
Anggota keluarga Abimanyu sudah berada di ruang tamu bersama dengan dua pemuda yang mengaku sebagai teman Adam yang datang dari Amerika.
"Jadi kalian datang dari Amerika?" tanya Utari.
"Iya, Bi!"
Adam terus menatap dua pemuda yang saat ini juga menatap dirinya. Adam berusaha untuk mengingat kedua pemuda yang ada di hadapannya itu.
FLASHBACK ON
Adam berada di lapangan basket bersama keenam sahabatnya. Adam dan keenam sahabatnya itu sedang latihan untuk perlombaan antar kampus satu minggu lagi.
Mereka berjumlah tujuh orang. Dan mereka membagi menjadi dua kelompok. Dan kelompok Adam hanya bertiga. Jadi tiga lawan empat.
Saat ini Adam yang menguasai bola. Adam sedang mendribble bola dengan cara memantulkan bola dari tangan kiri ke tangan kanan atau sebaliknya. Bahkan Adam improvisasi dengan cara memantulkan bola di antara celah kaki atau belakang kaki.
Sementara empat teman yang saat ini berstatusnya musuh tengah mengepungnya.
Dengan gerakan cepat, Adam mengoper bola tersebut kepada timnya yaitu Vino. Mendapatkan operan bola dari Adam. Vino dengan lihai langsung menangkap bola tersebut dan membawa menuju ring sambil mendribble bola tersebut.
Diego, Gino, Zio dan Leon mengepung Vino ketika hendak memasukkan bola ke dalam keranjang. Namun, Vino dengan kecepatannya mengoper bola kepada Vando. Vando menangkap bola tersebut dengan sangat baik.
Vando menggiring bola itu sehingga pada detik kemudian, Vando mengoper bola itu kepada Adam. Adam menangkap dengan baik, lalu Adam fokus pada tembakan keranjang. Adam akan melakukan Penembakan (Shooting).
Adam melompat dengan tinggi sambil melemparkan bola basket itu ke dalam keranjang.
BRUKK!
Bola basket itu masuk dengan sempurna ke dalam keranjang tersebut. Tim Adam meraih poin pertama.
"Yeeaaahhh!!" sorak Adam, Vino dan Vando.
"Wah, Dam! Permainan basketmu makin hari makin berkembang pesat. Aku kagum padamu." Leon Luigi berbicara sembari memuji kehebatan Adam sahabatnya.
"Ach, biasa saja. Kalian juga hebat dalam bermain tadi. Aku saja kewalahan ketika ingin merebut bola dari kalian." Adam berucap sambil memberikan pujian kepada keenam sahabatnya.
"Ya, sudah! Lebih baik kita ganti pakaian. Tidak bagus kalau terlalu lama memakai baju yang basah akibat keringat. Setelah itu, kita ke kantin. Aku sudah lapar." Diego Enzio berbicara sambil melap keringat di wajahnya dengan handuk kecil.
"Hm," jawab mereka kompak.
Setelah itu, mereka semua pergi meninggalkan lapangan basket untuk menuju ruang ganti.
FLASHBACK OFF
Adam merasakan sakit di kepala ketika berhasil mengingat kedua pemuda yang ada di hadapannya.
"Aakkkhhhh." Adam meremat kuat rambutnya.
Mendengar erangan kesakitan Adam ditambah lagi Adam yang meremat kuat rambutnya membuat anggota keluarganya, Celena dan Vigo menjadi panik.
"Sayang. Jangan ditarik rambutnya." Utari memegang dan melepaskan tangan putra bungsunya dari rambutnya dibantu oleh Garry.
"Adam, lepaskan." Garry benar-benar khawatir akan adik bungsunya.
Kedua pemuda yang melihat kearah Adam dibuat bingung ketika melihat Adam yang kesakitan. Mereka tidak tahu apa yang sudah terjadi kepada Adam ketika mereka berpisah.
"Bibi," panggil salah satu pemuda itu. Utari melihat kearah pemuda itu dengan senyuman.
"Iya. Ada apa?" tanya Utari lembut.
"Kalau kami boleh tahu. Kenapa dengan Adam?"
"Apa Adam sakit, Bi?" tanya pemuda yang satunya lagi.
"Iya, Nak! Adam sakit. Sakit yang dirasakan oleh Adam akibat kecelakaan lima bulan yang lalu."
Mereka semua menatap Adam khawatir, termasuk kedua pemuda tersebut.
"Sayang," panggil Utari.
"Apa masih sakit kepalanya?" tanya Garry sambil mengelus lembut rambut adiknya.
"Se-dikit," jawab Adam lirih.
Adam berlahan mendongakkan kepalanya dan menatap kedua pemuda tersebut. Adam menatap lekat keduanya.
"Vi-vino... Le-leon." Adam berucap lirih.
Kedua pemuda itu tersenyum bahagia ketika sahabat kelincinya telah mengingatnya.
"Kau telah ingat kepada kami, Dam?" tanya Leon.
"Iya. Aku sudah ingat sekarang. Maaf, aku sempat melupakan kalian."
"Tak apa, Dam! Yang penting sekarang ini kami bahagia kau telah kembali mengingat kami." Vino berbicara lembut kepada Adam.
