THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S2. Kilas Balik



Di kediaman keluarga Bimantara. Evan, Utari dan Garry sudah berada di meja makan. Sedangkan Danish masih di kamarnya.


"Garry. Tolong panggilkan adikmu. Suruh adikmu segera turun dan sarapan." Utari meminta putra tertuanya untuk memanggil putra keduanya.


Sementara dirinya sedari tadi mondar-mandir dari dapur ke meja makan untuk menyiapkan sarapan pagi untuk keluarganya.


"Baiklah, Ma!" Garry menjawabnya dan langsung beranjak dari duduknya.


"Dan kau, sayang." Utari berbicara sembari melihat kearah Evan, lalu menarik koran yang di pegang oleh suaminya. "Ini sarapanmu. Makanlah dulu. Jangan menunggu anak-anak. Bukankah kau ada rapat penting pagi ini!" seru Utari.


"Sial. Aku lupa. Terima kasih, sayang. Kau sudah mengingatkanku." sahut Evan, lalu mengecup pipi sang istri, kemudian memulai memakan sarapan paginya


Garry sudah berada di kamar adiknya. Saat pertama dilihat kamarnya kosong, tempat tidur sudah rapi. Lalu terdengar suara gemericikan air di dalam kamar mandi. Dapat disimpulkan oleh Garry bahwa adik sedang mandi. Kemudian matanya tak sengaja melirik sebuah bingkai foto adik bungsunya. Tangannya meraih bingkai foto tersebut. Mengusapnya serta menciumnya.


"Hai, adik manis kakak. Apa kabar? Apa kau bahagia di sana? Apa kau tidak merindukan kakak disini?" tanya Garry bertubi-tubi saat memandangi foto adik bungsunya dan tanpa diminta air matanya mengalir membasahi wajah tampannya.


"Kakka," panggil Danish yang keluar dari dalam kamar mandi.


Garry pun cepat-cepat menghapus air matanya agar adiknya tidak melihatnya menangis.


Danish mendekati kakaknya dan melirik sekilas wajah tampan sang kakak. Lalu kemudian memandangi foto adik kesayangannya.


"Kalau ingin menangis. Menangislah, kak. Jangan menyimpan tangisanmu di depanku. Aku tahu kau habis menangis karena merindukan adik kita kan?" kata Danish.


Dan tanpa diminta, lagi-lagi air matanya mengalir membasahi wajah tampannya. "Iya, kau benar. Kakak sangat merindukannya. Rindu akan wajahnya, rindu akan suaranya, rindu akan senyumannya. Walau kakak belum tahu semua tentang Adam, tapi kakak seakan sudah hidup lama dengannya. Mengapa takdir begitu kejam pada kita, Danish? Kita sudah lama terpisah dengannya. Tapi disaat kita bertemu lagi dan itupun baru beberapa hari, justru kita harus dipisahkan lagi darinya." Garry berbicara dengan nada bergetar karena menangis.


"Bagaimana kalau nanti sore sehabis kakak pulang dari kantor, kita main ke rumahnya kakek Yodha. Sekalian ajak Mama dan Papa kita nginap di sana? Lalu kita berbincang-bincang dengan Ardi dan Harsha. Kita bisa bertanya pada mereka sekilas tentang adik kita!" usul Danish.


"Eemm. Baiklah. Kakak setuju. Ya, sudah! Kau bersiap-siaplah dan segera turun untuk sarapan. Mama dan Papa sudah menunggu di bawah," ucap Garry.


"Siap, Bos." Danish menjawab dengan memperlihatkan gaya hormatnya.


Garry tersenyum dan mengacak-acak rambut adiknya. kemudian berlalu pergi meninggalkan kamar Danish menuju meja makan.


Mereka sekarang sudah berada di meja makan.


"Papa mana, Ma?" tanya Garry saat dirinya tidak melihat sang ayah.


"Papa kalian sudah berangkat ke kantor. Karena hari ini ada rapat," jawab Utari.


"Lalu Mama bagaimana? Apa Mama tidak ke kantor?" tanya Danish.


