
Keesokan harinya dimana Adam sudah berada di kampus. Dia tidak sendirian, melainkan bersama keenam sahabatnya kecuali Zio yang berada di rumah.
Saat ini Adam dan keenam sahabatnya berada di kelas. Mereka tengah membahas masalah Zio, lebih tepatnya Adam yang terlebih dahulu menceritakan rencananya untuk menyelidiki pemilik asli dari vcd-vcd tersebut.
"Apa rencana kamu, Dam?" tanya Diego.
"Yang jelas nanti ketika jam istirahat aku mau menyelidiki orang yang sudah memfitnah dan menuduh Zio atas vcd-vcd itu," jawab Adam.
"Caranya bagaimana?" tanya Melky.
"Mudah saja. Cukup kalian berpura-pura ribut untuk memancing orang itu keluar."
"Ribut? Maksudnya?" tanya Melky, Vino, Diego, Gino, Leon dan Vando bersamaan dengan menatap wajah Adam bingung.
Adam seketika tersenyum ketika melihat wajah bingung keenam sahabat-sahabatnya itu.
"Vino, Diego dan Gino. Kalian bertiga berperan sebagai antagonis. Kalian marah dan kecewa terhadap Zio. Kalian melakukan hal itu di kantin atau di kelas. Sebisa mungkin perkataan kalian itu didengar oleh semua mahasiswa atau mahasiswi. Jadi seolah-olah kalian benar-benar marah dan membenci Zio."
"Terus bagaimana dengan kita?" tanya Melky, Leon dan Vando bersamaan.
"Kalau kalian kebalikannya. Kalian justru memihak dan percaya sama Zio. Dan dengan begitu terjadi perpecahan antara kalian. Kalian perlihatkan kalau kalian benar-benar berkelahi gara-gara Zio. Dari situ kita bisa melihat siapa diantara mahasiswa dan mahasiswi yang memiliki hati tulus dan hati busuk."
"Nah, terus lo berperan sebagai apa?" tanya Vando.
"Aku berperan sebagai orang yang tersakiti dimana aku menyaksikan sahabat-sahabat aku saling bermusuhan dan saling membenci satu sama lain. Aku berulang kali melerai perkelahian kalian, tapi kalian tidak mau mendengarkanku. Justru kalian menyalahkanku."
"Kami menyalahkan kamu karena memihak Zio!" seru Vino, Diego dan Gino bersamaan.
"Dan kami menyalahkan kamu karena kamu plin-plan dalam mengambil keputusan antara percaya dan tidak percaya terhadap Zio, begitu?" ucap dan tanya Melky.
"Yup! Benar sekali." Adam langsung mengiyakan perkataan dari Melky dengan mengacungkan jempolnya kearah Melky.
Mendengar ide dan rencana yang luar biasa dari Adam membuat Melky, Vino, Diego, Gino Leon dan Vando menganggukkan kepalanya tanda setuju. Mereka setuju dengan rencana Adam tersebut.
"Baik, kami setuju!" seru mereka bersamaan.
"Kapan kita memulainya?" tanya Leon.
"Dimulai hari ini. Permainan akan segera dimulai ketika semua mahasiswa dan mahasiswi masuk ke kelas. Posisi duduk kita juga berubah," sahut Adam.
"Baiklah!"
***
Di sebuah perusahaan dimana terlihat seorang pria paruh baya sedang duduk di sofa yang ada di ruang kerjanya di perusahaan MD Advertising. Pria itu adalah Titan Anggoro.
Titan saat itu tengah tersenyum bahagia karena sebentar lagi perusahaan incarannya menjadi miliknya. Perusahaan tersebut adalah Perusahaan EVN'BimTara milik Evan Hara Bimantara dan PLV CORP milik Alex Palavi.
Tanpa diketahui oleh Titan bahwa Evan dan Alex sudah mengetahui triknya tersebut. Salah satunya adalah bahwa perusahaan MD Advertising dan perusahaan MIKRO Advertising adalah sama-sama miliknya. Hanya saja Titan menyebutkan bahwa perusahaan MIKRO Advertising itu milik adik laki-lakinya yang diwakilkan kepadanya untuk bertemu dengan Evan dan Alex.
Jadi, jika kerjasama ini terjalin. Maka orang yang paling diuntungkan adalah Titan karena berhasil merebut dua perusahaan terkenal di dunia dan di Jakarta sekaligus.