"Kemana yang lainnya? Kenapa hanya kalian berdua saja yang datang kemari? Apa mereka marah kepadaku karena kepindahanku secara mendadak?" tanya Adam bertubi-tubi.
Vino dan Leon tersenyum mendengar perkataan Adam. Mereka sudah mengira jika sahabat kelincinya itu akan berkata seperti itu.
"Tidak, Dam. Mereka tidak marah sama sekali padamu. Mereka paham alasan kamu balik ke Jakarta." Vino yang menjawabnya.
"Lalu?" tanya Adam lagi.
Leon dan Vino saling lirik. Setelah itu, keduanya balik menatap Adam. Seketika mimik wajah keduanya berubah.
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?" tanya Adam sambil menatap lekat manik kedua sahabatnya itu.
Vino dan Leon hanya diam membisu. Mereka bingung untuk mengatakan apa yang terjadi setelah Adam balik ke Jakarta. Ditambah lagi, mereka memikirkan kesehatan Adam. Mereka tidak ingin menambah pikiran sahabat kelincinya itu.
"Vino, Leon. Katakan padaku. Ada apa? Kenapa kalian diam saja?" Adam bertanya dengan suara yang dikerasi.
"Sayang," tegur Utari.
"Dam," ucap Leon sembari menatap lekat wajah Adam.
"Katakan, Leob." Adam juga menatap wajah sahabatnya itu.
"Vando," lirih Leon.
"Van-vando. Kenapa dengan Vando?" seketika perasaan Adam menjadi tidak enak.
"Vando koma di rumah sakit, Dam!" Vino akhirnya bersuara.
DEG!
Baik Adam maupun anggota keluarganya terkejut mendengar perkataan dari Vino.
"Ko-koma. Vando koma? Apa yang terjadi?"
Adam sudah menangis ketika mendengar kabar mengenai salah satu sahabatnya koma.
"Apa yang terjadi?" tanya Adam sembari menatap wajah Leon dan Vino secara bergantian.
Ketika Vino ingin berbicara, tiba-tiba ponsel Adam berbunyi.
DRTT!
DRTT!
Adam yang mendengar suara ponselnya langsung mengambil ponselnya yang ada di saku celananya.
Setelah ponsel itu sudah ada di tangannya. Adam melihat nama 'Zelo' di layar ponselnya itu.
"Zelo," batin Adam.
Adam pun langsung menjawab panggilan dari Zelo. Dirinya benar-benar penasaran informasi apa yang akan disampaikan oleh Zelo padanya.
"Hallo, Zelo."
Mendengar Adam menyebut nama Zelo. Ardi dan Harsha saling lirik.
"Kakak. Apa aku tidak salah dengar? Barusan Adam menyebut nama Zelo." Harsha berbicara pelan kepada Ardi.
"Iya, Sha! Adam memang menyebut nama Zelo," jawab Ardi.
Ardi dan Harsha sudah mulai khawatir. Jika Zelo sudah menghubungi Adam. Berarti ada sesuatu yang terjadi atau ada sesuatu yang ingin disampaikan.
Vigo dan Danish melihat kearah Ardi dan Harsha. Mereka juga merasakan hal yang sama seperti keduanya.
"Hallo, Dam. Kau ada dimana?"
"Aku ada di rumah. Dan kebetulan aku dan kakak-kakakku tidak kuliah hari ini. Ada apa?"
"Dam."
Adan dapat merasakan suara Zelo yang begitu lirih dan terdengar menahan tangis. Mendengar suara Zelo seperti itu, Adam sudah diambang ketakutan.
"Zelo, ada apa? Kenapa dengan suaramu? Katakan Zelo!"
"Dam. Sebelumnya aku minta padamu untuk tenang dan sabar."
"Katakan saja, Zelo. Jangan berbelit-belit!" teriak Adam.
Mendengar teriakan dari Adam membuat mereka semua terkejut.
"Paman Levi dan kak Nicolaas," lirih Zelo.
Mendengar nama ayah dan kakak angkatnya disebut membuat Adam seketika berdiri dari duduknya.
Melihat Adam yang tiba-tiba berdiri membuat semuanya menatap panik, khawatir dan juga takut.
"Sayang," ucap Utari.
"Apa telah terjadi sesuatu," batin Ardi, Harsha, Danish dan Vigo.
"Apa yang terjadi dengan mereka, Zelo? Mereka baik-baik saja kan? Mereka tidak terluka kan? Katakan padaku Zelo."
"Mereka berdua berhasil menyelamatkan diri dari penyekapan itu. Ketika tiba diluar, mereka dihadang beberapa kelompok. Dan akhirnya terjadi perkelahian tak seimbang. Paman Levi terkena tembakan dua kali tepat di dada kirinya demi melindungi kak Nicolaas. Sementara kak Nicolaas hanya mengalami luka-luka ringan di bagian lengan, perut dan kepala. Aku minta maaf karena aku dan kelompokku datang terlambat menolong mereka."
Seketika air mata Adam mengalir membasahi wajah tampannya ketika mendengar kabar dari Zelo yang mengatakan tentang kondisi ayah dan kakak angkatnya, terlebih lagi kondisi ayah angkatnya.
Melihat Adam yang menangis tiba-tiba membuat mereka menjadi makin panik.
"Allan. Ada apa, sayang?" tanya Celena.
"Adam, ada apa?" tanya Ardi.