"Mama ke kantornya nanti jam sembilan," jawab Utari.


Hening tidak ada yang bersuara. Mereka fokus pada sarapan masing-masing. Detik kemudian Danish membuka suara.


"Ma," panggil Danish.


"Ya, sayang. Ada apa?"


"Eemm! Bagaimana kalau nanti sore kita mengunjungi kakek, Paman dan Bibi serta saudara-saudaraku. Sekalian kita nginap di sana. Mungkin saja kakek merindukan Mama!" seru Danish.


"Baiklah, Sayang." Utari langsung mengiyakan keinginan putra keduanya itu sembari tersenyum.


"Yeeaay!" teriak Danish.


"Ya, sudah habiskan sarapan kalian." Garry dan Danish pun mengangguk.


***


Di sebuah kamar terlihat seorang pemuda tampan yang masih terlelap, lalu detik terdengar suara pintu kamar di buka


CKLEK!


Seseorang memasuki kamar tersebut. Orang itu adalah Vigo Liam Adiyaksa. Vigo melangkah mendekati ranjang adiknya.


"Hei, Allan. Bangunlah. Ini sudah pukul delapan. Apa kau tidak akan kuliah, hum?" Vigo membangunkan adiknya sembari mengelus rambut adiknya.


"Eeuugghh." terdengar lenguhan dari bibir simanis dan berlahan matanya terbuka.


"Kakak Vigo," sapa Allan.


"Ayo, buruan mandi. Lalu segeralah turun ke bawah untuk sarapan," ucap Vigo.


"Hm." Allan pun langsung beranjak dari tempat tidurnya dan mengambil handuk lalu kemudian masuk ke kamar mandi.


Setelah melihat adiknya sudah berada di dalam kamar mandi, Vigo pergi meninggalkan kamar adiknya itu.


^^^


Di meja makan telah berkumpul sepasang suami istri dan dua putranya.


"Allan mana?" tanya Celina saat melihat putra bungsunya tidak ada bersama mereka.


"Allan masih di kamarnya, Ma! Mungkin sebentar lagi turun," jawab Vigo.


Lima menit kemudian terdengar suara yang begitu lembut didengar dari orang yang mereka tunggu.


"Pagi Pa, Ma, kakak." Allan menyapa anggota keluarganya dan melangkahkan kakinya menuju meja makan.


Setelah sampai di meja makan. Allan langsung menduduki bokongnya di kursi.


"Pagi, sayang." Levi dan Celina menjawab secara bersamaan.


"Pagi juga Allan." Nicolaas dan Vigo menjawab dengan kompak.


"Ya, sudah. Makanlah sarapan kalian. Nanti kalian bisa terlambat!" seru Celina.


"Hm." mereka mengangguk kompak lalu memulai memakan sarapannya.


Celina dan Levi tersenyum bahagia melihat ketiganya.


"Papa akan benar-benar bahagia kalau kau itu putra kandung kami, Allan! Tapi nyatanya kau bukan putra kami, tapi kami sudah menyayangimu seperti putra kami sendiri. Papa takut suatu saat kau akan pergi meninggalkan kami, setelah kami merasakan kebahagiaan dan kenyamanan dengan keberadaan dirimu di rumah ini," batin Levi. Dan tanpa sadar air matanya jatuh membasahi pipinya.


Melihat ayahnya yang tiba-tiba menangis membuat Allan khawatir.


"Papa. Papa kenapa menangis? Apa ada masalah?" tanya Allan.


Mendengar pertanyaan dari Allan. Celina, Nicolaas dan Vigo langsung melihat kearah Levi.


"Sayang. Kau kenapa?" tanya Celina pada suaminya.


"Tidak. Aku tidak apa-apa? Aku hanya bahagia karena Tuhan telah memberikanku kebahagiaan. Aku memiliki istri yang begitu baik dan perhatian dan putra-putra yang tampan, baik serta selalu kompak," jawab Levi.


"Kau pasti memikirkan Allan. Kau takut kalau suatu saat Allan akan pergi meninggalkan kita dan kembali pada keluarga kandungnya," batin Celina yang tatapan matanya memandangi wajah suaminya.


"Papa. Papa baik-baik saja kan?" tanya Vigo yang khawatir melihat ayahnya menangis.


"Papa baik-baik saja Allan, Vigo! Kalian tidak perlu khawatir. Papa baik-baik saja," jawab Levi menyakinkan kedua putranya.


"Aku tahu Pa. Papa pasti sedang memikirkan, Allan. Papa pasti takut kehilangan Allan," batin Nicolaas.


"Sudah-sudah. Lanjutkan sarapan kalian. Jangan ada yang tersisa!" seru Celina.


"Ma, Pa, kak. Kami sudah selesai. Kami berangkat ke kampus dulu!" seru Allan dan Vigo bersamaan lalu beranjak dari duduknya.


"Hmm. Hati-hati kalian dan jangan ngebut bawa mobilnya!" teriak Celina.


"Baik, Mama." Vigo menjawab dengan teriakannya.


Tersisalah kini Levi, Celina dan Nicolaas.


"Papa," panggil Nicolaas.


"Papa barusan menangis karena Allan kan? Papa takut kehilangan Allan kan?" tanya Nicolaas.


Levi terdiam sejenak lalu kemudian menatap putra sulungnya.


"Kau benar, Nico. Papa memang memikirkan Allan. Dan papa takut kehilangannya," jawab Levi.


"Untuk saat ini kita masih bersamanya, Pa. Tapi kelak kalau ingatannya sudah kembali, Alla akan kembali pada keluarganya dan kita tidak bisa menahannya disini. Bagaimana pun keluarga kandungnya lebih berhak atas Allan dari pada kita? Kita membawanya pulang ke rumah kita, menjaganya dan merawatnya karena itu sudah tugas kita. Karena kita yang sudah menabraknya," tutur Nicolaas.


FLASBACK ON


Waktu sudah menunjukkan pukul 18:00. Levi dan putranya sulungnya Nicolaas pun selesai dengan pekerjaannya. Mereka ada di ruang kerja masing-masing.


Nicolaas yang selesai terlebih dahulu lalu menghampiri ruang kerja ayahnya. Berniat untuk mengajak ayahnya pulang. Dirinya sangat tahu, ayahnya itu kalau tidak dikejutkan, pasti akan lupa yang lain.


Nicolaas sudah berdiri di depan pintu ruang kerja ayahnya.


TOK!


TOK!


TOK!


CKLEK!


Pintu itu di buka oleh Nicolaas. Dan setelah itu, Nicolaas pun memutuskan untuk masuk ke ruangan itu.


"Papa."


"Nicolaas."


"Tugas Papa sudah selesai?"


"Ya. Tugas Papa sudah selesai dari tadi."


"Kenapa Papa tidak memberitahuku?"


"Sengaja."


"Aish, Papa."


"Ya, sudah. Yuk, kita pulang."


Mereka pun pergi meninggalkan kantor mereka menuju parkiran.


***


Mereka kini telah di dalam perjalanan pulang ke rumah. Suasana di dalam mobil tersebut tampak bahagia. Levi dan putranya Nicolaas tak henti-hentinya melontar kata candaan.


Saat mereka tengah asyik tertawa, tanpa mereka sadari ada seorang pemuda yang berjalan tertatih dan luka di tubuhnya hendak menyeberang. Dan disaat Nicolaas mengalihkan pandangannya ke depan dapat dilihat olehnya seorang pemuda yang sedang menyeberang.


"PAPA... AWAAASSS!" teriak Nicolaas.


Namun naas kecelakaan pun tak dapat dielakkan. Mobil mereka menabrak pemuda itu.


BRAAKK!


BRUUKK!


Tubuh pemuda itu berguling-guling di aspal di tengah jalan. Mereka berdua benar-benar panik dan khawatir. Lalu mereka keluar dari mobil dan menghampiri pemuda tersebut.


"Papa. Bagaimana ini?" Nicolaas sudah menangis.


