THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Memutuskan Untuk Pulang



Flashback On


Adam dan Gino berada di ruang kerja Yoga. Mereka berbincang-bincang sembari tertawa bersama Yoga yang berstatus sebagai ayah dari Gino.


"Aku ke kantin dulu mau beli makanan. Dam, kamu disini saja temani Papaku. Kalau kamu ikutan pergi, ntar Papa digoda sama karyawan seksinya itu."


Bugh..


Yoga langsung melempari putra bungsunya itu dengan bantal sofa karena kesal akan perkataan sekaligus ejekan dari putranya itu.


Sedangkan Gino sudah ngacir keluar meninggalkan ruang kerja ayahnya.


Sementara Adam hanya tersenyum melihat interaksi antara ayah dan anak itu. Dirinya seketika merasakan sesak ketika melihat bagaimana kedekatan Gino dengan ayahnya. Sedangkan dirinya sampai detik ini tidak mengetahui seperti apa wajah ayahnya karena dia tidak pernah mengenal ayahnya sejak lahir.


Tes..


Tanpa diminta air mata Adam jatuh membasahi wajahnya ketika kembali mengingat sosok ayah yang begitu diinginkan olehnya.


Yoga yang menyadari keterdiaman Adam seketika langsung melihat kearah Adam. Dan seketika Yoga terkejut ketika melihat Adam yang menangis.


"Hei, Adam! Ada apa sayang? Kenapa menangis?"


"Aku iri melihat kedekatan Paman dengan Gino. Coba saja aku memiliki ayah. Mungkin aku juga akan bahagia seperti Gino," jawab Adam.


Mendengar perkataan dari Adam seketika membuat hati Yoga sesak. Yoga sudah mengetahui perihal Adam yang tak mengenal seperti apa wajah ayahnya sejak lahir dari Gino.


Yoga beranjak dari duduknya lalu berpindah duduk di samping Adam. Setelah itu, Yoga menarik tubuh Adam dan membawanya ke dalam pelukannya. Dan detik kemudian, terdengar isakan pilu dari bibir Adam.


"Aku ingin seperti Gino, Paman! Aku juga ingin memiliki seorang Ayah dalam hidupku. Sejak aku lahir sampai sekarang. Aku tidak tahu seperti apa wajah Papa. Mama selalu bilang kalau Papa sudah meninggal. Tapi ketika aku meminta kepada Mama untuk menunjukkan dimana makam Papa. Mama selalu bungkam dan berujung kami berdua bertengkar."


Mendengar perkataan dari Adam membuat Yoga makin mengeratkan pelukannya.


Setelah beberapa detik, Yoga pun melepaskan pelukannya.


"Dengarkan Paman. Selama kamu di negara ini. Anggap Paman adalah ayah kamu. Paman sudah anggap kamu dan sahabat-sahabat Gino yang lain sebagai anak-anaknya Paman."


Adam seketika tersenyum ketika mendengar ucapan tulus dari ayahnya Gino.


"Terima kasih Paman!"


"Paman."


"Iya."


"Boleh aku bertanya?"


"Silahkan. Kamu mau bertanya apa?"


"Apa Gino akan seperti aku?" tanya Adam.


Mendengar pertanyaan dari Adam membuat Yoga bingung.


"Maksud kamu apa, hum?"


"Begini Paman! Paman kan tahu dari aku lahir sampai sekarang aku tidak memiliki ayah. Aku hanya memiliki satu orang tua yaitu Mama. Mama yang selalu ada untukku. Mama memberikan semuanya untukku. Mama bekerja untukku. Aku berharap Gino tidak bernasib sama sepertiku. Begitu juga dengan Bibi Maya. Aku berharap Paman akan selalu menjaga dan melindungi keluarga Paman. Jangan pernah meninggalkan mereka demi apapun diluar sana. Dan aku juga berharap Paman tidak menyakiti Bibi Maya, karena Bibi Maya adalah istri yang baik dan tulus mencintai Paman sampai sekarang."


Mendengar perkataan bijak dan permintaan dari Adam membuat Yoga menatap teduh wajah tampan Adam. Hatinya benar-benar menghangat ketika mendengar ucapan dari Adam tersebut. Tanpa Adam berbicara seperti itu, Yoga tidak akan pernah meninggalkan keluarganya. Yoga tidak akan pernah menyakiti istrinya dan anak-anaknya karena Yoga begitu menyayangi istri dan anak-anaknya.


Tes..


Seketika air mata Yoga jatuh membasahi wajahnya ketika mengatakan itu di hadapan Adam. Yoga mengatakan itu bukan hanya sekedar ucapan belaka. Yoga memang benar-benar menyayangi keluarganya.


Melihat Yoga menangis ketika mengatakan hal sensitif itu membuat Adam tersenyum bahagia. Bisa Adam lihat dari sorot matanya Yoga, ada ketulusan, kejujuran dan kesungguhan disana. Adam percaya jika Yoga begitu menyayangi keluarganya.


