THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Hari Keberuntungan



Adam merupakan pemuda tampan, baik, cerdas, pintar, penyayang dan peduli akan sekitarnya. Kini Adam tengah bersiap-siap di kamarnya dengan pakaian biasa bukan pakaian kampus karena Adam akan pergi jalan-jalan bersama ketujuh sahabat-sahabatnya. Hari ini jadwal ngampusnya Adam libur. Tidak libur semuanya. Hanya Adam, ketujuh sahabat-sahabatnya dan teman-teman satu jurusan dengannya.


Selesai dengan urusannya, Adam pun keluar dari dalam kamarnya untuk turun ke bawah menemui kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya yang mungkin sudah menunggu dirinya.


"Selamat pagi Papa! Selamat pagi Mama! Selamat pagi kedua kakakku yang paling jelek di keluarga Bimantara!"


Adam menyapa kedua orang tuanya dan kedua kakak laki-lakinya sembari menjahili kedua kakak laki-lakinya itu.


Mendengar sapaan dari Adam membuat Utari dan Evan tersenyum. Sedangkan Garry dan Danish seketika memberikan pelototannya kepada adiknya yang menyebalkan itu.


Adam kemudian menduduki pantatnya di kursi di samping ibunya sembari tersenyum menatap wajah kesal kedua kakak laki-lakinya itu.


"Ini masih pagi, Adam!" ucap Danish kesal.


"Iya, tahu! Kenapa memangnya?" tanya Adam.


"Kalau pagi-pagi itu jangan cari masalah. Coba sekali-kali bersikap menjadi adik yang penurut, adik yang kalem, adik yang imut, adik lemah lembut sama kakaknya dan adik ya......"


"Najis." Adam langsung menjawab perkataan dari Danish.


Seketika Danish mendengus kesal karena dia belum selesai mengatakan semuanya dengan seenaknya adiknya itu langsung memotongnya dengan jawaban singkat, namun menyelekit.


Sedangkan Utari, Evan dan Garry tersenyum melihat perbedaan kecil antara Adam dan Danish.


Adam memasukkan suapan pertama nasi goreng ke dalam mulutnya sembari tatapan matanya menatap ke layar ponselnya. Begitu juga dengan Garry dan Danish.


"Adam sayang," panggil Utari.


Adam langsung melihat kearah ibunya. "Iya, Ma!"


"Kamu tidak kuliah hari ini?"


"Libur, Ma!''


"Libur? Nah, tuh Danish kakak kamu ngampus hari ini."


"Carmuk kali," jawab Adam seenaknya.


"Carmuk?" Utari berucap dengan wajah bingungnya.


"Cari muka, maksudnya!"


"Cari muka sama siapa?"


"Ya, sama Mama lah. Sama siapa lagi. Aku kan libur. Sedangkan kakak Danish ngampus. Nah, itu apa coba! Itu kan udah membuktikan bahwa kakak Danish cari muka sama Mama biar dikatakan anak yang baik, anak yang pintar, anak yang rajin dan......"


"Apa?!" Danish seketika memberikan pelototannya kepada adiknya itu. Dirinya sangat kesal pagi ini adiknya itu benar-benar menyebalkan.


Sedangkan Adam seketika memberikan senyuman termanis di hadapan kakaknya itu.


"Adam, sekarang Mama serius!" Utari berucap dengan menatap wajah putranya dengan wajah yang dibuat semenyeramkan.


Adam seketika menelan ludahnya secara kasar ketika melihat wajah tak mengenakkan yang diberikan oleh ibunya.


Evan tersenyum geli ketika melihat wajah takut putra bungsunya itu. Begitu juga dengan Garry dan Danish.


"Ih, Mama! Biasa aja kali lihatnya. Kalau Mama ingin tahu jawabannya kenapa aku libur kuliah hari ini. Mama tanyakan saja pada putra kedua Mama itu. Kan dia Dosen di kampus Mama. Dia tahu kenapa adiknya yang super tampan ini libur hari ini."


Setelah mengatakan itu, Adam kembali melanjutkan sarapan paginya. Sedangkan, Evan, Utari, Garry dan Danish seketika cengo mendengar perkataan dari Adam. Apalagi perkataan Adam yang terakhir yaitu mengatakan bahwa dirinya super tampan.


Tanpa mereka ketahui bahwa saat ini di dalam hatinya Adam sudah tertawa nista karena sudah berhasil membuat masalah di pagi hari ini dengan Danish yang menjadi korbannya.


***


Bagas memasuki kediaman Abimanyu dengan tampang datar namun kentara sekali bahwa dia sedang sangat kesal.


"Wajahmu seram sekali, sayang!" sebuah suara yang dengan lancangnya tengah duduk di sofa ruang tengah.


Bagas melihat orang itu lalu menghempaskan tubuhnya di sofa berlawanan. Menghela nafas kasar sembari melepas 3 kancing kemejanya dan mengusak rambutnya gemas.


