
Setelah selesai menghubungi adiknya dan berbicara dengan adiknya di telepon membuat Vigo makin kesal dan emosi. Apalagi saat mendengar ucapan dari adiknya itu.
"Sialan. Kenapa Allan bicara seperti itu padaku? Dimana dia sekarang dan kenapa jam segini belum pulang juga?"
Vigo kembali menghubungi Allan untuk menanyakan keberadaannya. Tapi usahanya gagal. Nomor yang dihubungi Vigo tidak aktif. Dan lagi-lagi hal itu sukses membuat Vigo marah.
"Aarrggghhh! Kau dimana Allan?!" teriak Vigo.
Vigo uring-uringan di kamarnya. Dirinya benar-benar kesal dikarenakan tidak mengetahui keberadaan Allan.
Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Namun Allan tak kunjung pulang. Hal itu sukses membuat Vigo benar-benar kesal, marah dan juga khawatir. Vigo sadar bahwa disini dialah yang bersalah. Dialah yang sudah membuat adiknya terluka sehingga tidak pulang ke rumah.
"Allan. Maafkan kakak," gumam Vigo.
Lalu tiba-tiba, Vigo mendengar suara bell berbunyi. Tanpa pikir panjang lagi Vigo pun berlari menuruni anak tangga dengan semangat.
"Itu pasti Allan."
CKLEK!
"Akhirnya kau pulang juga Al... laan," ucapan Vigo memelan saat diakhir kata.
"Vigo. Kamu kenapa, Nak?" tanya Celina.
Vigo langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan kakaknya, lalu dirinya duduk di sofa ruang tengah. Melihat sikap Vigo, mereka pun menyusul Vigo yang kini duduk di ruang tengah.
"Ada apa?" tanya Levi setelah menduduki pantatnya di sofa.
"Apa begini caranya kau menyambut kepulangan kami, hum?" tanya Nicolaas.
"Apa yang terjadi sayang? Kenapa kamu seperti ini?" tanya Celina sembari mengelus lembut rambut Vigo.
"Allan," lirih Vigo.
"Allan," ucap ketiganya.
"Kenapa Allan? Apa yang terjadi padanya?" tanya Celina.
"Lalu Allan mana?" tanya Levi yang tak melihat atau pun mendengar suara Allan.
"Allan belum pulang, Pa! Aku sudah berulang kali menghubunginya, tapi hanya sekali Allan menjawabnya. Itupun Allan tidak memberitahukanku keberadaannya dimana?"
Nicolaas menatap lekat wajah Vigo. "Apa kalian bertengkar?"
Celina dan Levi melihat kearah Nicolaas, lalu kembali menatap wajah Vigo.
"Jawab pertanyaan kakakmu itu, Nak!" kata Celina.
"Iya, kak! Kami memang bertengkar," jawab Vigo. Dirinya tidak berani menatap wajah kakaknya itu.
"Tapi biasanyakan kalian berdua memang sering bertengkar. Walau hanya pertengkaran kecil. Setelah itu kalian berdua berdamai lagi," kata Levi dan diangguki oleh Celina.
"Aku yakin pertengkaran kali ini bukan pertengkaran kecil. Kalau hanya sekedar pertengkaran kecil, tidak mungkin sampai semalam ini Allan belum pulang. Seperti Vigo katakan barusan. Berulang kali Vigo menghubunginya, tapi hanya sekali Allan menjawabnya. Saat Vigo menanyakan keberadaannya, Allan tidak memberitahukannya."
Nicolaas menatap Vigo. "Katakan apa yang terjadi?" tanya Nicolaas yang menatap tajam adiknya.
"Maafkan aku Pa, Ma, kak! Aku.. aku telah menampar Allan saat di kampus."
DEG!
Mereka terkejut saat mendengar penuturan Vigo, terutama Nicolaas.
"Kau gila, Go! Apa yang ada otakmu, hah?! Allan itu sedang sakit!" bentak Nicolaas.
"Ya, aku tahu kak! Aku terpaksa dan aku kelepasan saat itu. Aku benar-benar tidak bisa menahan emosiku," jawab Vigo.
"Memangnya apa yang terjadi? Kenapa kau menampar Allan?" tanya Levi lembut.
"Dan kau memarahi Allan dan tetap memaksa Allan untuk pulang. Bukan begitu Vigo?!" ucap dan tanya Nicolaas.
"I-iya kak!" jawab Vigo gugup.
"Lalu apa yang terjadi ketika kau tetap memaksa Allan untuk ikut pulang denganmu?" tanya Celina.
"Allan memberontak dengan melepaskan tangannya dari peganganku sembari mengatakan bahwa dia masih ada dua materi kuliah lagi. Tapi aku tidak mau mendengarkan perkataan Allan. Yang ada saat itu adalah aku harus membawa pulang Adam."