"Aku percaya dengan Paman. Aku akan selalu berdoa untuk kebahagiaan Paman dan keluarga Paman."


"Terima kasih sayang."


Flashback Off


"Gue nggak percaya akan perkataan dari perempuan itu yang mengatakan bahwa bayi yang dia kandung adalah bayi Paman Yoga!" seru Adam dengan menatap wajah Gino.


Gino menatap wajah Adam. Begitu juga dengan Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando.


"Gue orang luar memilih percaya sama Paman Yoga. Sementara lo yang berstatus sebagai anaknya justru mempercayai perkataan orang lain."


"Tapi....."


"Seharusnya lo percaya sama ayah lo sendiri, Gino! Karena lo udah hidup lama bersama ayah lo. Seharusnya lo bisa menebak dari setiap ucapan, gerakan bibir dan mimik wajah ayah lo. Dari semua itu lo bisa nangkap, apakah ayah lo itu bohong, jujur atau sebaliknya tengah menyembunyikan sesuatu."


"Gino! Paman Yoga begitu mencintai Bibi Maya, ibu lo! Paman Yoga begitu menyayangi lo dan kakak lo. Paman Yoga begitu menyayangi keluarganya. Paman Yoga nggak akan membuang semua itu demi perempuan lain."


"Bukan gue ingin membela Paman Yoga. Gue berani bersumpah dan gue berani menjamin bahwa Paman Yoga nggak bersalah. Jika pun perempuan itu benaran hamil anaknya Paman Yoga. Pasti ada sesuatu yang terjadi antara Paman Yoga dengan perempuan itu. Dan kenapa baru sekarang terbongkarnya? Mungkin saja selama ini Paman Yoga tengah melakukan sesuatu yang tidak kita ketahui. Termasuk perempuan itu."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Adam membuat mereka semua terdiam, termasuk Gino. Bahkan mereka menatap lekat manik coklat Adam ketika Adam berbicara. Ada kesungguhan, ketegasan dan kepercayaan disana.


"Gue harap lo bisa bersikap dewasa dalam menghadapi masalah kedua orang tua lo Gino. Lo udah tahu kan nasib gue dulu ketika tidak memiliki ayah? Apa lo mau tahu rasanya seperti apa? Sesak dan sakit Gino! Semua teman-teman gue dan sahabat-sahabat gue punya ayah. Sedangkan gue."


Adam tersenyum kecut ketika mengingat dulu dirinya yang tidak memiliki ayah. "Gue nggak punya ayah. Gue kembali bertemu dengan ayah gue udah dewasa ini. Dan udah kuliah lagi. Sementara lo." Adam menatap wajah Gino dengan tatapan sedih. "Lo sudah memiliki sosok ayah sejak lo lahir. Bahkan dia ikut memberikan ciuman dan pelukan ketika lo lahir. Dia selalu ada untuk lo. Bahkan dia sebagai saksi atas tumbuh kembang lo. Sampai sekarang!"


Tes..


Air mata Adam seketika jatuh membasahi wajah tampannya ketika berbicara dengan Gino mengenai Yoga.


"Gue mohon sama lo. Bertahanlah demi ayah lo yang sudah berjuang selama ini untuk hidup lo, untuk hidup ibu lo dan untuk hidup kakak lo. Jangan tinggalkan dia ketika masalah tengah mendatanginya hanya karena perempuan lain. Bicaralah baik-baik dan selesaikan secara baik-baik. Gue berbicara seperti ini karena lo adalah sahabat gue sekaligus saudara gue karena Paman Yoga udah anggap gue sebagai putranya sendiri. Dan juga gue nggak mau lo nyesal nantinya setelah lo tahu kejadian yang sebenarnya."


Setelah mengatakan itu kepada Gino. Adam langsung berdiri dari duduknya. Kemudian Adam pergi meninggalkan Gino dan semua sahabatnya.


Semua terdiam ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Adam untuk Gino dan melihat kepergian Adam yang dalam keadaan menangis.


"Gue setuju apa yang dikatakan oleh Adam. Tetaplah bersama ayah lo Gino. Jangan tinggalkan dia sendirian," ucap Vino.


"Jika lo pergi meninggalkan ayah lo. Otomotif lo memberikan kesempatan untuk perempuan itu agar bisa leluasa keluar masuk rumah lo untuk bertemu dengan ayah lo. Apa itu yang lo mau?" ucap dan tanya Leon.


"Kita semua sayang sama lo. Lo nggak sendirian," ucap Melky.


Mendengar ucapan dari sahabatnya membuat Gino memutuskan untuk pulang. Dirinya berjanji untuk membantu ayahnya dan segera memecahkan masalah yang menimpa ayahnya. Benar apa yang dikatakan oleh sahabatnya Adam. Dia tidak ingin menyesal dikemudian hari karena dia tidak mempercayai ayahnya sendiri.


"Baiklah. Aku akan tetap bersama ayahku. Dan aku tidak akan meninggalkannya," sahut Gino.


Melky, Vino, Diego, Zio, Leon dan Vando seketika tersenyum mendengar perkataan dari Gino.