
Setelah dinyatakan pulih seratus persen. Kini Adam dalam posisi duduk di tempat tidur dengan sorot matanya yang menatap tak bersemangat. Di pikirannya saat ini hanya Melky.
Adam begitu merindukan Melky. Sejak dirinya sadar dari koma. Sejak itulah dirinya tak melihat keberadaan Melky sahabatnya itu. Bahkan Adam juga sudah tahu bahwa dirinya koma selama 4 bulan.
Di ruang rawat Adam saat ini tampak ramai dimana anggota keluarga Abimanyu, keluarga Bimantara beserta para sahabatnya datang mengunjungi dirinya.
"Hiks... Melky mana? Kenapa Melky tidak datang... Hiks?" tanya Adam disertai isakannya.
Mendengar pertanyaan serta isakan dari Adam membuat mereka semua menatap iba dan juga khawatir Adam.
"Sayang," ucap Utari sembari memeluk tubuh putranya dan menghapus air matanya.
"Melky mana Mama? Kenapa Melky tidak ada disini. Apa terjadi sesuatu terhadap Melky? Ketika aku koma, aku melihat Melky dan keluarganya dalam bahaya. Aku juga melihat mereka sepertinya ingin pergi jauh."
Mendengar perkataan dari Adam membuat mereka semua hanya bisa diam. Mereka semua bingung harus menjawab apa di hadapan Adam tentang kepergian Melky ke Australia.
Tentang Adam yang sudah sadar dari koma. Belum ada diantara mereka untuk memberitahu Melky karena mereka terlalu bahagia ketika melihat Adam sadar. Ditambah lagi ketika mereka mendengar Adam yang langsung memanggil nama Melky ketika sadar dari koma. Bahkan Adam mencari keberadaan Melky.
Adam melepaskan pelukan ibunya. Setelah terlepas, tatapan matanya menatap kearah Danish, Ardi, Harsha dan para sahabatnya dan para sahabat kakak-kakaknya. Adam ingin mendapatkan jawaban dari mereka semua.
"Kalian pasti tahu sesuatu! Katakan padaku apa yang terjadi? Tidak mungkin Melky tidak datang membesukku. Aku tahu siapa Melky walau hubungan persahabatanku dengan Melky sangat singkat."
Adam menatap satu persatu wajah kakak-kakaknya beserta wajah sahabatnya dan sahabat-sahabat kakak-kakaknya.
"Katakan padaku dimana Melky?" Adam menangis kala mengatakan itu di hadapan semua orang.
Danish mendekati ranjang Adam. Begitu juga dengan Ardi, Harsha dan Vigo. Mereka menatap wajah Adam dengan keadaan menangis.
Danish berlahan mengusap lembut kepala Adam sembari tangan yang satunya menghapus air matanya.
"Kakak akan kasih tahu kamu tentang apa yang dialami oleh Melky. Tapi kamu harus janji sama kakak untuk tidak sedih atau pun syok. Kakak tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Kamu baru sadar dari koma."
Mendengar perkataan membuat Adam seketika menatap wajah kakak laki-lakinya itu. Dapat Adam lihat gurat kekhawatiran disana.
"Baiklah, aku janji."
Mendengar jawaban dari Adam membuat Danish tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka semua tersenyum ketika mendengar jawaban dari Adam.
"Melky saat ini berada di Australia. Dia dan keluarganya menetap disana."
Mendengar perkataan dari Danish membuat Adam tak bereaksi sama sekali. Adam berusaha mencerna apa yang barusan dirinya dengar.
"Melky saat ini berada di Australia. Dia dan keluarganya menetap disana."
Seketika Adam menggelengkan kepalanya ketika telah menyadari perkataan dari kakaknya itu. Seketika air matanya kembali mengalir membasahi wajahnya.
"Dam!"
Hati mereka semua sakit ketika melihat Adam yang menangis. Mereka benar-benar tidak tega melihat Adam.
Harsha yang berdiri di samping kanan Adam seketika langsung menarik tubuh Adam dan membawanya ke dalam pelukannya.
"Apa yang kamu rasakan saat ini. Itu juga yang dirasakan oleh Melky ketika dia dan keluarganya memutuskan untuk pindah ke Australia. Alasan kepindahan mereka kesana, Melky secara pribadi tidak mengetahuinya karena kedua orang tuanya tidak memberitahu Melky. Melky begitu berat untuk meninggalkan Jakarta. Dan salah satunya adalah kamu." Harsha berbicara lembut sembari mengeratkan pelukannya agar Adam merasa nyaman.
"Melky ingin tetap di Jakarta. Namun dia juga memikirkan kedua orang tuanya. Dia begitu berat untuk memilih," ucap Ardi.
"Dan pada akhirnya dia mengikuti keinginan kedua orang tuanya. Bagaimana pun hanya mereka keluarganya. Seperti yang Melky katakan kepada kakak dan kita semua bahwa Melky tidak memiliki saudara. Baik saudara kandung maupun saudara sepupu. Jika dia pergi meninggalkan kamu. Setidaknya banyak orang yang menjaga kamu. Tapi jika Melky menolak untuk pergi ke Australia bersama kedua orang tuanya. Siapa yang akan menjaga kedua orang tuanya itu di negara orang?" Vigo juga ikut menghibur Adam dengan menceritakan tentang Melky selama dirinya koma.
