THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kesedihan Melky Akan Adam



Keesokan harinya di kediaman keluarga Pramana terlihat seorang pemuda tampan sedang duduk termenung di sofa ruang tengah. Pikirannya saat ini memikirkan sahabat sekaligus saudaranya. Sahabatnya itu adalah Adam.


"Dam.. Hiks." Melky seketika terisak ketika memikirkan Adam.


Ketika Melky tengah memikirkan Adam yang tidak ingat dengan dirinya. Tanpa diketahui oleh Melky, kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya datang menghampiri dirinya.


Sesampainya di ruang tengah, mereka terkejut melihat Melky menangis.


Ghiska yang melihat putranya menangis langsung menghampiri putranya itu.


"Hei, sayang. Ada apa? Kenapa kamu nangis, nak?" tanya Ghiska khawatir sembari tangannya mengusap lembut kepala belakang putranya itu.


Jordan dan Gerard sudah duduk di sofa. Tatapan matanya menatap Melky.


Melky langsung melihat kearah ibunya yang juga tengah menatap dirinya. Air matanya kembali jatuh membasahi wajahnya.


"Mami... Hiks... Adam!"


Mendengar putranya menyebut nama Adam membuat Ghiska khawatir. Begitu juga dengan Jordan dan Gerard.


"Kenapa dengan Adam? Dia baik-baik saja kan?" tanya Ghiska.


"Adam baik-baik saja. Akunya yang nggak baik-baik saja," sahut Melky.


Ghiska melihat kearah suami dan putra sulungnya. Begitu juga dengan suami dan putra sulungnya itu. Mereka saling memberikan tatapan.


Setelah itu, Ghiska kembali menatap wajah putra bungsunya. Sama halnya dengan Jordan dan Gerard.


"Kenapa? Apa kamu bertengkar sama Adam? Tapi itu nggak mungkin," ucap Ghiska.


"Adam... Adam melupakan aku, Mi!"


Seketika Ghiska membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Melky. Begitu juga dengan Jordan dan Gerard.


Jordan dan Gerard kemudian berdiri dari duduknya dan melangkah menuju mendekati Melky.


"Apa yang terjadi? Kenapa Adam melupakan kamu?" tanya Gerard.


"Dua hari yang lalu Adam mengalami kecelakaan. Akibat dari kecelakaan itu, Adam kehilangan memorinya yang sekarang ini."


"Jadi maksud kamu kalau Adam kembali ingat ke masa-masa dimana dia dulu hanya punya ibu dan keluarga Abimanyu dan sahabat-sahabat yang kamu bilang geng Brainer itu?" tanya Jordan.


"Iya," jawab Melky. "Lebih tepatnya ingatan Adam kembali ketika Adam dan kak Danish masih musuhan."


Gerard yang tidak tahu apa-apa langsung bertanya kepada adiknya itu.


"Kakak nggak ngerti apa yang kamu bicarakan. Bisa ceritakan sedikit tentang sahabat kamu itu, Melky!"


Melky melihat kearah kakaknya. Dapat Melihat lihat bahwa kakaknya itu bingung dan juga penasaran akan apa yang dia bicarakan sama kedua orang tua mereka.


"Begini kak. Dari kecil Adam tidak pernah mengenal sosok ayah kandungnya. Dari Adam lahir sampai Adam kuliah. Adam tidak tahu seperti apa wajah ayahnya. Bahkan Adam tidak tahu kalau dia punya dua orang kakak laki-laki. Adam selama ini tinggal bersama ibu kandungnya dan keluarga Abimanyu. Mereka yang menjaga Adam sampai Adam tumbuh dewasa."


Mendengar perkataan sekaligus penjelasan dari adiknya membuat Gerard terkejut. Dia tidak menyangka jika Adam pernah mengalami hal seperti itu.


"Sebelum Kak Danish tahu bahwa Adam adalah adik yang selama ini dia rindukan itu dulunya adalah musuh bebuyutannya. Setiap hari mereka ribut, bertengkar dan berkelahi. Bahkan perkelahian mereka hampir membuat mereka kehilangan nyawa. Mereka sama-sama tidak sadarkan diri 3 hari di rumah sakit."


Gerard seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Melky. Dirinya tidak menyangka jika kedua kakak adik itu dulunya hampir kehilangan nyawa akibat perkelahian.


"Apa yang membuat mereka sampai berpisah sehingga besarnya mereka menjadi musuh?" tanya Gerard.


