THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kekecewaan Utari Terhadap Wakil Dekan



Nyonya Utari, saya mohon. Jangan pecat saya dari jabatan saya sebagai Wakil Dekan! Kalau saya dipecat dari Binus University ini. Saya sudah senang dan bahagia bekerja disini.


Utari menatap wajah pegawainya. "Jika kampus saya ini adalah tempat yang menyenangkan dan anda sudah sangat senang dan nyaman bekerja disini. Kenapa ada melakukan kecurangan? Kenapa anda menipu semua mahasiswa dan mahasiswi dengan memungut pembayaran uang semester persetengah tahun? Bukankah uang semester itu dibayar setiap persemester alias pertahun? Bahkan anda menaikkan biayanya dua kali lipat tanpa persetujuan saya. Dan anda tidak melibatkan atau memberitahu Ketua Rektor, Wakil Rektor dan Ketua Dekan hal ini." Utari begitu marah dengan apa yang dilakukan oleh pegawainya itu.


Pria itu hanya diam sembari mengangguk-anggukkan kepalanya ketika mendengar ucapan demi ucapan dari si pemilik Kampus.


Utari menatap kearah empat Dosen yang sejak tadi hanya diam dan tidak berani menatap wajah Utari. Mereka saat ini benar-benar ketakutan. Di dalam hati mereka masing-masing mengatakan bahwa anaknya saja sudah sangat kejam memberikan hukuman dengan langsung memecatnya. Apalagi ibunya. Pasti lebih parah ibunya secara dia pemiliknya.


Yah! Awalnya Adam yang sudah memutuskan untuk memecat Wakil Dekan dan empat Dosen tersebut, namun dengan seenaknya si Wakil Dekan itu justru melawan terhadap Adam dikarenakan Wakil Dekan itu tidak tahu siapa Adam yang sebenarnya.


Pada saat pengangkatan ketua Dekan dan Wakil Dekan baru, Adam saat itu dikabarkan meninggal dunia akibat ledakan di gudang penyekapan itu. Dan ditambah lagi, ada beberapa penambahan Dosen baru dikarenakan begitu banyak mahasiswa dan mahasiswi yang mendaftar di Binus University.


Disaat Adam kembali kuliah di Binus University, Adam memakai identitas baru yaitu Allan Liam Adiyaksa sehingga orang-orang tidak tahu bahwa Allan itu adalah Dirandra Adamka Bimantara putra bungsu Erina Utari Abimanyu/Bimantara dan Evan Hara Bimantara.


Sementara untuk Dekan yang lama dimana Dekan tersebut sudah banyak berjasa di Binus University diangkat menjadi ketua Rektor menggantikan Utari agar Utari bisa fokus pada perusahaannya. Jadi Utari menyerahkan tanggung jawab Binus University kepada sang Rektor baru yang duluya menjabat sebagai Ketua Dekan.


"Saya sangat kecewa kepada kalian. Saya mempercayai kalian untuk menjadi Dosen disini karena saya melihat kemampuan kalian dalam mendidik dan mengajar para mahasiswa dan mahasiswi saya. Ternyata saya salah. Kesalahan saya adalah terlalu menaruh harapan kepada kalian."


Utari menatap satu persatu wajah orang-orang yang mengkhianati dirinya. Dia benar-benar kecewa dan juga marah atas apa yang dilakukan oleh Wakil Dekan dan keempat Dosen tersebut.


Di ruang Aula tersebut bukan hanya ada Utari dan para pengkhianat atau yang lebih bagus disebut koruptor, melainkan di ruang Aula itu juga ada Danish, Ardi, Vigo dan sahabatnya. Mereka menatap marah para koruptor di Binus University terutama Danish selaku putra kedua si pemilik Kampus.


"Yang buat saya lebih kecewa lagi adalah kalian melakukan hal-hal menjijikan itu ketika ketua Rektor dan wakilnya tidak ada di kampus ini. Keduanya sedang ada urusan beberapa hari demi Kampus ini. Yang ada hanya ketua Dekan."


"Dan satu lagi yang perlu anda ingat tuan wakil Dekan!" seru Danish. "Ketika mahasiswa bernama Adam memutuskan memecat anda. Bukannya anda meminta maaf atau bertanya apa kesalahan anda sehingga anda dipecat. Justru anda melawan dan membentak mahasiswa itu. Kelakuan anda sudah seperti preman di jalanan ketika membentak mahasiswa anda. Saya beritahu anda siapa mahasiswa yang bernama Adam itu dan kenapa dia bisa memecat anda!" Danish berbicara dengan nada tinggi dan tatapan matanya yang menajam.


