THE FRATERNITY

THE FRATERNITY
S3. Panggilan Dari Yana Bibinya Jasmine



"Mama kapan datang ke kampus?" tanya Adam pada ibunya.


"Beberapa menit yang lalu," jawab Utari.


Adam saat ini bersama dengan ibunya, kakak-kakaknya beserta sahabat-sahabat kakak-kakaknya dan ketujuh sahabat-sahabatnya. Mereka berada di kantin. Termasuk Harsha dan Gala.


Mereka semua bertemu dengan Harsha dan Gala ketika keduanya pergi mencari Adam dan yang lainnya dan berakhir mereka berpapasan.


"Bagaimana masalah kamu, Zio?"


"Sudah Bibi. Ini semua berkat anak kelinci Bibi dan sahabat aku yang lainnya," jawab Zio.


"Ach, syukurlah. Bibi senang mendengarnya."


"Adam, panggil Utari."


"Hm." Adam menjawab panggilan dari ibunya dengan berdehem karena mulutnya berisi makanan.


"Terima kasih ya, sayang!"


Mendengar ucapan dari ibunya, Adam langsung melihat kearah ibunya yang saat ini tengah tersenyum padanya.


"Untuk?"


"Berkat kamu, Mama jadi tahu kalau di kampus Mama ada yang bermain curang."


Adam seketika tersenyum ketika mendengar ucapan dari ibunya itu. Dirinya akan melakukan apa saja untuk melindungi milik keluarganya.


"Itu sudah kewajibanku sebagai putra Mama. Dan kebetulan itu aku mencurigai mereka yang curang di belakang Mama karena aku sedang membantu Zio."


Mendengar jawaban dari Adam membuat Utari tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka sangat tahu bagaimana sifat Adam yang sebenarnya. Adam orang serba ingin tahu.


Ketika Adam, Utari, Danish dan yang lainnya sedang menikmati makan siangnya sembari mengobrol, tiba-tiba ponsel milik Adam berbunyi.


Mendengar suara bunyi ponselnya, Adam langsung mengambil ponselnya di saku celananya. Dan setelah ponselnya sudah ada di tangannya, Adam melihat nomor yang tak dikenal.


Karena rasa penasarannya, Adam pun memutuskan menjawab panggilan dari nomor tersebut.


"Hallo."


"Ini nak Adam ya?"


"Iya, saya Adam. Ini siapa ya?"


"Saya Yana, Bibinya Jasmine!"


Deg..


Seketika Adam membulatkan matanya ketika mendengar jawaban dari orang di seberang telepon.


"Bi-bibi Yana," ucap Adam yang terkejut mendengar suara wanita tersebut. Sudah lama Adam tidak pernah mendengar suaranya ketika memutuskan kuliah di Amerika.


"Ya, nak! Ini Bibi Yana. Kamu nggak lupakan sama Bibi?"


Adam seketika tersenyum mendengar pertanyaan dari bibinya Jasmine. "Tentu tidak. Sampai sekarang aku masih ingat Bibi Yana. Ada apa, Bi?"


"Dam," ucap Yana.


Mendengar suara lirih Yana membuat Adam terkejut plus khawatir. Dalam hati dan pikirannya apa terjadi sesuatu terhadap Jasmine.


"Ada apa, Bi?"


"Dam, apa kamu bersedia untuk ke Bandung menemui Jasmine dan Yeni?"


Mendengar jawaban dari Yana membuat Adam seketika mengkhawatirkan Jasmine. Dirinya memang akan ke Bandung untuk menemui Jasmine. Dan Adam juga memutuskan untuk membawa Jasmine ke Jakarta dan tinggal di Jakarta, di rumah mendiang kedua orang tuanya. Di Jakarta juga ada saudara-saudara dari pihak ayahnya yang begitu menyayangi Jasmine.


"Bagaimana kondisi Jasmine sekarang ini, Bi! Aku sudah tahu apa yang dialami Jasmine dan apa yang terjadi terhadap Ariel."


Seketika air mata Adam jatuh membasahi pipinya ketika kembali mengingat laporan dari Ricky.


(Maaf bab sebelumnya ada kesalahan alias typo. Seharusnya Ricky, justru terbuat Risky)


Melihat Adam yang tiba-tiba menangis membuat Utari terkejut. Begitu juga dengan yang lainnya. Pikiran mereka sudah traveling kemana-mana.


Mendengar perkataan dari Adam membuat Yana terkejut. Dia tidak menyangka jika Adam sudah mengetahui musibah yang menimpa Jasmine dan Ariel.


"Jadi kamu sudah tahu apa yang terjadi sama Jasmine dan Ariel?"


"Iya, Bi!"


"Kapan sayang?"


"Dua hari yang lalu dari temanku. Dia seorang ahli mencari informasi dan latar belakang seseorang."


Mendengar jawaban dari Adam membuat Yana tak menyangka jika Adam dikelilingi oleh orang-orang baik. Yana sangat tahu bagaimana sifat dan watak Adam seperti apa.


"Bi, bagaimana keadaan Jasmine?"


