatnya Danish.
Semuanya masih menunggu dengan wajah tegang dan khawatir dengan tatapan mata tak hentinya menatap kearah ruang operasi.
Garry menatap kearah Ardi, Harsha dan sahabatnya. Dirinya benar-benar penasaran apa yang terjadi terjadi pada adik bungsunya itu.
"Ardi, Harsha. Katakan kepada kakak. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dengan Adam?"
Mendengar pertanyaan dari Garry membuat semuanya menatap kearah Ardi, Harsha dan para sahabatnya.
"Kami juga tidak tahu apa yang terjadi. Yang jelas saat itu kami dalam perjalanan pulang. Kami melihat beberapa orang berpakaian hitam dan satunya orang yang tergeletak di aspal. Harsha yang langsung bisa mengenal orang tersebut langsung berteriak histeris."
"Apa yang dilakukan oleh Harsha?" tanya Danish.
"Harsha langsung menghentikan laju motornya. Kemudian Harsha turun dan berlari sembari berteriak memanggil nama Adam."
Flashback On
"Adaaaaamm!" teriak Harsha.
Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala seketika langsung turun dari motornya masing-masing lalu berlari menyusul Harsha.
"Siapa kalian?!" teriak Sakha menatap para laki-laki berpakaian hitam.
"Kalian tidak perlu tahu siapa kami. Yang jelas tugas kami disini untuk menghabisi pemuda itu," jawab sang pemimpin.
Mendengar jawaban dari salah satu laki-laki berpakaian hitam itu membuat Ardi dan Harsha marah. Begitu juga dengan Arka, Kenzie, Sakha dan Gala.
"Brengsek!" teriak Ardi.
Setelah itu, terjadilah perkelahian tak seimbang. Namun hal itu tak menyulut emosi mereka. Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala menyerang laki-laki berpakaian hitam itu dengan sangat brutal.
Sementara Harsha setia menemani adiknya dengan terus mengajak adiknya bicara. Hatinya sakit harus kembali melihat adiknya terluka.
"Adam... Hiks... Ini kakak. Kamu dengar kakak, hum?"
Harsha membelai lembut kepala serta pipi Adam. Dan tak lupa Harsha memberikan ciuman di kening adik sepupunya itu.
Bugh.. Bugh..
Bugh.. Duagh..
Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala secara membabi-buta memberikan pukulan dan tendangan kepada para laki-laki berpakaian hitam itu sehingga membuat beberapa dari mereka tersungkur di aspal dengan memuntahkan darah segar dari mulutnya masing-masing.
Tersisa sekitar 20 orang lagi. Sementara yang lainnya sudah tak berdaya di aspal dengan keadaan yang tak baik-baik saja.
Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala menatap penuh amarah kearah 20 laki-laki yang ad di hadapannya.
"Masih sanggup?" ejek Ardi.
"Brengsek! Serang!"
Laki-laki itu dan anggotanya yang tersisa kembali menyerang Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala.
Dan pertarungan kembali berlanjut dengan Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala memberikan pukulan dan tendangan kepada 20 laki-laki itu.
Bugh.. Bugh..
Duagh..
Srekk.. Kreett..
Duagh..
Bagh.. Bugh..
Duagh..
Bruk.. Bruk..
Bruk..
Ke dua puluh laki-laki berpakaian hitam itu langsung tersungkur tak berdaya di aspal akibat pukulan dan tendangan tak main-main dari Ardi, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala.
Setelah itu, mereka menghampiri Harsha yang saat ini tengah memeluk tubuh Adam.
"Adam... Hiks," isak Ardi dan yang lainnya.
"Kakak... Hiks," isak Harsha.
Gala berhasil menghentikan taxi yang lewat. Setelah itu, Gala meneriaki Ardi dan Harsha untuk segera membawa Adam ke rumah sakit.
"Kak Ardi, Harsha. Buruan bawa Adam ke rumah sakit!"
"Harsha. Kau masuklah ke dalam mobil taxi, sekarang!" seru Kenzie.
Harsha menganggukkan kepalanya lalu berdiri. Setelah itu, kakinya melangkah masuk ke dalam mobil taxi.
Setelah Harsha masuk. Sakha dan Ardi membawa masuk Adam dan menidurkannya di paha Harsha.
Sementara yang lainnya menggunakan motor masing-masing, kecuali Gala yang membawa motornya Harsha. Sedangkan motor milik Adam rusak parah.
Kenzie sudah menghubungi salah satu karyawan kakaknya untuk menjemput motor milik Adam.
Flashback Off
Mereka semua menangis ketika mendengar cerita dari Ardi, Harsha, Arka, Kenzie, Sakha dan Gala.
"Brengsek!" Danish terlihat begitu marah terhadap orang-orang yang hendak menyakiti adik adiknya.