Adam seketika melepaskan pelukannya dari Harsha. Kemudian tatapan matanya menatap wajah para kakak-kakaknya dan para sahabatnya.
"Jadi Melky di Australia?"
"Iya!" mereka menjawab bersamaan.
"Selama kamu koma. Melky tidak pernah absen menghubungi kita untuk menanyakan kabar kamu," ucap Gala.
"Bahkan kita juga sering memberikan kabar tentang kamu kepada Melky," sahut Cakra.
"Dan tentang kamu yang sudah sadar dari koma. Kami belum memberitahu Melky. Dan bisa dipastikan sebentar lagi Melky akan menghubungi salah satu dari kita," sahut Danish.
Dan benar saja. Setelah Danish mengatakan itu, tiba-tiba ponsel milik Ardi berbunyi menandakan panggilan masuk.
Ardi yang mendengar ponselnya yang berbunyi langsung mengambilnya di saku celananya.
Seketika terukir senyuman manis di bibir Ardi ketika melihat nama orang yang sedang dibicarakan sejak tadi.
"Melky?" tanya Adam.
"Iya," jawab Ardi.
"Kak, angkat! Sekarang! Jangan lupa di loudspeaker panggilannya!"
Mendengar perintah dan melihat wajah tak sabaran Adam membuat mereka semua tersenyum gemas. Wajah Adam seketika berubah seperti anak kecil berusia 4 tahun. Imut dan menggemaskan.
Setelah itu, Ardi langsung menjawab panggilan dari Melky dan tak lupa meloadspeaker panggilannya itu agar Adam bisa dengar suara Melky.
"Hallo kak Ardi. Seperti biasa. Aku ingin tahu kabar Adam. Bagaimana Adam kak Ardi? Apa Adam sudah bangun dari tidurnya selama 4 bulan?"
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari Melky di seberang telepon seketika air mata Adam mengalir membasahi wajahnya. Apalagi ketika mendengar suara lirih Melky.
"Melky." Adam langsung menjawab pertanyaan dari Melky.
Deg..
Melky di seberang telepon seketika terkejut ketika mendengar suara sahabatnya yang tidak dia dengar selama 4 bulan ini. Seketika air matanya mengalir membasahi wajahnya.
"A-adam. Ka-kau sudah sadar dari koma?"
"Iya. Aku sudah bangun dari tidurku selama 4 bulan. Itu semua karena kamu."
"A-aku? Kok bisa?"
Mendengar pertanyaan dari Melky di seberang telepon membuat semua tersenyum.
"Iya bisalah. Secara ketika aku berada di alam bawah sadar ku. Kau dan keluargamu menggangguku. Apalagi ketika melihat kalian sepertinya sedang dalam masalah. Terutama kedua orang tuamu. Terlihat jelas di alam bawah sadar ku saat itu. Itu yang membuatku sadar dari koma."
Melky di seberang telepon terkejut ketika mendengar penuturan dari Adam yang mengatakan bahwa dirinya melihat bahwa terjadi sesuatu terhadap kedua orang tuanya.
"Apa kau mau tahu kata apa yang pertama kali aku ucapkan ketika aku membuka mataku?"
"Apa?" tanya Melky.
"Namamu. Aku memanggilmu. Dan aku sedih ketika tidak melihatmu disini. Dan lebih sedihnya kakak-kakakku mengatakan bahwa kamu sudah berada di Australia sekarang."
"Maafkan aku, Dam! Aku tidak bermaksud pergi tanpa berpamitan padamu. Aku dan kedua orang tuaku memutuskan pergi ke Australia ketika kau dinyatakan koma di rumah sakit."
"Memangnya kapan kau dan kedua orang tuamu berangkat ke Australia?"
"Tiga hari kau koma," jawab Melky.
"Sekali lagi aku minta maaf padamu, Dam! Aku sahabat yang buruk untukmu. Seharusnya aku disana dan ikut menjaga kamu. Bukannya pergi meninggalkanmu."
"Tidak Melky. Kamu tidak salah. Kalau aku diposisi kamu. Aku juga akam melakukan hal yang sama sepertimu. Dan kamu adalah sahabat terbaikku."
Tanpa Adam ketahui bahwa Melky saat ini tengah tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan dari Adam. Dirinya benar-benar bahagia ketika mendengar hal itu.
"Dam, jaga kesehatan kamu ya! Jangan terlalu lelah dalam melakukan hal apapun."
"Kamu juga Melky. Disana kamu jangan banyak temannya ya. Kalau bisa kamu nggak usah punya teman disana."
Mendengar perkataan dari Adam membuat Melky melotot di seberang telepon. Sedangkan para anggota keluarga dan para sahabatnya dan para sahabat-sahabat kakak-kakaknya hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala
"Lah bagaimana bisa begitu!"
"Bisalah. Kan aku yang bilang tadi."
"Terserah anda saja tuan kelinci."
"Yak! Apa kau bilang, hah?? Dasar hitam tengil!"
"Hahahaha. Saat ini wajahmu pasti lucu sekali ketika sedang marah Adam!"
Ketika Adam ingin membalas perkataan dari Melky. Melky yang di seberang telepon langsung mematikan panggilannya.
Sedangkan Adam langsung mengeluarkan segara nama-nama penghuni kebun binatang untuk Melky.
Sementara anggota keluarganya dan orang-orang yang ada di ruang rawatnya tersenyum ketika melihat wajah kesal Adam.