"Mahasiswa yang bernama Adam itu adalah adikku. Anda tahu siapa saya kan? Anda tahu siapa ibu saya kan? Berarti tidak perlu saya jelaskan lagi siapa mahasiswa yang bernama Adam itu."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Danish membuat Wakil Dekan itu seketika terkejut. Dia langsung mengetahui disaat mendengar ucapan dari Danish yang mengatakan bahwa mahasiswa yang bernama Adam adalah adiknya.


"Ja-jadi....."


"Iya. Dirandra Adamka Bimantara yang dipanggil dengan nama Adam adalah putra bungsu saya. Dan anda dengan lancangnya ingin menyakiti putra saya karena putra saya telah memecat anda," sahut Utari.


Disini bukan hanya Wakil Dekan saja yang terkejut. Ketua Dekan dan beberapa Dosen-dosen termasuk empat Dosen tersebut juga terkejut ketika mendengar ucapan dari si pemilik Kampus Binus University tentang mahasiswa yang bernama Adam.


Tok.. Tok..


Tok..


Cklek..


"Maaf Nyonya!"


Seseorang langsung masuk ke dalam ruangan Aula dengan sopan dan disusul oleh seseorang di belakang.


"Nafil," sapa Utari.


"Apa sudah selesai tugas anda diluar?"


"Sudah nyonya. Saya kesini karena saya mendapatkan informasi dari salah satu Dosen yaitu Prof. Hanna yang mengatakan bahwa ada yang melakukan kecurangan di kampus ini selama saya dan wakil saya tidak berada di tempat. Beliau juga yang memberitahu saya bahwa nyonya ada disini," ucap Nafil dengan tatapan matanya menatap kearah wakil Dekan dan empat Dosennya.


"Kebetulan sekali kau sudah kembali. Jadi permasalahan ini saya serahkan padamu. Bagaimana pun saya sudah menyerahkan tanggung jawab Binus University ini kepadamu dan Wakilmu."


"Baik, nyonya. Saya akan melakukan yang terbaik untuk kampus ini. Dan untuk si penjahat sejenis ikan teri ini, saya akan memberikan hukuman yang berat."


"Saya percaya. Pilihan hanya ada dua, penjara atau mengembalikan semua uang yang sudah mereka makan."


"Baik, nyonya."


Setelah itu, Utari pun pergi meninggalkan ruang Aula tersebut dan diikuti oleh Danish, Ardi, Vigo dan para sahabat-sahabatnya.


Ketika mereka tiba diluar, tatapan mata mereka tertuju pada sosok pemuda tampan bergigi kelinci. Siapa lagi kalau bukan Adam kesayangannya.


Mereka semua melihat Adam yang bersama dengan ketujuh sahabat-sahabatnya. Yang mereka lihat bahwa Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya tengah membicarakan sesuatu. Dan bahkan Utari, Danish, Ardi, Vigo dan para sahabat-sahabatnya sesekali tertawa sembari menggelengkan kepalanya ketika mendengar ucapan demi ucapan kejam dari Adam untuk ketujuh teman-temannya.


"Tuh anak benar-benar ya. Bukan hanya mulut saja yang pedas kalau ngomong. Tangannya juga ikutan ngomong," sahut Sakha.


"Ya kau benar sekali Sakha. Coba saja lihat tuh. Si Melky sudah tiga kali mendapatkan jitakan di kepalanya dari Adam dan Gino dua kali mendapatkan pukulan di bahunya," ucap Luis.


"Nah, lihat tuh! Mau dia apain tuh anak orang pake dipelintir gitu kepala Vando!" seru Indra.


"Benar-benar tuh bocah," sahut Ardi.


"Ma," panggil Danish.


"Apa benar Adam itu adikku, putra Mama?"


"Iya, kenapa?"


"Lihat tuh kelakuannya beda sama Mama dan Papa. Bar-bar," sahut Danish.


"Kayak lo aja yang anak baik-baik. Lo sama seperti Adam. Jadi nggak usah sok kaget melihat Adam yang bar-bar gitu," ejek Cakra.


"Di dalam hati lo saat ini pasti juga ingin seperti Adam," ucap Arya.


"Lo dan Adam memiliki sifat yang sama," ucap Kavi.


"Sama-sama menyebalkan dan keras kepala!" seru Prana, Indra dan Rayan bersamaan.


Mendengar ucapan kompak dari Prana, Indra dan Rayan membuat Danish seketika mendengus. Sementara Utari dan yang lainnya tersenyum sembari tatapan matanya masih fokus menatap kearah Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya.