THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Janji Adam Untuk Jasmine



Adam sudah berada di Bandung. Saat ini Adam berada di ruang tengah bersama dengan anggota keluarga Erlangga.


Yeni saat ini menangis di pelukan Adam. Ketika Adam datang bersama ketiga kakaknya yaitu Danish, Ardi dan Harsha. Yeni langsung berlari memeluk tubuh Adam. Yeni menumpahkan semua kesedihannya kepada Adam.


"Bibi harus mengikhlaskan semuanya. Jangan seperti ini. Jika Bibi seperti terus, itu sama saja Bibi menyakiti Ariel. Satu hal yang harus Bibi ingat. Orang yang sudah meninggal itu bisa melihat kita dari atas sana. Aku yakin Ariel diatas sana pasti menangis melihat perempuan yang begitu dia sayangi tengah menangis disini. Dan penyebab perempuan itu menangis karena kepergiannya. Apa Bibi mau membuat Ariel menangis dan menyalahkan dirinya?"


Yeni langsung melepaskan pelukannya dari Adam, lalu tatapan matanya menatap wajah tampan Adam. Setiap melihat wajah Adam, seakan-akan Yeni tengah menatap wajah putra bungsunya.


Bagaimana tidak? Adam, Ariel dan Jasmine dipertemukan ketika masuk Sekolah Menengah Pertama sampai Sekolah Menengah Atas. Enam tahun kebersamaan ketiganya dan berakhir mereka dipisahkan karena Adam memilih kuliah di Amerika.


"Bibi janji sama kamu, sama semua anggota keluarga Erlangga, terutama kepada suami dan kedua putra dan putrinya Bibi tidak akan bersedih lagi. Bibi akan kuat dan tetap semangat menjalani kehidupan."


Semuanya langsung tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan janji dari Yeni, terutama suami dan kedua anaknya. Mereka benar-benar bahagia akan hal itu. Ini semua tak lepas dari bujukan Adam.


"Dan jangan lupa selalu mengirimkan doa untuk Ariel," ucap Adam.


"Pasti," jawab Yeni.


"Kami akan selalu mengirimkan doa untuk Ariel!" jawab semua anggota keluarga Erlangga.


Adam menatap satu persatu wajah anggota keluarga Erlangga. Adam ingin bertanya dimana Jasmine. Sejak tadi dia tidak melihat keberadaan Jasmine.


"Jasmine mana?" tanya Adam.


Ketika Yana hendak menjawab pertanyaan dari Adam, seketika mereka semua dikejutkan dengan suara panggilan seseorang yang begitu menyayat hati saat mendengar suaranya.


"Adam!"


Baik Adam, Danish, Ardi dan Harsha maupun anggota keluarga Erlangga langsung melihat keasal suara tersebut. Dan dapat mereka lihat Jasmine yang menangis dengan tatapan matanya menatap kearah Adam. Di belakang Jasmine berdiri Denny sang Paman.


Adam seketika berdiri dari duduknya lalu melangkah mendekati Jasmine yang sudah menangis dengan tatapan matanya tak lepas dari dirinya.


Brukk..


Adam menjatuhkan tubuhnya bersimpuh di hadapan Jasmine. Air mata Adam seketika jatuh membasahi pipinya ketika melihat kondisi Jasmine.


"A-adam... Hiks... Ariel... Ariel... Hiks."


Grep..


Adam langsung memeluk tubuh Jasmine dengan erat. Dirinya benar-benar tidak tega melihat Jasmine yang tampak merindukan sosok Ariel.


"Hiks... Hiks... Hiks."


Seketika isak tangis Jasmine pecah di pelukan Adam. Hatinya benar-benar hancur saudara sekaligus sahabat terbaiknya selama ini pergi meninggalkan dirinya untuk selamanya.


"Ariel udah nggak ada. Dia pergi, Dam! Ariel jahat sama gue. Dia pergi tanpa ajak gue. Padahal dia janji sama gue nggak akan ninggalin gue... Hiks," adu Jasmine kepada Adam.


Adam tak kuasa menahan tangisannya ketika mendengar aduan dari Jasmine. Hatinya sakit ketika mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Jasmine.


Bukan hanya Adam saja yang hatinya tersayat ketika mendengar ucapan sedih dari Jasmine. Semua anggota keluarganya saat ini semua dalam keadaan menangis. Mereka tak kuasa menahan air matanya. Air mata mereka turun begitu saja.


