THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Duka Yang Mendalam



Adam dan anggota keluarga sudah berada di kediaman keluarga Abimanyu, termasuk Celena dan kedua putranya yaitu Nicolaas dan Vigo. Adam meminta kepada ibunya dan kedua kakaknya untuk pulang ke rumah keluarga Abimanyu dan membawa jenazah ayah angkatnya ke sana.


Mendengar permintaan Adam. Celena, Nicolaas dan Vigo langsung mengabulkannya.


Suasana duka mendalam menyelimuti keluarga Liam Levi Bimantara yang tewas ditembak oleh orang suruhan dari salah satu keluarganya yang saat itu telah berhasil lolos dari gudang penyekapan. Keluarga almarhum menangis histeris ketika jenazah almarhum dibawa pulang ke rumah duka.


Di kediaman keluarga Abimanyu sudah hadir para sahabat. Mulai dari sahabat-sahabatnya Danish, sahabat-sahabatnya Ardi, Harsha dan Adam, sahabat-sahabatnya Vigo dan sahabat-sahabatnya Nicolaas, serta rekan-rekan kerja anggota keluarga Abimanyu, rekan kerja Levi, dan rekan Evan. Bahkan para mahasiswa dan mahasiswi juga turut hadir di kediaman keluarga Abimanyu.


Celena, Nicolaas dan Vigo menangis histeris kala melihat orang yang sangat disayangi terbujur kaku di peti jenazah.


"Papa... Hiks." Nicolaas dan Vigo menangis terisak.


"Sayang." Celena menangis sambil tangannya mengelus lembut wajah suaminya.


Utari memeluk tubuh Celena dan memberikan ketenangan kepadanya. Sementara Evan dan Bagas memeluk dan memberikan ketenangan kepada Nicolaas dan Vigo.


Adam menatap kosong ke depan. Air matanya tak hentinya mengalir membasahi wajahnya. Adam menangis dengan diam.


Melihat kondisi Adam yang saat ini membuat Garry, Danish, Ardi dan Harsha khawatir.


Garry, Danish, Ardi dan Harsha sangat khawatir terhadap Adam. Mereka berusaha memberikan ketenangan kepada Adam. Mereka secara bergantian memeluk dan memberikan kecupan-kecupan sayang di keningnya. Mereka paham akan apa yang dirasakan Adam. Danish menghapus air mata adiknya itu dengan lembut.


Melihat keterpurukan Celena, Nicolaas, Vigo dan Adam membuat mereka semua menjadi iba. Mereka semua menangis melihat kondisi Celena, Nicolaas, Vigo dan Adam, terutama Adam.


"Adam," lirih Harsha sembari membelai rambut Adam. Namun Adan tidak memberikan reaksi apapun.


Amirah Lashira Bimantara saat ini berdiri di hadapan peti mati Levi. Hatinya merasakan sesak kala melihat wajah pucat Levi.


Ketika tangan Amirah hendak menyentuh wajah pucat Levi, tiba-tiba Adam berteriak.


"Jangan sentuh Papaku!" Adam berteriak dengan tatapan menatap tajam Amirah, neneknya.


"Adam," lirih Garry dan Danish.


Mendengar teriakan dari Adam membuat Amirah terkejut. Begitu juga dengan para pelayat lainnya.


Adam melepaskan rangkulan tangan Garry dan Danish dari bahunya secara paksa. Setelah itu, adam mendekati Amirah sang Nenek.


Kini Adam sudah berdiri di hadapan neneknya. Dan jangan lupa matanya yang menatap tajam neneknya.


"Apa nenek sudah puas? Inikan yang nenek mau?" Adam menangis.


Mereka yang mendengar perkataan Adam dibuat bingung. Mereka tidak mengerti akan perkataan Adam.


"Apa maksudmu, sayang? Nenek tidak mengerti." Amirah berbicara sembari menatap lembut wajah cucunya.


"Tidak mengerti? Hahahaha." Adam tertawa keras sehingga membuat mereka semua terkejut. Terutama anggota keluarga dan para sahabatnya.


"Kau membuat Mama terpisah dari Papa. Kau membuat Mama terpisah dari kedua putranya. Kau membuatku tidak pernah mendapatkan kasih sayang dari Papa. Kau membuat Papa tidak mau menerimaku ketika aku dilahirkan. Kau membuatku berpisah dari Papa dan kedua kakakku. Kau membuatku selalu dibully dan diejek oleh teman-temanku karena tidak memiliki Papa. Kau membuat Mama menanggung semua kesedihannya. Kau membuatku menjadi anak yang selalu membangkang kepada Mama. Hiks... sekarang... Hiks! Sekarang kau melakukannya. Kau merebut Papaku. Kau membuat Papaku pergi untuk selamanya!" teriak Adam dengan air matanya mengalir membasahi wajahnya.


"Gara-gara ulahmu di masa lalu semuanya jadi hancur. Dia..." tunjuk Adam ke arah peti mati. Mereka semua melihat kearah tunjuk Adam.


DEG!


Mereka semua terkejut ketika mendengar ucapan Adam, terutama Celena dan kedua putranya.


"Apa? Kamu bilang apa barusan, sayang?" tanya Amirah. "Jadi itu benar bahwa Papa angkatmu adalah putranya nenek?"


"Kenapa? Kau tidak percaya padaku, hah?!" bentak Adam.


"Bu-bukan begitu, sayang. Justru nenek juga sudah mengetahuinya. Nenek tahu dari seorang Dokter yang dulu membantu persalinan Nenek. Tapi saat itu Nenek masih ragu. Lalu nenek bertanya pada Mama angkatmu apakah Papa angkatmu memiliki tanda lahir. Ketika mendengar jawaban dari Mama angkatmu. Nenek sudah mulai yakin jika Papa angkatmu itu putra kandung Nenek. Jadi katakan pada Nenek. Dan buat Nenek lebih yakin lagi, sayang."


"Ya! Liam Levi Adiyaksa adalah putra kandungmu, Nyonya Amirah Lashira Bimantara. Dia adalah Liam Levi Bimantara, putra kandungmu yang ditukar saat setelah dilahirkan. Akibat ulahmu di masa lalu. Keluarga dari mantan menantumu itu dan anggota keluarga Adiyaksa melakukan pembalasannya terhadap keluargaku, termasuk keluarga angkatku. Dan mereka berhasil. Mereka berhasil membunuh Papaku, putramu!" teriak Adam.


Baik Amirah Lashira Bimantara maupun anggota keluarga lainnya sangat terkejut akan perkataan Adam, terutama Evan, Garry, Danish, Nicolaas, Celena dan Vigo.


Adam mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Amirah, lalu berbicara pelan di depan wajah Amirah.


"Kau tahu? Mereka sedang mengincar anggota keluargaku, terutama Papa. Saat ini mantan menantumu itu sudah mentargetkan Papaku, Evan Hara Bimantara. Jadi dengan kata lain, nyawa Papaku dalam bahaya. Dan bisa saja kedua kakakku juga menjadi incarannya."


Mendengar ucapan dari Adam membuat tubuh Amirah menegang. Sementara Adan sudah menjauh dari sang Nenek. Dirinya saat ini benar-benar hancur. Air matanya terus mengalir membasahi wajahnya.


Adam kini berdiri di hadapan peti mati ayahnya. Tangannya menyentuh wajah pucat ayahnya.


"Hiks... Hiks... aku tidak rela Papa pergi. Papa... Hiks... Papa bangun, Pa!" Adam berucap dengan berurai air mata.


"AARRGGGHHH!" teriak Adam.


"Allan/Adam!" teriak Garry, Danish, Ardi, Harsha, Nicolaas, Vigo dan anggota keluarga lainnya.


Mereka semua menghampiri Adam. Mereka benar-benar khawatir akan kondisi Adam saat ini.


"Aakkhhh!" Adam meringis sembari meremat rambutnya.


"Sayang," panggil Utari yang tangannya membelai rambut Adam.


"Adam, lepaskan tanganmu. Jangan tarik rambutmu," ucap Garry lalu memegang tangan adiknya agar tangan adiknya itu terlepas dari rambutnya.


"Allan/Adam," lirih Nicolaas, Vigo, Harsha dan Ardi.


Mereka menangis melihat kondisi Adam saat ini. Begitu juga anggota keluarga lainnya dan para sahabatnya dan para sahabat Danish.


"Allan, sayang. Allan dengar Mama kan," ucap Celena. Namun yang dipanggil tak memberikan respon sama sekali.


Seketika tubuh Adam limbung ke samping. Garry dan Nicolaas yang berdiri langsung sigap menahan tubuh adik mereka. Adam jatuh tak sadarkan diri.


"Adam/Allan!" teriak mereka.


Nicolaas, Garry, Danish dan Vigo mengangkat tubuh Adam dan membawanya ke kamar yang ada di lantai dua.