"Apa mereka itu orang suruhan dari pasangan suami istri itu!" seru Vino tiba-tiba.
Mendengar seruan dari Vino, semuanya melihat kearah Vino, kecuali Utari, Evan, Garry, Danish dan keluarga Abimanyu. Mereka langsung mengerti akan ucapan Vino.
"Apa maksud kamu, Vin?" tanya Melky.
"Kamu masih ingatkan kejadian dua hari yang lalu di sebuah cafe dimana bibi Alin ditampar oleh seorang pria?"
"Apa?!" teriak semuanya ketika mendengar perkataan Vino yang mengatakan bahwa Alin ditampar oleh seorang pria.
Amirah, Celena dan Zaina seketika menatap kearah Alin. Mereka benar-benar terkejut akan apa yang mereka dengar.
"Kak Alin, apa itu benar?" tanya Celena.
"Iya, Celena!"
"Ya, Tuhan!"
"Kenapa kamu bisa ditampar, Alin?" tanya Zaina.
"Pria itu berpikir bahwa aku sudah membuat istrinya terluka akibat ulahku," jawab Alin.
"Memangnya kamu melakukan apa sehingga pria gila itu sampai menyakiti kamu, Nak?" tanya Amirah.
"Aku hanya merebut apa yang sudah dia ambil dariku Bibi."
"Apa itu?"
"Pesananku! Aku sudah membayar semua pesananku ke kasir. Tiba-tiba istri dari pria itu seenaknya mengambil dan membawa pergi semua pesananku itu. Melihat hal itu, aku pun langsung mencekal tangannya dan berhasil merebut kembali semua pesananku."
"Wanita itu tidak terima lalu mengadu pada suaminya. Dan berakhir suaminya menamparku. Kejadian tersebut disaksikan oleh salah satu sahabatnya Adam."
"Dan Adam pasti melakukan sesuatu terhadap kedua manusia menjijikkan itukan?" tanya Celena.
"Iya. Adam memberikan pembalasan yang setimpal kepada kedua manusia menjijikkan itu," jawab Alin.
"Lalu apa hubungannya dengan orang-orang yang hendak menyakiti Adam?" tanya Nicolaas.
"Dan apa maksud dari perkataan Vino barusan?" tanya Vigo.
"Wanita itu tidak terima akan sikap Adam yang telah membuat suaminya pingsan dan juga sudah membuat dirinya malu. Ketika wanita itu berhasil membawa suaminya ke rumah sakit. Wanita itu mengarang cerita kepada keluarganya. Baik keluarganya maupun keluarga suaminya. Wanita itu mengatakan bahwa Bibi Alin dan Adam yang sudah terlebih dulu mengusiknya dan suaminya. Bahkan wanita itu juga mengatakan di depan semua anggota keluarganya bahwa Adam dan Bibi Alin telah menyakitinya dan mempermalukan dirinya."
"Mendengar cerita dari wanita itu, semua anggota keluarganya tampak marah dan berakhir membuat rencana pembalasan dengan mereka akan menculik Bibi Alin. Jika mereka berhasil menculik Bibi Alin, mereka akan menyiksa Bibi Alin. Dan setelah itu, barulah mereka berurusan dengan Adam."
Mendengar cerita dari Vino membuat mereka mengepal kuat tangannya. Mereka semua tidak menyangka jika wanita itu tega melakukan hal menjijikkan tersebut.
"Dan kemungkinan besar kenapa orang-orang itu mengincar Adam. Mungkin mereka marah karena belum berhasil menculik Bibi Alin."
Mendengar perkataan dari Vino membuat mereka semua membenarkan apa yang dikatakan oleh Vino.
"Lo tahu dari mana masalah ini?" tanya Leon.
"Gue curiga sama perempuan itu, maka ketika kita memutuskan untuk pulang. Gue nggak langsung pulang. Justru gue ngikutin perempuan itu sampai di rumah sakit. Di rumah sakit itulah gue dengar semuanya. Setelah gue tahu rencana mereka. Gue langsung kasih tahu Adam."
Ketika mereka tengah membahas pasangan suami istri tersebut, terdengar suara pintu ruang operasi dibuka.
Cklek..
Semuanya melihat kearah pintu ruang operasi itu. Dan keluarlah seorang dokter yaitu Dokter Nurman.
"Nurman, bagaimana?" tanya Davan dengan wajah khawatirnya.
"Operasi berjalan lancar. Tapi aku belum bisa mengatakan tentang kondisi Adam seperti apa. Untuk saat ini kondisi Adam stabil. Tapi kita harus menunggu Adam sadar dulu. Dari situlah nanti kita semua bisa tahu kondisinya yang sebenarnya."
Mendengar jawaban dari Nurwan membuat Utari merasa tak puas. Begitu juga dengan Evan, anggota keluarga lainnya dan para sahabatnya. Mereka semua berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap Adam.