Namun jika gagal, maka pria itu akan kehilangan kedua perusahaan miliknya. Dan secara otomatis kedua perusahaan tersebut akan menjadi milik Evan Hara Bimantara dan Alex Palavi.
"Sebentar lagi Evan, Alex! Kalian berdua akan kehilangan perusahaan kalian. Kalian terlalu bodoh mempercayaiku. Padahal perusahaan MIKRO Advertising itu juga perusahaan milikku."
Titan Anggoro tersenyum di sudut bibirnya sembari membayangkan wajah kekalahan seorang Evan Hara Bimantara dan Alex Palavi.
Ketika Titan Anggoro sedang tersenyum membayangkan wajah kekalahan dua rekan bisnisnya yaitu Evan Hara Bimantara dan Alex Palavi, seketika dirinya dikejutkan dengan ketukan pintu dari ruang kerjanya.
Tok.. Tok..
Tok..
"Masuk!"
Cklek..
"Ada apa?"
"Ada dua pria yang mencari anda, Bos!"
"Siapa mereka? Bukankah saya tidak memiliki janji atau kunjungan apapun?"
"Benar, tuan! Tapi yang datang ini adalah CEO perusahaan EVN'BimTara dan PLV CORP!"
Mendengar perkataan dari asistennya itu membuat Titan terkejut. Dirinya tidak menyangka jika kedua CEO terkenal itu mendatangi perusahaannya. Padahal baru dua hari yang lalu dirinya bertemu dengan kedua CEO tersebut.
"Kenapa mereka kesini?" batin Titan.
"Bagaimana, Bos?"
"Ya, sudah! Antar mereka kemari."
"Baik, Bos!"
Setelah itu, laki-laki tersebut pergi meninggalkan ruangan kerja atasannya itu untuk menemui dua CEO perusahaan EVN'BimTara dan CEO perusahaan PLV CORP.
***
Braakk..
Seketika Diego menggebrak meja dengan keras sehingga membuat penghuni kantin terkejut. Mereka semua melihat dimana sahabat-sahabatnya Adam tengah bersitegang.
"Lo apa-apaan, Melky! Kenapa lo belain Zio? Dia sahabat yang membawa pengaruh buruk untuk kita dengan memberikan contoh yang tak baik untuk kita!" bentak Diego dengan menunjuk kearah Melky.
"Lo yang apa-apaan. Zio sahabat lo. Bahkan lo yang terlebih dulu kenal sama dia dibandingkan gue. Seharusnya lo percaya sama dia. Bukan sebaliknya!" bentak Melky.
Mendengar ucapan demi ucapan dari Melky dan Diego membuat para penghuni kantin terkejut. Mereka tidak menyangka jika Adam dan sahabatnya sampai bertengkar hebat gara-gara Zio.
Sementara di hati Adam, Vino, Gino, Leon dan Vando berdecak kagum melihat acting yang dimainkan oleh Diego dan Melky.
"Busyet dah! Keren habis acting sahabat-sahabat gue," batin Vino.
"Nggak nyangka gue. Berbakat juga mereka acting ributnya," batin Gino.
"Wow! Keren cuy!" batin Leon.
"Salut gue. Kayak beneran," batin Vando.
Sementara Adam sejak tadi memperhatikan sekeliling kantin seolah-olah Adam tidak peduli akan sahabat-sahabatnya yang sedang ribut besar.
"Aku bersumpah! Jika aku menemukanmu atau kalian, maka aku tidak akan memberikan kata ampun untukmu atau untuk kalian." Adam berbicara di dalam hatinya.
Braakk..
Adam seketika menggebrak meja bersamaan dengan dirinya beranjak dari duduknya. Tatapan matanya menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya.
Mendengar gebrakan kuat dari Adam membuat semua penghuni kantin termasuk keenam sahabatnya tersentak kaget. Spontan keenam sahabatnya menatap tajam kearah dirinya.
"Busyet dah! Sahabatnya disuruh acting pura-pura marahan," Melky dan Diego.
"Giliran dia justru beneran," batin Vino dan Gino.
"Gila nih orang," batin Leon dan Vando.
"Jika kalian ingin meneruskan perkelahian kalian. Silahkan! Tapi gue saranin, lanjutkan di lapangan. Nggak seru kalau disini!" teriak Adam sembari memberikan kode kepada sahabat-sahabatnya melalui gerakan mata.
Mendapatkan kode dari Adam membuat Melky, Vino, Diego Gino, Leon dan Vando langsung paham.
Setelah mengatakan itu, Adam pun pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya dengan memasang wajah datar dan dingin.