Mendengar jawaban dari Allan membuat Levi, Celina dan Nicolaas terkejut. Mereka tidak menyangka jika Vigo akan berbuat seperti itu terhadap Allan.
"Aku terus memaksa Allan untuk pulang dengan menarik kasar tangan Allan sehingga membuat Allan kesakitan. Tapi aku tidak peduli ringisan kesakitannya."
"Dan pada akhirnya Allan pun melawanku dengan menyebut nama lengkapku tanpa embel-embel kakak di depannya. Dan itulah yang membuatku kelepasan menampar Allan."
Mendengar penjelasan dari Vigo membuat Levi, Celina dan Nicolaas terkejut dan geleng-geleng kepala.
FLASBACK ON
PLAKK..
"Aakkhh." Allan meringis saat merasakan pedih di wajahnya.
"Vigo!" teriak para sahabatnya, lalu berlari menghampiri Vigo.
"Kau apa-apaan, Vigo!" bentak Carlo.
"Kau gila, Vigo!" bentak Crisan.
"Vigo. Apa-apaan kau ini. Dia adikmu. Kenapa kau menamparnya?" tanya Tian dengan nada kesal dan juga kecewa melihat sifat Vigo.
"Kau menamparku, kak? Apa kesalahanku, hah?!" teriak Allan menatap tajam Vigo.
"Kenapa? Kau marah pada kakak. Apa kau ingin menampar kakak balik?" tantang Vigo.
"Kalau aku tidak memandangmu. Kalau aku tidak menganggapmu sebagai kakakku. Kalau kakak itu orang lain. Maka detik ini juga aku akan menampar balik wajahmu. Atau aku bisa melakukan hal lebih dari pada sekedar tamparan." Allan menatap tajam Vigo.
Vigo terkejut ketika mendengar ucapan dari Allan. Dirinya tidak menyangka jika Allan akan berbicara seperti itu.
"Sebenarnya ada apa denganmu, kak? Kenapa dengan sikapmu hari ini? Yang aku tahu, aku tidak melakukan kesalahan apapun dari mulai kemarin-kemarin sampai kita berangkat kuliah tadi pagi," ujar Allan.
"Kau ingin tahu kesalahanmu apa, hah? Kesalahanmu itu adalah karena kau dekat dengan mereka!" teriak Vigo sembari menunjuk kearah kelompok Brainer dan kelompok Bruizer.
Allan melihat arah tunjuk Vigo. Dan Allan terkejut saat itu juga. Lalu kembali menatap wajah Vigo. "Apa? Hanya gara-gara aku dekat dengan mereka. Kau menjadi seperti ini kak. Kau berubah menjadi monster hanya kedekatanku dengan mereka!" teriak Allan sambil mendorong kuat tubuh Vigo.
"Kau jahat, kak! Kau jahat. Kau tidak bisa melarangku untuk bergaul dengan siapa pun. Kau tidak punya hak sama sekali untuk mengatur hidupku. Kau memang hyungku dan aku adikmu. Tapi kau tidak bisa melakukan hal ini padaku!" teriak Allan, lalu Allan pun pergi meninggalkan Vigo. Tapi dengan gesitnya, Vigo berhasil mencekal tangan Allan.
"Kau tidak boleh pergi. Kau ikut dengan hyung pulang." Vigo menarik kasar tangan adiknya.
"Tidak akan," jawab Allan.
Allan langsung memegang tangan Vigo yang memegang tangannya. Lalu Allan menarik dengan kuat tangan Vigo tersebut dan Allan pun berhasil melepaskan pegangan tangan Chanyeol pada tangannya. Tanpa membuang kesempatan, Jungie langsung pergi.
Saat Vigo ingin mengejarnya dan menangkap tangannya, Allan reflek menendang Vigo sehingga membuat Vigo terjatuh.
"Aaakkkhhh." tendangan Allan tidak main-main. Tendangannya mengenai pinggang Vigo.
Allan sempat berhenti dan melirik kearah Vigo. Tapi dikarenakan sakit dihatinya, Allan memilih mengabaikan Vigo. Allan pun pergi meninggal
FLASBACK OFF
Mendengar cerita dari Vigo membuat Nicolaas langsung berdiri dari duduknya dengan wajah marahnya dan tatapan tajamnya menatap adiknya.
"Apa kau sadar yang kau lakukan itu, Vigo? Itu sama saja kau memancing ingatan Allan kembali secara paksa. Kau tahukan sifat Allan seperti apa. Allan itu orang selalu memikirkan apa yang ingin dia ketahui. Sebelum dirinya ingat, Allan akan terus berusaha untuk mengingatnya. Dan kau tidak lupakan, apa yang dikatakan oleh dokter saat itu mengenai kondisi Allan kalau Allan jangan sampai memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya!" bentak Nicolaas.
"Maafkan aku kak. Aku tahu aku salah. Aku menyesal. Aku terpaksa dan juga kelepasan," lirih Vigo.