
[Kampus]
Adam bersama sahabat-sahabatnya sudah berada di kampus termasuk Melky. Melky sudah kembali berkuliah seperti biasa di Binus University.
Saat ini mereka tengah berada di kantin untuk mengisi perut masing-masing. Padahal sebelum berangkat ke kampus, mereka sudah sarapan di rumah.
"Gue seneng lihat lo kuliah lagi disini, Mel!" seru Vino.
"Kita semua senang lihat lo kembali!" seru Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bersamaan.
"Terima kasih. Gue juga sama seperti kalian. Bahkan gue yang paling bahagia disini karena bisa kembali ke Jakarta lagi," sahut Melky.
Disaat Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando tengah berbahagia akan kembalinya Melky. Begitu juga dengan Melky yang bahagia karena sahabat-sahabatnya bahagia akan kembalinya dirinya.
Namun tidak dengan Adam. Saat ini Adam tengah menikmati nasi gorengnya yang ada di hadapannya tanpa peduli celoteh-celoteh para sahabatnya.
Vando yang menyadari bahwa satu sahabat-sahabatnya yaitu Adam yang fokus sama nasi gorengnya hanya geleng-geleng kepala.
Namun detik kemudian, terukir senyuman di sudut bibirnya. Terlintas ide jahil di otaknya.
Vando kemudian mengode sahabat-sahabatnya yang lain untuk mengerjai Adam.
Melky, Vino, Diego, Gino, Zio dan Leon yang paham akan kode yang diberikan oleh Vando langsung menganggukkan kepalanya.
"Selamat pagi Bibi Utari!"
Seketika Adam menelan kasar nasi gorengnya yang ada di dalam mulutnya ketika salah satu sahabatnya menyebut nama ibunya.
Sementara Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando tersenyum ketika melihat wajah terkejut Adam.
Adam kemudian membalikkan badannya untuk melihat kearah ibunya.
"Mama kena...."
"Hahahahahaha!"
Seketika tawa Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando pecah. Mereka tertawa keras ketika melihat wajah terkejut Adam.
Adam membalikkan badannya lalu menatap tajam Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando bergantian.
"Dasar sahabat setan!" teriak Adam melengking di kantin.
Mendengar perkataan dan juga teriakan dari Adam membuat semua penghuni kantin tertawa. Mereka semua menertawai Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando.
Sementara yang menjadi korban teriakan dan korban tawa dari semua penghuni kantin menutup telinganya masing-masing sambil tatapan matanya menatap tajam kearah Adam.
"Gue tahu wajah gue lebih tampan dari kalian. Jadi nggak usah liatin gue sampai segitunya," sahut Adam yang sudah kembali menikmati nasi gorengnya.
Melky, Vino, Diego, Gino, Zio, Leon dan Vando seketika membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari Adam yang membanggakan ketampanannya.
^^^
Brak..
Terdengar suara gebrakan meja yang begitu nyaring di sebuah ruangan yang biasa disebut ruang BK.
Seorang pria paruh baya tapi masih terlihat awet muda tengah memarahi seorang mahasiswa yang terkenal nakal dan susah diatur.
Dosen tersebut adalah Rusman Hanif. Sedangkan mahasiswa yang tengah dimarahi itu adalah Ronny Kusuma.
Rusman saat ini menatap penuh amarah kearah mahasiswa yang duduk dengan tenang di hadapannya.
Ronny duduk dengan bertopang kaki pada kaki kanannya. Dirinya bersikap seolah-olah tak bersalah. Bahkan tatapan matanya menatap Dosen Rusman dengan alis yang terangkat sebelah.
"Aku hanya....."
"Ronny!" bentak Rusman dengan suara keras.
Seketika Ronny tersentak ketika mendapatkan bentakan yang cukup keras dari Dosennya itu.
"Saya tidak mengerti lagi bagaimana cara menegur kamu. Bisa-bisa kamu bersikap santai seperti ini setelah apa yang kamu lakukan terhadap teman seangkatan kamu! Kamu dengan tega mencelakai teman kamu itu," amuk Rusman dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Ronny.
Seketika Ronny berdiri dari duduknya. Setelah itu, tatapan matanya menatap balik Dosennya itu.
"Terus bapak mau apa sekarang? Mau menghukum saya atau memberikan surat peringatan?" tanya Ronny.
Sementara Rusman seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Ronny. Dirinya tidak menyangka jika Ronny akan berbicara seperti itu.
"Silahkan jika itu mau Bapak. Tapi aku yakin kalau bapak tidak akan berani memberikan hukuman kepadaku," ucap Ronny menatap tajam Dosennya.
Brak..
Pintu dibuka secara kasar oleh seseorang lalu orang itu melangkah memasuki ruang BK tersebut.
"Kalau gue yang ngasih hukuman sama lo, bagaimana? Apa lo percaya?"
"Adam," sapa Rusman.
"Memangnya lo siapa? Lo tuh sama kayak gue, sama-sama seorang mahasiswa. Jangan sok ingin memberikan hukuman sama gue. Dosen bodoh ini saja belum tentu berani memberikan hukuman sama gue. Nah, loh! Lo ingin memberikan hukuman untuk gue. Yang benar saja," ucap Ronny dengan aksen mengejeknya dan tatapan matanya menatap tajam kearah Adam.
Mendengar perkataan yang sombong dari Ronny membuat Adam seketika tersenyum. Adam menatap remeh kearah Ronny.
"Kalau gue mau. Hari ini gue bisa buat lo di D.O dari kampus ini. Dan gue juga bisa buat nama lo dan wajah lo tidak diterima di Kampus mana pun yang ada di dunia ini."
"Hahahaha." Ronny seketika tertawa ketika mendengar ucapan dari Adam. Ronny berpikir bahwa Adam hanya membual saja.
"Lo pikir gue percaya sama lo. Udah deh nggak usah mimpi deh lo."
"Gue berbicara kenyataan. Bukan hanya sekedar mimpi. Gue bisa buat lo di D.O hari ini juga!"
Ronny mengepal kuat tangannya dan menatap tajam kearah Adam. Dan detik kemudian...
Bugh..
"Aakkhhh!" Ronny berteriak kesakitan ketika merasakan sakit di perutnya akibat pukulan tak main-main dari Adam.
Ronny hendak memukul wajah Adam. Namun dengan gerakan cepat, Adam langsung memberikan pukulan tepat di perutnya sehingga membuat Ronny berteriak kesakitan.
Setelah itu, Adam menarik kerah belakang Ronny dengan kasar lalu membawanya keluar meninggalkan ruang BK.
^^^
Brukk..
Tubuh Ronny tersungkur di lapangan luas kampus akibat didorong kuat oleh Adam.
Semua mahasiswa dan mahasiswi berhamburan melihat kejadian tersebut. Mereka berpikir bahwa Adam dan Ronny sedang bersitegang dan berakhir perkelahian.
"Kalau lo udah bosan kuliah disini. Mending keluar dan tinggalkan Kampus ini!" teriak Adam menggema di lapangan kampus.
Di sisi lain dimana para kakak-kakaknya Adam beserta sahabat-sahabatnya sudah selesai memberikan materi kuliah keduanya kepada para mahasiswa dan mahasiswinya. Begitu juga dengan Harsha dan Gala yang juga sudah selesai mengikuti materi kuliah pertamanya.
Kini mereka tengah melangkahkan kakinya menuju kelas Adam dan sahabat-sahabatnya Adam. Tujuan mereka ingin menemui Adam dan para sahabatnya untuk mengajak mereka ke kantin.
Namun seketika mereka menghentikan langkahnya ketika melihat beberapa mahasiswa dan mahasiswi berlarian menuju lapangan Kampus.
"Kenapa mahasiswa dan mahasiswi itu berlarian menuju lapangan?" tanya Kenzie.
"Apa ada kejadian disana?" tanya Viko.
Lalu Kavi memanggil salah satu mahasiswanya yang lewat dan bertanya.
"Ada apa?"
"Begini Prof. Mahasiswa bernama Adam sedang marah besar dengan salah mahasiswa bagian ekonomi. Ditambah lagi mahasiswa itu putra wakil rektor."
Mendengar nama Adam disebut membuat Danish, Ardi dan Harsha langsung berlari menuju lapangan. Disusul oleh yang lainnya.
^^^
"Lo kalau udah nggak mau mematuhi peraturan di kampus ini mending pergi dari sini. Kampus ini nggak butuh orang kayak lo. Kampus ini hanya menerima orang-orang yang punya akhlak yang baik, salah satunya adalah bisa menghormati Dosennya!" teriak Adam.
"Kampus ini juga nggak nerima yang namanya pembullyan!"
Ketika Adam hendak memberikan tendangan kepada Ronny, tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.
Grep..
"Tenang, Dam!"
Seketika emosi Adam mereda ketika merasakan pelukan hangat dari kakaknya. Ditambah lagi ketika mendengar ucapan dari kakaknya itu.
"Kalian! Bawa dia ke ruangan kesehatan!"
"Baik, Prof!"
"Kita ke kantin ya," bujuk Danish setelah melepaskan pelukannya.
"Aku sudah dari kantin bersama sahabat-sahabat aku. Perutku sudah kenyang," jawab Adam.
Danish tersenyum ketika mendengar ucapan dari adiknya. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka tahu bahwa emosi Adam belum reda sepenuhnya.
"Kalau gitu temani kakak aja disana. Kamu mau kan?" bujuk Danish.
Adam melihat wajah Danish, kakaknya. Dapat Adam lihat kakaknya itu berharap dirinya ikut.
"Baiklah."
Danish tersenyum bahagia karena adiknya mau ikut dengannya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Setelah itu, mereka pun pergi meninggalkan lapangan untuk menuju kantin.