"Seperti yang diceritakan sama kak Ardi, kak Harsha, kak Danish dan sahabat-sahabatnya kepadaku. Ini bermula dari nenek dan Bibinya mereka yang tak lain adalah ibu dan kakak perempuannya Paman Evan. Mereka tidak menyukai Bibi Utari karena pada saat itu Bibi Utari hanya seorang wanita biasa yang tak selevel dengan keluarga Bimantara. Karena ketidaksukaan mereka terhadap Bibi Utari, mereka memfitnah Bibi Utari."


"Apa yang mereka lakukan terhadap Bibi Utari?" tanya Gerard.


"Mereka menyewa seorang pria lalu meminta pria itu tidur dengan Bibi Utari. Pada saat itu Bibi Utari habis melahirkan."


"Jangan bilang kalau bayi itu adalah Adam?" tanya Gerard.


"Iya. Bayi itu adalah Dirandra Adamka Abimanyu. Marga itulah yang selalu dipakai oleh Adam sampai Adam dewasa."


"Karena perbuatan ibu dan kakak perempuannya. Paman Evan dengan kejamnya mengusir Bibi Utari dari kediaman Bimantara dan tidak mau mengakui bahwa bayinya itu adalah anak kandungnya. Ketika Bibi Utari hendak pergi, Bibi Utari ingin membawa Kakak Garry dan kakak Danish bersamanya, namun dihalangi oleh ibunya Paman Evan."


Gerard benar-benar terkejut ketika mendengar cerita dari Melky tentang kehidupan Adam dan ibunya. Gerard tidak habis pikir akan perbuatan dari kedua perempuan itu.


"Walau pun Paman Evan melakukan kesalahan karena tidak mempercayai Bibi Utari. Paman Evan masih mencintai Bibi Utari. Terbukti, selama ini Paman Evan selalu mencari keberadaan Bibi Utari dan Adam."


"Semuanya berakhir bahagia. Yang paling bahagia adalah Adam dimana Adam yang telah bertemu dengan ayah dan kedua kakaknya. Tapi sekarang..."


Tes..


Melky menangis ketika mengingat Adam sahabat pertamanya tidak mengenalinya.


Grep..


Gerard menarik tubuh adiknya dan membawanya ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap-usap lembut punggung adiknya itu.


"Kamu jangan berkecil hati karena Adam tidak ingat sama kamu. Kamu masih bisa menjadi sahabatnya Adam, walau Adam melupakan momen-momen kebersamaan kalian berdua. Jangan jauhi Adam hanya karena Adam yang melupakan semuanya tentang kamu. Kamu buat momen baru bersama Adam. Ulangi lagi apa yang pernah kamu lakukan dulu ketika pertama kali menjalin hubungan persahabatan dengan Adam. Siapa tahu Adam ingat sama kamu."


"Papi setuju apa yang dikatakan oleh kakak kamu. Jangan berkecil hati dan juga jangan sedih. Adam sedang sakit saat ini. Ini bukan kemauan Adam. Dia juga tidak ingin hal ini terjadi," ucap Jordan lembut yang tangannya mengusap lembut kepala belakang putranya.


Setelah merasakan adiknya mulai tenang. Gerard seketika melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah tampan adiknya itu. Kemudian tangannya mengusap lembut air mata adiknya itu.


"Jangan sedih hanya karena Adam lupakan akan kebersamaannya denganmu. Justru yang harus kamu lakukan adalah terus dekati Adam dan buat momen baru bersama Adam. Jangan pernah kamu tinggalkan Adam," ucap Gerard yang memberikan semangat untuk adiknya.


Mendengar perkataan dari ayah dan kakaknya membuat Melky seketika tersenyum. Di dalam hatinya Melky membenarkan apa yang dikatakan oleh ayah dan kakaknya itu.


"Aku tidak akan pernah meninggalkan Adam. Ditambah lagi Adam yang sedang sakit saat ini. Aku akan selalu bersama Adam."


Mendengar perkataan dari Melky membuat Ghiska, Jordan dan Gerard tersenyum.


"Ini baru putranya Papi."


"Kamu pasti bisa mengembalikan ingatan Adam. Semangat!" ucap Ghiska.


"Iya, Mami benar. Aku yakin Adam akan kembali ingat padaku. Dulu Adam juga pernah hilang ingatan. Adam melupakan semuanya. Dan lihat hasilnya. Adam bisa mengingat semua orang-orang terdekatnya. Apalagi saat ini Adam hanya lupa sebagian saja," ucap Melky yang penuh semangat. Tidak seperti beberapa menit yang lalu dalam keadaan bersedih.


"Adam, gue janji sama lo. Gue akan selalu ada untuk lo. Gue nggak akan pernah ninggalin lo. Gue janji akan buat lo ingat lagi sama gue," batin Melky tersenyum.