"Jasmine dalam keadaan tak baik-baik saja, nak! Sejak kecelakaan menimpa Jasmine. kesehatannya seketika menurun. Jasmine juga suka melamun memikirkan nasib kakinya yang tidak bisa berjalan. Jasmine tampak terpukul. Melihat kondisi Jasmine membuat Ariel merasakan kesedihan teramat dalam. Kamu tahukan bagaimana hubungan mereka berdua. Sudah seperti saudara kembar saja. Kemana-mana selalu pergi bersama. Jika di sekolah, Ariel selalu menjadi bodyguard nya Jasmine sehingga membuat Jasmine kesal."


Flashback On.


*Jasmine saat ini bersama Adam. Keduanya sedang mengobrol dan tertawa. Ntah apa yang mereka bahas sehingga membuat tertawa. Ditambah lagi tawa mereka begitu keras sehingga beberapa orang mendengarnya.


"Hahahaha."


"Gila lo, Dam!"


"Gila, tapi lo suka kan?"


"Iya!" Jasmine tanpa sadar menjawab perkataan dari Adam.


Beberapa detik kemudian..


"Nggak... Nggak! Tadi kelepasan gue. Gue nggak suka."


Mendengar ucapan serta wajah malu Jasmine membuat Adam tersenyum dengan tatapan matanya menatap wajah cantik Jasmine.


"Tapi bagi gue jawaban pertama yang berlaku. Dan nggak ada perubahan apapun."


"Terserah lo lah!"


Ketika Adam dan Jasmine tengah asyik berduaan sembari ngobrol dan tertawa, tiba-tiba Ariel datang membuat rusuh.


"Jaga jarak aman. Nggak boleh dekat-dekat ntar bahaya." Ariel langsung duduk diantara Jasmine dan Adam.


"Aish! Apa-apaan sih lo Ariel!" kesal Jasmine.


"Dan lo, Dam!" Ariel menatap horor sahabatnya itu.


"Kenapa?" tantang Adam.


"Kalau lo mau dapetin Jasmine. Lo harus dapatin restu gue dulu. Sebelum gue kasih restu sama lo. Gue nggak izinin lo dapetin Jasmine," ucap Ariel yang hanya sekedar menjahili Adam.


Ariel justru bahagia jika Adam benar-benar mencintai Jasmine sehingga cinta Jasmine tidak bertepuk sebelah tangan.


Namun jika Adam tidak mencintai Jasmine dan hanya menganggap Jasmine sekedar sahabat. Ariel tak masalah. Dia tidak akan marah atau pun membenci Adam.


Sementara Jasmine sudah salah tingkah akibat ucapan Ariel kepada Adam. Kemudian Jasmine menatap horor kearah Ariel.


"Woi! Memangnya lo siapa nya gue? Kenapa Adam harus minta izin dan restu dari lo. Jangan banyak gaya lo."


Ariel langsung melihat kearah Jasmine. Dirinya tak kalah horor menatap wajah Jasmine sehingga membuat Jasmine seketika menelan ludahnya kasar.


Diam-diam di dalam hatinya, Ariel tersenyum geli ketika melihat wajah Jasmine. Begitu juga dengan Adam. Adam tersenyum ketika melihat wajah Jasmine yang takut terhadap Ariel*.


Flashback Off.


Seketika air mata Adam kembali jatuh ketika mengingat momen tersebut. Jika waktu bisa diputar, dia akan langsung menemui Jasmine dan Ariel setelah permasalahan dan keluarganya selesai.


Sementara Utari, Danish, Ardi, Harsha, Vigo dan sahabat-sahabatnya ikut merasakan kesedihan yang sama. Bahkan mereka yang lebih sedih jika melihat Adam yang bersedih.


"Nak Adam mau kan ke Bandung menemui Jasmine dan juga Yeni? Bibi Yeni sama seperti Jasmine. Dia terpukul akan kepercayaan Ariel putra bungsunya. Siapa tahu dengan kamu datang, Bibi Yeni yang tak lain ibunya Ariel serta Jasmine bisa terhibur."


"Aku akan ke Bandung, Bi! Aku memang sudah berniat ingin kesana."


"Benarkah, nak?"


"Benar, Bi!"


"Terima kasih ya, nak! Bibi senang mendengarnya."


"Sama-sama. Tapi sebelum aku datang kesana. Bibi sama yang lainnya tetap menghibur Bibi Yeni dan Jasmine. Kalau perlu Bibi katakan kepada Jasmine bahwa aku akan datang menemuinya. Jadi Bibi bisa lihat seperti apa reaksinya."


"Baiklah, nak! Kalau begitu Bibi matikan panggilannya."


"Baik, Bi."


Tutt.. Tutt..


Panggilan terputus.


Seketika Utari mengusap-usap lembut kepala belakang putranya dengan.


"Ma, aku besok ke Bandung!"


"Pergilah. Mama izinkan kamu ke Bandung. Sampai disana, kamu hiburlah Jasmine. Atau kalau perlu kamu bawa dia pulang ke Jakarta lagi dan tinggal di rumah peninggalan kedua orang tuanya. Kasihankan rumahnya kosong."


"Aku memang berniat seperti itu," jawab Adam.


"Ya, sudah. Ini sudah pukul 2 siang. Mama harus kembali ke perusahaan. Ada sedikit pekerjaan Mama belum selesai."


"Baik, Ma!" jawab Adam, Danish, Ardi, Harsha dan Vigo bersamaan.


"Baik, Bibi!" jawab para sahabatnya Adam, Danish, Ardi/Harsha dan Vigo.