Adam melepaskan pelukannya lalu tatapan matanya menatap wajah basah Jasmine yang saat ini menatap wajahnya.


"Gue rindu Ariel. Dan gue juga rindu lo, Dam!"


Adam tersenyum ketika mendengar ucapan dari Jasmine. "Gue juga rindu sama lo. Dan gue juga rindu Ariel. Maaf saat itu gue ngelupain lo dan Ariel."


"Gue dan Ariel tahu bagaimana kondisi lo saat itu. Bukan keinginan lo buat lupain gue dan Ariel. Lo sedang sakit saat itu."


"Lo tahu dari mana kalau Ariel...?"


"Dari Ricky, teman gue. Kita bertemu ketika kita di Amerika dulu."


"Gue bangga sama lo, Dam. Lo dikelilingi oleh orang-orang baik. Ketika lo sekolah dasar, lo dijagain sama Zelo. Dia selalu ada buat lo. Dia selalu bantu lo setiap ada yang bully lo, walau aslinya lo bukan penakut. Hanya saja lo malas ladenin mereka. Sekali lo ladenin mereka, lo nggak bisa berhenti."


"Di SMP dan di SMA, Tuhan mempertemukan kita bertiga. Gue, Ariel dan lo. Bahkan teman-teman baru kita di SMA juga ingin bersahabat dengan kita bertiga. Lulus SMA, lo mutusin kuliah di Amerika. Beberapa hari disana, lo dapat teman baru lagi bahkan sahabat. Dan gue dengar keenam sahabat lo yang di Amerika pindah ke Jakarta dan kuliah satu kampus dengan lo. Dan satu lagi, lo juga mendapatkan satu sahabat yaitu Melky."


Jasmine seketika tersenyum ketika menyebut teman bahkan sahabatnya Adam satu persatu dan secara mendetail.


"Lo serakah banget sih jadi orang. Banyak banget lo punya temen dan punya sahabat. Kasih satu buat gue napa. Gue juga pingin kayak lo, Dam yang dikelilingi banyak teman dan juga sahabat. Di dunia ini yang selalu nempel sama gue tuh cuma Ariel doang. Setiap hari dia selalu gangguin gue. Baik di rumah maupun di luar rumah. Gue mau cari teman atau sahabat baru, Ariel langsung melototin gue. Sama lo aja Ariel masih aja gangguin. Memang usil ya si Ariel."


"Hiks... Hiks... Hiks."


"Gue kangen dia, Dam! Gue kangen semua tentang dia."


Adam berlahan menghapus air mata Jasmine. Kemudian tangannya mengusap lembut kepala Jasmine sehingga memperlihatkan kening putih Jasmine.


"Gue sayang sama lo melebihi apapun. Bukan hanya sekedar sahabat. Lo mau jadi pacar gue?"


Deg..


Jasmine seketika terkejut ketika Adam yang langsung mengutarakan perasaannya dan langsung nembak dirinya.


"Dam, lo?"


"Kenapa? Apa perasaan lo udah hilang buat gue karena gue terlambat menyadarinya? Atau lo....."


"Gue mau!"


"Apa?"


"Gue mau jadi pacar lo karena gue cinta sama lo."


Adam tersenyum ketika mendengar jawaban dari Jasmine. Begitu juga dengan Danish, Ardi, Harsha dan anggota keluarga Jasmine. Mereka semua bahagia.


"Lo harus semangat menjalani hari-hari lo walau keadaan lo seperti ini. Nggak ada alasan buat lo untuk tidak semangat untuk menjalani kehidupan lo hanya karena keadaan lo seperti ini. Gue mau Jasmine yang dulu, Jasmine super ceria. Bisa?"


Mendengar ucapan sekaligus permintaan dari Adam membuat Jasmine meneteskan air matanya. Dan detik kemudian, Jasmine langsung menganggukkan kepalanya.


"Gue janji bakal semangat menjalani kehidupan gue. Dan gue juga akan berusaha untuk belajar jalan karena dokter bilang kaki gue hanya lumpuh sementara."


"Bagus. Gue bakal tagih semua itu. Jika lo berhasil melewati semuanya, gue kasih lo hadiah."


"Apa hadiahnya?"


"Hadiahnya adalah gue akan bawa lo ke Jakarta. Dan tinggal disana bersama gue."


Jasmine langsung mengangguk-anggukkan kepalanya dengan semangat.


Melihat reaksi dari Jasmine membuat Adam tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarganya.