THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Kerinduan Keluarga Abimanyu



Adam berada di kamarnya. Sejak tadi matanya tak henti-hentinya menatap setiap koleksi dan hiasan di dalam kamarnya. Bahkan berulang kali Adam tersenyum sembari mengatakan kata indah dari bibirnya.


Tanpa Adam ketahui, kedua kakaknya sejak tadi melihat dirinya dan mendengar ucapannya dari luar kamarnya. Mereka tersenyum bahagia ketika melihat kebahagiaan terpancar dari wajah adik kesayangannya itu.


Setelah puas melihat adiknya dari luar kamarnya, Garry dan Danish memutuskan untuk masuk ke dalam kamar adiknya itu.


"Bagaimana?"


"Suka kamarnya?"


Seketika Adam terkejut ketika mendengar suara dari kedua kakaknya, lalu kemudian Adam langsung melihat keasal suara. Adam melihat kedua kakaknya itu tersenyum menatap dirinya.


"Apa kalian yang mendekor kamar ini?" tanya Adam.


"Iya!" Garry dan Danish menjawab bersamaan.


"Sejak kapan?" tanya Adam.


"Sejak kakak tahu bahwa kau adalah adik kandung kakak," jawab Garry.


"Dan sejak Papa yang berniat untuk membawa kamu dan Mama untuk tinggal di rumah ini, rumah kita!" Danish juga ikut menjawab pertanyaan dari adiknya.


"Kenapa dekorasi kamarnya harus sama dengan dekorasi kamarku di kediaman Abimanyu?" tanya Adam.


Mendengar pertanyaan yang satu ini membuat Garry dan Danish tersenyum.


Yah! Adam bersama kedua kakaknya dan kedua orang tuanya sudah tinggal di rumah mereka sendiri. Mereka tidak tinggal di kediaman Utama Abimanyu.


Garry mengusap lembut kepala adiknya sehingga memperlihatkan kening putih adiknya itu.


"Biar kamu nggak merasa asing di kamar baru. Jadi dengan begitu kamu bisa merasakan kenyamanan berada di kamar ini," ucap Garry.


"Dan kenapa kamarku lebih besar dari pada kamar kak Garry dan kak Danish?" tanya Adam.


Garry dan Danish tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari adiknya itu. Baik Garry maupun Danish langsung paham makna dari pertanyaan adiknya.


"Karena kamu spesial dalam keluarga Bimantara dan Abimanyu. Kamu bungsu di dua keluarga. Papa, Mama, kakak dan semuanya begitu menyayangi kamu. Kamu pelengkap kebahagiaan Papa, Mama dan kita berdua. Jadi kakak dan kakak Garry memberikan kamar yang terbaik untukmu. Ini adalah kado dari kakak dan kakak Garry."


Danish menjawab pertanyaan dari adiknya itu dengan tangannya mengusap lembut pipi putih adiknya. Tatapan matanya menatap penuh sayang wajah tampan adiknya itu.


Mendengar jawaban dari dua kakaknya membuat hati Adam menghangat. Dirinya benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Sejak bertemu dengan ayah dan kedua kakaknya, hidupnya bagaikan di surga. Baik ayahnya maupun kedua kakaknya benar-benar membuktikan tugasnya sebagai seorang kakak dan seorang ayah untuknya.


"Terima kasih," ucap Adam.


"Untuk apa?" tanya Garry dan Danish bersamaan sembari tersenyum.


"Untuk semua kasih sayang, perhatian dan kepedulian kalian padaku. Kalian sudah memberikan apa yang aku inginkan selama ini."


Garry dan Danish tersenyum ketika mendengar ucapan dari Adam. Tangan mereka bersamaan mengusap lembut pipi putih Adam.


"Itu sudah menjadi tugas kami sebagai seorang kakak untuk kamu."


"Kamu berhak mendapatkan semua itu."


Tanpa diketahui oleh Garry, Danish dan Adam. Di luar kamar Adam terlihat sepasang suami istri yang menangis karena mendengar ucapan demi ucapan dari Garry, Danish dan Adam.


Mereka adalah Utari dan Evan, orang tua dari Garry, Danish dan Adam. Keduanya menangis karena bahagia ketika melihat bagaimana ketiga putranya begitu kompak dan saling menyayangi. Mereka bersyukur memiliki anak-anak seperti Garry, Danish dan Adam.


"Terima kasih Garry, terima kasih Danish karena kalian sudah menjadi kakak yang baik untuk adik kalian. Jangan pernah bosan untuk selalu memberikan kasih sayang dan perhatian untuk adik kalian," batin Utari.


***


Di siang hari yang panas, Alia baru pulang kantornya. Sampai di rumah, Alia langsung merebahkan diri di sofa ruang tengah. Sofa warna cokelat kesayangannya. Di situ tempat favoritnya untuk menghilangkan penat. Jendela yang berada tepat di samping sofa itu selalu menghembuskan semilir angin hingga membuat Alia betah berlama-lama duduk di sana.


Beberapa menit Alia duduk di sofa, seketika dia mendengar alunan suara piano. Alia langsung melihat ke jendela. Dari jendela itu bisa terlihat jendela rumah sebelah.


Seorang laki-laki muda berkaca mata sedang serius memainkan piano. Dia menunduk tanpa menoleh sedikit pun. Tampaknya dia sangat menikmati sentuhan jemarinya dengan tuts piano.


Alia terus memperhatikan, meski dia tak mengerti lagu apa yang sedang dimainkan.


"Alia, kamu lagi lihat apa?" tanya Zaina yang tiba-tiba datang dari arah dapur sembari membawakan minuman segar untuk putri sulungnya.


"Eh, Mama! Itu ada cowok lagi main piano di rumah sebelah. Siapa sih, Ma?"


"Oh, iya! Mama belum cerita. Itu tetangga baru kita. Cowok itu namanya Dave, nama ayahnya Pak Ronny. Mereka baru pindah kemarin. Nanti kalo ada waktu, kamu main ke rumah Dave ya."


"Ouw! Besok-besok aja deh, Ma! Ntar sore Adel mau kesini ngerjakan beberapa tugas kantor."


"Eh, Alia! Dave itu cakep lho. Sopan, keren, jago main piano lagi. Buruan kenalan. Siapa tau kalian cocok?"


"Iiiihhh... Apaan sih, Ma?" Alia segera beranjak menuju kamar.


Zaina tersenyum melihat tingkah putrinya itu. Dirinya berhasil menjahili dan menggoda putrinya itu.


***


"Ach, lelah!"


Bruk..


Ardi berucap sembari menghempaskan tubuhnya di sofa. Begitu juga dengan Harsha.


Ardi pulang dari kantornya. Sedangkan Harsha pulang dari Kampusnya. Keduanya langsung tepar di sofa karena kelelahan.


"Ardi! Harsha!" seru para orang tua yang datang dari kami dan dari ruang kerjanya masing-masing.


Ardi dan Harsha melihat kearah para orang tuanya dan menatap mereka satu persatu. Setelah itu, keduanya kembali memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa lelah tubuhnya.


Alin dan Kamila berjalan menghampiri putranya masing-masing. Mereka menatap iba putra-putranya itu.


Baik Alin maupun Kamila mengusap-usap lembut kepala putranya sehingga memperlihatkan kening putih putranya itu. Setelah itu, mereka memberikan ciuman sayang disana.


"Lelah, hum?" tanya Kamila dan Alin bersamaan dengan putranya masing-masing.


"Sangat!" Ardi dan Harsha menjawab bersamaan.


Mendengar jawaban kompak dari Ardi dan Harsha membuat Kamila dan Alin tersenyum. Begitu juga dengan anggota keluarga Abimanyu lainnya.


"Ya, sudah! Sekarang kalian pergi ke kamar lalu bersih-bersih. Setelah itu, turun lagi ke bawah untuk makan siang bersama," ucap Alin kepada putranya dan juga keponakannya.


"Baiklah!"


Ardi dan Harsha langsung berdiri dari duduknya. Kemudian berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua.


"Aku kangen Adam, kak!" seru Harsha sembari melangkahkan kakinya menuju lantai dua.


"Kakak juga kangen Adam," jawab Ardi.


Ardi dan Harsha terus melangkah menaiki anak tangga untuk menuju kamarnya di lantai dua sembari memikirkan Adam.


Sementara Alin, Kamila dan anggota keluarga lainnya menatap sedih Ardi dan Harsha. Apalagi ketika mendengar ucapan keduanya yang mengatakan rindu terhadap Adam.


"Bukan hanya Ardi dan Harsha yang merindukan anak kelinci itu. Aku juga merindukan anak kelinci itu," sahut Reza.


Mereka semua terdiam dengan pikiran masing-masing. Di satu sisi merek tidak rela Utari Evan, Garry, Danish dan Adam pindah rumah.


Namun disisi lain, mereka tidak ingin egois. Bagaimana pun Evan sebagai kepala keluarga berhak membawa istri dan ketiga anak-anaknya untuk kembali pulang ke rumahnya. Rumah yang hanya ada keluarga kecilnya.