"Bantu Papa mengangkat tubuhnya. Kita bawa ke rumah sakit sekarang. Papa takut pemuda ini kenapa-kenapa!"


Mereka pun membawa pemuda yang ditabrak itu ke rumah sakit. Mereka benar-benar takut, panik dan juga khawatir.


***


Mereka sudah berada di rumah sakit. Sekarang mereka menunggu di depan ruang operasi. Mereka juga sudah menghubungi anggota keluarga mereka.


"Papa!" teriak Vigo yang baru datang bersama ibunya.


"Apa yang terjadi, sayang?" Celina pada suaminya.


"Aku... aku tidak sengaja menabraknya, sayang." Levi menjawabnya dengan suara lirihnya.


"Sudahlah, sayang. Semoga pemuda itu baik-baik saja," hibur Celina mengusap lembut punggung suaminya.


CKLEK!


Pintu ruang operasi di buka. Dan terlihat seorang dokter dan dua perawat keluar. Keluarga Adiyaksa pun mendekat.


"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Levi.


"Apa kalian keluarganya?" tanya Dokter itu balik.


Tanpa ragu Levi menjawab. "Iya. Saya Papanya, Dok."


"Keadaan putra anda saat ini sudah stabil. Tapi..." ucapan Dokter itu terhenti.


"Tapi apa, Dokter?" tanya Levi.


"Pasien mengalami amnesia," jawab Dokter itu.


"Apakah amnesianya akan sembuh, Dok? tanya Vigo.


"Pasti. Amnesia yang dialami pasien hanya sementara. Tapi saya berpesan pada kalian. Biarkan ingatannya itu kembali dengan sendirinya tanpa ada paksaan. Jangan buat pasien tertekan dan juga memaksa untuk mengingatnya karena hal itu akan membuat kondisi kesehatannya terganggu," tutur Dokter tersebut.


"Baiklah, Dokter."


"Kalian boleh melihatnya setelah pasien dipindahkan ke ruang perawatan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Dokter itu lalu pergi meninggalkan keluarga Adiyaksa.


^^^


Sekarang mereka sudah berada di dalam ruang rawat pemuda yang ditabrak tersebut.


"Lihatlah, kakak. Dia tampan sekali!" seru Vigo saat melihat wajah pemuda yang masih belum sadar di tempat tidur


"Ya, Vigo. Dia memang tampan. Bukan hanya tampan tapi juga manis, imut dan cantik seperti perempuan." Nicolaas menjawab pertanyaan adiknya sambil matanya fokus kepada pemuda tersebut.


"Mama, Papa. Kita rawat saja dia. Sekarang ini kan dia tidak mengingat apa-apa. Mulai saat ini kita yang akan menjadi keluarganya. Kalau perlu kita akan buatkan identitas baru untuknya. Lagian juga Papa sudah mengakuinya sebagai putra Papa saat Dokter itu bertanya pada Papa. Berarti dia adalah adikku." Vigo berbicara dengan raut kebahagiaan.


Levi, Celina dan Nicolaas tersenyum bahagia mendengar ucapan Vigo. Memang selama ini Vigo ingin memiliki adik.


"Baiklah, sayang. Kita akan merawatnya bersama-sama. Mulai hari ini dia adalah anggota keluarga kita. Dia adalah putra bungsu Papa," tutur Levi.


"Dan dia putra bungsu Mama!" seru Celina.


"Dia adik bungsu seorang Nicolaas Liam Adiyaksa!" seru Nicolaas.


"Dan dia adik kesayanganku, Allan Liam Adiyaksa!" Vigo berucap sumringah sembari menggenggam tangan pemuda itu.


"Allan Liam Adiyaksa!" seru mereka bertiga mengulangi perkataan Vigo.


"Iya. Kenapa? Papa, Mama dan kakak tidak suka?" tanya Vigo.


"Suka. Nama yang bagus," jawab Levi dan diangguki oleh Celina dan Nicolaas.


"Jadi namanya sekarang Allan Liam Adiyaksa!"


FLASBACK OFF