"Kau terlihat lelah dan juga sedikit kesal. Apa ada masalah?" ucap dan tanya Kamila.


Orang yang menyapa Bagas adalah Kamila.


Kamila berdiri dari duduknya, lalu berpindah duduk di samping Bagas suaminya.


"Mau cerita?" tanya Kamila.


Bagas menatap wajah cantik istrinya. "Aku akan cerita. Tapi boleh aku mendapatkan satu gelas teh hangat buatanmu, sayang!"


Mendengar perkataan dari Bagas membuat Kamila seketika tersenyum.


"Baiklah. Aku akan membuatkan teh hangat untukmu," jawab Kamila.


"Terima kasih, sayang." Bagas berucap sembari memberikan kecupan sayang di pipi Kamila sang istri.


Setelah itu, Kamila pun berdiri. Kakinya melangkah menuju dapur untuk membuatkan teh hangat untuk suami tercinta.


Tak butuh waktu lama. Kamila datang dengan membawa segelas teh hangat di nampan.


"Ini tehmu, sayang." Kamila memberikan teh hangat tersebut kepada Bagas.


Bagas menerima teh hangat itu dengan senyuman manis. "Terima kasih, sayang. Kau yang terbaik."


Bagas berlahan meneguk teh hangat itu. Setelah meneguk beberapa tegukan. Bagas meletakkan teh itu di atas meja.


"Sekarang ceritakan. Apa yang terjadi di kantor?" tanya Kamila.


"Perusahaan yang ingin bekerja sama dengan perusahaan Abi'Manyu Group, tiba-tiba saja membatalkan kerjasamanya. Yang lebih parahnya lagi adalah perusahaan sialan itu membatalkan kerjasamanya ketika tujuh perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya sudah membayar sejumlah uang untuk proyek yang akan dilakukan dua minggu lagi," ucap Bagas.


Kamila yang mendengar perkataan dari Bagas seketika terkejut. Dirinya tidak menyangka jika perusahaan tersebut tega mengkhianati tujuh perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaannya.


"Bukan itu saja sayang. Pemilik perusahaan tersebut tidak hadir dalam rapat beberapa jam yang lalu di perusahaan MT'Rn. Bahkan nomornya tidak bisa dihubungi," ucap Bagas.


Bagas menatap wajah cantik Kamila istrinya. "Kau tahu sayang. Tujuh perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan MEBEL GRUP, selain perusahaan milikku. Perusahaan DVN CORP milik Davan juga ikut."


Kamila kembali terkejut ketika mendengar Bagas yang menyebut perusahaan milik adik iparnya juga ikut dalam kerjasama tersebut.


"Apa kau akan diam saja? Kau tidak menyelidiki masalah ini?" tanya Kamila.


"Davan sudah melakukannya. Awalnya aku dan Davan akan pergi menemui bajingan itu ke perusahaannya. Namun Davan melarangku ikut dan menyuruhku pulang," jawab Bagas.


Bagas mengusap-ngusap lembut bahu suaminya. "Kau tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja. Untuk saat ini kita percayakan saja dulu pada Davan. Jika Davan gagal. Baru kita turun tangan! Kita bisa bicarakan masalah ini dengan anggota keluarga lainnya. Kita beritahu juga Utari!" seru Kamila.


Mendengar usulan dari Kamila. Bagas langsung mengangguk setuju.


"Baiklah," jawab Bagas.


"Ya, sudah! Lebih kau mandi sekarang. Aku akan buat cemilan untukmu," Kamila.


"Baiklah."


Setelah mengatakan itu, Bagas langsung beranjak dari duduknya dan bergegas menuju kamarnya. Dan diikuti oleh Kamila yang melangkah menuju dapur.


***


Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando berada di sebuah arena balapan. Ntah kenapa tiba-tiba mereka berada disana. Dan mengikuti balapan. Baik Adam maupun ketujuh sahabat-sahabatnya tiba-tiba ingin sekali ikut balapan. Dan mereka memenangkan balapan tersebut.


"Wah! Nggak nyangka gue. Kita semua menang dalam balapan. Padahal ini adalah balapan pertama dalam hidup kita!" seru Leon.


"Gue juga nggak nyangka. Awalnya gue berpikir bakal kalah melawan si jago balapan itu. Ternyata gue berhasil dan menjadi pemenang!" seru Zio.


Mendengar seruan dan melihat wajah semangat dari Leon dan Zio membuat Adam, Vino, Diego, Gino dan Vando tersenyum.


"Anggap saja ini hari keberuntungan kita," sahut Melky.


"Karena kita mendapatkan keberuntungan hari ini karena bertubi-tubi memenangkan balapan. Kita belanja dan makan sepuasnya. Bagaimana!" ucap dan tanya Diego.


"Oke!"


Setelah itu, Adam dan ketujuh sahabat-sahabatnya pergi meninggalkan arena balapan untuk pergi ke tempat-tempat yang bagus di kota Jakarta. Mereka akan menghabiskan waktu bersama hari ini sampai sore mumpung hari libur.


***